NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TASBIH DI ANTARA AMBANG

Pagi itu, alarm di kamar Clarissa berbunyi lebih awal dari biasanya. Bukan lagi untuk mempersiapkan satu jam sesi makeup yang rumit, melainkan untuk memberikan waktu bagi dirinya bersujud di sepertiga malam. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, Clarissa bersimpuh di atas sajadah beludru birunya.

Dalam sujudnya, ia menangis pelan. Bukan tangis ketakutan seperti di rumah sakit dulu, melainkan tangis syukur. Ia bersyukur masih diberikan napas, bersyukur atas jilbab yang kini melilit kepalanya, dan bersyukur atas Adrian yang kemarin menyatakan perasaannya.

"Ya Tuhan... jika sehatku adalah jalan untuk menebus dosaku, maka kuatkanlah. Namun jika sakitku adalah caramu menjagaku agar tetap dekat dengan-Mu, maka ikhlaskanlah hatiku," bisiknya lirih.

Setelah selesai, ia merapikan mukenanya dan mulai bersiap. Hari ini ada ujian tengah semester, dan ia harus membuktikan bahwa Clarissa yang baru tidak hanya berbeda secara penampilan, tapi juga lebih disiplin dalam studinya.

Di kampus, suasana masih terasa sedikit canggung. Meski Adrian sudah memberikan pembelaan secara terbuka, bisikan-bisikan miring masih terdengar di sudut-sudut koridor. Namun, Clarissa menghadapinya dengan senyuman. Ia bahkan sengaja mendatangi beberapa junior yang dulu pernah ia tindas untuk memberikan permintaan maaf secara personal.

"Gue nggak butuh dimaafin sekarang," kata Clarissa pada seorang mahasiswi tingkat satu yang tampak ketakutan. "Gue cuma mau lo tahu kalau gue sangat menyesal. Ini ada sedikit catatan materi ujian yang gue buat, semoga membantu lo."

Namun, saat ia sedang berjalan menuju ruang ujian, sebuah serangan rasa pening yang sangat hebat menghantamnya. Pandangan Clarissa mengabur. Dunia seolah berputar 360 derajat. Ia terpaksa bersandar pada dinding koridor, memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam palu.

"Clar? Lo nggak apa-apa?" Suara itu adalah suara Bianca. Meskipun hubungannya dengan Clarissa merenggang, Bianca masih memiliki sisa kepedulian sebagai teman lama.

"Cuma... pusing dikit, Bi. Mungkin kurang tidur," jawab Clarissa, namun wajahnya yang pucat pasi tidak bisa berbohong.

"Wajah lo kuning lagi, Clar. Jangan bilang kalau..." Bianca tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia takut leukemianya kembali berulah.

Clarissa mencoba mengatur napasnya. "Nggak, Bi. Gue sudah minum obat. Gue harus ikut ujian ini."

Setelah ujian selesai, Adrian sudah menunggu di depan kelas. Ia melihat Clarissa keluar dengan langkah yang sedikit gontai. Tanpa banyak bicara, Adrian segera menghampirinya dan mengambil alih tas punggung Clarissa yang terasa berat.

"Gue antar pulang sekarang," ucap Adrian tanpa kompromi.

"Dri, gue masih ada kelas satu lagi—"

"Gue sudah bilang ke Bastian. Dia bakal jemput di gerbang depan, tapi gue yang bakal antar lo ke sana. Lo nggak bisa bohong sama gue, Clar. Tangan lo dingin banget."

Mereka berjalan pelan menuju taman depan. Adrian mendudukkan Clarissa di bawah pohon besar yang rindang. Ia mengeluarkan sebotol air hangat dari tasnya.

"Lo tahu nggak, Dri? Kadang gue ngerasa ini semua cuma mimpi," ucap Clarissa setelah meminum airnya. "Punya lo di samping gue, punya keluarga yang sayang sama gue... gue takut kalau suatu saat gue bangun, gue masih ada di bilik toilet itu, sendirian dan mimisan."

Adrian duduk di sampingnya, tetap menjaga jarak namun memberikan kehadiran yang sangat nyata. "Kalau itu mimpi, gue bakal jadi orang yang pertama kali bangunin lo dan kasih tahu kalau semuanya nyata. Clar, jilbab ini... dia bikin lo kelihatan lebih tenang. Gue nggak pernah lihat lo sedamai ini."

Clarissa menyentuh ujung kain jilbabnya. "Ini perlindungan gue, Dri. Bukan cuma dari pandangan orang, tapi dari diri gue yang dulu. Saat gue pakai ini, gue merasa malu kalau harus marah atau angkuh lagi."

Sore harinya, Bastian membawa Clarissa ke rumah sakit untuk jadwal kontrol rutin. Pak Gunawan menyusul langsung dari kantor, wajahnya tampak sangat cemas. Di ruang tunggu, mereka bertiga terdiam.

Dr. Kusuma keluar dengan beberapa lembar hasil laboratorium di tangannya. Ekspresinya sulit dibaca, antara lega dan waspada.

"Hasil transplantasinya masih stabil, namun ada penurunan pada jumlah trombosit. Ini umum terjadi pada fase pemulihan satu tahun pertama, tapi kita tidak boleh lengah," jelas dr. Kusuma. "Clarissa, kamu harus istirahat total selama seminggu ke depan. Tidak ada aktivitas kampus. Tubuhmu sedang bekerja keras menyesuaikan diri."

Bastian menghela napas panjang. "Tuh kan, Clar! Lo terlalu rajin belajarnya."

"Papa bakal carikan perawat pribadi buat di rumah, biar kamu nggak perlu capek-capek," tambah Pak Gunawan.

Clarissa hanya mengangguk pasrah. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sedih. Ia baru saja merasa kembali menjadi "manusia normal", dan kini ia harus kembali menjadi "pasien".

Malam harinya, saat Clarissa sedang berbaring di kamarnya, Bastian masuk membawakan sebuah kotak kecil. "Ada titipan dari Adrian. Tadi dia ke depan, tapi gue larang masuk kamar karena lo harus istirahat."

Clarissa membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah **tasbih kecil berwarna biru kristal**. Ada sebuah kartu ucapan kecil yang menyertainya:

"Untuk Clarissa. Setiap butiran ini adalah doa gue buat kesembuhan lo. Kalau lo merasa takut atau sakit, ingat kalau Tuhan selalu dengar. Gue bakal nunggu lo di kampus minggu depan. Semangat, My New Queen."*

Clarissa mendekap tasbih itu di dadanya. Air mata haru mengalir di pipinya. Ia menyadari bahwa mahkota sejatinya bukanlah emas atau berlian, melainkan keimanan dan cinta kasih dari orang-orang yang tulus.

Dalam keheningan malam itu, Clarissa mulai memutar butiran tasbihnya satu per satu. Ia tidak lagi mengutuk takdirnya. Ia tahu, perjuangannya melawan leukemia mungkin adalah perjalanan seumur hidup, tapi dengan jilbab di kepalanya dan doa di hatinya, ia tidak akan pernah benar-benar kalah.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!