Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIANG GOSIP
“Aisss, kau ambil map itu.”
Seorang laki-laki gemuk memarahi OB yang ketakutan. Dengan secepatnya, OB itu memunguti kertas-kertas yang bertebaran di lantai. Tangannya gemetaran karena baru kali ini dia dimarahi atasannya. Selama dia kerja magang sebagai OB di kantor ini, tidak pernah ada yang memarahinya. Kecuali baru orang gemuk ini yang baru datang sekitar lima harian menggantikan pak Dody yang tidak pergi ke kantor karena marah pada opa Darwis.
“Udah berapa lama kau kerja hah.”
Orang gemuk itu berkata sambil memelototkan matanya. Kelihatan lucu mirip ikan koki mata balon yang selalu melotot matanya. Tetapi OB itu tidak berani tertawa. Walaupun dalam hati, ingin tertawa.
“Baru 1 bulan, pak.”
Jawab OB itu dengan suara gemetar.
“Baru 1 bulan udah ceroboh. Lalu kalau udah kerja 1 tahun makin cerobohlah kau.”
“Ma…af, pak. Aku tak sengaja.”
Dia tadi seperti biasa masuk di kantor direktur seperti yang menjadi tugasnya membersihkan lantai. Dia pikir sepagi ini pak direktur belum di kantor, ternyata sudah di kantor jam 6 pagi dengan bawa seorang perempuan menor. Ketika dia masuk, pak direktur gemuk itu melemparkan map mengenai tubuhnya sehingga kertas-kertasnya berhamburan di lantai.
“Sapa namamu.”
“Aris, pak.”
“Oke, Aris kau tau dalam kantorku. Kau tak boleh masuk kesini tanpa ijin, mengerti!!!”
Kata orang gemuk itu menandaskan. Dia tidak senang, pada waktu dia main asyik ada yang mengganggu. Dia sejak malam, bersama perempuan menor itu sengaja berada di kantor perusahaan pada saat sepi, tidak ada yang di kantor. Dia bermaksud mengantarkan perempuan ini pulang pagi-pagi, tetapi kepergok Aris. Dia kesal. Marah. Tidak ada bawahan yang berani macam-macam padanya.
“Ya, pak.”
“Udah, sono angkat kaki!”
Teriak lelaki gemuk itu tajam. Aris mundur ketakutan.
“Baik, pak.”
“Satu lagi, jangan masuk ruangan ini tanpa mengetok, ngertiiii !!!”
“Yyyaaa…pak. Aku permisi dulu.”
Aris segera mau meninggalkan ruangan yang terasa panas membara baginya. Tetapi matanya sempat melirik ke perempuan menor berbaju merah itu, yang duduk bersandar di meja direktur. Roknya sedikit terangkat. OB itu memalingkan mukanya.
“Apa liat-liat, sono enyah.”
Lelaki gemuk itu, mukanya merah seperti kepiting rebus. Dia tidak senang OB itu melihat pacarnya.
“I…I…Ya, pak. Maaf.”
Jawab Aris segera cepat-cepat meninggalkan ruangan itu.
Mbak Tiwik yang barusan melapor kehadiran, melihat OB itu keluar dari lift khusus karyawan dengan tergesa-gesa. Itu dari lantai 20.
“Ris. Ada pa.”
Mbak Tiwik menyapa Aris yang menjadi OB magang itu. Dia sering bergosip dengan Aris mengenai hal-hal di kantor ini. Mulai Santi yang resign dari OB karena menggoda pak Dody yang sudah punya tunangan Wandy sampai meninggalkan tunangannya demi Santi. Juga tentang pak Dody yang selama 5 hari-an tidak datang ke kantor sekarang ternyata malah diganti pak Sukma Wicaksana dari kantor pusat kota J.
“Gak nda apa-apa, mbak.”
“Bener.”
