NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Mengapa Harus Kamu?

​[POV Ghazali]

​Sensasi terbakar di rongga dadaku adalah hal pertama yang menyentakku dari kekosongan absolut. Rasanya seperti ada seseorang yang menuangkan lahar pijar ke dalam kerongkonganku, lalu menyetrum tulang rusukku dengan tegangan tinggi. Aku mencoba menarik napas, namun sebuah selang plastik tebal mengganjal paksa di tenggorokanku.

​Secara refleks, aku mencoba mengangkat tangan kananku untuk mencabut selang penyiksa itu, namun sebuah tarikan logam yang dingin dan keras menghentikan pergerakanku secara brutal.

​Klang.

​Suara rantai besi beradu dengan tiang ranjang rumah sakit. Aku memaksa kedua kelopak mataku terbuka. Cahaya lampu neon putih dari langit-langit ruang Intensive Care Unit (ICU) langsung menusuk retinaku, membuatku mengerang tertahan. Melalui pandangan yang masih buram dan berputar, aku menatap tangan kananku.

​Tangan yang biasa kugunakan untuk mengetuk palu keadilan dan menunjuk para koruptor di ruang sidang itu, kini dibalut perban medis tebal menyerupai kepompong. Dan tepat di pergelangan tanganku, melingkar sebuah borgol polisi dari baja tahan karat yang mengunciku pada besi ranjang.

​Aku bukan lagi seorang Jaksa Penuntut Umum. Statusku telah berubah menjadi tahanan negara.

​"Dia sadar. Irama sinusnya kembali stabil. Panggil dokter jaga, kita akan melakukan ekstubasi (pelepasan selang ventilator) sekarang," suara seorang perawat terdengar dari sisi kiri ranjangku.

​Proses penarikan selang dari tenggorokanku terasa seperti mencabut paksa duri tajam dari saluran pernapasan. Aku terbatuk hebat, memuntahkan sisa cairan ke dalam wadah yang disodorkan perawat. Paru-paruku menyedot udara dengan rakus, meskipun setiap tarikan napas membuat kulit dadaku yang hangus akibat kejutan alat defibrilator terasa perih luar biasa.

​Setelah perawat dan dokter selesai memeriksa tanda-tanda vitalku dan menyuntikkan obat pereda nyeri ke dalam selang infus di lengan kiriku, mereka mundur.

​Ruangan ICU kembali senyap, hanya menyisakan bunyi ritmis dari monitor EKG. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Pintu geser kaca di depanku bergeser terbuka.

​Bukan Keana yang muncul dari balik pintu itu, melainkan mimpi buruk yang selama ini mengendalikan hidupku.

​Maia Anindita melangkah masuk dengan setelan blazer putih yang memancarkan keangkuhan absolut. Ia berjalan melewati dua petugas polisi bersenjata di luar sana seolah-olah merekalah yang bekerja untuknya, bukan untuk negara. Aroma parfum mawar hibridanya yang manis dan memualkan langsung menjajah sirkulasi udara di ruang isolasi ini, menyingkirkan bau antiseptik yang selama beberapa jam terakhir membuatku merasa dekat dengan Keana.

​"Selamat pagi, Tuan Jaksa. Atau haruskah aku memanggilmu... Tersangka Mahendra?" Maia berdiri di samping ranjangku. Ia melipat kedua lengannya di dada, menatapku dengan senyuman iblis yang sangat kukenal. "Dua kali henti jantung (Code Blue) dalam satu malam. Asam Hidrofluorik itu benar-benar bekerja dengan sangat efisien pada tubuhmu. Kau sungguh beruntung malaikat maut menolak menerimamu."

​Aku menelan ludah, membasahi kerongkonganku yang sekering gurun pasir. Aku menatap lurus ke dalam mata wanita itu dengan sisa-sisa otoritas yang kumiliki. "Di mana... di mana istriku?"

​Suaraku terdengar serak, parau, dan hancur.

​Mendengar pertanyaanku, senyum di bibir Maia semakin melebar. "Istrimu? Maksudmu wanita yang sedang diburu oleh seluruh unit Bareskrim Polri saat ini? Oh, dia sedang dalam pelarian, Ghazali. Setelah dia membuat keributan di lobi rumah sakit dan menyebarkan hoaks tentangku di media massa, dia kabur seperti tikus got. Dan sebagai tambahan..." Maia mencondongkan tubuhnya ke arahku, "...tim kami baru saja menghancurkan laboratorium forensik kesayangannya, beserta sisa serpihan tulang kakekmu itu."

