Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Raya mulai luluh
Lorong kembali sunyi. Langkah kaki yang tadi terburu-buru kini menghilang di balik pintu kamar. Hanya tersisa ruang makan dengan serpihan kaca yang masih berkilau di lantai.
Beberapa pelayan bergerak pelan, membersihkan dengan hati-hati. Tidak ada yang berani bersuara. Di ujung meja, Kakek Sanjaya masih duduk.
Tatapannya tidak lagi santai. Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
“Ambar.”
Suaranya tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikan semua gerakan di ruangan itu.
Ibu Ambar yang tadi hendak berbalik, berhenti. Ia menoleh pelan.
“Ada apa, Pa?” tanyanya ringan, seperti tidak terjadi apa-apa.
Kakek Sanjaya tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan. Tangannya bertumpu sebentar pada meja, lalu tubuhnya tegak sepenuhnya.
Ia maju beberapa langkah hingga jarak mereka kini tidak jauh. “Sejak kapan,” ucapnya pelan, “kamu jadi orang yang jahat sama menantu sendiri," katanya tegas.
Ibu Ambar tersenyum tipis. “Dia belum menjadi menantu Saya, Pa,” balasnya tenang. “Lagian kalau dia jatuh, itu karena dia saja yang ceroboh.”
“Ceroboh?” ulang Kakek Sanjaya.
Matanya menajam. “Apakah ceroboh juga… saat kakimu menyenggolnya?”
Mendengar kata-kata itu, ekspresi Ibu Ambar seketika berubah. “Pa...”
“Stop!”
Sanjaya mengangkat tangannya, menghentikan.
“Aku melihatnya.”
Beberapa pelayan yang tadi menunduk, semakin menahan napas. Pak Arya yang sejak tadi diam, kini ikut berdiri. Wajahnya serius.
“Ambar…” ucapnya pelan, seolah mencoba menenangkan.
Namun Kakek Sanjaya belum selesai. “Anak kecil itu terluka,” lanjutnya. “Dan kamu… bahkan tidak bergerak satu langkah pun.”
Tatapan Ambar mulai mengeras. “Itu bukan tanggung jawab saya,” jawabnya dingin.
Kalimat terucap begitu saja dan langsung mematahkan sisa kesabaran.
"Dia akan menjadi anaknya Arsen, dan itu artinya. Dia cucumu,” suara Kakek Sanjaya tiba-tiba naik, untuk pertama kalinya.
Semua terdiam.
“Mulai sekarang, Nayra dan kedua anaknya, sudah aku anggap bagian dari keluarga ini!” lanjutnya tegas. “Anak-anak itu… juga cicitku!” Nada suaranya menggema di ruangan.
Ambar tidak menjawab. Namun rahangnya mengencang.
“Kalau kamu tidak bisa menerima mereka,” lanjut Sanjaya, lebih pelan tapi jauh lebih tajam, “setidaknya... kamu jangan menyakiti mereka.”
Ambar akhirnya mengalihkan pandangan. Ia menarik napas pelan, lalu tersenyum sinis.
“Baik,” ucapnya singkat.
Ia berbalik. Langkahnya terdengar tegas saat meninggalkan ruangan.
Setelah Ambar benar-benar pergi, ruangan kembali sunyi.
Pak Arya menghela napas panjang. “Pa…” ucapnya pelan. "Maafin Ambar ya, dia memang seperti itu. Tapi aku yakin, suatu saat nanti. Dia pasti akan menerima Nayra dan kedua anaknya," lanjutnya, berusaha menjelaskan.
Kakek Sanjaya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah lorong tempat Ambar menghilang. Wajahnya tidak lagi sekeras tadi, tapi jelas… belum sepenuhnya reda.
Beberapa detik berlalu. Baru kemudian ia menghela napas panjang.
“Berharap itu boleh, Arya,” ucapnya pelan. “Tapi jangan sampai terlalu berharap pada wanita seperti Ambar.”
Pak Arya terdiam. Tangannya yang tadi sempat terangkat, perlahan turun kembali. Ia tidak membantah.
Kakek Sanjaya melangkah pelan kembali ke kursinya. Ia duduk, namun tidak langsung bersandar. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, jemarinya saling bertaut.
“Anak-anak itu…” lanjutnya pelan, “tidak datang ke sini untuk disakiti.”
Pak Arya mengangguk kecil. “Saya tahu, Pa.”
“Tahu saja tidak cukup.”
Kalimat itu langsung membuat Pak Arya menegang sedikit. Kakek Sanjaya menoleh. Tatapannya kini lurus ke arah putranya.
