Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
MALAM HARI...
Delina rebahan di dalam kamarnya, setelah makan malam keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
DRTT...
DRRT...
DRRT...
" Halo, tumben lo telepon gue malem-malem. Kenapa?" Tanya Delina.
" Gue minta maaf sebesar-besarnya sama lo lin." Ucap Aldo dari seberang sana.
" Belum lebaran, maasih 6 bulan lagi. Ngapain lo minta maaf dah." Heran Delina.
" Lo gak ada liat di grp keluarga?" Tanya Aldo.
" Grup apaan dah? Gue kagak ikut grup."
" Grup keluarga suami lo."
" Gak ada, kenapa meamngnya. " Tanya Delina, perasaan wanit itu mulai tidak enak nih.
Masalahnya, ponsel suaminya itu dari tdi bunyi terus. Lalu ada yang telepon, Delia tidak curiga karena Mertuanya aja yang telepon tapi kok, lama banget yaa telepon nya diluar.
" Apaan? lo jangan bikin gue mikr yang enggak-enggak Do!? " Desak Delina.
" Ada kabar lo Hamil Lin." Ucap aldo lirih yang mampu didenger Delina.
" Sial! Lo kan? Yang ngadu gue bunting! " Kesal delina.
" Ck, bukan ege. Niat gue cuman mau cerita doang sama Mama, dia salah paham terus laporan ke Bu Lela. "Bela Aldo.
" Anjilah! Terus gimana? Udah kesebar di Grup keluarga maksud lo mau ngasih tahu itu kan?"
" Iya sii, tapi emang beneran lo gak hamil? Gak mau tespek dulu lo?"
" Dibiang gue gak bunting do! " Geram delina.
" Kalau gak dicoba mana tahu LIn."
" Gue aja masih perewong, belum belah duren! Gimana mau hamil, Aldo kamvrett!? " Kesal Delina.
KRIKK...
KRIKK..
KRIIK...
Hening beberapa saat.
" Ja-jadi, lo belum belah duren? Anjrlah! Tahan aja paman gue seatap sma cewek gak diapa-apain! "
" Anjirlah lo Do! Mulut lo di fiter dulu! "
" Lo, gak takut lakik lo jajan sembarangan diluar?"
" Gak,lah. Dia kan kuat iman."
" Jaman sekarang jangan prcaya yang sok alim, gue gak maksud jatuhkan Paman gue. tapi rata-rata suami selingkuh karena gak dikaish jatah sama istrinya."
" Lo mau di madu sama paman gue?"
" Gak lah! Amit-amit Do! Mending cere aja, tapi emang sengarh itu ya?"
" Iyalah Ogep, laki-laki juga punya kebutuhan kali. Apalagi yang sudah menikah, tinggal satu atap. Seranjang tiap hari liat bini nya baju seksi, apa gak makin ngences, kalau kelamaan gak dikasih bisa-bisa jajan diluar karena gak kuat." Ucap Aldo.
" Jangan buat gue takut Do! lo mau nakut-nakutn gue kan? lo juga, tahu dari mana hal gituan. Curiga lo sering Checkout juga kna?" Tuding Delina.
" Yeh, si marmut! Gue inget dosa kali, walaupn gue belum nikah. Gue bukan anak kecil lagi yang gak thu apa-apa."
" Sudah sana, lo belah duren. Mumpun malam ini, malam jumat."
" Sekalian buktiin gosip gak bener itu, kalau lo beneran hamil." Sambung aldo.
" Ck, lo kata enak banget! Gue yang berat jalanin nya..."
" Lo kasih tahu aja itu berita hoax! Bisa-bisa nya nyebar berita pelaku utama nya gak tahu apa-apa."
" Males, lo klarifikasi sendir aja. Makanya belah duren biar jadi beneran beritanya. " Ucap Aldo.
" Siala lo Do"
TUT...
TUT...
TUT...
" Ck, dimatikannya lagi nih telepon." Kesal Delina.
" Tapi, bener juga. kta Mamak gak boleh nunda-nunda nanti dilkanat tuhan."
" Ihh... Takut..." Gumam Delina bergidik ia keluar kamar, menghampiri ruang kerja Agam.
KLEK....
" Om? Lagi apa? "Tanya Delina mendekat k suaminya itu yang sibuk dengan berks-berks ditangan nya.
" Lagi kerja, kenapa? gka bisa tidur??" Tanya Agam melepas kaca mata bacanya memperhatikan tampilan Delina yang masih tidak biasa Agam lihat, pastinya membuat sesuatu dalam dirinya bereaksi.
" Om gak mau bilang apa-apa gitu? " Tanya Delina heran.
" Bilang apa?" Tanya balik Agam.
" Aldo tadi sudah kasih tahu, Om gak mau jujur? Umi tadi nelepon karena itu kn?"
