NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Pertama

Malam harinya, Zea sudah berganti pakaian tidur yang nyaman dan longgar. Ia duduk bersandar empuk di sandaran kepala ranjang, sambil memainkan ponselnya dengan santai. Rasanya begitu tenang dan damai bisa beristirahat, tanpa gangguan tugas kantor atau godaan-godaan manis dari sang Bos yang selalu bikin jantungnya berdegup kencang.

Namun baru beberapa menit ia bersantai...

TRING! TRING! TRING!

Ponsel Zea berdering nyaring berkali-kali, memecah keheningan malam. Layarnya menyala terang benderang di ruangan yang remang.

Zea menoleh cepat, dan seketika matanya membelalak lebar, jantungnya serasa mau loncat keluar dari rongga dada.

Di layar itu tertulis besar-besar, berkedip-kedip dengan ikon hati merah:

SUAMIKU ❤️ Calling......

"YA AMPUN! SERIUSAN DIA NELPON?! GILA DEH! NAMA ITU MASIH TERSIMPAN DAN GAK DIUBAH-UBAH SIH?!" seru Zea kaget setengah mati, langsung menekan dadanya yang berdegup tak karuan.

Tangannya gemetar hebat saat hendak mengangkat telepon. Antara rasa takut malu, bingung, tapi juga ada rasa senang yang luar biasa campur aduk jadi satu.

Akhirnya, dengan napas yang ditahan, Zea menekan tombol hijau dan segera menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"H... Halo? A--ada apa ya, Tuan? Kok nelpon malam-malam begini?" ujar Zea berusaha terdengar tenang, tapi suaranya malah terdengar sedikit melengking karena gugup.

Di seberang sana, terdengar suara tawa renyah, berat, dan terdengar sangat puas milik Bara. Suaranya terdengar jauh lebih santai, rendah, dan lembut dibandingkan saat ia berbicara di kantor tadi.

"Kenapa panggilnya masih 'Tuan' lagi? Kan jelas banget di layar HP kamu tertulis namanya apa. Coba panggil yang benar, sesuai tulisan di situ ya." ujar Bara dengan nada menggoda yang kental, seolah sangat menikmati kegugupan Zea.

DEG!

Zea langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memerah padam sampai ke telinga dan leher.

"Eh... i-iya tapi kan lagi nelpon gini! Malu ah panggil begitu! Tuan ini jahil banget sih! Ada apa sih nelpon-nelpon begini?!" desis Zea, suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk malu.

Bara terkekeh pelan di ujung telepon, suaranya terdengar begitu menenangkan dan bikin rileks.

"Enggak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja. Pengen denger suara kamu aja. Lagian kan tadi saya pulang duluan, jadi saya harus pastiin kamu udah beneran sampai rumah dan aman atau belum." jawab Bara lembut, seolah itu alasan yang paling wajar di dunia.

Zea mendecakkan lidah pelan, tapi senyum bahagia tak bisa ditahan lagi mengembang di bibirnya.

"Ya ampun... Tuan ini emang nggak ada capeknya ngawasin orang ya! Saya kan udah ada di kamar, aman, sehat, dan terkendali lengkap!" seru Zea, berusaha protes tapi nadanya malah terdengar manja.

"Terus... kamu udah makan belum? Jangan bilang belum makan cuma karena males masak ya? Kalau iya, habis ini saya langsung kesana lho." lanjut Bara dengan nada sedikit mengancam tapi bernada penuh perhatian dan kekhawatiran.

Zea terdiam sejenak, menunduk bersalah.

"Be... belum sih..Tapi masih kenyang dikit jadi belum kerasa laper. Nanti aja deh makan mie instan sebungkus, cukup kok." jawab Zea pelan, suaranya makin mengecil.

KRES!

Terdengar suara Bara mendecakkan lidah dengan keras dari seberang telepon, terdengar sangat tidak setuju.

