Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Waktu terus berjalan dan kehamilan Aluna kini sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya semakin besar dan berat membuat aktivitasnya semakin terbatas. Namun, di sisi lain kondisi kesehatannya sangat baik dan bayi di dalam kandungannya tumbuh dengan sangat aktif dan sehat.
Setelah insiden jatuh tempo hari, Arka menjadi dua kali lipat lebih ketat dan protektif. Gadis itu benar benar diperlakukan seperti telur yang mudah pecah. Ke mana pun Aluna pergi selalu ada dua atau tiga pengawal yang mengikuti dari jarak dekat. Bahkan Bude Min pun selalu standby di dekatnya setiap saat.
Meskipun diperlakukan sangat istimewa secara fisik, namun hati Aluna sering kali merasa kesepian dan jenuh. Ia rindu kebebasan dan rindu suasana rumah yang sederhana dan penuh tawa dulu. Perubahan hormon juga membuat emosinya menjadi sangat tidak stabil dan mudah tersinggung atau menangis.
.........
Sore ini, cuaca sangat panas dan gerah. Aluna duduk di ruang tengah sambil memandang keluar jendela dengan wajah murung. Tiba tiba ada keinginan aneh yang muncul di benaknya dan langsung membuat air liurnya mengucur.
Ia tiba tiba sangat ingin memakan Rujak Cingur yang sangat pedas dan asam, lengkap dengan bumbu kacang yang banyak dan irisan nanas yang segar. Ia tahu makanan itu kurang sehat dan dilarang dokter, tapi rasanya ia ingin sekali memakannya sampai kenyang.
Saat Arka pulang kerja dan melihat Aluna yang tampak tidak bersemangat seperti biasanya, ia langsung menyadarinya.
"Kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Arka sambil meletakkan tas kerjanya dan duduk di sofa tak jauh dari gadis itu. "Ada yang kurang atau kamu sakit lagi?"
Aluna menoleh dengan mata yang berkaca kaca. "Tuan Arka... Aluna mau minta sesuatu. Boleh tidak?"
"Apa itu? Katakan saja, asal itu bagus untuk kandunganmu," jawab Arka santai.
"Aluna mau makan Rujak Cingur yang pedas sekali. Yang banyak sambalnya dan asamnya," ucap Aluna dengan penuh harap. "Aluna pengen banget makan itu dari tadi siang. Rasanya kepikiran terus."
Wajah Arka yang tadi datar langsung berubah menjadi tegas dan dingin seketika. Ia menatap Aluna dengan tatapan tidak suka.
"Tidak bisa. Itu makanan tidak sehat," tolak Arka cepat tanpa ragu sedikitpun. "Terlalu banyak gula, terlalu banyak garam, dan terlalu banyak cabai. Itu bisa memicu panas dalam atau diare. Kamu tahu kan dokter melarang keras kamu makan sembarangan apalagi yang pedas pedas?"
"Tapi Tuan... ini kan hanya sekali kali saja," rengek Aluna mulai menunjukkan sisi manja dan emosinya. "Aluna kan lagi hamil. Katanya kalau orang hamil itu ada yang namanya ngidam. Kalau tidak dituruti nanti bayinya lahir suka menangis atau ada titik merah di matanya, lho."
"Itu hanya mitos kuno dan tidak masuk akal Aluna," potong Arka ketus. "Yang nyata adalah kesehatan anakku. Aku tidak mau janin terkena dampak buruk hanya karena kemauan sesaatmu yang aneh itu."
"Pokoknya Aluna mau! Aluna ingin sekali makan ituuu..." Aluna mulai kehilangan kendali atas emosinya. Air matanya tumpah begitu saja membasahi pipi. "Tuan pelit sekali! Hanya minta makanan kecil saja tidak dikasih. Padahal Aluna sudah berkorban badan dan waktu untuk Tuan."
Arka menghela napas panjang menahan sabar melihat tingkah gadis itu. Ia tahu ini efek hormon, tapi tetap saja ia tidak suka dilawan atau dimintai hal yang berisiko.
"Jangan menangis dan jangan membuat drama yang tidak perlu," ucap Arka dengan suara rendah namun berwibawa. "Kamu mau buah buahan segar atau puding manis aku bisa suruh orang belikan sekarang juga. Tapi untuk yang pedas asam dan sembarangan itu, jawabanku tetap tidak."
"Aluna tidak mau yang lain! Aluna cuma mau ituuu!" Aluna semakin menjadi jadi dan memukul pelan bantal di sampingnya. "Tuan itu jahat! Tuan tidak pernah mengerti apa yang Aluna rasakan. Di sini Aluna sendirian tidak punya siapa siapa selain Tuan dan Tuan tega sekali menolak permintaan kecil ini."
