Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pisau Bedah dan Ego
Keheningan di kediaman Mahendra malam ini terasa lebih pekat daripada cairan fiksasi formalin di laboratoriumku. Aku berdiri di tengah ruang tengah yang luas, namun udara di sekitarku terasa sesak, seolah-olah dinding-dinding marmer ini sedang merapat untuk menghimpit alveolus paru-paruku hingga kolaps.
Di layar ponselku yang retak, foto Adrian yang terikat di kursi belakang mobil hitam itu masih terpampang nyata. Mata Adrian yang biasanya jenaka kini dipenuhi ketakutan primal—sebuah ekspresi ante-mortem yang seharusnya hanya kulihat dalam buku teks kriminologi, bukan pada asisten yang selama ini menjadi satu-satunya pelampung kewarasanku di rumah sakit.
Suara deru mesin mobil di halaman depan memecah sunyi. Tak lama, pintu utama terbuka dengan debuman keras.
Ghazali Mahendra masuk dengan langkah yang tidak lagi tenang. Jas mahalnya sudah ia lepas, kemeja putihnya ternoda bercak cokelat kering—mungkin lumpur atau darah—dan matanya berkilat dengan kemarahan yang melampaui batas profesionalismenya sebagai Jaksa Penuntut Umum.
"Kenapa kau masih berdiri di sini?" Suara Ghazali menyambar, rendah namun menggelegar layaknya guruh sebelum badai. "Aku sudah menyuruhmu diam di kamar, Keana!"
Aku melangkah maju, mengabaikan getaran di lututku. "Adrian diculik karena aku bicara di persidangan tadi pagi, Ghazali! Kau pikir aku bisa tidur dengan tenang sementara asistenku mungkin sedang meregang nyawa karena ego keluarga Mahendra?"
Ghazali mendekat, aroma wiski dan sisa asap rokok menguar dari tubuhnya, mencoba menenggelamkan aroma antiseptik klorheksidin yang selalu menjadi identitasku. Ia mencengkeram pundakku, menekannya hingga aku meringis pelan.
"Jangan merasa menjadi pahlawan di sini! Kau hanyalah seorang dokter mayat yang tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dunia gelap ini bekerja!" desisnya tepat di depan wajahku. "Adrian adalah urusanku. Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri."
"Dengan cara apa? Dengan menyembunyikan bukti lagi? Dengan membiarkan Maia Anindita memutarbalikkan fakta?" aku melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. "Lihat dirimu, Ghazali! Kau bahkan tidak bisa melindungi lencana timbangan emasmu sendiri hingga benda itu berakhir di tenggorokan mayat Bram! Kau gagal sebagai jaksa, dan sekarang kau ingin gagal melindungi nyawa orang yang masih hidup?"
Plak!
Ghazali memukul vas bunga kristal di meja sampingku hingga hancur berkeping-keping. Serpihannya terlempar, salah satunya menggores pipiku, meninggalkan perih yang seketika disusul oleh aliran hangat darah.
"Jaga bicaramu, Keana!" Ghazali bernapas memburu. "Kau tidak tahu apa yang sedang kupertaruhkan! Jika kasus bendungan ini jatuh ke tangan Maia, bukan hanya karierku yang hancur, tapi seluruh yayasan kakekmu akan diseret ke pengadilan tipikor! Aku melakukannya untukmu!"
"Untukku?" Aku tertawa getir, suara tawaku terdengar menyedihkan di ruangan yang terlalu mewah ini. "Kau melakukannya untuk egomu, untuk nama besar Mahendra, dan untuk menutupi fakta bahwa kau masih belum bisa melupakan wanita yang sekarang sedang menghancurkanmu! Jangan gunakan namaku sebagai tameng moralmu."
Aku merogoh saku blazer-ku dan mengeluarkan sebuah amplop kecil berisi hasil cetakan mikroskopis yang kubuat sebelum meninggalkan rumah sakit tadi.
"Apa ini?" tanya Ghazali, matanya menyipit penuh curiga.
"Ini adalah pisau bedahku yang akan memotong semua kebohonganmu," jawabku tenang, meskipun jantungku berdetak dengan irama tak beraturan. "Aku melakukan analisis residu pada bercak di kemeja Bram semalam. Itu bukan hanya darah. Ada partikel mikro yang berasal dari serat kain yang sangat spesifik. Serat kain dari dasi sutra yang kau pakai di hari pernikahan kita, Ghazali."
Wajah Ghazali berubah sepucat jenazah di lemari pendingin. Ia terhuyung mundur selangkah. "Itu tidak mungkin. Aku tidak ada di sana saat Bram dieksekusi."