​Jantungku, yang baru saja dihidupkan kembali, terasa seolah diremas hancur. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakit fisik di tangan kananku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa tidak berdaya ini. Aku telah membakar diriku sendiri di ruang bawah tanah itu agar Keana bisa keluar membawa bukti itu. Namun sistem korup ibuku ternyata bergerak jauh lebih cepat dari prediksiku.

​"Kau bajingan, Maia," desisku tajam. Aku menarik rantai borgolku dengan kasar, menimbulkan suara gemerincing logam yang beradu. "Kau memanipulasi bukti dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah demi keserakahanmu."

​"Keserakahan?" Maia tertawa pelan. Tawa yang menggetarkan udara di ruangan steril itu. "Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Ghazali. Aku mencintaimu. Aku mendampingimu sejak kau hanya seorang jaksa magang yang tidak punya apa-apa. Tapi kakekmu yang kolot itu? Dia menolakku. Dia bilang aku wanita rendahan yang akan merusak garis keturunan Mahendra."

​Maia menatapku dengan kilat dendam yang menyala-nyala. "Kakekmu memaksamu menikah dengan wanita berbau mayat itu. Dia membuangku! Jadi, saat Nyonya Ratna menawarkan sebuah kerja sama untuk 'mempercepat' kepergian pria tua itu, tentu saja aku menerimanya dengan senang hati."

​Kata-kata Maia membawaku kembali pada pusaran ingatan yang selama ini menyiksaku dalam diam. Ingatan tentang dua tahun yang lalu.

​Selama ini, Keana selalu percaya bahwa aku masih mencintai Maia. Di setiap meja makan, di setiap pertengkaran malam kami, dan di setiap jarak satu meter yang kuciptakan, istriku selalu menatapku dengan sorot mata terluka, mengira bahwa ia hanyalah alamat yang salah bagi cintaku.

​Namun kebenarannya jauh lebih gelap dari sekadar cinta masa lalu yang belum usai.

​Maia tidak tahu, bahwa sejak malam pertama aku memergokinya keluar dari kamar Kakek dengan secangkir teh yang telah ditaburi Digitalis, seluruh rasa cintaku padanya telah mati dan membusuk menjadi rasa jijik yang tak tertahankan.

​Lalu, mengapa aku harus menyeret Keana ke dalam neraka ini? Mengapa harus dia?

​Aku menatap langit-langit ICU yang putih bersih, pikiranku melayang pada hari di mana Kakek memanggilku ke ruang kerjanya, satu bulan sebelum kematiannya. Kakek tahu ia sedang diracuni. Ia tahu ibuku dan Maia sedang merancang kudeta internal. Namun pria tua itu menolak untuk melapor ke polisi karena tidak ingin menghancurkan nama Mahendra di depan publik.

​"Aku akan menikahkanmu dengan seorang dokter spesialis forensik, Ghazali," ucap Kakek hari itu dengan napas yang mulai tersengal akibat gagal jantung. "Keana Elvaretta. Dia gadis yang cerdas, dingin, dan tidak bisa dibeli. Menikahlah dengannya. Jadikan dia perisaimu. Karena saat aku mati nanti, hanya analisis tangannya yang sah di mata hukum untuk membongkar kebusukan ibumu."

​Sejak hari itu, takdir Keana telah disegel oleh keegoisan keluargaku.

​Saat aku pertama kali melihat Keana berdiri di altar, dengan gaun putih gading dan wajah pualamnya yang tenang tanpa ekspresi, dadaku berdesir hebat. Aroma sabun antiseptik dan sisa-sisa molekul formalin yang menguar dari kulitnya tidak membuatku mual seperti yang selama ini kuteriakkan padanya. Justru sebaliknya. Aroma itu adalah wangi kebenaran. Bau yang mengingatkanku bahwa masih ada manusia murni di dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia plastik ini.

​Aku jatuh cinta pada istriku sendiri sejak detik pertama kami mengucap janji suci.