Arka berdiri dan berjalan mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya menatap wajah Aluna yang basah oleh air mata dengan tatapan tajam.
"Dengar baik baik Aluna. Aku menolak bukan karena aku jahat atau pelit," ucap Arka menekankan setiap katanya. "Aku menolak karena aku sayang dan takut ada apa apa dengan anak di dalam sana. Tubuhmu sedang membawa nyawa yang sangat berharga bagiku dan aku tidak akan membiarkan apapun merusaknya termasuk makanan sampah yang kamu inginkan itu."
"Berharga sebagai alat atau berharga sebagai manusia?" tanya Aluna memberanikan diri memotong dengan suara bergetar. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari rasa penat yang sudah lama ia pendam.
Arka terdiam kaget. Ia menatap mata gadis itu lekat lekat. Pertanyaan sederhana itu seolah menohok ego dan hatinya yang paling dalam.
"Kamu..." Arka tercekat sejenak lalu mengatur napasnya kembali. "Aku tidak mau berdebat soal hal tidak penting ini. Keputusanku bulat, tidak boleh makan itu. Titik."
Arka berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu menuju ke perpustakaan pribadinya. Ia butuh ketenangan untuk meredakan emosinya yang mulai terpancing oleh sikap Aluna.
Aluna ditinggal sendirian, menangis tersedu sedan di sofa. Ia merasa sangat sedih dan tidak dimengerti. Ia tahu Arka benar, tapi sebagai wanita hamil ia hanya ingin dimanjakan dan dituruti kemauannya sesekali saja.
.........
Malam harinya, suasana makan malam menjadi sangat canggung dan dingin. Keduanya tidak saling bicara. Aluna menunduk memainkan sendoknya dengan malas, sementara Arka makan dengan lahap namun wajahnya tampak kesal.
Hingga tengah malam Aluna terbangun karena perutnya terasa sangat mual dan kepalanya pusing sekali. Ternyata efek menangis terlalu lama dan emosi yang tidak stabil membuat kondisi fisiknya ikut drop.
Ia berusaha bangun untuk minum air putih, namun kakinya lemas dan ia hampir jatuh lagi jika tidak ada tangan yang sigap menangkapnya.
Ternyata Arka belum tidur dan memang sengaja berjaga di luar kamar karena khawatir. Ia melihat Aluna pucat dan lemas langsung menggendong tubuh gadis itu kembali ke ranjang dengan cekatan.
"Kau kenapa begini? Kenapa tidak tidur?" tanya Arka panik, namun suaranya tetap terdengar keras.
"Kepala Aluna pusing... perut mual..." isak Aluna lemah.
Arka segera memanggil dokter dan memeriksakan gadis itu. Setelah diberi obat penenang dan vitamin, kondisi Aluna mulai membaik meski wajahnya masih terlihat sangat lemas dan sedih.
Saat suasana kembali hening, Arka duduk di tepi ranjang menatap wajah tirus itu dengan perasaan bersalah yang mulai muncul. Ia mungkin terlalu keras menolaknya tadi siang.
"Maaf..." bisik Arka pelan, hampir tak terdengar. "Aku tidak bermaksud membentakmu atau menyakiti hatimu. Aku hanya terlalu takut kehilangan kalian berdua."
Aluna membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. "Jadi Tuan tidak akan pernah menuruti kemauan Aluna sedikitpun ya?"
Arka terdiam lalu mengusap rambut Aluna lembut. "Baiklah. Besok aku akan suruh koki khusus membuatkan versi yang lebih sehat. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu asam, dan bahannya harus yang higienis dan bersih."
"Benarkah Tuan?" mata Aluna langsung berbinar cerah, seketika kesedihannya hilang berganti menjadi bahagia.
"Iya. Tapi hanya sedikit saja, cukup untuk mengobati rasa penasaranmu," ucap Arka tegas namun ada senyum tipis di wajahnya. "Dan kamu harus janji tidak akan menangis atau marah marah lagi seperti anak kecil. Itu tidak baik untuk kesehatanmu dan membuatku juga ikut pusing."
Aluna mengangguk antusias lalu memeluk lengan Arka erat erat. "Iya Tuan. Terima kasih banyak Tuan. Tuan memang yang terbaik di dunia ini."
Arka hanya diam membiarkan gadis itu bersandar manja padanya. Di dalam hati, ia tersenyum geli melihat betapa mudahnya hati wanita ini berubah ubah. Dan tanpa sadar ia mulai menikmati momen momen manis dan canggung seperti ini yang membuat hidupnya terasa lebih berwarna.