"Secara fisik mungkin tidak. Tapi kenapa serat dasimu ada pada kuku korban?" Aku melangkah maju, membalikkan keadaan. Sekarang, aku adalah jaksa-nya, dan dia adalah terdakwa di ranjang kami sendiri. "Apakah seseorang meminjam dasimu? Atau seseorang sengaja menaruhnya di sana untuk menjebakmu?"
Ghazali terdiam. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Maia... dia datang ke ruang kerjaku dua hari yang lalu. Dia memintaku untuk mundur dari kasus ini secara baik-baik. Dia bilang dia punya 'kenang-kenangan' dariku."
"Dan kau memberikannya?" suaraku meninggi. "Kau membiarkan musuhmu memiliki akses ke barang-barang pribadimu?"
"Aku tidak memberikannya! Dia mengambilnya saat aku lengah!" teriak Ghazali. Ia menatapku dengan sorot mata yang untuk pertama kalinya menunjukkan kerapuhan. "Keana, kau tidak mengerti... Maia tahu semua titik lemahku. Dia tahu bagaimana cara membuatku terlihat seperti pembunuh tanpa dia harus memegang senjata."
"Lalu kenapa kau melindunginya di meja makan semalam?" tanyaku, air mata mulai mengaburkan pandanganku. "Kenapa kau lebih peduli pada kenyamanan penciumannya daripada martabat istrimu sendiri?"
"Karena aku ingin dia merasa menang!" Ghazali mencengkeram tanganku, kali ini lebih lembut, namun tetap posesif. "Aku ingin dia berpikir aku masih di bawah pengaruhnya agar dia menurunkan kewaspadaannya. Tapi penculikan Adrian... itu di luar rencanaku. Dia tahu kau mulai menemukan bukti yang sebenarnya."
Tiba-tiba, ponsel Ghazali berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk. Ia membukanya, dan wajahnya kembali mengeras.
"Apa lagi?" tanyaku cemas.
"Dia ingin aku datang ke dermaga lama sekarang. Sendirian," ucap Ghazali. "Dia mengancam akan menyuntikkan Dexmedetomidine dosis letal ke jantung Adrian jika aku membawa polisi."
"Aku ikut," kataku tegas.
"Tidak! Itu terlalu berbahaya!"
"Aku seorang dokter forensik, Ghazali! Aku tahu bagaimana cara menangani overdosis zat penenang! Jika kau pergi sendirian dan Adrian dalam kondisi kritis, kau hanya akan membawa pulang mayat!" Aku menatapnya lurus, tidak memberi ruang untuk debat. "Pilihannya dua: kau membawaku dan memiliki peluang menyelamatkan asistenku, atau kau pergi sendiri dan kita berdua berakhir di atas meja otopsi besok pagi."
Ghazali menatapku lama, seolah-olah ia sedang menimbang berat antara egonya dan nyawa orang lain. Akhirnya, ia mengangguk kaku.
"Pakai jaketmu. Dan Keana... jangan pernah lepaskan tanganku begitu kita sampai di sana."
Perjalanan menuju dermaga lama di Jakarta Utara terasa seperti menembus lorong waktu menuju kematian. Hujan deras kembali turun, menghapus pandangan di balik wiper mobil yang bergerak liar. Aroma di dalam mobil kini berubah menjadi campuran antara ketegangan, bau tanah yang basah, dan sisa-sisa aroma formalin yang entah kenapa kembali muncul dari balik kulitku—manifestasi dari kecemasan profesionalku.
Kami sampai di area gudang tua yang terbengkalai. Lampu-lampu jalan yang pecah hanya menyisakan kegelapan yang mengancam. Ghazali menghentikan mobilnya beberapa meter dari pintu masuk dermaga.
"Tetap di sini sampai aku memberi kode," perintahnya.
"Ghazali—"
"Dengarkan aku sekali ini saja, Keana!" Ghazali memegang wajahku dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap luka gores di pipiku akibat pecahan kristal tadi. "Jika terjadi sesuatu padaku... kartu memori yang kau temukan di tubuh Bram, ada di dalam brankas di bawah lantai ruang kerjaku. Kodenya adalah tanggal lahirmu. Aku menggantinya setelah malam pertama kita."
Aku terpaku. Tanggal lahirku? Pria yang menghinaku berbau bangkai ini menggunakan tanggal lahirku sebagai kunci rahasia terbesarnya?
"Kenapa?" bisikku.