​Namun aku juga tahu, jika Nyonya Ratna dan Maia melihat bahwa aku menaruh hati pada Keana, mereka akan menghancurkan wanita itu. Mereka akan menjadikannya kelemahan utamaku. Maka, satu-satunya cara untuk melindungi Keana dari terkaman iblis-iblis di rumahku adalah dengan menjadikan diriku sebagai monster yang membencinya.

​Aku menghinanya. Aku menciptakan jarak. Aku menyebut pekerjaannya menjijikkan. Setiap kali aku melihat raut wajahnya yang terluka karena kata-kataku yang tajam, rasanya aku sedang menelan beling beracun. Aku menghancurkan hatinya setiap hari, hanya agar nyawanya tetap utuh.

​Dan kini, semua pengorbanan berdarah itu tampaknya sia-sia.

​"Kau melamun, Tuan Jaksa?" ejek Maia, mengetuk ujung jarinya yang berkuku merah marun ke atas meja instrumen medis. "Apakah kau sedang memikirkan istrimu yang malang itu? Tahukah kau, sebelum gudang farmasi Koh Bong di Glodok digerebek polisi, informanku mengatakan bahwa istrimu sempat mampir ke sana."

​Mataku seketika melebar. Napasku tertahan. Keana pergi ke Glodok? Sarang mafia obat terlarang itu?

​Maia menyeringai penuh kemenangan. "Ya. Istrimu yang cerdas itu menemukan catatan transaksi di mana kita berdua datang bersama ke sana dua tahun yang lalu untuk membeli Digoxin. Ah, itu adalah hari yang sangat romantis, bukan? Kau membawakanku parfum mawar dari pelabuhan."

​Aku menggertakkan gigiku hingga rahangku terasa mau pecah. "Aku pergi ke sana bersamamu karena kau menipuku! Kau bilang kau punya informan tentang kasus penyelundupan obat yang sedang kutangani! Kau memanfaatkanku sebagai pelindung (beking) agar Koh Bong mau menjual racun itu padamu tanpa banyak tanya!"

​"Dan itu adalah strategi yang sangat brilian, bukan?" Maia mencondongkan tubuhnya ke arahku, berbisik layaknya ular berbisa. "Di mata Koh Bong, dan sekarang di mata istrimu... kau adalah kaki tanganku. Istrimu sekarang percaya bahwa pria yang rela membakar tangannya di ruang bawah tanah itu, sebenarnya adalah pria yang ikut membeli racun untuk membunuh kakeknya sendiri."

​Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadaku. Air mata panas menggenang di pelupuk mataku. Keana... istriku yang malang... dia pasti sangat hancur mengetahui hal itu. Dia pasti mengira bahwa aku benar-benar mencintai Maia di masa lalu. Kecemburuan dan pengkhianatan itu pasti telah merobek sisa-sisa hatinya.

​"Kau benar-benar iblis, Maia."

​"Terima kasih atas pujiannya," Maia tersenyum anggun, merapikan kerah blazer putihnya. Ia lalu mengambil ponsel dari sakunya dan menatap layar yang menyala. "Sebentar lagi, jam delapan pagi. Istrimu akan segera ditangkap oleh pasukan Bareskrim. Dia tidak punya bukti, dia tidak punya pengacara yang bisa menyelamatkannya, dan dia kehilangan kepercayaannya padamu. Permainan ini sudah selesai (Checkmate), Ghazali."

​Aku membuang muka, menatap ke arah luar jendela ICU yang memperlihatkan langit Jakarta yang mulai kelabu. Jika aku bisa menukar sisa hidupku untuk memastikan Keana selamat, aku akan melakukannya detik ini juga.

​Namun di dunia yang dikendalikan oleh narasi ini, kebenaran seolah hanyalah dongeng pengantar tidur yang tak ada artinya.

​Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu kaca mengalihkan perhatian kami berdua.

​Seorang petugas kepolisian—bukan petugas Bareskrim yang berjaga di depan, melainkan Komisaris Herman—masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet iPad dengan layar yang menyala.

​"Maaf mengganggu momen kemenangan Anda, Pengacara Maia," ucap Herman dengan nada sarkastis yang sangat kental. Wajah perwira veteran itu dipenuhi oleh kilat euforia yang tidak bisa disembunyikan.

