Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Meridian yang Retak
Malam kembali turun.
Langit di atas Akademi Kerajaan Averion diselimuti awan gelap yang bergerak perlahan, menutup cahaya bulan. Angin berhembus pelan, membawa udara dingin yang merayap masuk ke lorong-lorong batu tua.
Dan seperti yang dijanjikan, Sakura datang lagi ke ruang alkimia.
Langkahnya pelan.
Namun lebih stabil dibanding sebelumnya.
Setiap langkah masih terasa berat, tapi tidak lagi goyah seperti hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah. Sangat kecil… namun nyata.
Ia berhenti di depan pintu kayu tua itu.
Tangannya terangkat.
Ragu sejenak.
Lalu
Ceklek.
Pintu terbuka.
Ruangan itu sudah menyala.
Cahaya lampu minyak menerangi rak-rak penuh botol kaca, cairan berwarna aneh, dan tanaman kering yang digantung terbalik. Aroma herbal yang tajam langsung menyambut, bercampur dengan bau logam halus dari peralatan alkimia.
Namun kali ini Seseorang sudah menunggu.
“Lambat.”
Suara dingin itu langsung memotong keheningan.
Sakura menunduk refleks.
“Maaf…”
Master Kaelen Arcturus berdiri di dekat meja panjang, tangannya menyilang di dada. Tatapannya tajam seperti biasa, tidak ada kehangatan, tidak ada basa-basi.
Hanya penilaian.
“Kalau kau terlambat di medan perang,” lanjutnya datar, “kau sudah mati sebelum sempat menyesal.”
Sakura mengepalkan tangannya pelan.
“…Saya akan lebih cepat besok.”
Kaelen tidak menanggapi.
Ia hanya memutar tubuhnya sedikit, lalu menunjuk ke arah meja.
“Mulai.”
Sakura melangkah mendekat.
Di atas meja Bahan-bahan sudah disiapkan.
Lebih banyak dari kemarin.
Lebih kompleks.
Daun berwarna gelap dengan urat keperakan. Serbuk mineral yang berkilau redup. Cairan kental dalam botol kecil yang memantulkan cahaya seperti kaca retak.
Sakura menatapnya sejenak.
Menarik napas pelan.
“Buat ramuan penyembuhan dasar,” kata Kaelen. “Tanpa kesalahan.”
Sakura mengangguk.
Ia mulai bekerja.
Tangannya bergerak perlahan.
Menghancurkan daun dengan mortar batu. Suara gesekan halus terdengar di ruangan yang sunyi. Ia mengukur cairan dengan hati-hati, meneteskan satu demi satu ke dalam wadah kaca.
Namun tangannya masih gemetar.
Bukan karena takut.
Tapi karena tubuhnya belum sepenuhnya stabil.
Setiap gerakan terasa seperti melawan sesuatu dari dalam.
Ia mencoba fokus.
Mengatur napas.
Namun cairan di dalam wadah berubah warna.
Dari hijau muda
Menjadi keruh.
Sakura langsung tahu.
Gagal.
“Gagal.”
Suara Kaelen terdengar tanpa emosi.
Sakura menunduk.
“Ulangi.”
Ia tidak membela diri.
Tidak protes.
Ia langsung mengambil bahan baru.
Mengulang dari awal.
Waktu berlalu.
Satu percobaan.
Dua.
Tiga.
Semua berakhir sama.
Gagal.
Kadang terlalu panas.
Kadang terlalu dingin.
Kadang reaksinya tidak stabil.
Setiap kesalahan
Selalu diikuti satu kata dari Kaelen.
“Gagal.”
Tidak ada nada marah.
Tidak ada nada kecewa.
Justru itu yang membuatnya lebih berat.
Karena berarti ini normal baginya.
Sakura bukan pengecualian.
Ia hanya… belum cukup.
Keringat mulai membasahi dahi Sakura.
Tangannya mulai kaku.
Namun ia tidak berhenti.
Ia menarik napas dalam.
Menutup mata sejenak.
Mengabaikan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Mengabaikan tekanan yang selalu ada di dadanya.
Fokus.
Hanya pada satu hal.
Aliran.
Ia membuka mata.
Tangannya bergerak lagi.
Kali ini lebih tenang.
Lebih stabil.
Ia tidak memaksa.
Tidak terburu-buru.
Setiap gerakan dilakukan perlahan.
Terukur.
Cairan di dalam wadah mulai berubah.
Hijau.
Lembut.
Stabil.
Kaelen yang sejak tadi diam akhirnya bergerak sedikit.
“Hmm.”
Sakura menahan napas.
Namun ia tidak berhenti.
Ia menyelesaikan prosesnya.
Perlahan.
Hingga cairan itu benar-benar tenang.
Tidak beriak.
Tidak berubah.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
“Masih terlalu kasar,” kata Kaelen akhirnya.
Sakura sedikit menunduk.
Namun
“Tapi… lebih baik.”
Sakura terdiam.
Itu bukan pujian.
Namun juga bukan penolakan.
Untuk pertama kalinya Ia tidak sepenuhnya gagal.
Namun
Latihan belum selesai.
“Sekarang minum.”
Sakura membeku.
“…Apa?”
Kaelen menatapnya datar.
“Ramuan itu.”
Sakura menatap cairan di tangannya.
“Kalau kau ingin belajar penyembuhan,” lanjut Kaelen, “kau harus memahami apa yang kau buat.”
“Bukan dari teori.”
“Tapi dari tubuhmu sendiri.”
Sakura ragu.
Namun hanya sesaat.
Ia sudah terlalu sering merasakan sakit.
Satu lagi
Tidak akan mengubah apa-apa.
Ia mengangkat botol itu.
Lalu meminumnya.
