Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Malam itu, sebuah lelang tender interior untuk sebuah Mall di gelar.
Rayandra dan Ardhanaya tiba di tempat acara sebelum Devon tiba di sana.
Keduanya masuk ke dalam tempat acara dengan di dampingi banyaknya anak buah Mahatara.
Sedangkan di sisi Devon.
Pria itu sudah tiba di lokasi dengan berkas dan flashdisk di tangannya, senyumnya sumringah dan terlihat licik.
"Kamu puaskan dengan pekerjaan ku?" suara Calista terdengar menggoda di dalam mobil.
"Tentu saja, tidak sia-sia aku mengizinkan kamu kembali mendekati Rayandra walaupun aku cemburu," jelas Devon dengan senyum tipis.
"Ah! Devon, kamu itu tidak akan tergantikan oleh siapapun dan lagi Rayandra tidak ada tandingannya denganmu," bisik Calista dengan kedipan menggoda.
Sedangkan Devon, pria itu bertingkat sombong dengan senyum licik di wajahnya.
"Ayo turun!" kata Devon.
Calista mengangguk, mengecup bibir Devon terlebih dahulu sebelum keduanya memutuskan keluar dari mobil.
Sedangkan di dalam lelang.
Rayandra dan Ardhanaya sudah duduk di tempat khusus yang sudah di siapkan dengan nama mereka di sana.
"Kak," panggil Ardhanaya dengan suara pelan. Namun, terdengar tegas di telinga Rayandra.
"Hem? Ada apa?" tanya Rayandra.
"Apakah kau yakin mereka akan datang dan tidak akan curiga?" bisik Ardhanaya melihat sekeliling memastikan tidak akan ada yang dengar.
"Yakin, kamu tenang saja!" kata Rayandra sambil menepuk pelan tangan Ardhanaya.
Ardhanaya hanya bisa diam dan menenangkan diri sebab melihat Kakaknya yakin mungkin saja rencana ini akan berhasil nanti.
Devon dan Calista tiba, tepat di depan kursi dimana Ardhanaya dan Rayandra duduk saling berhadapan.
"Oh, waw, ada Tuan Muda Rayandra disini? Apa kabar?" itu terdengar sapaan tapi yang jelas di sana bukan hanya sapaan basa-basi.
"Tentu, saya tidak tahu jika anda berani datang tanpa berkas tender," Rayandra berucap pelan, ringan. Namun, menusuk seolah kata itu berarti.
Kamu tidak akan pernah memenangkan proyek ini tanpa berkas dan Flashdisk Mahatara.
"Oh, apakah anda yakin saya tidak memiliki berkas tender dan Flashdisk itu?" ejekknya.
"Mungkin saja," jawabnya acuh.
"Kamu lihat saja, akan aku buat Mahatara hancur malam ini!" ancam Devon dengan mata berkilat marah.
Dia akan membuktikan dan menghancurkan kesombongan Rayandra juga Ardhanaya malam ini, memastikan keduanya hancur tanpa sisa.
"Kamu di sini Calista? Bersama Devon?" tanya Ardhanaya melirik pada Calista yang menggandeng Lengan Devon.
"Iya, maafkan aku Rayan, sepertinya aku memang tidak akan cocok, jangan dekati aku lagi setelah ini!" ucap Calista agak menguatkan suara seolah mengatakan pada semua orang bahwa Rayandra lah yang mendekati dia walaupun sudah memiliki istri.
Bisik-bisik panas mulai terdengar menjalar bagaikan jerami yang di bakar pada musim kemarau, cepat, membesar dengan hembusan angin kencang dari telinga ke telinga dan mulut ke mulut.
Sedangkan Rayandra, tidak ada yang dia sanggah seolah membenarkan ucapan Calista dan tentu itu menjadi tranding topik untuk acara ini selain lelang malam ini.
...****************...
Di kediaman Mahatara,
Elvara dan Ayasha terpaku menatap layar CCTV yang menampilkan gerak-gerik Ayunda. Ada sesuatu yang tak beres, dan kedua perempuan itu merasakan getar ketidakpercayaan yang makin kuat.
Ayasha teringat sekilas alur cerita di bukunya, tapi kenyataan di depan mata membenturkan mereka dengan kenyataan baru yang jauh berbeda.
membuat mereka harus bergerak hati-hati, takut langkah kecil mereka memicu badai butterfly effect yang tak terduga.
"Apa kau tak merasa ada yang janggal dengan kesehatan nenek belakangan ini?" suara Ayasha bergetar sedikit, matanya tidak lepas dari layar yang menunjukkan Ayunda berkeliling dengan sikap mencurigakan.