​"Komisaris Herman," Maia menegakkan tubuhnya, kembali memasang wajah arogan. "Beraninya Anda masuk tanpa izin. Bukankah Anda seharusnya sedang memimpin tim untuk memburu tersangka Keana Elvaretta?"

​"Saya memang sedang mencarinya," Herman melangkah maju, meletakkan tablet tersebut tepat di atas pangkuanku, memastikanku bisa melihat layarnya dengan jelas. "Tapi sepertinya... seluruh Indonesia telah menemukannya lebih dulu."

​Aku mengerutkan dahi, menatap layar tablet yang sedang memutar siaran langsung dari sebuah stasiun televisi berita nasional terkemuka.

​Layar itu tidak menampilkan ruang interogasi polisi atau konferensi pers resmi. Layar itu menampilkan drone shot (kamera udara) dari Bundaran Hotel Indonesia, jantung kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Kemacetan total melumpuhkan seluruh ruas jalan raya. Ribuan orang berhenti, keluar dari kendaraan mereka, dan menatap ke atas.

​Kamera televisi itu lalu melakukan zoom-in ke arah tiga papan reklame digital raksasa (videotron atau billboard) berukuran puluhan meter yang mengelilingi Bundaran HI.

​Dan di ketiga layar raksasa itu, tidak ada iklan parfum, mobil, atau asuransi.

​Yang terpampang di sana, dalam resolusi tinggi yang bisa disaksikan oleh jutaan pasang mata, adalah sebuah salinan dokumen kromatogram hasil spektrometri massa. Di bawah dokumen itu, terdapat rekaman video cctv resolusi rendah dari dalam gudang farmasi Koh Bong di Glodok yang menampilkan wajah Maia Anindita sedang menyerahkan segepok uang tunai untuk membeli jeriken bahan kimia.

​Dan di bawah kedua bukti visual itu, sebuah tulisan kapital berwarna merah menyala berkedip-kedip:

​"SANG PEMBUNUH BERLINDUNG DI BALIK JUBAH HUKUM. MAIA ANINDITA DAN RATNA MAHENDRA ADALAH DALANG PEMBUNUHAN BERENCANA. JAKSA GHAZALI MAHENDRA DIJEBAK."

​Napas Maia tercekat. Wajah cantiknya seketika berubah sepucat mayat. Matanya terbelalak horor menatap layar tablet tersebut. Ia melangkah mundur hingga menabrak meja instrumen medis. "A-apa ini?! Bagaimana bisa dia... meretas billboard nasional?!"

​"Oh, dia tidak meretasnya, Nona Pengacara," Herman menyeringai puas. "Dia menggunakan seluruh tabungan pribadinya dan tabungan dari asistennya untuk menyewa ruang iklan itu secara legal selama satu jam penuh. Dia mengurus izinnya melalui pengacara Leo Sastra tadi malam secara kilat."

​Kamera televisi di siaran langsung itu kini turun, menyorot ke arah pelataran air mancur Bundaran HI.

​Di sana, di tengah kepungan puluhan mobil patroli polisi dengan sirene yang melolong, dan dikelilingi oleh ratusan kamera wartawan dari seluruh stasiun berita nasional... istriku berdiri.

​Keana Elvaretta.

​Ia tidak terlihat seperti seorang buronan yang ketakutan. Ia berdiri tegak dengan postur seorang panglima perang yang baru saja memenangkan pertempuran paling berdarah. Ia mengenakan kemeja flanel hitam—jaket yang kutitipkan pada Herman untuknya—dan rambut hitam kelamnya berkibar tertiup angin pagi Jakarta.

​Ia tidak menangis. Wajah pualamnya memancarkan ketenangan klinis yang mematikan.

​"Saya, Dokter Keana Elvaretta, menyerahkan diri secara sukarela kepada pihak kepolisian," suara Keana bergema melalui pengeras suara yang entah bagaimana telah disiapkan oleh tim Leo Sastra di lokasi. Suaranya mengudara di televisi, menembus dinding ruang ICU ini, dan menyentuh dasar jiwaku.

