NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Sesampainya di wisma, Alin tidak membuang waktu. Ia langsung menyalakan laptop, memasukkan flashdisk tersebut, dan mulai memeriksa dokumen tata kota lama Neterdhem. Matanya yang lelah meneliti setiap baris data klinis purba mengenai tingkat toksisitas tanah bekas pembuangan limbah industri tersebut. Angka-angka kadar merkuri dan timbal yang tertera di sana jauh melebihi ambang batas aman.

"Ini sudah lebih dari cukup untuk kategori malpraktik lingkungan," bisik Alin pada dirinya sendiri. Jemarinya dengan cepat mengetik draf laporan medis formal yang akan dikirimkan ke perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah regional.

Namun, di tengah fokusnya, sepasang mata elang Rei kembali terbayang. Alin tahu betul, jaringan intelijen Pangeran Yan tersebar di setiap penyedia layanan internet Xinglan. Begitu ia menekan tombol send, dokumen ini bisa saja langsung dicegat di peladen pusat sebelum sempat keluar dari perbatasan negara.

Alin memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aku butuh jalur privat. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilacak oleh Yuchen."

Satu-satunya orang yang memiliki akses ke jaringan satelit medis independen adalah Han, rekannya di komite audit yang juga memiliki lisensi komunikasi darurat internasional. Alin melirik ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Han, Zizi, dan Mei yang ia abaikan sejak sore tadi.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia mendial nomor Han.

Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.

"Alin?! Demi Tuhan, kau ke mana saja? Istana baru saja merilis pembaruan status Lu Minghan, dan sekarang seluruh rumah sakit gempar!" suara Han terdengar panik namun berbisik, seolah ia sedang bersembunyi.

Alin mengerutkan kening. "Pembaruan apa, Han?"

"Tuduhan penggelapan dana terhadap Lu Minghan tiba-tiba ditinjau ulang oleh kementerian hukum atas perintah mendadak dari kediaman Pangeran Yan. Mereka bilang ada 'kekeliruan teknis' dalam dokumen forensik yang diserahkan kemarin. Alin... apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kau bermain api dengan Pangeran?"

Alin tertegun di kursinya. Jantungnya berdegup kencang. Rei... dia benar-benar melakukannya? Pria itu menarik kembali perintahnya secepat ini? Namun, rasa lega itu langsung digantikan oleh kewaspadaan. Alin tahu Rei tidak pernah melakukan sesuatu tanpa pamrih. Ini adalah umpan, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa pria itu bisa memanipulasi takdir siapa pun hanya dengan satu jentikan jari.

"Han, dengarkan aku baik-baik," suara Alin mendatar, mengabaikan pertanyaan temannya. "Aku butuh bantuanmu. Ini bukan tentang Lu Minghan atau egoku. Ini tentang penggusuran Neterdhem yang akan terjadi lusa. Aku punya dokumen klinis yang membuktikan tanah di sana beracun. Aku butuh jalur satelit medismu untuk mengirimkan ini langsung ke Jenewa sekarang juga."

Keheningan panjang sempat terjadi di seberang telepon. Han tentu tahu risiko yang diambilnya. Membantu Alin berarti ikut berhadapan dengan bayang-bayang kekuasaan Rei dan juga dewan direksi tempatnya bekerja. Segalanya dipertaruhkan.

"Kau gila, Lin," desis Han akhirnya. "Tapi jika apa yang kau katakan tentang tanah beracun itu benar... membangun rumah sakit di atasnya adalah pembunuhan massal. Datanglah ke lab belakang rumah sakit dalam tiga puluh menit. Aku akan menyiapkan jalurnya."

Sementara itu, di kediaman pribadinya, Rei berdiri di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota yang samar. Ia telah berganti pakaian dengan kemeja hitam longgar, namun ketegangan di bahunya tidak berkurang sedikitpun.

Yuchen berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang laporan terbaru. "Yang Mulia, proses pembatalan ekstradisi Tuan Lu telah diproses. Dokumen forensik yang asli juga telah dikembalikan ke sistem. Namun... ada pergerakan baru dari Dokter Yi."

Rei tidak berbalik. "Ke mana dia pergi?"

"Dia baru saja keluar dari wismanya dan pergi menuju laboratorium riset belakang rumah sakit. Sinyal ponselnya terdeteksi melakukan kontak dengan Dokter Han beberapa menit lalu. Kami menduga... dia sedang mencoba mengirimkan sesuatu keluar dari Xinglan menggunakan jaringan satelit medis darurat."

Sebuah senyum getir terukir di wajah tampan Rei. Pangeran itu menghela napas pendek, lalu berbalik memandang asisten kepercayaannya. "Dia benar-benar tidak memercayaiku, bukan? Bahkan setelah aku menuruti permintaannya.”

"Apakah kita harus memutus jaringan satelit rumah sakit, Tuan? Perintah Anda bisa mengebloknya dalam waktu kurang dari satu menit," usul Yuchen.

Rei diam sejenak. Kata-kata Alin di bawah hujan tadi kembali terngiang, membakar kesadarannya. “Jadi jangan halangi aku lagi, Rei. Karena jika kau melakukannya, kau tidak akan pernah melihatku lagi di Xinglan ini."

Rei mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Kehilangan Alin adalah satu-satunya hal yang tidak mampu ia tanggung dalam hidupnya. Selama ini ia mengira bahwa dengan menjadi dinding yang kokoh dan menyingkirkan semua ancaman, ia bisa menjaga wanita itu tetap di sisinya. Namun, ia lupa bahwa Alin adalah seorang dokter yang jiwanya terikat pada sumpah untuk menyelamatkan, bukan untuk diselamatkan dengan cara yang kotor.

