Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran di Tengah Sambaran Petir
...Taukah Kamu, Apa yang menjadi sumber kebahagiaan orangtua?...
...Jawabannya adalah kita, yang dilahirkan dari rahim sang ibu, dan kasih sayang sang ayah....
Bulan September seharusnya membawa kesejukan bagi penduduk Ciampea. Namun, bagi Ahmad Syihabudin, tanggal sembilan belas di bulan ke sembilan ini terasa seperti puncak dari segala ujian kesabaran.
Sejak subuh, suasana batinnya sudah tidak enak. Perasaannya tidak karuan, persis seperti rasa gelisah saat ia dikejar penagih utang, padahal ia sedang tidak punya tunggakan.
Rismawati, istrinya yang mungil itu, sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Alih-alih merintih pelan seperti ibu hamil pada umumnya, Risma justru terlihat lemas tak berdaya.
Tubuhnya seperti sedang dihantam badai dari dalam. Si jabang bayi di dalam kandungannya seolah sedang melakukan latihan maraton atau simulasi jungkir balik tanpa henti.
"Aduh, Kang... ini si kasep di dalam lagi latihan apa, sih? Meuni jiga yang lagi tawuran di dalam perut," rintih Risma sejak pagi tadi.
Sore harinya, Ahmad pulang dari pasar dengan membawa sisa dagangan yang tidak seberapa. Begitu membuka pintu depan, jantungnya hampir copot ke lantai. Ia melihat Risma sedang terlentang di atas ubin ruang tamu yang dingin. Posisinya diam tak bergerak, tangannya merentang luas seperti orang yang baru saja gugur di medan perang.
"Risma! Innalillahi! Neng, bangun Neng!" Ahmad menjatuhkan kantong belanjaannya. Ia berlari, sarungnya tersangkut kaki meja hingga ia hampir terjungkal.
Ia segera memangku kepala istrinya. "Risma, jangan tinggalkan Akang! Siapa yang nanti nyuruh Akang beli novel silat tiap hari kalau kamu nggak ada?"
Risma membuka matanya sedikit. Ia tidak pucat, hanya terlihat sangat sangat mual. Ia menghela napas panjang lalu menatap suaminya dengan tatapan layu. "Akang... berisik pisan. Aku nggak apa-apa, cuma mual."
"Lantas kenapa terlentang di lantai begini? Akang kira kamu sudah pingsan!"
"Ubinnya dingin, Kang. Enak. Di dalam perut rasanya panas sekali. Ini si dede dari tadi tidak berhenti berputar. Kayaknya dia lagi nyari pintu keluar tapi lewat jalur atas. Maceuh pisan, Kang," ucap Risma sembari mengarahkan tangan Ahmad ke perutnya.
Begitu telapak tangan Ahmad menyentuh perut buncit itu, ia tersentak. Perut Risma tidak sekadar mengeras, tapi benar-benar bergerak secara visual. Ada tonjolan kecil yang berpindah dari sisi kiri ke kanan dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Seolah-olah ada bola tenis yang sedang dipantul-pantulkan di dalam sana.
"Astagfirullah, ini bayi atau gasing?" Ahmad bergidik. "Kita ke bidan sekarang ya, Neng?"
"Jangan dulu, Kang. Belum mulas yang itu. Ini mah mulas pengen muntah saja," jawab Risma pelan.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan hingga azan Magrib berkumandang. Langit Ciampea yang tadinya jingga mendadak berubah menjadi hitam pekat, seolah-olah seseorang baru saja menumpahkan tinta raksasa ke angkasa. Udara yang semula gerah berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.
Tepat saat lampu minyak di ruang tengah dinyalakan, guntur menggelegar dengan suara yang sanggup meruntuhkan nyali. Hujan turun begitu deras, bukan lagi seperti air yang dicurahkan, tapi seperti air terjun yang menghantam atap seng rumah mereka.
"Kang! Sakit! Kali ini beneran!" teriak Risma dari dalam kamar.
Ahmad berlari masuk. Ia melihat istrinya sudah mencengkeram sprei kasur dengan kuat. Keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipis Risma. "Sabar, Neng! Akang panggil Bu Bidan sekarang!"
"Hujannya gede pisan, Kang! Gelap!" Risma merintih.
Ahmad melihat ke luar jendela. Kilat menyambar-nyambar dengan beringas. Suasana di luar sangat mencekam. Angin bertiup kencang hingga pohon nangka di belakang rumah berderit hebat. Ahmad menguatkan hati. Ia mengambil payung besar yang sudah agak bolong dan bersiap lari ke rumah tetangga, Pak RT, untuk meminjam mobil atau setidaknya mencari bantuan.
Baru saja Ahmad memegang gagang pintu depan, sebuah dentuman yang lebih keras dari meriam terdengar. Ctar!
Kilat raksasa menyambar gardu listrik di ujung jalan. Seketika itu juga, seluruh area Ciampea menjadi gelap total. Listrik padam. Satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah kilatan petir yang muncul setiap beberapa detik, memberikan efek lampu strobo yang mengerikan di dalam rumah.
"Neng, tunggu di sini! Akang lari sebentar ke rumah Pak RT!" teriah Ahmad di tengah kebisingan hujan.
