Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Penuh Tanda Tanya & Syal Penyelamat
Pagi itu, meja makan besar keluarga Sterling kembali dipenuhi kehangatan, aroma masakan lezat memenuhi ruangan, mengundang selera siapa saja yang menciumnya. Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul, duduk rapi menunggu hidangan disajikan, suasana terasa damai dan cerah, persis seperti hari-hari biasa yang penuh kebahagiaan. Namun, kehangatan itu perlahan terganggu saat dua sosok melangkah turun dari tangga utama.
Langkah mereka berat, bahu terkulai lemas, wajah keduanya terlihat kusam, mata sayu nyaris tak terbuka, dan tidak ada sedikit pun semangat yang terlihat. Seolah-olah mereka baru saja menyelesaikan perjalanan jauh yang melelahkan atau tidak tidur semalaman. Itu adalah Zio dan Zea.
Mereka berjalan bagai orang yang tidak punya tenaga, duduk di kursi masing-masing dengan posisi yang lesu, kepala tertunduk, mulut mengerucut cemberut. Pemandangan aneh itu seketika membuat seluruh pasang mata di meja makan tertuju pada mereka bergantian, penuh tanya heran.
Victoria yang sedang sibuk menyendokkan nasi goreng ke piring anak-anaknya, langsung berhenti sejenak, menatap keduanya dengan wajah khawatir bercampur heran.
"Lho, kenapa ini? Belum apa-apa kok pagi-pagi sudah pada cemberut dan lesu begini? Seperti orang habis berperang saja. Ada yang sakit? Atau semalam tidak bisa tidur?" tanya Victoria lembut, tangannya menyentuh dahi Zea sebentar memeriksa suhu tubuhnya.
Zio menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat berat, lalu menatap kedua orang tuanya dengan wajah memelas, seolah sedang memohon belas kasihan.
"Ma... Pa... Emangnya gak bisa ya aku ikut magang bareng mereka? Aku mau pindah tempat deh, aku gak mau di perusahaan kita saja, aku bosan tanpa mereka," keluh Zio dengan suara lirih, wajahnya penuh ketidaksukaan. Ia menyebut kata 'mereka' sambil menunjuk ke arah Ziva dan Zea yang duduk di seberang meja.
James yang sedang menyeruput teh hangat, meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap putra ketiganya itu sambil tersenyum geli.
"Lho, lho? Ini anak kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Bukannya kemarin sore kamu sendiri yang bilang dengan sangat yakin, kalau kamu mau magang di perusahaan keluarga saja, katanya biar enak, dekat rumah, bebas mau datang jam berapa saja, dan gampang minta cuti? Bahkan kamu bilang, tidak mau jauh-jauh dan capek-capek di perusahaan orang lain," kata James mengingatkan kembali ucapan Zio kemarin.
Mendengar itu, wajah Zio makin cemberut, ia memainkan sendok di tangannya dengan kesal.
"Aku kira mereka berdua juga magang di perusahaan keluarga kita, Pa! Ternyata pas aku tadi malam dengar obrolan kalian... eh malah ke perusahaan sebelah! Ke Grup Arganza! Itu kan perusahaan terbesar dan paling keren di kota ini! Kenapa aku ketinggalan?! Aku kira kita satu tempat, ternyata aku sendirian di rumah, mereka pergi bersenang-senang ke tempat bonafit! Tidak adil, aku juga mau ikut!" gerutu Zio panjang lebar, nada suaranya terdengar penuh rasa iri dan ketidakpuasan yang meluap-luap. Ia merasa dikhianati, merasa ditinggalkan sendirian.
Ziva hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kakak kembar yang satu ini, lucu dan kekanak-kanakan. Namun, saat pandangannya beralih ke arah Zea yang duduk tepat di sebelahnya, senyum di bibir Ziva seketika lenyap, digantikan oleh tatapan kaget dan penuh peringatan.
Di leher putih mulus Zea, yang terekspos jelas karena gadis itu hanya memakai baju berleher rendah, terlihat jelas beberapa bercak merah menyala, tanda bekas ciuman yang sangat jelas dan mencolok. Bentuknya, warnanya, dan letaknya... Ziva sangat hafal betul apa itu. Itu bukan bekas gigitan nyamuk, bukan alergi, itu jelas tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh seseorang yang sangat bernafsu dan posesif.
Darah Ziva seketika mendidih. Jantungnya berdegup kencang karena cemas. Ia segera menoleh, pandangannya tajam dan langsung menembus ke arah sosok yang duduk di ujung meja. Kevin.
Dan benar saja, pria itu duduk dengan tenang, makan dengan santai, namun di balik ketenangannya itu, ada senyum tipis yang penuh kemenangan tersungging di bibirnya. Matanya sesekali melirik ke arah leher Zea dengan tatapan puas, seolah sedang memamerkan hasil karyanya.
Ziva merasakan amarah dan rasa cemas bercampur jadi satu. Bagaimana pun juga, mereka sedang duduk bersama kedua orang tua mereka. Jika Victoria atau James melihat tanda itu, jika mereka menyadari arti dari bekas merah itu, maka malapetaka akan datang. Hubungan terlarang antara Kevin dan Zea yang selama ini disembunyikan, akan terbongkar seketika. Itu bukan sekadar hubungan pacaran biasa, itu hubungan yang dilarang karena dianggap kakak beradik, dan dampaknya akan sangat buruk bagi seluruh keluarga.
