Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Gelap Leon yang Ternyata... Sepi
Mansion Vancort di malam hari biasanya tampak seperti monumen kekuasaan yang tak tergoyahkan. Dinding marmer yang dingin, penjaga yang berdiri kaku di setiap sudut, dan kesunyian yang hanya dipecahkan oleh denting jam kuno di aula utama. Bagi dunia luar, tempat ini adalah sarang sang Iblis. Namun bagi Ailen Gavril, setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan di sini, ia mulai menyadari bahwa kegelapan yang menyelimuti Leon Vancort bukanlah kegelapan yang penuh amarah—melainkan kegelapan yang sangat sunyi.
Malam itu, setelah keriuhan karaoke di penjara bawah tanah mereda, Ailen tidak bisa memejamkan mata. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah berjinjit, berniat menyelinap ke dapur untuk mencari sisa martabak atau sekadar menyeduh mie instan. Namun, saat melewati lorong menuju ruang kerja pribadi Leon, ia melihat seberkas cahaya tipis keluar dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Ailen mengintip. Di sana, di balik meja kayu mahoni yang luas, Leon tidak sedang memeriksa dokumen penyelundupan atau merencanakan invasi wilayah. Pria itu hanya duduk diam, menatap sebuah bingkai foto tua yang warnanya sudah mulai memudar. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber dibiarkan tak tersentuh hingga esnya mencair sepenuhnya.
"Mas Leon?" bisik Ailen pelan sambil mendorong pintu.
Leon tidak terkejut. Ia tidak langsung menyembunyikan foto itu atau memasang wajah sangar. Ia hanya menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat lelah. "Belum tidur, Ailen?"
"Lagi ronda, Mas. Perut saya manggil-manggil minta diisi," jawab Ailen sambil mendekat. Ia memberanikan diri duduk di atas meja kerja Leon, posisi yang biasanya akan membuat siapapun dieksekusi di tempat. "Mas sendiri ngapain? Lagi nungguin hantu lewat ya?"
Leon tersenyum kecut. Ia meletakkan bingkai foto itu di atas meja. Di dalamnya, terlihat seorang anak laki-laki kecil berpakaian sangat rapi, berdiri di samping seorang pria dewasa yang wajahnya sangat kaku dan tanpa senyum. Itu adalah Leon kecil dan ayahnya.
"Aku sedang berpikir, Ailen," ucap Leon pelan. "Rumah ini... sangat luas. Tapi terkadang, aku merasa tidak ada ruang bagiku untuk sekadar bernapas."
Ailen memperhatikan sekeliling ruangan itu. Banyak rak buku yang menjulang tinggi, penuh dengan literatur klasik dan sejarah perang. Namun, tidak ada satu pun benda yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang hangat. Tidak ada tanaman, tidak ada pajangan yang lucu, bahkan tidak ada debu. Semuanya terlalu sempurna, dan kesempurnaan itu terasa mencekam.
"Mas Leon tahu nggak? Kamar saya di panti dulu sempit banget," Ailen mulai bercerita. "Satu kamar isinya berenam. Kasurnya busa yang udah tipis banget sampai kalau tidur tulang punggung kerasa kena lantai. Berisik, ada yang ngigo, ada yang nangis, ada yang rebutan bantal. Tapi... saya nggak pernah ngerasa sepi kayak Mas sekarang."
Leon menatap Ailen dengan intens. "Sepi? Aku punya ribuan anak buah yang siap mati untukku. Aku punya pengaruh yang bisa mengguncang ekonomi kota ini."
"Itu namanya Mas punya asisten, bukan punya temen," sahut Ailen telak. "Mas Leon itu kayak... HP mahal yang fiturnya canggih banget tapi nggak ada pulsanya. Bagus diliat, tapi nggak bisa dipake buat nelepon siapa-siapa kalau lagi kangen."
Leon terdiam. Kata-kata Ailen yang biasanya konyol kali ini terasa seperti belati yang menghujam tepat di pusat kesunyiannya. Ia mengakui dalam hati, bahwa selama bertahun-tahun, ia telah membangun tembok yang begitu tinggi hingga ia sendiri lupa caranya untuk keluar.
