NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HASIL YANG TAK BISA DIBANTAH

BAB 20 — HASIL YANG TAK BISA DIBANTAH

Lobi klinik privat itu terasa sangat sunyi, dingin, dan sarat akan kemewahan.

Dindingnya berwarna putih bersih tak bernoda, aroma ruangan yang menenangkan tercium samar, serta alunan musik piano yang dimainkan pelan memenuhi ruangan.

Segala sesuatu di sana terlihat mahal, rapi, dan terkendali.

Persis seperti dunia tempat Arsen hidup selama ini.

Keisha merasa dadanya semakin sesak dan terjepit, seolah tak ada cukup udara untuk bernapas.

Berbeda dengan ibunya, Leo justru tampak sangat antusias. Anak itu berlari kecil ke sana kemari, lalu berhenti tepat di depan akuarium besar yang ada di ruang tunggu.

“Mama! Lihat! Ada ikan biru besar!” serunya sambil menempelkan wajah ke kaca tebal.

“Pelan-pelan ya, Sayang, jangan lari-lari,” tegur Keisha secara otomatis.

Arsen berjalan santai tepat di belakang anak itu, matanya tak lepas mengawasi setiap gerak-geriknya.

“Ada hiu kecil juga di situ,” katanya datar tanpa ekspresi.

Leo menoleh dengan mata berbinar kagum.

“Om tahu nama-nama ikan?”

“Aku tahu banyak hal, Leo.”

Keisha yang mendengar dari belakang mendengus kesal.

“Iya, tahu segalanya... termasuk cara bikin orang lain stres dan pusing tujuh keliling,” gumamnya pelan namun cukup terdengar.

 

Seorang dokter anak perempuan berusia sekitar empat puluhan datang menyambut mereka dengan senyum hangat dan profesional.

“Selamat pagi, Tuan Arsen. Sudah menunggu lama?”

“Pagi. Tidak apa-apa.”

“Ini pasti si kecil Leo ya?”

“Iya.”

Dokter itu langsung berjongkok rendah di hadapan Leo, berusaha mengambil hati anak itu.

“Halo Jagoan. Nama Tante dokter Rina. Nanti Tante cuma mau ambil kapas kecil sedikit aja dari mulut kamu lho. Enggak sakit, cuma gatel-gatel dikit aja.”

Leo tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh dan menatap wajah Arsen terlebih dahulu, seolah mencari persetujuan atau jaminan.

“Beneran enggak sakit, Om?”

Arsen mengangguk tenang dan yakin.

“Kalau nanti ternyata sakit atau kamu nangis... Om belikan kamu dua mainan baru sekaligus. Deal?”

Leo berpikir dengan wajah serius banget, lalu mengangguk mantap.

“Oke! Deal!”

Melihat tingkah lucu itu, semua orang di sana hampir tertawa terbahak-bahak. Anak ini benar-benar pintar menawar.

 

Proses pengambilan sampel darah dan swab mulut berlangsung sangat cepat.

Leo sempat meringis kecil saat jarum menusuk, tapi ia langsung menahan tangis dan mencoba terlihat tangguh. Begitu selesai, ia langsung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

“Aku hebat kan, Om?”

“Lumayan,” jawab Arsen singkat.

“Lumayan itu apa artinya?” tanya Leo bingung.

“Itu artinya... hebat banget,” jawab Arsen sambil mengacak-acak pelan rambut anak itu.

Leo tersenyum lebar dan puas sekali.

Keisha yang menyaksikan interaksi itu dari pinggir ruangan merasakan campuran emosi yang sangat rumit dan sulit dijelaskan.

Mereka baru bertemu secara nyata baru dua hari.

Hanya dua hari.

Namun Leo sudah terlihat begitu nyaman, begitu percaya, dan begitu dekat dengannya.

Dan pemandangan itu... sangat menakutkan bagi Keisha.

 

Setelah Leo diajak oleh suster ke ruang bermain agar tidak bosan, dokter mempersilakan Keisha, Arsen, dan kedua orang tua Keisha masuk ke ruang konsultasi.

Begitu pintu tertutup, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.

Keisha duduk dengan punggung tegak kaku, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.

