Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjodohan mendadak
Lampu-lampu kantor di kawasan Sudirman sudah mulai menyala, berpendar di balik kaca-kaca gedung pencakar langit yang dingin. Bagi Maya, cahaya itu bukan lagi simbol kemewahan, melainkan tanda bahwa harinya yang melelahkan baru saja "berakhir" secara teknis, meski pikirannya masih tertinggal di tumpukan dokumen presentasi.
Sebagai Account Director di salah satu agensi periklanan ternama, usia dua puluh tujuh tahun telah menuntut Maya untuk menjadi wanita baja. Ia terbiasa dengan tenggat waktu yang mencekik, klien yang sulit dipuaskan, dan sepatu hak tinggi tujuh sentimeter yang kini terasa seperti alat penyiksaan di kakinya.
"Pulang, Maya. Wajahmu sudah pucat seperti kertas A4," tegur Santi, sahabat sekaligus rekan kerjanya, saat mereka berpapasan di lobi.
Maya hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Hanya butuh kasur, San. Dan mungkin tidur selama tiga hari berturut-turut tanpa mendengar suara notifikasi email."
Ia melajukan mobilnya membelah kemacetan Jakarta yang mulai mencair. Pikirannya melayang pada satu tujuan: rumah. Ia membayangkan air hangat, aromaterapi lavender, dan keheningan total. Sejak ibunya tiada tiga tahun lalu, rumah besar keluarga mereka memang terasa lebih sepi, namun bagi Maya yang selalu dikelilingi keributan kantor, kesunyian itu adalah kemewahan.
Namun, saat mobilnya memasuki gerbang rumah bergaya kolonial modern di kawasan Menteng, dahi Maya berkerut. Ada sebuah mobil SUV hitam yang tampak asing terparkir di sana.
Tamu Ayah? Di jam begini? gumamnya dalam hati.
Maya menghela napas panjang, merapikan sedikit rambutnya yang agak berantakan, dan melangkah masuk. Ia berniat langsung naik ke lantai dua melalui pintu samping, namun suara tawa bariton ayahnya, Baskoro, terdengar begitu renyah dari ruang tamu. Baskoro jarang tertawa seperti itu sejak kesehatannya menurun. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa lelahnya.
Maya melangkah menuju ruang tamu. Bau cerutu mahal dan aroma teh melati langsung menyapa indra penciumannya.
"Ah, ini dia putriku! Baru saja dibicarakan," suara Baskoro menggelegar penuh kebanggaan.
Maya memaksakan senyum sopan. "Selamat malam, Pa. Maaf Maya baru pulang."
Pandangan Maya beralih ke sofa di seberang ayahnya. Di sana duduk seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa—Haryo pradipta, sahabat lama ayahnya yang sering diceritakan sebagai orang yang menyelamatkan bisnis keluarga mereka saat krisis moneter bertahun-tahun silam.
Namun, yang membuat napas Maya seolah terhenti adalah sosok pemuda yang duduk tepat di sebelah Haryo.
Pemuda itu mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia memiliki garis rahang yang tegas, rambut yang tertata rapi namun sedikit berantakan di bagian depan, dan yang paling mencolok—sepasang mata tajam yang kini menatap Maya dengan binar yang sulit diartikan.
Maya membeku. Memorinya terlempar lima tahun ke belakang, ke sebuah lapangan kampus yang terik.
Arka.
Bukan sembarang Arka. Ini adalah Arka Pradipta. Mahasiswa baru yang dulu paling keras kepala, paling sering membangkang, dan paling sering ia hukum saat ia menjabat sebagai Ketua Panitia Ospek. Maya ingat betul bagaimana ia pernah menyuruh pemuda ini berdiri di tengah lapangan hanya karena Arka berani mengomentari warna ikat pinggangnya yang tidak senada dengan sepatu. Ia ingat bagaimana Arka menatapnya dengan cengiran tanpa dosa meski peluh membanjiri wajahnya.
"Maya, kamu masih ingat Nak Arka, kan? Putra tunggal Om Haryo," kata Baskoro, memutus lamunan Maya.
Maya menelan ludah. "I-iya, Pa. Arka... adik tingkat Maya di kampus dulu."
Arka tidak langsung berdiri. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Maya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang seolah sedang menilai. Kemudian, pelan tapi pasti, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lebar yang terlihat sangat... menjengkelkan.
"Halo, Kak Maya," suara Arka terdengar lebih rendah dan berat dari yang Maya ingat. "Masih ingat saya? Atau perlu saya berdiri di tengah lapangan lagi supaya Kakak ingat?"
Maya merasakan wajahnya memanas. Bukan karena malu, tapi karena kesal. Anak ini masih sama. Masih tidak sopan dan penuh provokasi.