"APA?! MAKAN MIE INSTAN SAJA?! Nggak boleh! Kamu itu harus makan yang bergizi, ada sayurnya, ada lauknya! Gimana caranya badan kamu kuat kerja dan sehat kalau cuma makan mie doang?!" ujar Bara tegas, nadanya sedikit meninggi tapi tetap penuh rasa peduli.

Zea manyun mendengar omelan itu, merasa seperti anak kecil yang dimarahi ayahnya.

"Itu sudah jadi kebiasaan saya tuan! kedua orang tuaku sepertinya sedang pulang kampung jadi biar nggak ribet ajah masak mie instan!" seru Zea membela diri.

Bara menghela napas panjang dan pelan di telepon, lalu suaranya berubah drastis jadi sangat lembut, dalam, dan berat.

"Sayang... dengerin saya baik-baik. Sekarang kamu pakai jaket atau selimut, terus turun ke depan gerbang rumah. Cepetan ya." ujar Bara dengan nada yang tak bisa dibantah tapi tetap lembut.

Zea kaget bukan main, matanya kembali membelalak.

"HAH?! BUAT APA DIPANGGIL TURUN?! MALEM-MALEM GINI DINGIN TAU! Tuan kan tadi bilang ada meeting penting di luar kota?! Kok minta turun sih?!" seru Zea makin bingung tak mengerti.

"Meeting-nya selesai jauh lebih cepat dari rencana. Dan sekarang... saya lagi berdiri tepat di depan gerbang rumah kamu, sambil bawa makanan enak, hangat, dan bergizi. Ayo turun, Sayang... Jangan biarin 'Suami' kamu nungguin kelaparan dan kedinginan sendirian di sini ya." jawab Bara dengan nada santai seolah sedang menceritakan hal biasa.

JLEB!

Zea terpaku diam di tempat. Ponselnya hampir terlepas dari genggaman.

"Gila... Gila banget sih orang ini! Dari kantor sampe rumah, pagi sampai malem, gak ada hentinya godain dan bikin gue kaget terus-terusan!" gumam Zea dalam hati, masih tak percaya tapi hatinya rasanya meledak karena bahagia.

Tanpa pikir panjang lagi, Zea langsung turun dari kasur dan berlari kecil menuju pintu depan. Jantungnya berdegup kencang sekali, campuran rasa kaget, takjub, dan rasa sayang yang luar biasa.

Dengan tangan yang masih gemetar karena terharu dan dingin malam, ia membuka kunci pintu lalu mendorongnya perlahan.

Di bawah cahaya lampu teras yang remang dan redup, berdiri sosok tinggi tegap yang sangat dikenalnya, sosok yang selalu ada di pikirannya. Bara masih mengenakan kemeja kerjanya, dua kancing teratasnya terbuka, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam, terlihat lelah tapi tetap terlihat sangat tampan dan berwibawa.

Di tangannya, tergantung kantong kertas cokelat berisi makanan yang masih mengeluarkan uap hangat, mengepul di udara dingin.

Melihat Zea yang muncul dengan pakaian tidur santai, rambut dikuncir kuda asal-asalan, dan wajah polos tanpa sehelai pun riasan, mata Bara langsung berbinar terang dan hangat, seolah baru saja melihat hal terindah di dunia.

"Nah, gitu dong... Cepet banget nurutnya. Padahal tadi di telepon banyak banget protes dan bacot ya." ujar Bara sambil tersenyum lebar, senyum yang paling manis dan lembut yang pernah Zea lihat.

Zea berdiri mematung di ambang pintu, mulutnya sedikit terbuka karena masih tak percaya kenyataan di depannya.

"Be... Beneran ada di sini?! Kan tadi bilang meeting penting di luar kota?! Kok bisa secepat ini balik lagi kesini sih?! Jauh lho jalannya, capek tau!" seru Zea pelan, suaranya bergetar karena haru.

Bara berjalan mendekat selangkah, menatap lekat-lekat wajah polos dan imut wanita itu yang terlihat makin manis tanpa riasan.

