apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
...Happy Reading...
.......
.......
.......
.......
.......
Jam sudah menunjukan pukul 6 malam dan semuanya termasuk adik dari Rasya tengah berkumpul di ruang makan.
Si kembar beda paras itu bernama Revan Kalandra dan adiknya Langit Kalandra tak jauh berbeda sifatnya dengan Rasya.
Apalagi Revan, sikapnya sangat dingin dan tidak peduli orang disekitarnya.
Rion turun dari arah tangga dengan menggendong seorang pria pendek namun sedikit berisi "selamat malam tuan muda" sapa Rion sopan, Rasya dan yang lain hanya mengangguk.
Rion menurunkan saga yang sedang menyusu di dalam dot ke kursi di dekat Revan
"umhh ion jangan pergii" rengeknya namun Rion tetap kekeh pergi dengan alasan ada urusan mendadak.
"maaf tuan saya harus pergi, e-ee nenek saya perlu bantuan" ucap Rion dan kini saga memperbolehkannya untuk pergi.
"makan" ujar Rasya singkat dan semuanya mulai makan kecuali saga, ia menundukkan kepalanya dan memainkan nipple dot miliknya.
"kenapa tidak makan?" tanya langit membuka pembicaraan
Saga yang mendengar itu sontak menatap langit, langit juga menatapnya dengan tatapan dalam.barulah ia sadar mengapa papa nya itu menggemaskan lihatlah pipi chubby nya yang di perban dan mata bulat lucu serta bulu mata lentik itu, sangat indah.
langit mengalihkan pandanganya Dnegan wajah yang sedikit memerah sangar.
"aga mau itu boleh?" ucap saga pelan menunjuk ke arah sayap ayam goreng.
"ambil" ujar Rasya singkat, saga yang melihat itu tersenyum senang lalu mengambil sayap ayam goreng itu.
"sehabis makan kumpul di ruang keluarga" ujar Revan dingin, yang lain hanya mengangguk entahlah dengan saga yang sedang fokus makan makanannya.
"umh ini enak aga suka hihi" ucapnya dengan sedikit kekehan lucu.
Saga umurnya saja sudah 36 tahun tapi wajah dan tubuhnya seperti anak SMA kelas 10.
"aku selesai" ujar langit lalu pamit ke ruang keluarga lebih dulu disusul dengan Rasya yang juga sudah selesai.
Kini di ruang makan hanya tersisa Revan dan saga yang masih makan.
"ayo" ajak Revan dengan menarik lengan papanya.
saga yang di tarik ingin menangis karena ia lebih suka di gendong daripada jalan sendiri.
Revan yang melihat itu seketika langsung tahu, ia mendekat ke arah papanya lalu menggendong sang papa menuju ruang keluarga.
Disana sudah terlihat Rasya dan langit tengah duduk, masing-masing fokus dengan handphone dan iPad mereka.
"turunin papa, Evan" rengek saga Dengan mengayunkan kedua kakinya.
"hm" ujar Revan berusaha menyembunyikan wajah merahnya karena mendapat panggilan 'evan' dari sang papa.
"kenapa kau berubah?" tanya Rasya, saga yang mendengar itu hanya diam menunduk berpura-pura tidak tahu padahal jiwa elang itu hanya melakukan akting.
"aga Ndak tau, kata dokter aga sakit dikepala" ujarnya dengan polos ia bergerak menuju Rasya dan memegang tangan Rasya.
"asya jangan pukul aga lagi yah, tadi sakit banget tau untung ada ion ngobatin sakitnya aga" ujar saga dengan wajah yang memelas membuat mereka semua disana memekik gemas
"ya, asal kau menurut dengan kami" ucap Rasya dengan seringai tajam.
"umhhh aga mau nurut" ucap saga Dnegan semangat.
Rasya menatap Revan dan langit bergantian di iringi dengan seriangainya.
Revan dan langit yang paham akan merencanakan sesuatu agar papanya itu hanya bergantung kepada mereka.
langit mendekat ke arah saga dan langsung membopong tubuh berisi milik papanya untuk didudukan di pangkuannya.
Revan pergi kedapur dan kembali Dengan membawa sebotol dot berisi susu.
"ini susunya, habiskan" ucap Revan, saga yang melihat susu langsung berbinar senang.