"Karena aku tahu, tidak peduli seberapa benci duniaku padamu, kau adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah mengkhianati kebenaran," ucapnya sebelum keluar dari mobil dan menghilang di balik tirai hujan.
Aku tidak bisa hanya diam. Setelah menunggu tiga menit yang terasa seperti tiga abad, aku keluar dari mobil. Aku membawa tas medisku yang selalu kusiapkan di bagasi—tas yang berisi penawar racun, alat intubasi darurat, dan pisau bedah cadangan.
Aku merayap di balik tumpukan kontainer berkarat. Suara ombak yang menghantam pilar dermaga berpadu dengan suara teriakan yang familiar.
"Kau datang juga, Sayang. Dan kau terlihat sangat menyedihkan dengan kemeja kotor itu," suara Maia Anindita terdengar merdu namun mengandung racun arsenik yang mematikan.
Aku mengintip dari celah kontainer. Di bawah lampu temaram gudang, Maia berdiri dengan payung merah, tampak kontras dengan latar belakang sekitarnya yang suram. Di sampingnya, Adrian tergeletak di lantai dengan mulut diplester, matanya terpejam rapat. Seorang pria berbadan besar memegang jarum suntik tepat di atas leher Adrian.
"Lepaskan dia, Maia. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Karierku sudah di ujung tanduk karena rekaman CCTV itu," Ghazali berdiri beberapa meter di depan mereka, kedua tangannya terangkat ke udara.
"Oh, itu belum cukup, Ghazali. Aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan saat kakekmu membuangku seperti sampah hanya karena aku tidak memiliki silsilah keluarga yang 'bersih' seperti istrimu yang berbau mayat itu!" Maia melangkah mendekati Adrian, ujung sepatunya menekan luka lecet di tangan asistenku.
"Keana tidak ada hubungannya dengan ini! Ini urusan kita!" teriak Ghazali.
"Dia punya segalanya untuk berhubungan dengan ini! Dia memiliki posisimu, dia memiliki namamu, dan dia memiliki akses ke fakta-fakta yang seharusnya tetap terkubur bersama Bram!" Maia memberi isyarat pada algojonya. "Suntikkan sekarang."
"Tunggu!" teriakku, keluar dari kegelapan.
Semua mata tertuju padaku. Ghazali membelalak ngeri, sementara Maia menyunggingkan senyum kemenangan yang paling mengerikan yang pernah kulihat.
"Ah, sang Dokter Penyelamat Nyawa akhirnya muncul," ejek Maia. "Baguslah. Kau bisa melihat sendiri bagaimana asisten kesayanganmu ini mengalami cardiac arrest di depan matamu."
"Jangan lakukan itu, Maia," kataku, suaraku stabil meskipun seluruh tubuhku menggigil karena dingin dan takut. "Jika kau menyuntikkannya sekarang, kau hanya akan membuktikan bahwa kau adalah amatir. Zat Dexmedetomidine yang kau gunakan itu sudah terkontaminasi. Aku yang menukarnya di laboratorium pagi ini saat aku tahu seseorang sedang mengincar stok farmasi kepolisian."
Maia tertegun. Ia menoleh pada pria berbadan besar itu. "Benarkah?"
Pria itu ragu-sejenak, dan saat itulah Ghazali bergerak. Dengan kecepatan yang tidak kuduga dari seorang birokrat hukum, ia menerjang pria itu. Suara perkelahian fisik pecah di tengah gudang yang sunyi.
Aku berlari menuju Adrian. Aku tidak peduli pada Maia yang berteriak histeris atau suara tembakan yang mungkin meletus. Fokusku hanya pada satu hal: denyut nadi di leher Adrian.
"Adrian! Bangun!" aku merobek plester di mulutnya. Napasnya dangkal dan cepat—gejala awal syok.
Aku segera membuka tas medisku. Tanganku yang biasanya presisi kini bekerja dengan kecepatan adrenalin. Aku mengambil suntikan Atropine untuk memacu jantungnya.
"Keana, awas!" teriakan Ghazali memperingatkanku.
Aku menoleh dan melihat Maia berlari ke arahku dengan sebilah pisau kecil—bukan pisau sembarangan, itu adalah scalpel nomor 10 miliki yang ia curi dari meja otopsiku semalam.
"Kau merebut segalanya dariku, jalang berbau formalin!" teriak Maia, wajah cantiknya kini berubah menjadi topeng kegilaan.
Ia mengayunkan pisau itu ke arah leherku. Aku mencoba menghindar, namun ujung logam tajam itu tetap menyayat bahuku. Rasa perih yang tajam menusuk, namun aku tidak membiarkan diriku jatuh. Aku justru menggunakan pengetahuan anatomiku. Aku menangkap pergelangan tangannya, menekan titik saraf ulnar di sikunya dengan kekuatan penuh.