Arsen bersandar santai di sofa, namun tatapan matanya tajam dan waspada seperti elang.

Ayah dan Ibu Keisha duduk di sisi lain dengan wajah tegang.

Dokter membuka map tebal berisi data awal pemeriksaan.

“Hasil tes DNA yang lengkap dan resmi baru akan keluar secara cetak beberapa jam lagi, tapi untuk prosesnya—”

“Tidak perlu panjang lebar jelaskan prosesnya. Langsung ke intinya saja, Dok,” potong Arsen dingin.

Dokter itu mengangguk mengerti.

“Baik, Tuan.”

Keisha menelan ludah susah payah.

Ia sadar betul... setelah hari ini, hidupnya dan hidup Leo tidak akan pernah sama lagi. Segalanya akan berubah total.

 

Masa menunggu adalah siksaan terbesar.

Dua jam waktu yang berlalu terasa selamanya, seperti dua hari yang penuh ketegangan.

Leo sudah kenyang makan biskuit, sudah puas memainkan mobil remote control, dan kini ia tertidur pulas di sofa ruang tunggu dengan kepala kecilnya yang bertumpu nyaman di paha Arsen.

Tak ada satu pun orang yang berani atau tega membangunkan atau memindahkan posisi anak itu.

Arsen duduk diam mematung, tangannya terangkat sedikit di udara seakan takut menyentuh, namun matanya tak pernah berhenti menatap wajah damai Leo yang sedang tidur.

Keisha memperhatikan pemandangan itu dari kejauhan.

Ia belum pernah melihat pria itu setenang dan selembut ini selama mereka mengenal satu sama lain.

Tak ada ponsel kerja yang berbunyi.

Tak ada wajah datar dan dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia.

Tak ada nada suara yang memerintah atau tinggi hati.

Hanya ada seorang pria yang menatap anak kecil itu seolah-olah ia baru saja menemukan kembali sesuatu yang sangat berharga yang telah hilang darinya selama bertahun-tahun.

 

Melihat Leo yang sudah tidur sangat lelap, Arsen tiba-tiba berbicara pelan tanpa menoleh sedikit pun dari arahnya.

“Kapan dia pertama kali bisa jalan?”

Pertanyaan itu membuat Keisha membeku sesaat.

“...Usia sebelas bulan,” jawabnya lirih.

“Kapan dia pertama kali bisa bicara?”

“Setahun lebih sedikit.”

“Kata pertama yang dia ucapkan apa?”

Keisha menatap punggung kecil anaknya yang terlihat begitu damai.

“Mama,” jawabnya pelan.

Arsen mengangguk perlahan, diam lama.

Ada bayangan tipis rasa sesal dan kehilangan yang begitu nyata tergambar jelas di wajah tegasnya.

“Aku melewatkan semuanya...” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Kalimat sederhana itu membuat dada Keisha bergetar hebat.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, api kemarahannya bertemu dan berbenturan dengan rasa bersalah yang besar.

 

Tiba-tiba pintu ruang konsultasi terbuka.

Dokter Rina keluar membawa sebuah map cokelat tebal yang tampak sangat resmi.

“Pak Arsen, Bu Keisha... silakan masuk. Hasilnya sudah keluar.”

Semua orang langsung berdiri serentak.

Ibu Keisha memutuskan untuk tetap di luar menjaga Leo yang masih tidur.

Di dalam ruangan, udara terasa begitu berat dan pekat.

Dokter duduk di balik mejanya, lalu perlahan membuka lembaran hasil tes itu. Ia menatap Keisha dan Arsen secara bergantian dengan tatapan serius.

“Hasil tes laboratorium menunjukkan tingkat kecocokan genetik sebesar 99,99 persen.”

Keisha langsung memejamkan matanya rapat-rapat, napasnya tertahan di paru-paru.

Arsen tetap duduk diam tak bergerak, wajahnya datar namun otot-otot di rahangnya terlihat menegang.

Dokter melanjutkan dengan suara tenang namun tegas,

“Jadi secara ilmiah medis dan juga sah secara hukum... dapat dipastikan bahwa Tuan Arsen adalah ayah biologis dari anak laki-laki tersebut.”

Hening.

Kesunyian yang mencekam melanda ruangan itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Lalu terdengar suara geseran kursi.