Ailen kemudian turun dari meja dan mulai menjelajahi lemari-lemari di pojok ruangan. Leon membiarkannya, seolah memberi ijin pada anomali ini untuk membongkar sisi rahasianya. Di sebuah laci yang paling bawah, Ailen menemukan sebuah kotak kayu kecil yang dikunci dengan gembok kuno.
"Ini apa, Mas? Harta karun ya?"
Leon sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia mengeluarkan kunci kecil dari dompetnya. "Itu benda-benda yang dilarang ayahku untuk disimpan. Dia bilang, seorang Vancort tidak boleh memiliki keterikatan pada benda-benda yang tidak berguna."
Saat kotak itu dibuka, Ailen tidak menemukan berlian atau microchip rahasia. Isinya adalah: sebuah kelereng kristal yang sudah retak, sebuah kartu ucapan ulang tahun yang ditulis dengan tangan gemetar, dan sebuah robot mainan dari plastik yang kakinya sudah hilang satu.
"Ini... punya Mas?" tanya Ailen lirih.
"Kelereng itu hadiah dari pelayan yang dulu mengasuhku sebelum dia dipecat karena dianggap terlalu memanjakanku. Kartu itu dari ibuku, sehari sebelum dia... pergi. Dan robot itu, aku menemukannya di tempat sampah saat aku berusia tujuh tahun. Itu mainan pertamaku yang bukan merupakan alat latihan menembak."
Ailen merasakan dadanya sesak. Ia membayangkan Leon kecil, seorang pangeran di istana emas yang dingin, yang harus menyembunyikan mainan bekas di dalam laci gelap hanya untuk mempertahankan sedikit sisa kemanusiaannya.
"Mas Leon... Mas itu bukan Iblis," ucap Ailen sambil memeluk kotak kecil itu. "Mas itu cuma anak kecil yang disuruh jadi dewasa terlalu cepet."
Ailen tidak membiarkan suasana melankolis itu bertahan lama. Ia tiba-tiba berdiri tegak dengan mata yang kembali berbinar-binar.
"Oke! Fix! Malam ini kita harus operasi penyelamatan!"
Leon mengernyit. "Operasi apa lagi, Ailen? Ini sudah jam satu pagi."
"Operasi Pengusiran Hantu Kesepian! Mas Leon, ikut saya!"
Ailen menarik tangan Leon, membawa pria itu keluar dari ruang kerja yang pengap. Mereka berjalan menuju dapur utama. Di sana, Ailen mulai mengeluarkan segala jenis bahan makanan dari dalam kulkas.
"Mas Leon pernah makan mie instan yang dimasak pake telor, sosis, kornet, terus makannya langsung dari pancinya?" tanya Ailen sambil sibuk menyalakan kompor.
"Tidak pernah. Koki di sini selalu menyajikannya di atas piring porselen dengan hiasan peterseli," jawab Leon jujur.
"Nah! Itu masalahnya! Masakan enak itu bukan soal piringnya, tapi soal sensasi 'rebutan'-nya! Malam ini, kita masak mie instan ilegal. Nggak boleh ada pelayan yang bantu, nggak boleh ada protokol kesehatan, dan kita makannya di lantai dapur!"
Leon awalnya merasa ini adalah ide yang sangat konyol. Namun, saat melihat Ailen dengan lincah memecahkan telur dan bersenandung kecil, rasa penasarannya kembali muncul. Ia melepas jas mahalnya, menyampirkannya di kursi dapur, dan mulai membantu mengiris sosis dengan pisau dapur yang biasa digunakan koki eksekutif.
Sepuluh menit kemudian, mereka berdua duduk bersila di lantai dapur yang bersih namun dingin. Di depan mereka, sebuah panci besar berisi mie instan yang mengepulkan aroma gurih memenuhi ruangan.
"Ayo Mas, sikat! Kalau telat, sosisnya saya abisin!" tantang Ailen sambil menyendok mie dengan garpu plastik.
Leon mencoba suapan pertama. Rasanya sangat kuat—pedas, asin, dan penuh dengan MSG. Jauh dari standar nutrisi yang biasa ia konsumsi. Tapi entah kenapa, mie ini terasa lebih enak daripada steak wagyu seharga jutaan rupiah yang ia makan tadi siang.