Maia menjerit kesakitan, pisau itu jatuh berdenting di lantai semen.
"Kau mungkin bisa memanipulasi hukum dan hati pria, Maia," desisku tepat di telinganya sembari mengunci gerakannya. "Tapi kau tidak akan pernah bisa memanipulasi kematian. Dan di hadapanku, kau hanyalah calon bangkai yang tidak berharga."
Ghazali berhasil melumpuhkan algojo itu dan segera berlari ke arah kami. Ia menarik Maia menjauh dariku dan menjatuhkannya ke lantai tepat saat suara sirene polisi mulai mendekat. Ternyata, Ghazali tidak benar-benar datang sendirian; ia telah berkoordinasi dengan Komisaris Herman secara rahasia.
Dua jam kemudian, dermaga itu dipenuhi oleh garis polisi berwarna kuning. Adrian sudah dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan dalam kondisi stabil. Maia Anindita digiring masuk ke mobil tahanan dengan tangan terborgol, wajahnya yang tadi angkuh kini tertutup rambut yang kusut masai.
Aku duduk di tepi ambulan, seorang paramedis sedang membalut luka di bahuku. Darah di bajuku sudah mengering, namun gemetarnya masih belum hilang.
Ghazali mendekat. Ia tampak sangat lelah. Setelan jasnya hancur, wajahnya penuh lebam, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya saat ia menatapku. Tidak ada lagi kedinginan pualam yang biasa ia tunjukkan di ranjang kami.
"Kau terluka," ucapnya lirih.
"Hanya luka luar. Bisa dijahit," jawabku datar. "Bagaimana dengan kariermu? Dengan Maia yang tertangkap, bukti-bukti itu akan keluar semua."
"Biarkan saja hancur," Ghazali duduk di sampingku, mengabaikan jarak satu meter yang selama ini ia agungkan. "Aku lebih suka kehilangan karierku daripada harus melihatmu berakhir di meja otopsimu sendiri karena kesalahanku."
Aku menoleh padanya. "Kau sungguh bermaksud begitu? Atau ini hanya strategi hukumu yang lain?"
Ghazali tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tanganku yang masih kotor oleh sisa obat dan darah Adrian. Ia mencium punggung tanganku dengan sangat lama, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus bau formalin itu dengan napasnya sendiri.
"Bau ini..." bisiknya.
"Aku tahu, kau membencinya," aku mencoba menarik tanganku.
"Tidak," Ghazali mempererat genggamannya. "Mulai malam ini, bau ini adalah aroma keberanian yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun di dunia ini. Maafkan aku, Keana. Maaf karena telah menjadi alamat yang salah untuk hatimu selama ini."
Hatiku terasa seperti baru saja dibedah tanpa anestesi. Sakit, namun untuk pertama kalinya, ada harapan bahwa luka ini bisa mengering. Namun, saat aku menatap lampu biru polisi yang berputar, aku teringat sesuatu.
"Ghazali," panggilku.
"Ya?"
"Tentang kartu memori di brankasmu... aku tidak pernah memberitahumu tanggal lahirku yang sebenarnya. Wasiat kakek hanya menyebutkan tahun, bukan tanggal."
Ghazali tertegun. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lalu bagaimana kau tahu kodenya?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya menebak," aku menatapnya dalam-dalam. "Tapi yang lebih penting... jika kau tidak tahu tanggal lahirku, lalu tanggal lahir siapa yang kau gunakan sebagai kode brankas itu?"
Warna wajah Ghazali kembali memudar. Ia tidak menjawab. Di saat yang sama, Komisaris Herman mendekat dengan wajah serius.
"Jaksa Ghazali, ada satu hal lagi. Kami menemukan dokumen lain di tas Maia. Dokumen pernikahan siri antara dirinya dan mendiang kakekmu, setahun sebelum kakek meninggal. Maia bukan mantan kekasihmu, Ghazali... dia adalah calon nenek tirimu yang sah."
Duniaku kembali berputar. Kebenaran yang baru saja kuraih seolah hancur berkeping-keping lagi. Ranjang kami bukan hanya penuh luka karena cinta yang salah alamat, tapi karena konspirasi darah yang jauh lebih gelap dari yang pernah kubayangkan.
Ego Ghazali, pisau bedahku, dan rahasia Mahendra... ternyata ini baru permulaan dari sebuah autopsi panjang pada keluarga yang paling kuhormati.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