Beberapa detik…
Tidak ada reaksi.
Sakura hampir berpikir Ini berhasil.
Namun
Rasa panas muncul.
Perlahan.
Lalu menyebar.
“Ah—!”
Sakura memegangi dadanya.
Napasnya terganggu.
Panas itu berubah menjadi tekanan.
Seolah sesuatu di dalam tubuhnya
terganggu.
Terusik.
Ia jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar.
Kaelen langsung mendekat.
Matanya menyempit tajam.
Tidak lagi sekadar mengamati.
Kini menganalisis.
“Seperti yang kuduga…”
Sakura mencoba menahan napas.
Namun tubuhnya tidak mau mendengar.
Rasa sakit menjalar dari dada
ke seluruh tubuh.
“Meridianmu… rusak.”
Sakura terdiam.
Kata itu terasa asing.
Namun berat.
“Me… ridian…?”
Kaelen mengangguk pelan.
“Jalur aliran energi dalam tubuh manusia.”
Ia berlutut di depan Sakura.
Tangannya menyentuh pergelangan tangan Sakura.
Perlahan.
Namun pasti.
Matanya berubah.
Lebih dalam.
Lebih serius.
Seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Hening.
Lalu
“Bukan sekadar rusak…”
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya
Kaelen terlihat ragu.
“…ini seperti dipaksa menahan sesuatu yang terlalu besar.”
Jantung Sakura berdegup lebih cepat.
Ia menunduk.
Napasnya masih berat.
Kaelen tidak langsung menarik tangannya.
Ia terus merasakan aliran itu.
Dan semakin lama
ekspresinya semakin dalam.
“Ini bukan racun biasa…”
gumamnya pelan.
“Dan bukan kerusakan alami…”
Ia akhirnya melepaskan tangannya.
Menatap Sakura lurus.
“Sudah berapa lama tubuhmu seperti ini?”
Sakura diam.
Namun ia tidak perlu menjawab.
Kaelen sudah tahu.
“Kalau dibiarkan…”
“Tubuhmu akan hancur dari dalam.”
Hening.
Namun kali ini Sakura tidak terlihat terkejut.
“…Aku tahu.”
Jawaban itu pelan.
Namun tegas.
Kaelen sedikit terdiam.
Tatapannya berubah.
Bukan lagi sekadar menilai.
Tapi… mempertimbangkan.
“Dan kau tetap bertahan?”
Sakura menggenggam tangannya.
“…Aku tidak punya pilihan.”
Sunyi.
Angin dari jendela kecil berhembus pelan.
Membawa suara malam masuk ke dalam ruangan.
Kaelen berdiri perlahan.
Lalu berjalan ke rak belakang.
Tangannya mengambil beberapa bahan lain.
Lebih langka.
Lebih bersih.
Lebih stabil.
“Duduk.”
Sakura menurut.
Ia duduk perlahan.
Masih lemah.
Namun bertahan.
Kaelen mulai meracik.
Gerakannya berbeda.
Cepat.
Tepat.
Tanpa ragu.
Seolah semua langkah sudah tertanam di tubuhnya.
Cairan di dalam wadah berubah warna.
Biru pucat.
Tenang.
Tidak agresif.
Tidak liar.
Seperti air yang tidak terganggu.
“Ini bukan untuk menyembuhkanmu sepenuhnya,” katanya.
“Tubuhmu tidak akan mampu menerimanya.”
Sakura menatapnya.
“Ini hanya membuka sedikit jalur yang tersumbat.”
Ia menyerahkan ramuan itu.
“Minum perlahan.”
Sakura menerimanya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Namun ia tidak ragu.
Ia meminumnya.
Beberapa detik…
Hening.
Lalu
Sensasi hangat menyebar.
Tidak seperti sebelumnya.
Tidak menyakitkan.
Tidak menekan.
Namun dalam.
Seolah sesuatu yang lama tertutup
mulai terbuka sedikit.
Sakura terkejut.
Matanya sedikit melebar.
“Apa ini…?”
“Perbaikan awal,” jawab Kaelen singkat.
Namun tiba-tiba Tubuh Sakura bergetar lagi.
“Ugh—!”
Ia menggenggam dadanya.
Rasa sakit muncul.
Namun berbeda.
Tidak brutal.
Tidak menghancurkan.
Lebih seperti penyesuaian.
Kaelen langsung menahan bahunya.
“Wajar. Tubuhmu menolak perubahan.”
Sakura menggertakkan gigi.
Namun ia tidak jatuh.
Ia bertahan.
Rasa sakit itu datang.
Dan perlahan mereda.
Napasnya kembali stabil.
Pelan.
Dalam.
Kaelen melepaskan tangannya.
“Cukup untuk hari ini.”
Sakura masih terengah.
Namun matanya…
berbeda.
Lebih hidup.
“Aku… bisa diperbaiki?”
Kaelen menatapnya.
Beberapa detik.
“Sedikit demi sedikit.”
“Dan itu akan menyakitkan.”
Sakura menunduk.
Namun ia tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Kaelen memperhatikannya.
Lama.
Lalu
“Datang lagi besok.”
Sakura mengangguk.
Ia berdiri.
Langkahnya masih lemah.
Namun lebih stabil.
Lebih ringan.
Saat ia keluar dari ruangan, udara malam terasa berbeda.
Tidak lagi menekan.
Di dalam ruangan Kaelen berdiri diam.
Matanya menyempit.
“Meridian rusak…”
“Racun kompleks…”
“Dan sesuatu yang disegel di dalamnya…”
bukan hanya rasa penasaran.
Melainkan kewaspadaan.
Karena ia tahu
kasus seperti ini…
tidak pernah sederhana.
Dan gadis itu bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya…
dari yang ia bayangkan.