"Biarkan dia mengirimkannya," ujar Rei akhirnya, membuat Yuchen terbelalak tidak percaya.

"Tapi Yang Mulia, jika laporan itu sampai ke pihak internasional, proyek keluarga besar Lu akan hancur total, dan itu akan memicu ketidakstabilan ekonomi di wilayah perbatasan Neterdhem yang disokong oleh beberapa sekutu politik Anda."

"Aku tidak peduli," sahut Rei mutlak, matanya berkilat tajam. "Jika tanah itu memang beracun seperti yang dia katakan, maka proyek itu memang harus mati. Aku tidak akan membiarkan reputasiku atau sekutu politikku dibangun di atas tumpukan mayat yang ditangisi oleh Alin. Biarkan dia menang kali ini, Yuchen. Biarkan dia melihat bahwa aku bisa menjadi apa pun yang dia butuhkan—bahkan jika aku harus menjadi penonton dari kemenangannya sendiri."

Di laboratorium riset yang remang-remang, Alin menatap layar monitor komputer besar milik Han. Indikator proses pengiriman data menunjukkan angka 98%. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Setiap detik terasa seperti satu jam. Ia terus melirik ke arah pintu, khawatir anak buah Rei akan mendobrak masuk kapan saja.

"Dua persen lagi, Lin. Bertahanlah," ujar Han yang jemarinya menari di atas papan tik, mengalihkan enkripsi data agar tidak memicu alarm keamanan cyber nasional.

BIP.

Pengiriman Berhasil. Dokumen Diterima oleh Dewan Etika Lingkungan WHO.

Alin mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Tubuhnya mendadak lemas, hampir saja ia terduduk di lantai jika Han tidak menahan bahunya.

"Kau berhasil, Alin. Laporan ini otomatis memicu investigasi darurat. Besok pagi, tim independen akan turun ke Neterdhem. Pihak keluarga Lu tidak akan bisa menyentuh tanah itu, dan penggusuran lusa resmi dibatalkan demi hukum internasional," kata Han dengan senyum lega yang tulus.

"Terima kasih, Han. Kau pahlawan," bisik Alin dengan suara serak.

Namun, kebahagiaan itu sirna seketika saat pintu laboratorium terbuka secara otomatis. Langkah kaki yang teratur dan berat terdengar menggema. Alin dan Han menoleh dengan cepat.

Bukan pasukan bersenjata yang datang, melainkan Rei sendiri. Pria itu berjalan masuk dengan keanggunan seorang penguasa, jubah panjangnya berkibar pelan. Wajahnya tenang, tidak ada kemurkaan seperti yang Alin takutkan.

Han langsung mundur selangkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat sekaligus takut.

Rei menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan meja komputer. Tatapannya hanya tertuju pada Alin, mengabaikan keberadaan Han sepenuhnya.

"Kau sudah menyelesaikan bagianmu, Dokter Yi?" tanya Rei dengan nada suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan di tengah malam.

Alin berdiri tegak, mencoba menyembunyikan getaran di tubuhnya. "Kau terlambat, Rei. Dokumennya sudah terkirim. Kau tidak bisa menghentikannya lagi."

Rei berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat debaran di dada Alin kian tak beraturan. Pria itu berhenti tepat di hadapan Alin, mengulurkan tangan untuk merapikan beberapa helai rambut Alin yang berantakan karena keringat. Sentuhannya kali ini terasa hangat, tanpa ada paksaan.

"Aku tahu," sahut Rei tipis. "Aku tidak datang untuk menghentikannya, Alin. Aku datang untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengganggumu saat kau melakukannya."

Alin menatap Rei dengan pandangan tidak percaya. "Kau... kau tahu aku di sini? Kau membiarkannya?"

"Jika aku ingin menghentikanmu, jaringan internet di seluruh distrik ini sudah mati sebelum kau sempat menelepon Han," Rei tersenyum kecil, sebuah senyuman yang kali ini terlihat tulus namun dipenuhi rasa lelah yang mendalam. "Kau meminta aku bertindak dengan cara yang terhormat, bukan? Aku sudah memberikan kebebasan pada Lu Minghan, dan aku membiarkanmu menyelamatkan Neterdhem."

Rei mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Alin yang mulai berkaca-kaca. "Aku telah menuruti semua aturanmu malam ini, Alin. Aku melepaskan egoku demi nuranimu. Tapi ingat janji yang kau katakan padaku sebelumnya.”

Tangan Rei berpindah ke pipi Alin, mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. "Lusa, Lu Minghan akan pulang ke negaranya dengan selamat dan bebas dari tuduhan. Tugasmu untuknya sudah selesai. Dan setelah hari itu tiba... kau menjadi milikku. Sepenuhnya."

Alin terdiam, merasakan kehangatan tangan Rei yang kontras dengan dinginnya ruangan lab. Di satu sisi, ia merasa menang karena berhasil menolong banyak nyawa, termasuk nyawa pria dihadapannya. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa kelonggaran yang diberikan Rei malam ini justru mengikatnya dalam hutang budi yang jauh lebih mengikat daripada rantai besi mana pun. Pangeran itu tidak lagi mengurungnya dengan kekerasan, melainkan dengan pengorbanan yang membuat Alin tidak memiliki alasan lagi untuk membencinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!