Kata mbak Tiwik menyelidik. Dia tidak percaya pasti ada sesuatu yang disembunyikan Aris. Dia sudah cukup mengenal Aris dengan baik. Aris memang OB yang paling rajin, padahal kantor saja dimulai jam 8 pagi, dia sudah bersih-bersih karena dia mohon ijin untuk tinggal di gudang karyawan. Dia belum punya kosan. Belum berani mengontrak, karena uangnya belum cukup apalagi dia hanya karyawan magang sebagai OB.
“Anu, mbak. Aku tadi liat pak Sukma lagi sama perempuan.”
“Haaah !!!”
Mbak Tiwik pura-pura terkejut. Padahal dia sudah mengira pak Sukma akan berbuat hal-hal itu. Kemarin saja, pak Sukma sengaja menjabat tangannya lama-lama. Matanya dikerjap-kerjapkan.
“Dasar lelaki rendah.”
Rutuk mbak Tiwik. Ini dia ada bahan gosipan baru. Nanti bisa digosipkan ke karyawan HRD yang biang gosip semua.
Muncul mbak Ita dan dan mbak Titin 2 karyawan HRD yang heran melihat mbak Tiwik sedang berbincang-bincang dengan Aris, OB magang. Padahal masih pagi sekali. Kantor juga belum buka sama sekali.
“Duh, asyik ye ngrump !”
Mbak Titin bersorak. Mbak Tiwik melirik ke mbak Titin.
“Nih, biangnya gosip udah datang.”
Mbak Tiwik berguman. Mereka teman bergosip yang asyik.
“Yeee……..sama kayak yang ngomong.”
Teriak mbak Tiwik keras-keras.
“Ssssssttttt……jangan keras-keras. Nanti ada yang denger.”
Mbak Ita menempatkan telunjuk kirinya ke mulutnya yang berbibir tipis lipstik merah menyala.
“Ha….ha…..ha……sapa yang akan denger. Ni masih jam 7-an, sapa yang mau tau orang ngrumpi.”
Teriak mbak Tiwik keras-keras. Mbak Tiwik tampak bersemangat dengan kedatangan 2 teman gosipnya.
“Oiiii….jangan teriak-teriak gitu, nanti dikira teriak-teriak kena patil.”
Kata mbak Ita tertawa cekikikan.
“Patil pa dulu. Patil lele pa patil lundu.”
“Oiiii……patil lele dung. Sengatannya menggigit.”
Teriak mbak Tiwik sekeras mungkin.
Ketiganya tertawa cekikikan. Aris hanya mendengarkan saja mereka bergosip. Dia hanya pendengar yang baik, bahkan bila diajak bicara sama mbak Tiwik disela-sela kerjanya.
“Heiiii…..tanya tadi ngrumpiin pa.”
Tanya mbak Titin tiba-tiba pada Aris. Aris terkejut dapat pertanyaan itu dari mbak Titin.
“Anu, mbak tadi pas aku bersih-bersih liat pak Sukma sama perempuan menor lagi berduaan di kantornya.”
“Haaaaaah.”
Teriak mbak Titin dibuat-buat. Dia sudah menduga sama halnya dengan mbak Tiwik. Dia pernah tiba-tiba pak Sukma datang-datang menyentuh pundaknya dengan penuh minat.
“Oiiiiii…..sungguh terlaluuuu.”
Teriak mbak Ita.
“Emangnya, kau belum kena.”
Seloroh mbak Tiwik Santai.
“Ku pernah dielus-elus nih dibagian sini.”
Kata mbak Ita sambil menunjuk-nunjukkan lengannya yang halus.
“Oiiii…..emang lenganmu tu pualam hingga pak Sukma suka elus.”
Teriak mbak Titin.
Ketiganya tertawa cekikikan lagi.
“Heiiii…..pagi-pagi udah bergosip. Kerja sono.”
Tiba-tiba muncul bu Wati mendelik marah pada mereka. Mereka segera cepat-cepat pasang sikap hormat pada tante Wati. Siapa yang tidak kenal bu Wati, tante kandung Ceo Dody Gumilang, ratu paling berkuasa disini.
“Eeee…..kau juga ikut-ikutan aja sama perempuan bergosip. Sono kerjaaaa.”
Teriak bu Wati pada Aris. Aris terkejut dan gemetaran diteriaki sama bu Wati.