“Rumah ini besar, Arya,” ucapnya. “Tapi kalau isinya saling menjatuhkan, tidak akan ada kehangatan di dalamnya.”
Pak Arya menarik napas dalam. “Saya akan bicarakan soal ini dengan Ambar.”
Kakek Sanjaya tidak langsung merespon. Ia hanya mengangguk tipis.
Namun sesaat kemudian, Kakek Sanjaya berkata lagi, “bukan hanya bicara.”
Pak Arya mengangkat wajahnya.
“Kamu harus tegas Arya, jadi kepala rumah tangga.”
Beberapa detik mereka saling menatap. Lalu Pak Arya mengangguk lebih mantap kali ini. “Saya mengerti, Pa.”
Di sisi lain…
Kakek Sanjaya perlahan menyandarkan punggungnya. Tatapannya kembali kosong, tapi pikirannya jelas berjalan.
“Arsen…” gumamnya lirih.
Sudut bibirnya terangkat tipis. “Anak itu tidak main-main.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan lebih pelan. “Dan wanita itu, sepertinya memang wanita baik-baik.”
Di dalam kamar, suasana jauh berbeda dari ruang makan. Lebih tenang, tapi masih menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.
Raya duduk di atas tempat tidur. Kakinya sudah diperban rapi. Napasnya mulai stabil, meski sesekali masih terasa nyeri.
Di sampingnya, Nayra duduk diam. Tangannya menggenggam ujung seprai, seolah masih menyalahkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Alea berdiri di dekat kaki tempat tidur. Matanya tidak lepas dari Raya sejak tadi.
Perlahan ia mendekat. “Kakak…” panggilnya pelan.
Raya menoleh sedikit.
Alea naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati, lalu duduk di sampingnya. Tubuh kecilnya condong sedikit, matanya penuh rasa khawatir.
“Sakit ya?” tanyanya lirih.
Raya tidak langsung menjawab. Ia menatap Alea sebentar, lalu menggeleng kecil.
“Sedikit.”
Alea mengerutkan kening. Tangannya yang kecil terangkat, lalu ragu-ragu menyentuh perban di kaki Raya… sangat pelan, seolah takut membuatnya semakin sakit.
“Ini pasti gara-gara..." ucapannya terpotong saat melihat mata Raya melotot.
Alea terdiam sejenak. Lalu bibirnya sedikit mengerucut.
“Kalau sakit, bilang ya sama aku aja,” ucapnya serius. “Aku bisa tiupin biar nggak sakit.”
Kalimat polos itu membuat Raya sedikit terdiam. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Iya.”
Alea benar-benar meniup pelan ke arah perban itu. Sangat hati-hati.
Nayra yang melihat itu, akhirnya menunduk. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia menahannya.
Tak lama kemudian, Arsen berdiri dari posisinya.
Tatapannya sempat kembali ke kaki Raya, memastikan semuanya sudah aman.
“Jangan banyak gerak dulu,” ucapnya singkat.
Raya mengangguk.
Arsen berbalik, berjalan menuju pintu, lalu keluar dari kamar.
Pintu tertutup perlahan.
Beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Raya masih menatap ke arah pintu itu. Tatapannya tidak berpindah. Alea yang duduk di sampingnya, mengikuti arah pandangnya.
“Kenapa, Kak?” tanyanya pelan.
Raya tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi memegang seprai, perlahan mengendur.
“Mama, ternyata...” ucapnya lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “dia baik ya.”
Nayra belum sempat menjawab, Alea langsung mengangguk cepat. “Iya! Om baik banget!”
Raya tidak memperdulikan ucapan Alea. Raya hanya terdiam lagi. Dadanya terasa aneh… hangat, tapi juga sedikit sesak.
Selama tiga belas tahun hidupnya tidak pernah ada seseorang yang memperlakukannya seperti itu. Bahkan Ayah kandungnya sendiri, tidak pernah melindunginya tanpa diminta. Dia juga tidak pernah berbicara dengan nada setenang Arsen.
Perlahan, pandangannya turun ke perban di kakinya. Ingatannya kembali pada saat Arsen membersihkan lukanya. Tangan Arsen begitu cekatan dan terlihat jelas, Arsen itu sangat tulus padanya.
Raya menelan pelan. Tangannya mengepal sedikit di atas seprai. Tanpa ia sadari, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah. Perlahan hati Raya sudah mulai bisa luluh karena sikap Arsen padanya.
semangat, lanjut thoor😄👍