NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Hasil Tes DNA

DI RUMAH ADRIAN

Malam semakin larut. Adrian sampai di rumahnya yang terasa sepi dan sunyi. Ia melempar jas kerjanya ke atas sofa, lalu duduk dengan lemas. Wajahnya tampak sangat lesu dan pucat, seolah seluruh tenaganya habis tersedot oleh masalah berat yang sedang dihadapi sahabatnya.

Pikirannya terus dipenuhi oleh rekaman CCTV, wajah Sari yang licik, dan wajah Leonardo yang hancur. Rasanya berat sekali membawa beban rahasia sebesar ini sendirian.

Tanpa menunda lagi, Adrian mengambil ponselnya dan menekan nomor istrinya, Amira. Ia sangat butuh teman bicara, butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya.

Setelah beberapa nada sambung, telepon tersambung. Suara lembut Amira terdengar dari seberang sana.

 "Halo, Mas... Kenapa teleponnya malam-malam begini? Mas sudah pulang kantor?" tanya Amira .

Mendengar suara istrinya, air mata Adrian seakan hampir jatuh. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan suaranya.

"Sudah pulang, sayang . Aku baru saja sampai. Maaf mengganggu istirahatmu. Aku... aku benar-benar butuh bicara sama kamu sekarang."

Amira yang mendengar nada bicara suaminya yang aneh dan lemas itu langsung merasa khawatir.

"Ada apa, Mas? Suaramu terdengar aneh sekali. Apa ada masalah di kantor? Atau Mas sakit?"

 "Bukan aku yang sakit, sayang . Tapi... masalah besar terjadi pada keluarga Leonardo dan Liana sahabat kamu . Masalah yang sangat besar dan mengejutkan."

"Keluarga Dewantara? Apa yang terjadi, Mas? Ceritakan pelan-pelan ya."

Adrian pun mulai menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari sikap Liana yang aneh belakangan ini, cerita tentang gadis bernama Dinda yang wajahnya sangat mirip dengan Bu Liana, sampai pada penemuan mengejutkan yang dilakukan Rian di rumah sakit tadi sore.

 "Kamu tahu kan, Mir? Sari, mantan pembantu mereka yang melahirkan di hari yang sama dengan Bu Liana 17 tahun lalu? Ternyata... dia yang sengaja menukar bayi mereka."

Suara Adrian terdengar bergetar menahan emosi.

 "Kami melihat rekaman CCTV-nya, Mir. Sangat jelas. Dia menyamar jadi perawat, masuk ke ruang bayi saat petugas lengah, lalu menukar gelang identitas kedua bayi itu. Jadi... selama ini Nayla yang mereka rawat dan sayangi itu sebenarnya anak kandung Sari. Sedangkan Dinda, gadis yang hidup susah dan bekerja keras itu... adalah anak kandung mereka yang sebenarnya."

Di seberang telepon, Amira terdiam lama. Ia tampak syok dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Ya Ampun... Mas... Apa bener itu yang terjadi? Sari? Wanita yang dulu aku kenal baik dan terlihat sopan itu? Dia tega melakukan hal sekejam itu?"

 "Iya, Mir. Sangat tega. Dia iri melihat kehidupan mereka yang kaya raya, jadi dia mengambil hak anak orang demi kebahagiaan anaknya sendiri. Bayangkan, Mi... 17 tahun mereka hidup dalam kebohongan. Leonardo baru tahu ini tadi, dan dia hancur sekali. Tapi aku menyarankan dia untuk menunggu hasil tes DNA yang dilakukan liana keluar dulu sebelum memberitahu Liana permasalahan nya , takut istrinya itu syok dan sakit hati."

"Waduh... benar juga saran Mas, Adrian. Ini bukan masalah kecil. Ini soal nyawa dan perasaan orang banyak. Kasihan sekali Liana, apalagi Liana itu orangnya sangat perasaannya. Dan kasihan juga Dinda, anak baik-baik harus hidup susah, dan Nayla juga nanti pasti bingung menerima kenyataan."

"Aku juga bingung harus bagaimana, Mir. Rasanya berat sekali memikul rahasia ini sendirian. Aku marah besar pada Sari, tapi aku juga sedih melihat nasib kedua anak itu. Bagaimana nanti mereka menerima kenyataan ini?"

 "Sabar ya, Mas... Kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai sahabat. Tugas kamu sekarang adalah mendampingi Leonardo dan membantu menyelesaikan masalah ini dengan sebaik mungkin. Biarkan semua berjalan sesuai takdir dan kebenaran. Yang salah pasti akan mendapatkan balasannya, dan yang benar akan mendapatkan haknya kembali."

"Terima kasih ya, Mir. Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Rasanya jadi lebih lega setelah bicara sama kamu."

 "Sama-sama, Mas. Istirahatlah yang cukup. Jangan dipikirkan terlalu berat, nanti kamu malah sakit. Doakan saja semoga semua masalah ini cepat selesai dan semua pihak bisa menerima keadaan dengan lapang dada."

 "Iya, sayang. Ya sudah, kamu istirahat ya. Maaf sudah mengganggu malam-malam."

"Iya, Mas. Assalamualaikum."

