Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Arga mengembuskan napas panjang saat punggung Nala menghilang di balik sekat ruang makan. Ruang tamu itu kini terasa jauh lebih luas sekaligus menyesakkan bagi dirinya sendiri. Satria sedang asyik dengan ponselnya di sofa seberang, sementara Dimas masih sibuk mengubek-ubek tas punggungnya untuk mencari kabel pengisi daya yang terselip entah di mana. Kesempatan itu digunakan Arga untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sebenarnya terasa sangat familier, namun ia paksa untuk tampak asing di matanya.
Langkah kaki Arga membawanya mendekat ke arah sebuah bupet kayu berwarna cokelat tua di sudut ruangan. Di atas permukaan kayu yang mengilap itu, berjejer beberapa bingkai foto dengan berbagai ukuran dan warna. Mata Arga terpaku pada satu bingkai perak kecil yang diletakkan agak ke belakang, seolah-olah sengaja disembunyikan dari pandangan utama.
Di dalam bingkai itu, seorang anak perempuan dengan kuncir dua tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit menjadi garis lengkung yang lucu. Anak itu memegang sebuah kincir angin kertas berwarna biru cerah yang warnanya sudah mulai memudar dalam cetakan foto tersebut. Arga merasa jantungnya berdenyut lebih kencang melihat benda itu.
Ingatan Arga melesat ke masa delapan tahun lalu di sebuah lapangan rumput luas yang dulu mereka sebut sebagai Tanah Merah. Dia ingat betul bagaimana dia harus menabung uang sakunya selama seminggu penuh hanya untuk membelikan kincir angin itu sebagai hadiah ulang tahun Nala. Dia juga ingat betapa bangganya dia saat memotret Nala menggunakan kamera saku milik ayahnya yang ia pinjam diam-diam. Ternyata, Nala masih menyimpan potongan memori itu, meski mungkin gadis itu sudah lupa siapa sosok yang berada di balik lensa saat itu.
Arga menyentuh permukaan kaca bingkai tersebut dengan ujung jarinya yang sedikit gemetar. Getaran halus di dadanya muncul kembali, sebuah rasa sesak yang mencoba memberontak dari balik topeng dingin yang ia pasang sepanjang hari ini. Ternyata baginya, melupakan adalah pekerjaan yang jauh lebih berat daripada menunggu.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang lembut terdengar dari arah tangga di sisi kiri ruangan. Arga segera menarik tangannya dan berdiri tegak, berusaha bersikap sewajar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang sangat rapi muncul dengan senyum ramah yang sangat mirip dengan senyum Nala.
Itu adalah Ibu Ratna, ibu kandung Nala yang dulu sering membuatkan Arga susu cokelat hangat setiap kali dia bermain ke rumah mereka di kota lama. Arga menahan napas sesaat, berharap wanita itu tidak memperhatikannya terlalu detail di bawah lampu ruang tamu yang agak temaram.
"Eh, ada teman-temannya Nala," sapa Ibu Ratna dengan nada suara yang sangat hangat.
Satria dan Dimas segera berdiri dari duduk mereka untuk memberikan salam dengan sopan. Arga terpaksa melakukan hal yang sama agar tidak terlihat mencolok. Dia menunduk cukup dalam saat bersalaman, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik poni rambutnya yang sedikit berantakan.
"Nala sedang ambil minum di belakang, Tante," ujar Dimas dengan nada riang seperti biasanya.
Ibu Ratna mengangguk-angguk kecil sambil berjalan mendekati meja tamu. Pandangannya menyapu satu per satu wajah remaja laki-laki di hadapannya. Saat matanya tertuju pada Arga, wanita itu mendadak menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Dia menyipitkan mata, seolah-olah sedang berusaha memanggil kembali sebuah memori penting yang sudah lama terkubur.
Arga merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Dia bisa merasakan tatapan menyelidik dari Ibu Ratna yang kini berdiri tepat di depannya dengan jarak yang cukup dekat.
"Sebentar," ujar Ibu Ratna dengan nada yang penuh rasa ingin tahu.
Arga hanya bisa terdiam mematung, sementara jantungnya berdegup kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan.
"Ibu seperti pernah kenal dengan wajah kamu," lanjut Ibu Ratna sambil memiringkan kepalanya sedikit ke kanan untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik.
Dimas dan Satria kini ikut menoleh ke arah Arga dengan tatapan bingung. Ketegangan yang aneh mulai merayap di udara ruang tamu Perumahan Citra Gading tersebut. Arga berusaha keras untuk tetap tenang, namun sorot mata Ibu Ratna terlalu tajam untuk dihindari.
"Kamu yang namanya Arga, kan?" tanya Ibu Ratna tiba-tiba dengan mata yang mulai berbinar cerah.
Dunia Arga seakan berhenti berputar selama beberapa detik. Pertahanan yang dia bangun sekuat tenaga sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini mendadak terasa goyah hanya karena satu pertanyaan sederhana itu. Dia tidak bisa lagi mengelak saat namanya disebut dengan begitu yakin.
"Iya, Tante," jawab Arga dengan suara yang sangat rendah.
"Ya ampun, benar kan tebakan Ibu!" seru Ibu Ratna sambil menepuk tangannya sekali karena merasa menang.
Wanita itu melangkah lebih dekat dan memegang kedua bahu Arga dengan penuh semangat. Ada binar kebahagiaan yang tulus terpancar dari wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus.
"Arga yang dulu sering main ke rumah di Jalan Cendana? Arga yang suka bantu Nala belajar matematika di teras depan sampai malam?" serunya dengan nada yang sangat antusias.
Nala muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi beberapa gelas jus jeruk dingin dan setoples kerupuk udang. Langkahnya terhenti seketika tepat di ambang pintu ruang tamu. Dia terpaku melihat ibunya sedang memegang bahu Arga dengan raut wajah yang tampak begitu akrab.
"Mama kenal dengan Arga?" tanya Nala dengan nada suara yang terdengar tidak percaya.
Ibu Ratna menoleh ke arah putrinya dengan senyum lebar yang masih merekah di bibirnya.
"Nala, kamu ini bagaimana bisa tidak tahu? Ini kan Arga, sahabat kamu waktu kita masih tinggal di perumahan lama. Masak kamu tidak ingat dengan Arga yang dulu selalu membawakan tas sekolah kamu setiap kali kita pulang bareng dari sekolah dasar?" tanya Ibu Ratna dengan nada sedikit menggoda.
Gelas-gelas di atas nampan yang dibawa Nala bergetar tipis hingga menimbulkan bunyi denting yang halus. Nala menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan oleh siapa pun. Ada keterkejutan yang sangat besar, kebingungan yang nyata, dan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah yang mendalam di matanya.
Sementara itu, Satria menaikkan sebelah alisnya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia merasa terusik dengan fakta baru yang baru saja terungkap di depan matanya sendiri. Sedangkan Dimas hanya bisa melongo, menyadari bahwa sahabatnya itu ternyata telah menyembunyikan sebuah rahasia besar selama ini.
Arga hanya bisa terpaku membisu. Dia menyadari bahwa semua kebohongannya di depan teman-temannya tentang tidak pernah mengenal Nala sebelumnya baru saja hancur berkeping-keping oleh kejujuran seorang ibu. Kini, tidak ada lagi tempat baginya untuk bersembunyi dari masa lalu yang selama delapan tahun ini selalu ia dekap sendirian.