"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 14
Sepulangnya bekerja, Mila membuka kantong plastik berisi oleh-oleh dari Hasbi. Dua bungkus keripik singkong pedas dan pisang serta 2 buah alpukat. Mila melengkungkan bibirnya, makanan yang disukainya.
Mila tak segera menyantapnya, ia memilih membersihkan diri karena mau bersiap-siap ke masjid.
Selesai mandi dan berpakaian, azan Maghrib berkumandang. Mila pun bergegas menuju masjid, Hasbi berjalan dibelakangnya tanpa disadarinya.
Pulang salat, ada sebuah insiden yang mengejutkan para jama'ah masjid. Seorang wanita lansia tiba-tiba terjatuh menuruni tangga masjid. Mila yang berada dibelakang, sontak membantunya berdiri dan menuntunnya.
"Biar aku antar pulang, ya, Nek!" Mila menawarkan diri.
Hasbi hanya melihatnya dari kejauhan tanpa mendekatinya.
Wanita lansia itu mengiyakan tawaran Mila, berjalan tertatih-tatih Mila mengantarkannya ke rumah dengan jarak 100 meter dari masjid.
Hasbi tak segera kembali pulang, ia malah mengikuti keduanya dari belakang.
Akhirnya keduanya tiba di rumah si nenek. Mila memanggil anggota keluarga yang ada di dalam rumah. Tak lama, seorang pria dengan tubuh tinggi dan kekar muncul menghampiri mereka.
"Nenek, kenapa?" pria itu memegang lengan sang nenek dengan wajah khawatir.
"Gak usah panik gitu, Nenek gak apa-apa. Cuma terpeleset!" wanita lansia itu tertawa kecil.
"Aku 'kan sudah bilang, salat di rumah aja!" omel sang cucu.
"Nenek malas di rumah, sepi!" kata si nenek beralasan.
"Kalau dari kami ada yang salat di masjid, Nenek boleh ikut juga ke sana!" kata si cucu menyebutkan keseluruhan anggota keluarga yang ada di rumah si nenek.
"Mereka selalu pulang lama, nunggu kamu juga sangat lama!" protes si nenek.
"Nek, aku 'kan kerja. Sampai rumah udah azan, jadi gak sempat kalau salat di masjid," sang cucu memberikan alasan agar tak salah paham.
Mila yang dari tadi mendengar perdebatan kecil antara nenek dan cucunya lantas berdehem.
"Eh, maaf, Nak Mila!" wanita lansia itu tersenyum nyengir karena tak sadar kalau ada Mila disebelahnya.
"Mbak, makasih, ya, udah mau membantu dan mengantarkan Nenek saya pulang!"
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu, saya permisi!" pamit Mila. "Nek, aku pulang, ya. Lain kali hati-hati!" pandangannya berpindah ke arah si nenek, memberikan senyuman singkat kemudian berlalu.
Mila mempercepat langkahnya menuju kos-kosannya karena jalanan tampak sepi. Hasbi yang sengaja mengikutinya dan bersembunyi di tembok rumah warga tiba-tiba muncul.
"Astaghfirullah!!" Mila yang terkejut menghentikan langkahnya sambil memegang dadanya, napasnya naik turun.
"Apa saya mengagetkan Mbak Mila?" tanya Hasbi dengan santainya.
"Untung aja ini jantung ciptaannya Allah, mungkin kalau manusia yang buat sudah lepas," jawab Mila mengatur napasnya biar tenang.
"Maaf!" Hasbi merasa bersalah.
"Mas Hasbi, kenapa ada di sini?" Mila melanjutkan langkahnya.
Hasbi berdiri disampingnya, "Saya sengaja mengikuti kalian!"
Langkah Mila terhenti lalu menoleh. "Sengaja? Kenapa gak dibantuin, sih?" ia memanyunkan bibirnya.
"Mau bantu apa?" tanya Hasbi.
"Bantu menuntun nenek tadi yang terjatuh!" jawab Mila.
"Mbak Mila gak bilang," kata Hasbi tak mau disalahkan.
"Bagaimana mau bilang, Mas Hasbi aja mengikuti kami tanpa suara!" protes Mila.
Hasbi menggaruk tengkuknya dan tersenyum nyengir lalu berkata," Untuk masalah itu aku minta maaf."
"Ah, sudahlah. Lain kali jangan begitu, kalau kira-kira mau menolong jangan suka ditunda!" Mila melanjutkan langkahnya lagi dengan cepat.
