NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 10

Selama sepuluh hari lamanya Jenia di rawat di rumah sakit dan selama itu pula, Ansel bolak-balik antara rumah sakit dan rumahnya, karena ia juga harus mengajar di sekolah dan menemani Jenia sedikit lama, sedangkan Cwen selama mamanya di rawat, ia diizinkan untuk tidak masuk sekolah agar bisa menjaga mamanya di rumah sakit.

Ansel hanya akan menjaga Jenia saat malam tiba, karena ia pun sedikit khawatir membiarkan Jenia hanya di temani si kecil, Cwen.

Tepat di hari ke sebelasnya, Jenia di jemput pagi-pagi sekali oleh Ansel, sekitar jam enam pagi, karena sebenarnya, Jenia sudah boleh pulang ke rumah sejak kemaren sore, tapi kemarin Ansel ada panggilan mendadak dari rumahnya yang membuat Ansel tidak bisa menjemput Jenia dan juga Cwen dari rumah sakit, tidak mungkin Ansel membiarkan mereka pulang menggunakan taksi.

“Tidak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Ansel mengambil tas yang sedikit besar dari tangan Jenia dan membiarkan ibu anak satu itu jalan lebih dulu bersama Cwen di depannya.

“Tidak ada, Cwen sudah memastikan tidak ada barang mama yang tertinggal si sini,” jawab Cwen yang langsung mendapatkan elusan lembut dari Ansel di puncak kepalanya.

“Pak Ansel terima kasih untuk semuanya, saya benar-benar tidak akan melupakan semua kebaikan yang telah bapak beri untuk saya, saya benar- benar merasa berhutang budi kepada pak Ansel,” ucap Jenia begitu mereka sudah duduk di kursi masing-masing.

Ansel melirik Jenia dari kaca spionnya, dan menganggukkan kepalanya.

“Tidak masalah, saya benar-benar ikhlas membantu, tidak mengharapkan imbalan apapun,” balas Ansel.

***

Jenia mengerutkan keningnya melihat seseorang berdiri di depan pintu apartement yang ia dan anaknya tempati, ia sedikit menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat dengan jelas sosok itu. Begitu ia mengenali sosok itu, Jenia langsung merubah tatapan bingungnya menjadi marah. Bagaimana Anwar bisa tahu dimana sekarang ia tinggal, tidak mungkin dia mengikuti dirinya kan, di hari pertama ia ke sini saja, Anwar sudah pasti mengurung diri di kamar. Jadi darimana dia bisa tahu tempat tinggalnya kini.

“Jadi ini kelakuan kamu yang sesungguhnya Jenia, keluyuran bersama selingkuhanmu, menyesal aku menikahi kamu, untung aku lebih dulu sadar jika kamu tidak sebaik di akhir,” ucap Anwar begitu melihat Jenia yang datang bersama Ansel yang Anwar kira adalah selingkuhan Jenia.

Jenia hanya diam saja sembari menghela napas, mau marah juga ada gunanya, apalagi ia malas menjelaskan. Jadi biarkan saja Anwar dengan segala pikirannya, Jenia tidak mau lagi ambil pusing, lagi pula ia merasa lebih hidup saat terlepas dari pria seperti Anwar.

“Pantas saja kamu tidak meminta maaf sama sekali kepadaku dan memohon-mohon untuk tidak berpisah denganku, rupanya sudah menemukan lelaki murahan, kalian benar- benar sangat murahan, menjalin hubungan yang sangat kotor, sekalinya murahan akan tetap murahan bukan, Jenia?”

Jenia mengepalkan kedua tangannya, Enteng sekali Anwar menghina dirinya, bahkan di saat dia tidak tahu apapun kebenarannya, “tau apa kamu? Kamu bahkan sibuk dengan pekerjaanmu itu Anwar, memangnya kamu mengenal seperti apa diriku? Hidup bersama selama Sembilan tahun pun kamu masih tidak mengenaliku Anwar,” ucap Jenia yang merasa jika Anwar kali ini sangat keterlaluan karena berani menghinanya.

“Kenapa harus marah Jenia, tidak ada yang salah dengan apa yang kukatakana, kau itu murahan, beruntung aku sudah lepas dari wanita gampangan seperti kamu,” kekeh Anwar menertawakan Jenia yang marah karena hinaan dirinya.

“Berhenti membuat drama Anwar, terserah kamu ingin mengatakan apapun tentangku, aku tidak peduli lagi, sekarang pergi dari sini, untuk apa kamu mendatangiku? Bukankah kau bilang kita sudah bercerai sejak sore itu?”