“Baik, bu.”
Kata Aris yang segera meninggalkan tempat itu.
“Eiiiii…..ingat kau bersihkan kantorku juga !”
Teriak bu Wati.
“Yyyyyaaaaa….bu.”
Kata Aris mengangguk hormat.
Setelah Aris pergi, bu Wati berubah sikap. Tadinya galak berubah menjadi sok akrab.
“Heiii…..tadi ngrumpiin pa.”
“Anu, bu tadi Aris liat pak Sukma berduaan sama perempuan menor di kantornya.”
Kata mbak Tiwik dengan sopan. Dia tahu harus berbicara hati-hati sama bu Wati yang kadang galak dan ganas seperti harimau, tetapi kadang sok akrab seperti teman bergosip yang asyik.
“Ooooo….”
“Ya, bu pak Sukma juga suka berlaku genit sama kita-kita.”
Kata mbak Ita dengan suara sedikit dipelankan. Tidak seperti tadi yang teriak-teriak seperti orang kemasukan.
“Udah, bubar anggap aja nggak ada apa-apa. Kerjaaaa sekarang.”
Teriak bu Wati memberi perintah. Ketiganya mengangguk hormat lalu pergi ke bagian kerjanya masing-masing. Bu Wati tersenyum licik. Dia akan memanfaatkan bahan gosip tadi untuk memojokkan pak Sukma supaya bisa dikendalikan.
Sepeninggal Aris, pak Sukma cepat-cepat membawa pacarnya ke tangga belakang dekat gudang perusahaan. Dia memasukkan pacarnya dari sana. Mereka menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
“Eiiii….napa buru-buru pak.”
Teriak bu Wati enteng.
Pak Sukma terkejut. Hampir saja dia terjatuh dari tangga. Bu Wati ada diatas tangga melihat dia dengan pacarnya.
“Nggak ada apa-apa bu Wati.”
Kata pak Sukma terbata-bata. Dia takut sama bu Wati, karena dia tahu bu Wati adalah anak opa Darwis, direktur utama perusahaan Gumilang Perkasa.
“O, ni sapa pak.”
seloroh bu Wati menunjuk ke perempuan menor.
“A…a…anu, bu dia mau nglamar jadi sekretaris di kantor ini.”
Kata pak sukma patah-patah. Dia sudah kehabisan akal buat menyembunyikan rahasia skandalnya.
“Hmmmm, sekretaris yaaa, yang bantu kau rawat tubuh juga.”
Teriak bu Wati dengan galak.
“I…i…itu nggak bener bu.”
Kata pak Sukma sambil menyeka keringatnya pakai sapu tangan bludru yang lusuh dari sakunya.
“Paaaak, asal bapak tau yaaa,,,,dilarang bawa perempuan asing di kantor saat jam kerja. Juga saat setelahnya. Nggerti paaaakkkk.”
“Ngertiiii, bu.”
Kata pak Sukma terbata-bata. Dia tertangkap seperti pencuri yang tangkap ayam tetangga.
“Oke pak anter perempuan itu pulang. Ingat jangan diulang, kalau tidak, kulaporkan sama pak Darwis.”
Tandas bu Wati tajam sambil matanya melotot pada perempuan menor itu. Perempuan menor itu menunduk ketakutan. Tangannya meremas-remas ujung roknya yang pendek.
“Ba..baik, bu.”
Pak Sukma bersama perempuan menor itu pergi meninggalkan bu Wati. Bu Wati tersenyum penuh kemenangan.
“Kau rasakan Sukma. Ni baru permulaannya.”
Guman bu Wati pelan. Sekarang sepeninggal pak Dody, dia semakin berkuasa di perusahaan Gumilang Perkasa di cabang kota S. Tidak ada yang berani menentangnya bahkan yang jabatannya diatas dirinya. Semuanya tunduk padanya.
Bagaimanakah dengan Nasib Dody yang sudah tidak datang ke kantornya lagi? Akankah dia benar-benar dibuang oleh opa Darwis.
Bersambung