​"Namun saya tidak menyerahkan diri sebagai seorang pencuri atau pembohong," lanjut Keana di layar televisi, matanya menatap tajam langsung ke arah kamera utama, sebuah tatapan yang kutahu persis ditujukan untuk ibuku dan wanita iblis di sebelahku ini. "Saya menyerahkan diri sebagai saksi utama—dan sebagai pelapor—atas tindak pidana korupsi, pencucian uang, pembunuhan berencana, dan manipulasi alat bukti yang dilakukan oleh Nyonya Ratna Mahendra dan pengacaranya, Maia Anindita!"

​Keana mengangkat tangan kanannya ke udara. Di genggamannya, ia memegang sebuah hard drive hitam. Catatan crypto-ledger dari pasar gelap Glodok.

​"Bukti otentik transaksi racun dan rekaman pengakuan penyalur pasar gelap ada di tangan saya. Dan karena kepolisian dan kejaksaan di negara ini terlalu takut untuk menyentuh keluarga Mahendra, maka saya menyerahkan seluruh bukti ini langsung kepada Pengadilan Publik Republik Indonesia!"

​Suara gemuruh massa di sekitar Bundaran HI meledak. Wartawan saling berteriak, kamera berjejalan untuk mendapatkan gambar terbaik. Narasi yang dibangun Maia selama berminggu-minggu dengan puluhan miliar rupiah, dihancurkan dalam waktu kurang dari lima menit oleh seorang dokter forensik yang bermodalkan kecerdasan dan keberanian absolut.

​Di dalam ruang ICU, ponsel Maia berdering dengan nada histeris. Ia menatap layar ponselnya—panggilan dari Nyonya Ratna. Tangan Maia gemetar begitu hebat hingga ponselnya nyaris terjatuh.

​"K-kalian tidak akan lolos dengan ini..." Maia mendesis, suaranya kehilangan seluruh keanggunannya. "Ini pencemaran nama baik! Bukti itu... bukti itu ilegal!"

​"Buktikan saja di pengadilan terbuka yang akan disiarkan ke seluruh negeri mulai besok, Pengacara," Herman menyahut dengan nada dingin. "Bareskrim baru saja menerima instruksi langsung dari Kapolri. Kasus ini diambil alih oleh tim independen. Status tersangka suaminya akan ditangguhkan."

​Maia tidak menjawab. Ia berbalik dan berlari keluar dari ruang ICU dengan panik, mengabaikan tatapan sinis dari para perawat dan dokter di luar sana. Imperium kebohongannya sedang runtuh menimpanya.

​Aku kembali menatap layar tablet di pangkuanku.

​Kamera menyorot Keana dari dekat saat seorang perwira polisi dengan sopan memintanya untuk mengulurkan tangan. Saat Keana mengulurkan pergelangan tangannya untuk diborgol, sorot matanya yang sendu namun tajam kembali menatap kamera. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kebanggaan.

​Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh membasahi pipiku. Dadaku yang terbakar akibat kejutan listrik kini digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa.

​Mengapa harus kamu?

​Pertanyaan yang selama bertahun-tahun menghantuiku, akhirnya terjawab dengan sempurna pagi ini.

​Karena hanya Keana Elvaretta yang mampu melihat melampaui baju tahananku. Hanya istriku yang memiliki nyali untuk membedah sistem yang busuk ini dari luar, dan menggunakan pisau bedahnya bukan untuk memisahkan daging dari tulang, melainkan untuk memisahkan kebenaran dari kebohongan.

​Dia bukan lagi sekadar istri buangan yang mencium bau kematian di ranjang pengantin kami. Dia adalah sang ratu sesungguhnya, wanita yang baru saja membalikkan papan catur dan menjatuhkan rajanya demi melindungiku.

​"Tunggu aku, Istriku," bisikku pada layar tablet yang menampilkan wajahnya saat ia dimasukkan ke dalam mobil polisi. Aku mengepalkan tangan kiriku dengan tekad baja. "Aku akan keluar dari ruangan ini, dan aku sendiri yang akan menuntut mati ibuku dan wanita itu di ruang sidang untukmu."

​Ranjang kami mungkin bermula dari luka, namun mulai hari ini, dari atas aspal Sudirman hingga ke ruang sidang, kami akan menyembuhkan luka itu dengan menghancurkan mereka yang menciptakannya.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!