Arsen berdiri perlahan dari tempat duduknya.

Rahangnya mengeras, matanya tampak gelap dan dalam, namun suaranya justru terdengar sangat tenang dan rendah.

“Terima kasih, Dok. Tolong buatkan salinannya lengkap.”

Ia mengambil map berisi hasil tes itu dari tangan dokter, menggenggamnya erat seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.

Keisha menatapnya dengan wajah pucat dan cemas.

“Arsen...”

Pria itu menoleh perlahan ke arahnya.

Ada sesuatu yang berubah total di dalam sorot matanya sekarang.

Bukan lagi keraguan atau dugaan.

Itu adalah KEPASTIAN.

Itu adalah HAK.

Dan itu adalah tekad yang sangat kuat dan menakutkan.

“Aku akan urus akta kelahiran baru, ganti nama sekolah, asuransi kesehatan, masa depan, semuanya. Mulai hari ini semuanya resmi.”

“Jangan ambil keputusan seenak sendiri! Ini juga hidupku!” seru Keisha.

“Sudah lima tahun kamu yang mengambil semua keputusan sendiri dan menyembunyikan dia dariku. Sekarang giliranku.”

Keisha terdiam kaku.

Kalimat itu begitu telak dan menyakitkan hingga ia tak mampu membalas sepatah kata pun.

 

Mereka berjalan keluar ruangan menuju lobi.

Leo baru saja bangun tidur, matanya masih mengantuk dan mengucek-ucek kelopak mata.

“Udah selesai ya, Ma?”

Arsen tidak langsung menjawab. Ia langsung berjongkok tepat di hadapan anak itu, menatap wajah kecil itu dalam-dalam.

“Iya, Jagoan. Sudah selesai.”

“Terus sekarang kita pulang?”

Arsen menatapnya lama sekali, seakan ingin menghafal setiap detail wajah itu.

Lalu, dengan suara yang sangat pelan dan lembut, ia bertanya hal yang tak pernah ia bayangkan akan ia tanyakan.

“Sekarang... Om boleh peluk kamu nggak?”

Leo berkedip beberapa kali bingung, lalu mengangkat kedua bahunya kecil dengan santai.

“Oke.”

Arsen segera menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya erat-erat.

Bukan pelukan yang lama, namun cukup kuat untuk membuat seluruh tubuh pria itu menegang seolah-olah ia sedang menahan ledakan emosi yang terlalu besar untuk ditampung.

Keisha menahan napas melihatnya.

Ayahnya memalingkan wajah ke samping, terharu.

Ibunya diam-diam menyeka air mata yang jatuh tanpa sadar.

Di dalam pelukan itu, Leo menepuk-nepuk pelan punggung lebar Arsen dengan tangan polosnya.

“Om kenapa?” tanyanya kecil.

Arsen perlahan melepaskan pelukannya, matanya tampak basah namun ia cepat menguasai diri. Suaranya terdengar serak dan berat.

“Enggak apa-apa... Om cuma senang banget.”

 

Di area parkiran, tepat sebelum mereka masuk ke mobil masing-masing, Arsen menghentikan langkah Keisha dengan menahan lengan wanita itu pelan namun tegas.

“Mulai malam ini, aku mau makan malam bersama Leo.”

“Apa?” Keisha menatapnya tak percaya. “Kamu ngaco apa gimana?”

“Setiap hari. Aku akan datang makan malam di sana.”

“Kamu gila ya?! Jangan berlebihan!”

“Aku ayahnya, Keisha. Itu hakku.”

“Kamu baru resmi jadi ayah tiga jam yang lalu!”

Arsen melangkah mendekat, jarak mereka tinggal beberapa senti saja. Tatapannya tajam menusuk.

“Dan aku akan menebus lima tahun waktu yang hilang itu... secepat mungkin.”

Ia menatap lurus ke mata wanita itu, penuh penekanan.

“Dengan atau tanpa izinmu.”

Tubuh Keisha gemetar menahan amarah campur ketakutan.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia sadar betul akan satu hal yang pahit:

Pria ini tidak akan pernah pergi lagi.

Ia sudah datang, dan ia akan mengambil alih segalanya.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!