Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 - MHB
Pagi itu, Maya masuk ke kantor dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Insiden "kunjungan mendadak" Santi masih menyisakan sedikit trauma, dan ia telah memastikan tidak ada satu pun barang Arka yang tertinggal di area publik apartemennya sebelum berangkat. Fokusnya hari ini adalah presentasi besar untuk Global Tech Corp, klien paling bergengsi yang baru saja melakukan perombakan besar di tim inovasi mereka.
"Maya, tim dari Global Tech sudah di ruang rapat. Kabarnya, mereka membawa beberapa anak magang pilihan dari program fast-track mereka untuk membantu presentasi," bisik manajernya saat mereka berjalan menyusuri koridor kaca.
Maya mengangguk, merapikan blazer hitamnya. "Baguslah. Saya harap anak-anak muda itu punya ide yang lebih segar daripada sekadar teori kampus."
Maya membuka pintu ruang rapat dengan aura pemimpin yang biasa ia tunjukkan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Jantungnya berasa berhenti berdetak selama satu detik yang sangat panjang.
Di sana, di ujung meja marmer yang dingin, berdiri seorang pria yang sangat ia kenali. Tapi itu bukan Arka yang tadi pagi berebut sereal dengannya. Itu adalah pria yang mengenakan kemeja biru navy yang pas di badan, celana kain berpotongan tajam, dan sepasang kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungnya.
Arka.
Arka sedang memeriksa koneksi kabel HDMI ke laptopnya. Saat pintu terbuka, ia mendongak. Matanya bertemu dengan mata Maya. Tidak ada kedipan nakal, tidak ada seringai jahil. Yang ada hanyalah tatapan profesional yang tenang dan dingin.
"Selamat pagi, Ibu Maya. Senang bertemu Anda kembali," ucap Arka dengan nada suara yang lebih rendah, sangat sopan, namun memiliki otoritas yang tidak terduga.
Maya duduk di kursi kepemimpinannya dengan gerakan mekanis. Pikirannya kacau. Kenapa dia di sini? Kenapa dia tidak bilang kalau tempat magangnya adalah Global Tech?
Ia tahu ayah Arka memiliki perusahaan properti dan teknologi nomor satu di dunia, Dirgantara Group. Seharusnya Arka bisa saja duduk di kursi empuk sebagai ahli waris. Namun, Arka justru memilih jalur sulit magang di perusahaan klien melalui proses seleksi yang ketat, tanpa menggunakan nama besar ayahnya.
Sepanjang sepuluh menit pertama, Maya tidak bisa fokus pada agenda rapat. Matanya terus mencuri pandang ke arah Arka. Kacamata itu... Arka tidak pernah bilang kalau dia butuh kacamata untuk bekerja. Benda itu mengubah seluruh auranya. Arka terlihat lima tahun lebih dewasa. Aura "brondong" yang selama ini melekat padanya menguap, digantikan oleh citra eksekutif muda yang sangat kompeten.
Dia terlihat... sangat berbeda, batin Maya. Ada sengatan aneh di dadanya—sejenis kebanggaan yang bercampur dengan rasa intimidasi.
"Sekarang, mari kita dengarkan paparan dari tim inovasi kami mengenai integrasi AI untuk kampanye kuartal depan. Arka, silakan," ucap pimpinan Global Tech.
Arka berdiri, melangkah ke depan layar proyektor. Ia tidak memegang catatan. Tangannya bergerak tenang, menekan tombol pointer.
"Terima kasih. Jika kita melihat data penetrasi pasar saat ini..."
Suara Arka memenuhi ruangan. Ia berbicara dengan kelancaran yang memukau. Ia tidak hanya membicarakan teori; ia membedah algoritma, memberikan solusi praktis atas masalah kebocoran data yang baru saja dialami perusahaan Maya (tanpa menyebutkan bahwa dialah yang meretasnya semalam), dan menyusun strategi kreatif yang bahkan tidak terpikirkan oleh tim senior Maya.
Maya terpaku. Ia melihat Arka menjelaskan poin-poin rumit dengan gerakan tangan yang elegan. Kemejanya yang disetrika rapi—yang tadi pagi Maya lihat digantung di balik pintu kamar—kini tampak begitu berwibawa di bawah lampu ruang rapat.
Saat Arka membenarkan posisi kacamatanya dengan jari tengah, sebuah gerakan kecil yang sangat maskulin, Maya merasakan tenggorokannya kering. Ini adalah sisi Arka yang selama ini disembunyikan di balik piyama berantakan dan candaan konyol di rumah. Ini adalah Arka sang "Tiger" di dunia profesional.
"Bagaimana menurut Anda, Ibu Maya? Apakah pendekatan enkripsi ini cukup aman untuk standar perusahaan Anda?" Arka bertanya, menatap tepat ke arah Maya.
Seluruh peserta rapat menoleh ke arah Maya. Ia sempat tertegun sesaat sebelum berdeham kecil.
"Sangat menarik, Saudara Arka. Logikanya sangat kuat. Saya... saya terkesan dengan ketajaman analisisnya," jawab Maya, mencoba menjaga suaranya agar tetap profesional meskipun jantungnya berdebar kencang.
Arka memberikan senyum tipis hanya sekilas, sebuah senyum rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh Maya, sebelum ia menutup presentasinya dengan sangat sopan.
Sesi rapat berakhir dengan kesuksesan besar. Saat semua orang mulai keluar dari ruangan untuk sesi kopi, Maya sengaja memperlambat gerakannya untuk merapikan berkas. Arka tetap di sana, mencabut kabel laptopnya.
Begitu ruangan sepi, Maya mendekat. "Kenapa kamu nggak bilang, Arka?" bisiknya tajam.
Arka tidak mendongak, ia masih sibuk dengan tas laptopnya. "Bilang apa, Bu Maya? Soal magang saya atau soal kacamata saya yang membuat Ibu tidak fokus tadi?"
"Arka!"
Arka akhirnya mendongak, melepas kacamatanya, dan barulah seringai nakalnya muncul kembali. "Aku mau membuktikan satu hal, Maya. Bahwa tanpa nama besar papaku, dan tanpa bantuan 'relasi' dari istriku, aku bisa berdiri di depanmu sebagai rekan kerja yang setara."
Maya terdiam. Ia melihat Arka yang kini berdiri tegap di hadapannya.
"Tadi itu... luar biasa," gumam Maya jujur. "Kamu benar-benar terlihat dewasa. Aku hampir tidak mengenalimu."
Arka melangkah maju, memperkecil jarak. Aroma parfum maskulinnya parfum yang tadi sempat membuat Santi curiga, kini memenuhi indra penciuman Maya.
"Hanya di kantor ini aku menjadi rekan kerjamu, Maya," bisik Arka, suaranya kembali menjadi hangat seperti di rumah. "Tapi begitu keluar dari pintu gedung ini, aku tetap 'gangguan' yang harus kamu urusi di apartemen. Dan soal kacamata ini... aku hanya memakainya saat ingin terlihat serius. Apa itu berhasil membuatmu terpesona?"
Maya membuang muka, mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah. "Sangat berhasil, kamu menyebalkan."
"Sampai jumpa di rumah, Senior. Jangan lupa beli sereal, sereal kita habis," ucap Arka sambil mengenakan kembali kacamatanya, kembali ke mode profesional, dan berjalan keluar ruangan melewati rekan-rekan kerja Maya yang menatapnya dengan kagum.
Maya berdiri diam di ruang rapat yang kosong.
Bersambung...
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