 "Waalaikumsalam."

Adrian menutup teleponnya, lalu meletakkan ponsel itu di meja. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, namun beban di dadanya masih tetap ada. Menunggu hasil tes DNA keluar rasanya seperti menunggu hukuman atau kebebasan bagi semua orang yang terlibat.

...****************...

 Lima hari terasa seperti lima tahun bagi Liana. Setiap detik yang berlalu terasa sangat lambat dan menyiksa. Ia tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa makan dengan lahap, pikirannya terus menerus tertuju pada satu hal: hasil tes DNA itu.

Hingga akhirnya, pada sore hari yang dinanti-nantikan itu, ponsel Liana berdering. Nama Dr. Rina tertera jelas di layar. Jantung Liana serasa mau copot. Tangannya gemetar saat mengangkat telepon tersebut.

"Selamat sore, Bu Liana. Maaf mengganggu. Saya menelepon untuk memberitahu bahwa hasil tes DNA yang diminta sudah keluar. Ibu bisa datang ke rumah sakit untuk mengambilnya dan membicarakannya lebih lanjut." ucap dokter rina .

Suara tenang dokter itu terdengar seperti lonceng kematian sekaligus harapan bagi Liana.

" ba ... baik, Dok. Saya akan segera ke sana sekarang juga."

Tanpa membuang waktu, Liana segera mengambil tasnya. Ia tidak sempat memberitahu Leonardo atau siapa pun. Ia harus melihat hasilnya sendiri. Ia harus tahu kebenarannya sekarang juga.

" Aku pergi dulu , mas . Ada urusan mendadak harus ke luar sebentar." katanya singkat pada suaminya yang sedang duduk di ruang tengah, lalu ia langsung melangkah keluar menuju mobilnya dengan langkah tergesa.

Leonardo yang melihat tingkah istrinya yang aneh dan terburu-buru itu langsung merasa ada sesuatu yang terjadi. Ia tahu, ini pasti soal hasil tes itu.

 Di Rumah Sakit

Liana masuk ke ruangan Dr. Rina dengan napas yang masih memburu. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya meskipun ruangan itu ber-AC sangat dingin.

Dr. Rina sudah menunggu dengan berkas tebal di tangannya. Ia menyambut Liana dengan senyum yang sulit diartikan campuran antara simpati dan keseriusan.

 "Silakan duduk, Bu Liana. Terima kasih sudah datang secepat ini."

Liana Duduk dengan tubuh agak gemetar . "Bagaimana hasilnya, Dok? Tolong... katakan padaku yang sebenarnya. Apakah Dinda... apakah dia anakku?"

Liana tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Matanya tertuju tajam pada berkas di tangan dokter itu, seolah ingin menembus kertas itu dan melihat jawabannya sendiri.

Dr. Rina membuka berkas itu perlahan, lalu menatap Liana dengan tatapan serius namun lembut.

 "Baik, Bu. Saya akan menyampaikan hasilnya secara langsung dan jujur. Setelah dilakukan pemeriksaan dan perbandingan kode genetik secara menyeluruh..."

Liana menahan napasnya. Dunia seakan berhenti berputar.

 "...Hasil tes menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian genetik sebesar 99,9%. Secara medis dan ilmiah, dapat dipastikan bahwa..."

Suara dokter itu terdengar jauh di telinga Liana, namun kalimat selanjutnya terdengar sangat jelas dan mengguncang seluruh jiwanya.

 "...Nona Dinda adalah anak kandung biologis dari Ibu."

BRUK!

Seolah ada petir yang menyambar di kepalanya. Liana terdiam beku selama beberapa detik. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka sedikit namun tidak bisa mengeluarkan suara. Air matanya tumpah seketika, bukan karena sedih, tapi karena sebuah kepastian yang menyakitkan namun juga melegakan.

Dengan Suara yang bergetar hebat, tangannya menutup mulut menahan isak tangis "Benarkah... Dok? Benar-benar benar? Dinda... Dinda anakku? Dia anakku yang sebenarnya?"

 "Benar, Bu. Itu fakta medis yang tidak bisa dibantah. Dinda adalah darah daging Ibu. Dan berarti... anak yang selama ini Ibu rawat, Nayla, bukanlah anak biologis Ibu dan suami."

Liana menangis tersedu-sedu. Semua tebakan, semua firasat aneh selama 17 tahun ini akhirnya terjawab sudah.

- Kenapa wajah Nayla tidak mirip dengannya?

- Kenapa sifatnya berbeda?

- Kenapa ia merasa ada ikatan batin yang begitu kuat dengan Dinda?

Semua karena mereka tertukar!

 "Jadi... selama 17 tahun ini... aku membesarkan anak orang lain, dan anakku sendiri menderita hidup susah di luar sana... Ya Allah... betapa kejamnya takdir ini..."

Liana merosot dari kursinya, jatuh berlutut di lantai sambil memeluk hasil tes itu erat-erat, seolah memeluk anak kandungnya sendiri. Hancur sudah hatinya, namun di saat yang sama ia merasa utuh kembali karena akhirnya ia tahu di mana bagian dirinya yang hilang berada.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!