NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 28 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang

​Percakapan antara Chao Futian, Qin Changin, Qin Xuanyu, dan Qin Zhetang akhirnya berakhir ketika malam telah menunjukkan wajahnya.

Langit malam di atas reruntuhan arena lapangan utama tampak kelam. Chao Futian mengisyaratkan sesuatu kepada Qin Mu sebelum akhirnya pergi.

"Aku... Akan... berkunjung... besok..."

Chao Futian mengatakan sesuatu dengan bahasa isyarat, ia menepuk dada dengan gerakan tangan yang aneh.

Setelah itu, Qin Zhetang menyipitkan mata melihat tingkah laku gurunya. Ia menarik paksa Gurunya itu.

"Guru... Apa yang sedang kau lakukan? Gara-gara kau pergi terlalu lama. Aku harus mengurus banyak hal karenamu. Ayo ikut denganku..." ujar Qin Zhetang, ia tampak melotot dengan lingkaran hitam di matanya tampak jelas bahwa itu tanda kelelahan.

"Baiklah... Tapi lepaskan tanganmu ini."

"Tidak. Aku tahu Guru pasti akan pergi dan menumpahkan hal seperti ini kepadaku lagi."

"Kau kira aku apa? Aku tidak akan melakukan hal itu. Lihat... Aku menyembuhkan patriark ketika baru sampai kemari."

"Hmmm. Ya. Tetap saja kau akan menumpahkan segala hal ini kepadaku."

Qin Zhetang menunjuk kearah dimana anggota keluarga terluka.

"Eh... Tidak! Gurumu ini suka meramu obat untuk mereka. Mana mungkin aku..."

"Guru. Kau tidak usah berbohong padaku. Setelah berpura-pura meracik obat kau pasti tidak akan kembali lagi."

"Benarkah?"

"..."

Akhirnya ​Chao Futian melangkah pergi. Sebagai ahli alkemis dan ahli pengobatan seharusnya mereka segera pergi dimana dikumpulkannya para anggota keluarga yang terluka.

Benar. Seharusnya begitu...

Kalau guru tidak aku paksa, dia tidak akan mau melakukan hal ini... Huft... Dan menumpahkan hal kotor kepada murid dan bawahannya lagi dan lagi.

​Di sisi lain, Qin Mu tidak tahu apa maksud gerakan aneh Chao Futian. Ia mengira Tetua Kehormatan itu menyuruhnya untuk jangan terlalu dipikirkan dalam hati. Ia sendiri tetap berdiri di dekat ayahnya, menolak untuk beranjak pergi meninggalkannya.

Qin Lian juga masih terlihat sangat khawatir, menatap kondisi Paman Feiyan dan memandang Qin Mu dengan berat Hati.

Sementara itu, Qin Chen berdiri sedikit di belakang mereka, menatap sang Patriark dengan mata berkaca-kaca, sangat terharu oleh pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh pria perkasa itu menghancurkan formasi kelabu raksasa demi keluarga ini.

​Melihat perilaku anak-anak muda ini, Tetua Kelima Qin Changin menghela napas berat. Ia seolah melihat dirinya di masa lalu yang juga pernah mengalami masa-masa sulit seperti ini.

Dalam benak Qin Changin, ia merasa bangga, ketiga anak jenius ini... Sudah pasti akan menjadi fondasi besar bagi Keluarga Qin di masa depan.

Qin Changin melangkah maju. Dengan nada tegas namun penuh perhatian, ia menegur mereka bertiga.

​"Kalian bertiga, pergilah beristirahat. Biarkan kami, para orang tua ini, yang mengurus masalah di sini. Kondisi kalian juga sudah mencapai batas setelah semua yang terjadi hari ini," omel Qin Changin.

​Tetua Pertama Qin Xuanyu yang berada di dekatnya pun turut angkat bicara. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Qin Mu agar pemuda itu mengerti posisinya saat ini.

​"Dengar, Mu'er," kata Qin Xuanyu dengan suara yang lembut namun tegas.

"Ayahmu melakukan semua ini, bahkan mempertaruhkan nyawa, pasti karena dia memikirkan masa depan keluarga kita. Sebagai satu-satunya putra Patriark, kau harus bisa membaca situasi. Jangan sia-siakan pengorbanan yang telah ia lakukan demi melindungi kita semua."

"Kau juga Lian'er..."

"Chen'er..."

Guru...

Tetua...

​Mendengar kata-kata itu, Qin Mu menundukkan kepalanya, mengepalkan tangannya erat-erat.

Di dalam benaknya, pesan dari Senior Luo Yan kembali teringat...

"Dengar, Tuan Muda Qin Mu... Di dunia kultivasi ini, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi kuat jika selalu berlindung di balik punggung orang lain. Ini adalah ujian bagi Tuan Qin Feiyan, dan ini adalah ujian bagimu. Jika aku menyelesaikan semua masalahnya, bagaimana kau bisa memahami arti sebenarnya dari tanggung jawab dan penderitaan? Gunakan ini sebagai pelajaran."

Dan nasihat Tetua Qin Xuanyu berputar silih berganti. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh terus-menerus terpuruk dalam kesedihan.