"Meeting-nya beres lebih cepat dari dugaan. Terus pas mau pulang ke rumah saya, tiba-tiba keingat kamu belum makan, dan mana tega saya kalau tau kamu cuma mau makan mie instan doang. Jadi saya belikan makanan enak dulu sebelum pulang ke rumah saya sendiri. Gak tega lho bayangin kamu kelaparan sendirian di kamar." jawab Bara santai, seolah melakukan perjalanan jauh itu hal yang sepele demi dia.

Ia lalu mengangkat kantong makanan yang masih hangat itu ke hadapan wajah Zea.

"Lihat deh... Ini makanan favorit kamu dulu waktu masa SMA kan? Ayam geprek sambal bawang sama es teh manis dingin. Masih suka kan? Belum berubah selera ya?" lanjut Bara sambil menatap mata Zea dalam-dalam.

DEG!

Zea menatap makanan itu, lalu beralih menatap mata Bara. Matanya mulai berkaca-kaca, basah oleh rasa haru yang mendalam. Pria ini... dia ingat semua hal kecil tentang dirinya, bahkan selera makan yang sudah bertahun-tahun lalu!

"Kok... kok Tuan ingat sih? Itu kan udah lama banget... saya aja hampir lupa kalau dulu suka banget sama itu..." gumam Zea pelan, suaranya pecah tertahan emosi.

Bara tersenyum manis dan lembut, lalu ia mengulurkan tangan bebasnya dan mengusap kepala Zea dengan sangat lembut dan sayang.

"Semua hal tentang kamu, besar atau kecil, lama atau baru, saya ingat semuanya. Karena kamu itu paling penting buat saya, Zea. Dulu waktu SMA, sekarang kerja sama saya, dan seterusnya nanti. Selamanya." ujar Bara lembut, nadanya begitu meyakinkan dan tulus.

Zea menunduk malu, pipinya memerah padam menahan rasa bahagia. Ia menerima kantong makanan hangat itu dengan kedua tangan yang masih gemetar.

"Ma... Makasih ya, Tuan. Repot-repot banget sih bolak-balik jauh gini. Padahal kan saya bisa masak sendiri kalau mau." desis Zea pelan, berusaha menutupi rasa terharunya.

Bara menggeleng pelan, ia sama sekali tidak beranjak pergi. Justru ia semakin mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Zea yang bertubuh lebih kecil darinya.

"Udah dibilangin kan... saya ini 'Suamiku' yang ada di kontak HP kamu, jadi wajar dong kalau saya tanggung jawab penuh soal kesehatan dan makanan kamu. Sekarang masuk sana, makan yang habis ya. Jangan dibuang-buang atau disisain sedikit pun." bisik Bara tepat di depan wajah Zea, napasnya terasa hangat menerpa kulit wajah wanita itu.

Zea mengangguk kaku, tak bisa berkutik di bawah tatapan lembut namun penuh dominasi itu.

"Iya... Iya siap, Tuan. Nanti dimakan habis kok." jawab Zea pelan, nyaris berbisik.

Bara tersenyum puas melihat ketaatan itu, lalu mundur selangkah memberi jalan agar Zea bisa masuk kembali ke rumah.

"Ya sudah, saya balik ke rumah dulu ya. Istirahat yang cukup, Sayang. Jangan begadang, jangan main HP terus, nanti sakit mata." ujar Bara sambil berjalan mundur perlahan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

Zea berdiri diam memegang kantong makanan hangat itu, menatap punggung Bara yang perlahan menjauh hendak masuk ke mobil. Tiba-tiba ada rasa berat hati yang luar biasa melepaskan pria itu pergi malam ini, rasanya ingin meminta dia tinggal sedikit lebih lama saja.

"Ya Tuhan... Dia baik banget, perhatian banget, ganteng banget, sabar banget... Gue beneran, beneran jatuh cinta makin dalem banget sama dia nih. Gimana kalau nanti gak bisa hidup tanpa dia ya?" gumam Zea dalam hatinya yang penuh gejolak cinta.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!