Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Lingga masih berpikir keras tentang kehamilan Sarah, bisa saja perempuan iru melakukan dengan banyak pria setelah kejadian malam itu. Dirinya bahkan baru melakukan sekali, tidak mungkin sekali langsung berkecambah menjadi bayi.
Pertama-tama, Lingga tidak ingin keadaan Sarah di ketahui oleh keluarganya. Pria itu pun mengambil ponsel Sarah lalu mengirimkan pesan pada Bu Maryam seolah-olah itu Sarah yang mengabarkan kalau hari ini ada kegiatan di luar dan harus menginap di rumah teman. Dengan begitu Bu Maryam tidak akan cemas di rumah.
Sembari menunggu Sarah, Lingga memikirkan cara yang akan di pertanyakan jika perempuan itu memang benar mengindikasikan dan merujuk bahwa yang di kandung adalah hasih peristiwa tidak di sengaja dengannya.
“Nggak bisa di biarin, gue nggak mau punya anak dari rahim gadis itu ,” guman Lingga merasa kacau.
Ia mempunyai gambaran kehidupan yang indah bersama tambatan hatinya yang super model itu.
Saat ini Sarah sudah di pindahkan di ruang rawat. Sedangkan Lingga menunggu di ruang itu. Ia sedikit merasa bosan kala melihat gadis itu tak kunjung membuka matanya.
Sarah baru tersadar dan merasa kepalanya masih sedikit berat. Ia melihat sekeliling dengan nuansa kamar yang berbeda. Tangan kirinya berhiaskan infus, seketika ia baru paham, kalau dirinya ada di rumah sakit.
Sarah mencoba untuk bangkit mengambil duduk. Hendaklah meraih tas di nakas, ia perlu ponsen nya untuk mengabari ibunya.
“Cari ini, jangn khawatir, aku sudah mengirim pesan ke ibumu, kalau kamu baik-baik saja.”
“Balikin Lingga, kamu tidak berhak mengotak atik ponsel ku.” Sarah hendak meraih dari tangannya, tetapi pria itu menjauhkannya lalu menyimpan nya di saku.
“Seharusnya kamu berterima kasih, ya karna berkat diriku ibumu tidak akan cemas. Pertama, sewa ruang rawat di sini tidak gratis dan kamu harus menurut untuk menebus semuanya. Kedua, jangan bilang bayi yang kamu kandung ada hubungannya denga diriku.”
Sarah terdiam, kenapa ia harus terperangkap dengan manusia setengah gila seperti Lingga. Salah apa dirinya harus berusaha dengan pria seperti itu.
“Kamu pikir aku pernah melakukan perbuatan kotor itu dengan orang lain. Kamu penjahatnya, seharusnya aku tidak harus mengandung anak dari penjahat seperti dirimu.”
“Aku tidak yakin, kita baru saja pertama kali, dan itu sangat mustahil untuk menjadi bayi. Saya tidak mau menanggung apapun, apalagi bertanggung jawab menikahi dirimu.”
“Kamu pikir aku sudi mengandung anakmu! Kamu pikir aku mau menikah denganmu! Demi Allah…. Lingga, aku membencimu dan semu perbuatanmu! Kenapa harus bawa aku ke sini! Pergi! Aku tidak sudi melihatmu di sini!” Sarah hilang kesabaran.
Mengetahui fakta bahwa dirinya hamil saja sudah membuatnya stress, ditambah perundungan dirinya yang tak berkesudahan. Membuat Sarah semakin muak dengan sikap Lingga.
“Balikin ponsel aku!” Sarah turun dari ranjang tanpa mempedulikan selang infusnya yang ketarik hingga darah mengalir dari tangannya.
“Gila lo ya, duduk yang tenang! Suster tolong suster!” Lingga merasa kewalahan saat Sarah berusaha mengambil ponsel dari sakunya.
Petugas medis datang, menenangkan pasien yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Lepasin sus, saya mau handphone saya, dia merampasnya.”
“Tenang ibu, tenang, darah ibu keluar banyak,” ujar salah satu suster menenangkan. Dibantu perawat lainya, Sarah yang kembali lemah, akhirnya bisa di tenangkan.
Seketika Lingga keluar dengan kesal, perkara Sarah membuat hidupnya tidak tenang.
Tidak ada pilihan lain selain menurut, kondisi fisik Sarah yang lemah tidak bisa berbuat banyak selain untuk bertahan hidup. Namun, sepertinya hidup dirinya mulai tidak berguna.
“Tolong jangan menangis lagi Sarah, jangan, kamu harus kuat untuk dirimu sendiri,” batin gadis itu memejam merasakan betapa pahitnya hidup ini.
Tidak pernah menyangka, kebaikan orang tua pria itu dan semua yang telah diberikan untuk biaya hidup dan sekolahnya harus di bayar mahal atas perbuatan putranya.
Haruskah Sarah memendam semuanya sendiri?.