​Qin Changin yang peka dengan apa yang sedang dipikirkan Qin Mu kemudian menepuk pundaknya untuk menenangkannya.

"Tenang saja, Mu'er. Patriark akan dijaga ketat di sini olehku secara bergantian dengan Tetua Xuanyu. Sementara itu, pasukan penjaga akan berjaga dan anggota keluarga yang lain sedang membersihkan tempat ini untuk membangun bangunan kokoh yang akan digunakan sebagai ruang isolasi."

​Setelah dibujuk, Qin Mu akhirnya mengangguk pelan.

"Baik Tetua Chang!"

Bersama dengan Qin Lian dan Qin Chen, ia melangkah meninggalkan area lapangan utama yang porak poranda.

Menjadi kuat?

Tanggung jawab dan Penderitaan ya...

​Malam semakin larut dan perjalanan pulang terasa begitu suram serta sunyi. Angin malam yang dingin berhembus melewati sela-sela pepohonan, seolah ikut berduka atas apa yang terjadi pada Keluarga Qin hari ini.

​Untuk memecah keheningan, Qin Chen membuka percakapan dengan nada pelan namun jujur.

"Heh... Bukankah Tetua Xuanyu terlalu banyak bicara... Kita hanyalah anak kecil dan dia menceramahi kita untuk berpikir selayaknya pria dewasa." ujar Qin Chen, wajahnya masam.

"Saudara Chen, Bibi Xuanyu hanya mengatakan itu padamu. Kalau dia mendengarnya... Kepalamu sudah pasti dipukul olehnya."

"Ya. Guru sudah pasti menepuk bokong mu Kakak Chen."

"Hahaha."

"Hmm... Begitu kah?"

Mereka terus melangkah, Qin Chen memandang punggung Qin Mu yang tampak gagah membawa batangan besi hitam meteor dengan berat hati.

​"Saudara Mu, sejujurnya... aku merasa iri kepadamu," ujar Qin Chen sambil menunduk.

​Qin Mu menoleh, sedikit terkejut dengan pernyataan tersebut.

"Kau? Iri padaku? Apa maksudmu, Saudara Chen?"

​Qin Chen menarik napas panjang, merenungi apa yang baru saja disaksikannya.

"Ayahmu, Paman Feiyan, adalah sosok ayah yang luar biasa. Dia rela berkorban dan melindungi seluruh anggota keluarga tanpa ragu. Sosok hebat seperti itu sungguh luar biasa. Di dunia yang keras ini... Dia melakukan hal yang jarang orang lain berani lakukan. Sosok seperti itulah yang selalu kudambakan seumur hidupku."

​Mendengar hal itu, Qin Mu terdiam sejenak. Pikirannya seketika melayang ke masa lalu. Ia baru sadar bahwa ini mungkin hari pertama ia berinteraksi cukup lama dengan Qin Chen.

Selama lebih dari setengah tahun menjadi sampah keluarga yang terus-menerus dihina karena tidak dapat membuka satu pun meridian utama jalur kultivasi, ia jarang sekali bertukar sapa dengan siapapun dan terakhir kali dengan Qin Chen...

Tidak lebih dari satu kalimat.

Qin Mu ingat, terakhir kali ia bertukar sapa dengan Qin Chen pada saat dirinya mulai dianggap sampah. Ketika ayahnya selalu menyemangati dan berkunjung ke kediamannya di kompleks Paviliun Utama Keluarga Qin.

Mungkin... 10 bulan yang lalu?

Qin Mu tahu pemuda di sampingnya ini adalah putra dari Tetua Ketiga, Qin Tong, yang diketahui berada di pihak faksi pemberontak dan kemungkinan besar...

Ayahnya telah tewas ketika Senior Luo Yan menghabisi para tetua yang berkhianat.

​Qin Mu mencoba menghiburnya dengan suara yang datar.

"Bukankah semua ayah itu sama, Saudara Chen?"

​Qin Chen menatap Qin Mu, lalu tersenyum getir dan memotong, "Ayah sama? Tentu saja tidak, Saudara Mu."

​Namun, saat menyadari bahwa suasana malam itu kembali kelam dan suram, Qin Chen segera mengubah ekspresi wajahnya. Ia tidak ingin membuat suasana hati Qin Mu dan Qin Lian semakin berat.

"Ah! Ahaha."

​Qin Chen pun terkekeh kecil dan mengganti topik dengan nada bercanda.

​"Tapi sudahlah! Lagipula, kalau terus-terusan begini... Aku akan pergi saja..."

"Aku tidak ingin mengganggu dua orang di depanku ini."

"Aku tidak mau menjadi nyamuk di antara kalian berdua," goda Qin Chen sambil menunjuk ke arah Qin Mu dan Qin Lian.

​Mendengar lelucon tak terduga itu, suasana suram perlahan terisi kembali.

Meski guratan kesedihan masih tampak jelas di wajah Qin Mu dan Qin Lian, mereka saling menatap satu sama lain, dan akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil mendengar tingkah Qin Chen.

"Haha."

"Apa yang kau katakan Saudara Chen!..."

Langkah mereka pun terasa sedikit lebih ringan saat melangkah pulang di bawah sinar rembulan yang dingin.

1
TGT
CERITANYA LMBAT TAPI BGUS
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!