NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Hari itu suasana sekolah terasa berbeda lagi. Aula besar sudah dipenuhi kursi, lampu panggung dinyalakan, dan suara alat musik sesekali terdengar dari dalam sebagai tanda persiapan lomba musik akan segera dimulai. Kayla berdiri di depan pintu aula bersama Raka, keduanya sedikit terburu-buru karena hampir terlambat. “Cepet, nanti kita gak dapat tempat duduk depan,” kata Raka sambil setengah berlari kecil. Kayla tersenyum tipis mengikuti langkahnya. “Iya, iya… ini juga udah cepat.”

Mereka akhirnya masuk dan mendapatkan tempat di barisan tengah, cukup dekat untuk melihat panggung dengan jelas. Di atas panggung, sebuah piano besar sudah siap. Lampu sorot membuat suasana terasa lebih serius, lebih… istimewa. Kayla menatap ke arah panggung dengan perasaan campur aduk—bangga, tegang, dan sedikit khawatir.

“Itu Salsa pasti deg-degan banget,” bisik Kayla.

Raka mengangguk. “Iya, tapi dia pasti bisa. Dia kan kalau main piano beda banget.”

Kayla tersenyum kecil. Ia tahu itu benar. Salsa mungkin terlihat santai sehari-hari, tapi saat sudah duduk di depan piano… ia seperti orang yang berbeda.

Acara dimulai. Satu per satu peserta tampil. Ada yang menyanyi, ada yang bermain gitar, ada juga yang tampil berkelompok. Penonton bertepuk tangan setiap kali satu penampilan selesai, namun Kayla tidak terlalu fokus pada yang lain. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama.

Salsa.

Beberapa waktu kemudian, pembawa acara kembali naik ke panggung. “Penampilan selanjutnya, peserta nomor 7… Salsa Adelia.”

Jantung Kayla langsung berdegup lebih cepat.

“Itu dia,” katanya pelan.

Raka langsung bersandar ke depan. “Ayo, Sal…”

Dari sisi panggung, Salsa berjalan masuk. Ia mengenakan pakaian yang sederhana tapi rapi, rambutnya diikat setengah, dan wajahnya terlihat serius. Tidak seperti biasanya yang penuh tawa, kali ini Salsa terlihat fokus.

Kayla menatapnya tanpa berkedip.

Salsa duduk di depan piano.

Menarik napas.

Lalu…

tangannya mulai bergerak.

Nada pertama terdengar.

Lembut.

Tenang.

Langsung memenuhi seluruh ruangan.

Kayla merasakan sesuatu di dadanya. Musik itu… indah. Sangat indah. Setiap nada terasa seperti bercerita. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak membosankan. Ada emosi di dalamnya.

“Gila…” bisik Raka pelan. “Bagus banget…”

Kayla hanya mengangguk, matanya masih tertuju ke depan.

Salsa semakin tenggelam dalam permainannya. Tangannya bergerak lincah di atas tuts piano. Kadang lembut, kadang kuat. Wajahnya terlihat serius, tapi juga… hidup.

Kayla tersenyum tanpa sadar.

Ia teringat semua waktu yang mereka habiskan bersama. Tertawa, belajar, saling menyemangati. Dan sekarang… sahabatnya berdiri di panggung, menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

Di tengah permainan, suasana aula benar-benar hening. Tidak ada yang berbicara. Semua orang terfokus pada musik yang mengalun.

Dan saat bagian terakhir dimainkan…

nada-nada itu terdengar semakin kuat…

semakin emosional…

lalu perlahan…

mereda.

Hingga akhirnya berhenti.

Beberapa detik hening.

Lalu…

tepuk tangan meriah pecah di seluruh ruangan.

Kayla langsung berdiri.

“WOOO SALSAAA!” teriaknya tanpa sadar.

Raka ikut berdiri. “KEREN BANGET!”

Salsa tersenyum di atas panggung, sedikit membungkuk memberi hormat. Wajahnya terlihat lega, dan sedikit berkaca-kaca.

Kayla merasakan matanya sendiri ikut basah.

“Dia hebat banget…” katanya pelan.

Raka mengangguk. “Bangga banget sih.”

Setelah Salsa turun dari panggung, Kayla dan Raka langsung menunggunya di dekat belakang aula. Begitu Salsa keluar, mereka langsung menghampiri.

“SALSAAAA!” Kayla langsung memeluknya erat.

Salsa tertawa kecil, masih terengah. “Gimana? Aku gak salah banyak kan?”

“GILA! Kamu keren banget!” kata Raka.

“Iya! Aku sampai merinding tau gak!” tambah Kayla.

Salsa tersenyum lebar. “Serius?”

“Serius banget!” jawab mereka berdua hampir bersamaan.

Mereka bertiga tertawa.

Di momen itu, tidak ada tekanan.

Tidak ada konflik.

Hanya kebahagiaan sederhana.

Namun di kejauhan…

seseorang memperhatikan.

Reyhan.

Ia berdiri di dekat pintu aula, melihat Kayla yang tertawa bersama teman-temannya.

Dan tanpa sadar…

ia ikut tersenyum kecil.

Sementara di sisi lain, di sudut yang berbeda…

Arga juga ada di sana.

Melihat hal yang sama.

Namun perasaannya…

berbeda.

Ia melihat Kayla yang semakin bersinar.

Dan semakin… jauh.

Hari itu bukan hanya tentang lomba musik.

Bukan hanya tentang penampilan Salsa.