Ahmad memaksakan diri keluar. Ia baru melangkah lima atau enam meter dari teras, menembus air yang setinggi mata kaki, ketika tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya terasa mengandung listrik statis. Rambut di tangannya berdiri tegak.
Dar! Dar! Dar!
Tiga sambaran petir beruntun jatuh tepat di atas atap rumahnya sendiri. Cahaya putih kebiruan meledak, membutakan mata Ahmad sejenak. Suara ledakan itu begitu memekakkan telinga hingga Ahmad terlempar ke kubangan air di depannya.
"RISMAAA!" Ahmad berteriak histeris. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di sikunya yang terbentur batu. Ia merangkak bangun dan berlari kembali ke dalam rumah yang kini dipenuhi bau sangit dan asap tipis.
Pikirannya sudah kacau. Ia membayangkan rumahnya terbakar, atau lebih buruk lagi, istrinya terpanggang hidup-hidup. Dengan tangan gemetar, ia menendang pintu kamar yang sudah setengah terbuka.
"Neng! Risma! Kamu nggak apa-apa?" Ahmad berteriak sembari menyalakan korek api dengan tangan yang gemetar hebat.
Cahaya kecil dari korek itu menerangi ruangan. Ahmad terpaku. Ia hampir saja pingsan melihat pemandangan di depannya.
Rismawati masih berada di atas tempat tidur. Namun, penampilannya jauh dari kata normal. Daster batiknya terlihat menghitam di beberapa bagian, seolah terkena percikan api. Rambutnya yang biasanya rapi kini berdiri tegak ke segala arah, mekar dan awut-awutan persis seperti orang yang baru saja memegang kabel tegangan tinggi. Kulit wajahnya tampak agak gosong keputihan, tertutup debu halus yang aneh.
Namun, yang membuat Ahmad merinding adalah ekspresi wajahnya. Risma tidak menangis. Ia justru duduk bersandar di bantal dengan senyum lebar yang terlihat sangat mengerikan di tengah wajahnya yang cemong.
"Akang... lihat. Si kasep sudah lahir," bisik Risma dengan suara yang terdengar sedikit parau, tapi tenang.
Ahmad menurunkan pandangannya. Di samping Risma, di atas kain jarik yang juga tampak hangus di bagian pinggirnya, tergeletak seorang bayi laki-laki yang mungil. Bayi itu tidak menangis kencang seperti bayi normal. Ia hanya mengeluarkan suara gumaman kecil.
Keajaiban—atau kengerian—belum berakhir. Tubuh bayi itu tampak bercahaya redup dalam kegelapan. Ahmad bisa melihat guratan-guratan biru tipis seperti pembuluh darah yang dialiri listrik mengalir di bawah kulit bayi tersebut. Setiap kali petir menyambar di luar, tubuh si bayi seolah menyerap cahayanya dan berpendar lebih terang.
"Astagfirullah... ini bayi apa anak petir?" Ahmad mendekat dengan ragu.
Rasa kasih sayang ayahnya mengalahkan rasa takutnya. Melihat anaknya yang mungil dan tampak tenang, Ahmad mengulurkan tangannya yang besar untuk menyentuh pipi sang bayi. Ia ingin memastikan bahwa anaknya bernapas.
Baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan kulit bayi itu, suara letupan kecil terdengar. Takk!
"Aduh!" Ahmad melompat mundur. Jarinya terasa kebas, seperti habis menyentuh busi motor yang sedang menyala. Sensasi setruman itu menjalar hingga ke bahunya, membuat seluruh lengannya kesemutan hebat.
"Akang kenapa?" tanya Risma, masih dengan senyum anehnya. Ia tampak sama sekali tidak terganggu, bahkan ia mengelus kepala bayinya dengan santai tanpa tersengat sedikit pun.
"Dia... dia nyetrum, Neng! Akang kesetrum!" Ahmad mengibas-ngibaskan tangannya yang kaku.
Risma tertawa kecil, suara tawanya beradu dengan suara guntur yang mulai menjauh. "Mungkin dia cuma mau kenalan sama Bapaknya, Kang. Namanya sudah aku siapkan. Jalaludin Al Bulqini. Bagus, kan?"
Ahmad hanya bisa melongo. Ia menatap istrinya yang rambutnya masih mekar dan bayinya yang tampak seperti baterai berjalan. Di luar, hujan mulai mereda secepat ia datang, meninggalkan keheningan yang janggal di Ciampea yang masih gelap gulita.
Ahmad Syihabudin terduduk di lantai kamar yang lembap. Ia tahu, mulai malam ini, kehidupannya tidak akan pernah lagi berurusan dengan hal-hal yang normal. Ia baru saja menyadari bahwa pertaruhan yang ia takutkan selama sembilan bulan ini baru saja dimulai. Dan taruhannya bukan lagi sekadar uang belanja, melainkan keselamatan dunia yang mungkin akan diguncang oleh bayi yang lahir dari sambaran petir ini.
"Jalaludin..." Ahmad bergumam pelan, menjaga jarak agar tidak kembali tersengat. "Tolong ya, Nak. Nanti kalau sudah besar, jangan setrum bapakmu ini lagi."
Bayi itu hanya mengerjapkan matanya yang masih terpejam, sementara di luar, sisa-sisa listrik statis masih menari-nari di udara malam yang dingin. Jalaludin Al Bulqini telah tiba, membawa serta takdir yang teramat berat di pundak mungilnya.