"Maya, duduk dulu, Nak. Ada hal sangat penting yang ingin Papa dan Om Haryo sampaikan," ujar Baskoro dengan nada bicara yang tiba-tiba melunak, namun penuh penekanan.
Maya duduk di kursi tunggal, menjaga jarak sejauh mungkin dari Arka. Ia merasakan firasat buruk. Rasa lelah yang tadi ia rasakan mendadak hilang, digantikan oleh kewaspadaan tinggi.
"Papa sudah semakin tua, Maya," Baskoro memulai, tangannya sedikit gemetar saat meraih cangkir teh. "Dan kesehatan Papa tidak lagi seperti dulu. Kamu terlalu sibuk bekerja, terlalu mandiri hingga Papa takut... tidak ada yang menjagamu saat Papa sudah tidak ada."
"Pa, Maya bisa jaga diri sendiri. Kita sudah bahas ini—"
"Dengarkan dulu," Baskoro memotong dengan tegas. "Keluarga kita berhutang nyawa dan kehormatan pada Om Haryo. Dan kami berdua telah sepakat. Kami ingin mempererat ikatan ini menjadi sebuah keluarga."
Dunia Maya seolah runtuh dalam satu detik.
"Maksud Papa apa?"
"Kami telah menjodohkanmu dengan Arka," jawab Baskoro lugas. "Pernikahan ini adalah bentuk balas budi Papa kepada Om Haryo, sekaligus jawaban atas keinginan Papa agar ada pria yang melindungimu. Arka sudah setuju. Dia bahkan yang paling bersemangat saat nama kamu disebut."
Maya tercengang. Ia menoleh ke arah Arka, berharap menemukan tanda-tanda bahwa ini adalah lelucon konyol yang dirancang untuk membalas dendam atas kejadian ospek dulu. Namun, Arka justru menatapnya dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Perjodohan? Di tahun 2026?" Maya tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Pa, ini gila. Arka bahkan... dia masih brondong! Dia masih anak kemarin sore yang bahkan mungkin belum tahu cara mencuci bajunya sendiri!"
"Saya sudah lulus dengan predikat cum laude, Kak," potong Arka dengan nada santai namun menusuk. "Dan saya sudah memegang dua anak perusahaan Papa saya dalam setahun terakhir.
Saya rasa, saya jauh lebih tahu cara mengurus rumah tangga daripada sekadar mencuci baju."
Maya berdiri dari kursinya, tangannya gemetar. "Aku tidak mau. Aku menolak. Pa, ini hidupku!"
"Maya!" Baskoro ikut berdiri, napasnya mulai tersengal. "Hormati keputusan Papa. Ini demi kebaikanmu. Arka adalah pria yang bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?" Maya menunjuk Arka dengan jari gemetar. "Dia ini pengacau di kampus, Pa! Dia tukang bikin onar!"
Arka ikut berdiri. Ia melangkah perlahan mendekati Maya. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari lima tahun lalu membuat Maya terpaksa mendongak. Aroma parfum woody yang maskulin dari tubuh Arka mulai menyerang pertahanan maya.
Arka membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Maya hingga Maya bisa merasakan hembusan napasnya.
"Waktu ospek dulu, Kak Maya bilang saya harus belajar patuh pada otoritas, kan?" bisik Arka, cukup pelan agar hanya Maya yang dengar.
"Sekarang, otoritas itu ada di tangan Papa Kakak. Jadi, bukankah Kakak sendiri yang harus belajar patuh?"
Maya mendorong bahu Arka dengan kasar. "Jangan harap aku akan membiarkan ini terjadi."
"Maya, cukup!" Baskoro memegang dadanya, wajahnya tampak pucat. Haryo segera membantu Baskoro duduk kembali.
Melihat kondisi ayahnya, nyali Maya menciut. Amarahnya seketika berganti dengan rasa bersalah yang menyesakkan. Ia tahu ayahnya menderita penyakit jantung, dan ia tidak mungkin membunuh ayahnya malam ini hanya karena egonya.
Maya menatap ayahnya, lalu menatap Arka yang kini berdiri tegak dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Senyum di wajah pemuda itu tidak hilang, malah semakin lebar. Sebuah senyum kemenangan dari seorang pemuda yang dulu ia remehkan, dan kini menjadi orang yang akan memegang kendali atas hidupnya.
"Senang bertemu kembali, Kak Maya," ucap Arka dengan nada manis yang terdengar sangat sarkastik. "Sepertinya 'perjanjian satu bulan' menuju pernikahan kita akan jadi sangat menarik."
Maya tidak menjawab. Ia menyambar tasnya, berbalik, dan berlari menuju kamarnya di lantai atas. Suara tawa Arka samar-samar masih terdengar dari bawah, mengejek harga dirinya yang baru saja runtuh berkeping-keping.
bersambung......
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