Agam mulai mengrti, kemana arah pembicaraan nya.
" Iya, saya tahu kamu akan marah dan kepkiran makanya saya gak kash tahu. "
" Memang Aldo itu, mulutnya lemes banget."
" Udah, biarkan saja. Nanti kita kasih tau semuanya kalau itu beritanya gak bnr."
" Kalau kita wujudin gimana Om?" Tanya Delina.
"Maksudnya?" Tanya balik Agam yang masih belum ngeh.
" Ini, lakik gue pura-pura lupa ingatan atau gimana dah." Batin Delina cemberut.
" Mau belah duren gak?"
Agam mengernyitkan keningnya bingung. " Gak ada yang jual durian disini Dek, kecuali di pasar. "
" Ishh... Bukan gitu! Ini malam jumat loh."
" Iya, saya tahu malam jumat. Apa hubngan nya sama belah duren? Besok baru ad durian nya dek." ucap Agam sabar menanggapi istri kecilnya ini.
" Tau ah! gak jadi, otak om sama kayak Aldo! Miring sebela..." Kesal Delina dirinya langsung pergi begitu saja keluar ruang kerja menuju kamar.
BRAK...
" Kok malah marh, bener dong. Durian nya besok baru ada." Gumam Agam menggeleng-geleng tdak paham dengan pemikiran istrinya itu.
TUNGGU...
Setelah di ingat-ingat lagi, sepertinya Agam baru tersadar belah duren yang dimaksud istrinya apa.
Agam beranjak dari duduknya,bergegas menemui sang istri dikamar.
" SAYANG! TUNGGUIN MAS! MAS MAU KOK DEK!!! " Teriak Agam menyusul istrinya yang bru saja menutup pintu kamar.
BRAK...
...➰➰➰➰...
Suara burung saling berbunyi...
CIT...
CIT...
CIT...
Matahari sdah menampilkan wujudnya, diatas sana. Tapi tidak membuat kedua pasangan suami istri yang masih terlelap terganggu sama sekali, walaupn matahari masuk kecelah-celah jendela dan gorden yang masih tertutup rapat.
TOK...
TOK...
TOK...
" ASSAAMUALAIKUM! LIN!? AGAM! "
TOK....
TOK....
" INI, MAMAK SAMA BAPAK DATANG! "
Mak Nurlela menggendor sekuat tenaga.
" Mungkin mereka gak ada dirumah Mak." Ucap Pak Roslan, dirinya sudah lelah mengetok teus menerus berasa nagih utang.
" Gak mungkin mereka keluar pagi-pagi Pak,itu ad sandal mereka.mobilnya juga ada." Ucap Mak Nurlela.
Sedangkan didalam kamar....
Delina terusik, saat mendengar gedoran pintu rumah merkea dan suara teriakan juga.
" Siapa sii, pagi-pagi. Ngetok rumah kencang banget..." Gerutu Delina ia hendak beranjak dar kasur tapi pnggungnya keburu sakit.
" Awww!nyilu banget.." Delina meringis mengelus punnggungnya jadilah ia rebahan lagi.
Dilihatnyaa, Agam masih tetidur pulas memeluk pinggang nya dngan satu tngan.
" Gila! Nih, duda satu. Kayak singa banget dah semalam! " batin Delina ngeri sendir jika meningat keberingasan suaminya semalam.
" Om! Bangun dulu! Om\~ " panggil Delina menggoyangkan lengan pria itu.
" Hah! ada apa? " Tanya Agam seperti orang linglung, ia melirik ke kanan kirinya dengan pandangan menyipit.
" Ada orang, bukain Om. Aku gak kuat jalan." Ucap Delina.
" Siapa?"
" Mana ku tahu, makanya bukain dulu. kesian suaranya nanti habis."
" Kamu gak bisa?" Tanya Agam melirik Delina yang masih rebahan.
" Om pikir sendiri ajalah! " kesal Delina ia menutup wajahnya dengan selimut.
Membuat Agam terkekeh pelan, jika mengingat kejadian semalam. Betpa indahnnya bagi Agam...
" Saya keluar dulu." Ucap Agam ia mengambil pakaian nya yang tececer dilantai serta celana pendeknya lalu keluar kamar.
BLAM....
Suara ketokan masiih terdengar, dan suara yang memanggil keduanya malahan semakin kencang teriakannya.
" Iya, sebentar." Ucap Agam dari dalam.
" Tuh, Mak. Ada orangnya." Ucap Pak Roslan dari luar.
" Kayaknya, baru bangun tidur deh." Sahut Mak Nurlela.
KLEK...
Pintu terbuka, menampilkan Agam yang masih memasang wajah bantalnya. Terlihat dari rambutnya yang berantakan dan mata yang masih memerah.
" Mak, Pak, maaf lambat bukainnya. " Ucap agam agak tidak menyangka kalau mertua nya yang datang.