Hasbi juga memperlebar langkah kakinya, bahkan dirinya lebih dulu sampai di depan pagar. Tanpa diperintah, Hasbi membukakannya dan mempersilakan Mila duluan masuk.
"Nanti salat Isya di masjid?" tanya Hasbi sebelum Mila masuk ke kamar.
"Sepertinya enggak," jawab Mila.
"Hmm..ya sudahlah," kata Hasbi sedikit kecewa.
Tanpa kata-kata lagi, Mila lalu masuk ke kamarnya.
****
Esok paginya, Mila kembali berjalan kaki setelah salat Subuh. Kali ini dia tak sendirian melainkan ditemani Hasbi. Pria itu sengaja diam-diam memperhatikan kesehariannya Mila.
"Mbak Mila apa gak takut sendirian keluar sepagi ini?" tanya Hasbi yang berada disampingnya.
"Gak. Ini 'kan sudah menjelang pagi," jawab Mila tersenyum namun kakinya terus berjalan.
"Mbak Mila..."
"Apa aku terlalu tua, ya, sampai di panggil 'Mbak'?" Mila dari kemarin ingin menyampaikan kepada Hasbi berhenti memanggilnya dengan embel-embel di depannya 'Mbak' karena menurutnya lebih nyaman panggil nama saja.
"Biar sopan aja!" alasan Hasbi memanggilnya dengan sebutan itu.
"Sepertinya usia kita gak terlalu jauh," kata Mila.
"Memangnya berapa usia Mbak Mila, eh maksudnya kamu?" Hasbi penasaran.
"Dua puluh sembilan."
"Masa 'sih? Sepertinya kayak usia dua puluh lima," kata Hasbi menggoda.
"Gak usah mengejek, deh, Mas!" Mila mendengus.
"Memang benar, kok. Saya gak bohong!" Hasbi berkata jujur.
"Kalau usia Mas Hasbi berapa?" Mila juga penasaran karena pria disampingnya terlihat awet muda mirip aktor drama luar negeri yang beberapa hari ini sering ditontonnya.
"Sama seperti kamu!"
"Jangan-jangan Mas Hasbi berbohong?" Mila tak percaya usia Hasbi sebaya dengannya, ia lebih yakin kalau usia Hasbi sekitar 22 tahun.
Hasbi lalu menyebutkan angka tanggal, bulan dan tahun kelahirannya. Usianya dengan Mila hanya berjarak beberapa bulan saja.
"Wah, ternyata Mas Hasbi lebih muda dari saya!" kata Mila.
"Tapi, kalau jodoh 'kan gak memandang usia!" ceplos Hasbi.
Mila seketika menghentikan langkahnya dan menoleh. "Mas Hasbi tadi bilang apa?"
"Gak ada, ayo jalan lagi!! Saya mau mentraktir kamu sarapan pagi!" Hasbi melangkah lebih cepat meninggalkan Mila yang terpaksa berlari kecil mengejarnya.
Setelah berjalan kaki sejauh 5 kilometer, keduanya singgah di warung bubur ayam. Hasbi mengatakan kalau tempat itu menjadi langganannya dan beberapa teman kantornya.
"Habis bakar kalori, sekarang kita tambah tenaga!" kata Hasbi.
Mila hanya tersenyum saja.
Keduanya lalu memesan 2 porsi bubur ayam dan 2 botol air mineral.
"Ini udah hampir jam tujuh, Mas Hasbi apa gak terlambat ke kantor?" Mila melihat jam di ponselnya.
"Enggak apa-apa, hari ini aku ada kerjaan di luar kantor."
"Oh," ucap Mila singkat.
"Mil, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu?" tanya Hasbi sembari menyantap buburnya.
Deg...
Obrolan begini yang selalu dihindari Mila, ia belum siap menjelaskan tentang statusnya kepada Hasbi.
"Mila..."
"Hmm ..ya, mau tanya apa?" Mila berusaha tenang meskipun jantungnya berdetak cepat.
"Apa di sini kamu punya keluarga atau saudara?"
Mila menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu sendirian?" Hasbi mengernyitkan keningnya.
"Cuma ada teman di kota ini. Dialah yang mencarikan tempat tinggal dan kerjaan," kata Mila jujur.
"Dia kerja juga di sini?" tanya Hasbi lagi.
"Ya, awalnya dia kerja di sini sampai akhirnya ketemu jodoh dan menikah," jawab Mila.
"Oh, begitu," ucap Hasbi mengangguk paham.
Hening sesaat....
Hasbi kembali bertanya lagi, "Alasan kamu merantau ke kota ini apa?"
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