Tidak boleh! Tidak boleh sampai mereka tahu! Batin Ziva berteriak kencang. Ia harus bertindak cepat, sekarang juga.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ziva segera bangkit dari kursinya, meraih sebuah syal tebal berwarna krem yang kebetulan tergantung di sandaran kursinya—yang sebenarnya sengaja ia bawa dari kamar karena firasat buruk semalam—lalu dengan gerakan cepat namun wajar, ia melingkarkan syal itu di leher Zea, menutup rapat semua bekas merah yang memalukan itu hingga tak ada sedikit pun yang terlihat.
Sambil merapikan ujung syal agar rapi, Ziva berbicara dengan nada suara yang cukup keras, sengaja agar terdengar oleh semua orang di sana, terutama menekankan kata-kata tertentu yang hanya dimengerti oleh orang yang bersangkutan.
"Pakai ini dulu ya, Zea. Kamu ini, semalam kan sudah masuk angin parah, badanmu dingin semua. Ditambah lagi, kamarku ternyata banyak sekali SERANGGA PENGHISAP DARAH yang nakal, makanya sampai bikin badanmu penuh bercak merah begini. Pakai syal ini biar hangat, biar tidak makin parah masuk anginnya," ucap Ziva dengan nada datar namun tajam, matanya melirik tajam ke arah Kevin sambil menendang keras lutut pria itu di bawah meja, tak terlihat oleh orang lain.
BRAK!
Kaki Kevin terhenyak keras terkena tendangan tajam itu, membuat pria itu hampir tersedak makanannya. Ia menahan rasa sakit itu sambil menatap Ziva dengan tatapan tak percaya sekaligus kesal.
Di sisi lain, Zio yang duduk tepat di hadapan mereka, melihat semua adegan itu dengan mata yang makin membelalak lebar, rahangnya hampir jatuh ke lantai karena kaget. Ia melihat jelas bagaimana cara Ziva menatap Kevin yang penuh peringatan, bagaimana ia dengan sigap menutupi leher Zea, dan bagaimana reaksi Kevin yang menahan sakit sambil menatap Zea dengan tatapan yang... tatapan yang bukan tatapan kakak biasa. Tatapan penuh rasa memiliki, penuh nafsu, dan sangat posesif.
'Astaga... jadi benar dugaan gue selama ini...' batin Zio ternganga. 'Kak Kevin benar-benar gila! Dia bukan cuma menganggap Zea bukan adiknya, dia sampai menandai tubuhnya begitu! Dan Kak Ziva... dia sampai sebrutal ini demi melindungi Zea, takut miliknya diambil atau diincar orang lain? Atau lebih tepatnya, takut aib keluarga terbongkar? Ya ampun, gue satu-satunya yang sadar di sini rupanya...'
Zio menelan ludah dengan susah payah, ia memilih pura-pura sibuk dengan makanannya, tidak berani bicara apa pun, hatinya berdebar kencang karena tahu rahasia besar yang berbahaya ini.
Victoria yang mendengar penjelasan Ziva, serta melihat wajah Zea yang memang terlihat pucat dan lesu, langsung percaya sepenuhnya. Ia langsung mengambil mangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap panas, lalu meletakkannya di depan piring Zea dengan penuh kasih sayang.
"Waduh, kamu ini memang ya, ceroboh sekali. Sudah dibilangin kalau masuk angin jangan keluyuran, malah main ke kamar kakakmu sampai digigit nyamuk banyak begitu. Sudah, minum sup ini habis-habis, biar badanmu hangat dan segar kembali. Nanti kalau di kantor masih pusing, jangan dipaksakan kerja, bilang saja sama kakakmu," kata Victoria lembut, penuh perhatian, sama sekali tidak curiga sedikit pun.
Sementara itu, di sisi lain meja, mata Kevin terus menatap Zea tanpa berkedip. Meskipun leher gadis itu sudah tertutup rapat oleh syal, senyum nakal dan penuh kemenangan masih tergambar jelas di wajah tampannya. Ia tahu persis apa yang ada di balik kain itu. Itu tanda bukti bahwa gadis cantik di sana sepenuhnya miliknya, tak ada orang lain yang boleh menyentuhnya. Dan melihat Zea yang kini tampak lesu dan manja, rasanya puas sekali di hatinya—karena ia tahu persis alasan kenapa gadis itu lelah setengah mati pagi ini.
Kevin bahkan dengan beraninya mengirimkan pesan singkat lewat tatapan matanya saja: 'Nikmati rasa lelahmu itu sayang, itu hukuman dan bukti cintaku padamu. Dan jangan harap kamu bisa lari dariku, selamanya kamu milikku.'
Zea yang merasakan tatapan panas itu, tanpa sadar wajahnya memerah padam, jantungnya berdegup kencang karena malu dan segan. Ia tahu, Kevin sedang mengejeknya diam-diam. Tapi berkat Ziva, setidaknya ia selamat dari pertanyaan orang tua yang memalukan.
Ziva yang melihat interaksi diam itu, kembali menatap Kevin dengan tatapan peringatan yang tajam, seolah berkata: 'Jangan macam-macam, kalau kamu berani buat ulah lagi, aku tidak akan segan-segan membereskanmu sendiri!'
Pagi itu di meja makan keluarga Sterling, tampak tenang dan hangat di permukaan, namun di baliknya tersembunyi begitu banyak rahasia, ketegangan, dan dinamika perasaan yang rumit, semuanya tersembunyi di balik senyum-senyum manis dan obrolan santai.