Anwar langsung ingat tujuannya, ia mengangkat map coklat, menunjukkan kepada Jenia apa yang dibawanya lalu ia lempar begitu saja di hadapan wajah Jenia, “Cepat tanda tangani ini, agar kita bisa resmi berpisah!” perintah Anwar membuat Ansel geram melihat seorang wanita yang diperlakukan tidak benar oleh Anwar, rasanya ia ingin maju untuk membela Jenia, tapi Cwen membuat ia menahan keinginnya itu, ia lebih memilih menyembunyikan Cwen di balik tubuhnya agar tidak melihat hal tidak baik di depannya.

Jenia berjongkok untuk mengambil map coklat yang terjatuh itu, lalu mengelurakan isinya, surat perceraian.

Anwar terkekeh puas melihat itu, lalu ia melempar pulpen.

Ansel benar-benar geram melihat bagaiman buruknya sifat ayah dari Cwen, ia bahkan tidak menyangka jika ada laki-laki yang memperlakukan wanitanya seperti itu, walaupun sekarang mereka resmi bercerai, bukankah dulu dia pernah ada di posisi mencintai Jenia?

Begitu Jenia selesai menandatangi surat perceraian itu, ia balik melempar kertas itu yang dimana mengenai wajah Anwar, lalu tanpa mengatakan apapun lagi Jenia masuk ke dalam apartemennya diikuti oleh Ansel yang langsung menggendong Cwen.

Anwar mengepalkan tangannya mendapatkan perlakuan buruk dari mantan istrinya itu, tidak menyangka jika Jenia berani berbuat hal seperti itu.

“Pasti gara-gara pria murahan itu. Cih, sama-sama murahan saja bangga, bahkan mereka sudah tinggal bersama, benar-benar sangat memalukan.”

***

Ansel memikirkan masalah perjodohan itu, ia di perintahkan untuk belajar bahasa jerman sembari mencoba mendekatkan diri dengan gadis bernama Bella itu. Bukannya Ansel tidak mau, ia masih sangat ragu untuk menikahi gadis blasteran itu, seperti ada halangan yang membuat ia tidak mau menikahinya.

Yang Ansel lihat dari kedua mata gadis itu juga, sangat terlihat jika Bella sama sekali tidak tertarik dengannya, selama ia berbincang dengan keluarganya pun, Bella sering kali tidak mendengarkan mamanya ketika ia ditanya, kedua matanya hanya focus dengan ponsel yang di genggamnya.

Apa ia harus dengan tegas mengatakan jika dirinya tidak mau menikah dengan Bella, atau bahasa lembutnya ia tidak tertarik dengan perjodohan itu? Apa ayah dan bundanya akan marah begitu tahu jika dirinya menolak?

“Pak guru, kapan pak guru akan menikah dengan mama?”

Tiba-tiba lamunannya buyar ketika bahunya di guncang oleh Cwen yang sejak tadi meminta di temani mengerjakan tugasnya, sedangkan mamanya memasak di dapur.

author : (udah kayak keluarga aja mereka, wkwkw)

Ansel menoleh, ia bingung ingin menjawab apa. Semua jawaban yang selalu ia berikan selalu membuat dirinya kembali terdiam, rupanya Cwen sangat pintar membalikkan kata-kata lawan, hingga membuat sang lawan terdiam tidak bisa menjawab.

“Pak guru, Pak guru kan sudah lihat mama cantik, atau pak guru melihat mama itu jelek?” Tanya Cwen lagi, kali ini ia bebas gelendotan di lengan sang guru karena tidak ada mamanya yang melihat, jika mamanya melihat, sudah pasti ia mendapatkan teguran dari mamanya itu.

“Loh kata siapa mama Cwen jelek, mama Cwen cantik kok,”

“Mama,” teriak Cwen tiba-tiba yang langsung membuat Ansel terlonjak di tempat duduknya karena terkejut mendengar teriakan Cwen pas di dekat telinganya.

“Mama, tadi pak guru bilang mama can-,”

Ansel yang tahu cwen akan mengatakan apa, langsung membekap mulut gadis itu, Cwen pasti salah paham dengan maksud yang dia mengatakan mamanya cantik. Maksud Ansel mama Cwen kan perempuan dan namanya perempuan pasti cantik tidak ada yang tampan.

“Pak guru kenapa menutup mulut Cwen sih?” tanya Cwen sedikit kesal dengan gurunya itu, padahal ia ingin memberitahu mamanya jika pak guru baru saja memuji mamanya cantik.

“Cwen sudah selesai tugasnya?” Ansel sengaja mengalihkan topik agar Cwen berhenti membahas dirinya yang dijodoh-jodohkan dengan mamanya itu.

"Kenapa, Cwen?"

Ansel langsung mematung melihat Jenia yang malah menghampiri Cwen dan bertanya mengapa Cwen memanggil mamanya itu.

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!