"Kenapa kau melakukan ini, Ailen?" tanya Leon di sela-sela makannya.
"Karena saya pengen Mas Leon ngerasa kalau Mas itu punya 'rumah', bukan cuma punya 'mansion'. Rumah itu tempat dimana Mas bisa duduk di lantai, pake kaos oblong, makan mie instan, dan nggak usah mikir kalau besok ada yang mau nembak Mas," jawab Ailen sambil mengunyah kerupuk kaleng yang ia temukan di lemari pelayan.
Leon menatap Ailen. Di bawah lampu dapur yang terang, ia melihat gadis itu bukan lagi sebagai beban atau anomali. Ia melihat Ailen sebagai satu-satunya orang yang berani masuk ke dalam kegelapannya tanpa membawa senjata, melainkan hanya membawa semangkuk mie instan dan senyuman yang tulus.
"Selama ini, aku pikir hidupku sudah lengkap karena aku punya segalanya," bisik Leon. "Tapi ternyata, aku tidak punya siapa-siapa untuk berbagi hal-hal sekecil ini."
"Sekarang Mas punya saya," sahut Ailen santai. "Walaupun saya berisik, hobi nyulik martabak, dan koleksi sandal jepit saya banyak yang bolong, tapi saya janji nggak bakal biarin Mas Leon duduk sendirian lagi di ruang kerja itu. Kalau Mas mulai sepi, panggil saya. Saya bakal dateng bawa speaker karaoke atau minimal bawa gosip terbaru tentang Mas Marco yang lagi naksir pelayan baru."
Leon tertawa pelan. Sebuah tawa yang kali ini benar-benar mencapai matanya. Ia menyadari bahwa sisi gelapnya yang selama ini ia banggakan sebagai simbol kekuatan, sebenarnya hanyalah sebuah ruang hampa yang haus akan kasih sayang.
Setelah panci itu bersih mengkilap, mereka tetap duduk di lantai dapur, bersandar pada kabinet kulkas.
"Ailen," panggil Leon.
"Ya, Mas?"
"Besok... bisakah kita pergi ke panti asuhanmu? Aku ingin melihat tempat yang membuatmu menjadi begitu... luar biasa."
Ailen terperanjat. "Mas Leon serius? Mau ke panti? Tapi di sana nggak ada karpet merah lho, adanya karpet plastik yang udah robek-robek."
"Aku tidak butuh karpet merah. Aku hanya ingin tahu, bagaimana sebuah tempat yang 'sempit dan berisik' bisa menghasilkan seseorang yang bisa mengisi kekosongan di mansion yang luas ini."
Ailen tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Leon. "Boleh, Mas. Tapi Mas harus janji, jangan pake baju mafia yang nakutin ya. Pake kaos biasa aja, biar anak-anak di sana nggak nyangka Mas itu penagih hutang."
"Akan kucoba mencari sesuatu yang bukan berwarna hitam di lemari pakaianku," janji Leon.
Malam itu, Mansion Vancort tidak lagi terasa seperti monumen yang dingin. Meskipun di luar sana musuh-musuh masih mengintai dan dunia bawah tanah tetap berputar dengan penuh darah, di dalam dapur itu, sang Iblis telah menemukan kedamaiannya. Sisi gelapnya yang sepi perlahan-lahan mulai diterangi oleh cahaya sederhana dari seorang gadis yang mengajarkannya bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di tahta kekuasaan, melainkan di lantai dapur dengan sepanci mie instan.
"Mas Leon?"
"Hmm?"
"Mie instan tadi... itu sebenernya udah kadaluarsa dua hari yang lalu."
Leon tersentak, menatap Ailen dengan mata terbelalak. "Apa?!"
Ailen tertawa terbahak-bahak sampai terguling di lantai. "Bercanda, Mas! Hahaha! Muka Mas Leon lucu banget kalau lagi panik!"
Leon hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba menahan senyumnya. "Kau benar-benar bencana, Ailen Gavril. Benar-benar bencana."
Dan di tengah tawa Ailen yang menggema di seluruh mansion, Leon Vancort menyadari bahwa sepi itu telah benar-benar pergi.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