Elvara menatap Ayasha dengan mata penuh ketegangan. "Jelas curiga. Setiap kali kita mencoba masuk ke dalam kamar nenek, Ayunda selalu menahan dengan alasan nenek baru saja istirahat dan tak ingin diganggu. Itu bukan kebetulan,... itu sesuatu yang disembunyikan."
Kening Elvara berkerut dalam, rasa curiga dan waspada menyeruak deras. Di balik senyuman Ayunda, tersembunyi rahasia yang bisa mengguncang seluruh kediaman Mahatara dan mereka berdua tahu, jika mereka terlambat bergerak waktu tak lagi berpihak pada mereka.
Di dapur yang sepi,
Ayunda dengan hati-hati menyiapkan makan siang untuk Nyonya tua Mahatara. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan nasi dan lauk di atas piring, lalu merapikannya di nampan.
Namun, sebelum mengangkat nampan itu dan melangkah menuju kamar majikannya, matanya melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang.
Dalam hening yang mencekam, Ayunda merogoh saku dan mengambil botol kecil berisi racun pelumpuh otot, racun mematikan yang jika di konsumsi jangka panjang akan membuat orang tersebut akan lumpuh.
Dengan tangan bergetar tapi tekad yang membara, ia meneteskan beberapa tetes racun ke atas makanan itu.
Setelah memastikan racun tersembunyi sempurna, ia kembali menyelipkan botol itu ke saku, napasnya tercekat dalam bisu.
Ini bukan hanya sebuah tindakan, tapi permulaan dari kehancuran yang akan menghantui kehidupan keluarga Mahatara.
Lalu Ayunda membawa nampan itu menuju lantai dua di mana kamar nenek Mahira berada.
...****************...
Di dalam kamar, Elvara dan Ayunda saling berpandangan, jiwa mereka seakan terkunci dalam keheningan yang mencekam.
Mata mereka belum mampu lepas dari adegan yang baru saja mereka lihat. Detik-detik yang terdiam itu terasa seperti petir yang menyambar, menghantam perasaan mereka dengan bisikan ancaman yang tak terucapkan.
“Kak, botol apa itu yang Ayunda pegang? Kenapa dia beri itu di makanan nenek?” suara Ayasha bergetar, nyaris pecah oleh ketakutan yang merayap ke tulang sumsum.
Elvara menelan ludah, dadanya sesak. “Ini bukan hal biasa, Yasha. Kita harus segera menyelamatkan nenek...” ucapnya dengan nada serak, hati berdesir dalam kegelisahan yang membakar.
Tanpa menunggu lagi, Elvara menarik lengan kecil Ayasha dan melangkah cepat keluar kamar, menuju ke arah Ayunda yang sudah mulai menaiki tangga.
Suara langkah mereka bergema seperti irama putus asa yang bergema dalam gelap. “Kak, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ayasha dengan suara kecil, hampir terengah-engah di antara langkah kaki yang tergesa.
Elvara menoleh sekilas, matanya menyala penuh tekad. “Ikuti aku saja. Nanti kau akan mengerti...” jawabnya, suaranya tajam seperti belati. Mereka terus melangkah, menantang takdir yang menggantung di ujung nafas.
Tak berapa lama, mereka tiba di tangga dan melihat Ayunda berdiri di tengah-tengahnya, wajahnya tegang dan penuh perhatian.
Sekilas, Elvara mendapat ide licik yang membuat sudut bibirnya tersenyum miring senyum yang menyimpan rencana.
"Ayo, Ayasha! Kita sudah terlambat. Cepat turun!" Elvara berseru dengan nada penuh semangat, kakinya bergerak cepat menuruni anak tangga seolah waktu adalah musuh terbesar mereka.
"Iya, Kak! Tapi hati-hati, jangan sampai jatuh," jawab Ayasha, mencoba menyeimbangkan langkahnya sambil menuruti rencana sang kakak dengan waspada.
Mereka terus berbisik penuh rahasia, terbawa oleh permainan yang sengaja mereka ciptakan. Namun, dalam gelak tawa kecil mereka, sebuah tragedi kecil tiba-tiba pecah.
Tubuh mereka tanpa sengaja bertabrakan dengan nampan yang dipegang Ayunda.
Prang...!
Suara pecahan piring dan tumpahan minuman menggema di tangga, seakan seluruh dunia menahan nafasnya.
Mata Ayunda membelalak, penuh amarah dan kecewa yang membara, seperti bara api yang siap menyulut konflik yang lebih besar.
Diam sejenak menyelimuti udara, berat dan penuh tegangan satu momen yang bisa menghancurkan rencana yang telah disusun.