Tapi juga tentang bagaimana masing-masing dari mereka perlahan menemukan jalannya sendiri. Dan untuk sesaat semuanya terasa damai. Setelah penampilan Salsa, suasana aula masih dipenuhi euforia. Beberapa peserta lain tampil, tapi bagi Kayla, momen paling berkesan sudah terjadi. Ia, Raka, dan Salsa duduk bersama di bagian belakang sambil menunggu pengumuman hasil lomba. Salsa terlihat lebih santai sekarang, meskipun sesekali ia masih menggoyangkan kakinya tanda gugup.

“Kalau aku gak menang gimana?” tanya Salsa tiba-tiba.

Raka langsung menjawab, “Gak mungkin sih.”

Kayla tersenyum. “Menang atau gak, kamu tetap keren.”

Salsa menghela napas panjang. “Iya juga sih…”

Namun di dalam hatinya, tetap ada harapan kecil.

Beberapa menit kemudian, panitia naik ke panggung. Suasana kembali hening. Semua peserta dan penonton fokus ke depan.

“Baik, kita akan segera mengumumkan pemenang lomba musik hari ini…”

Jantung mereka bertiga langsung berdegup lebih cepat.

“Juara ketiga…”

Bukan nama Salsa.

“Juara kedua…”

Masih bukan.

Salsa mulai menunduk sedikit, mencoba menerima.

Namun…

“Dan juara pertama… Salsa Adelia!”

Seisi aula langsung ramai.

Kayla dan Raka berdiri bersamaan.

“WOOOO SALSAAA!!” teriak mereka.

Salsa terdiam beberapa detik, tidak percaya. “Hah? Aku??”

Kayla langsung mendorongnya pelan. “Iya kamu! Cepet naik!”

Salsa naik ke panggung dengan langkah sedikit gemetar, tapi wajahnya bersinar. Ia menerima piala dengan mata berkaca-kaca.

Kayla menatap dari bawah dengan bangga.

“Dia beneran menang…” bisiknya.

Raka tersenyum. “Iya… dia emang pantas.”

Setelah acara selesai, mereka bertiga berkumpul di luar aula. Salsa masih memegang pialanya erat-erat.

“Ini pertama kalinya aku juara satu…” katanya pelan.

Kayla langsung memeluknya. “Dan ini baru awal.”

Raka mengangguk. “Next level nih kita semua.”

Mereka tertawa.

Namun di tengah kebahagiaan itu, seseorang mendekat.

“Selamat ya.”

Suara itu membuat Kayla menoleh.

Reyhan.

Salsa langsung tersenyum. “Makasih, Kak!”

Reyhan mengangguk, lalu matanya sempat bertemu dengan Kayla.

“Kamu juga hebat, Kay. Teman kamu keren.”

Kayla tersenyum. “Iya… aku bangga banget sama dia.”

Suasana terasa hangat.

Namun beberapa detik kemudian…

suara lain muncul.

“Wah… lengkap ya.”

Mereka semua menoleh.

Maya.

Ia berdiri tidak jauh, dengan senyum yang sama seperti sebelumnya.

Namun kali ini… lebih tajam.

“Juara musik, juara matematika, sama…” ia melirik Reyhan dan Kayla, “tim pendukungnya juga kompak.”

Salsa langsung mengerutkan kening. “Kak, lagi-lagi deh…”

Maya mengangkat bahu. “Aku cuma bilang fakta.”

Kayla tetap diam. Ia tidak langsung terpancing.

Namun Maya melangkah mendekat sedikit.

“Kamu hebat sih, Kayla,” katanya. “Cepat banget jadi pusat perhatian.”

Nada itu… jelas bukan pujian.

Raka langsung maju sedikit. “Kak, kalau gak ada yang penting, mending—”

Namun Kayla menahan Raka pelan.

“Gak apa-apa.”

Ia melangkah sedikit ke depan.

Menatap Maya langsung.

“Kak Maya,” katanya tenang.

Maya tersenyum tipis. “Iya?”

Kayla menarik napas pelan.

“Aku gak cari perhatian.”

Sunyi.

“Aku cuma jalan dengan apa yang aku mau.”

Nada suaranya tetap lembut.

Tapi jelas.

Maya menatapnya beberapa detik.

Seperti mencoba mencari celah.

Namun kali ini…

tidak ada.

Reyhan yang berdiri di samping hanya memperhatikan, tanpa ikut campur. Tapi posisinya cukup dekat… cukup untuk menunjukkan bahwa Kayla tidak sendiri.

Maya akhirnya tersenyum kecil.

“Yaudah deh… kita lihat aja nanti.”

Ia berbalik.

Dan pergi.

Namun kali ini…

tidak sekuat biasanya.

Seperti ada sesuatu yang mulai bergeser.

Salsa langsung menghela napas. “Ya ampun… capek banget ya orang itu.”

Raka mengangguk. “Hobi banget cari masalah.”

Kayla hanya tersenyum kecil.

“Aku udah biasa sekarang.”

Reyhan menatap Kayla sebentar.

“Kamu kuat,” katanya pelan.

Kayla menoleh, sedikit terkejut.

Namun kali ini… ia tidak menolak kalimat itu.

Ia hanya tersenyum.

“Iya… aku lagi belajar.”

Mereka berdiri di sana, di bawah langit sore yang mulai berubah warna. Dengan piala di tangan Salsa dengan tawa kecil di antara mereka dan dengan hati Kayla yang semakin tenang. Namun jauh di dalam cerita ini konflik belum benar-benar selesai. Karena setiap langkah maju selalu ada ujian berikutnya. Dan Kayla sudah siap menghadapinya.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!