NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi ke dua

Di bawah cahaya obor yang bergoyang tertiup angin, wajah-wajah penuh kemurkaan itu menatap Aris dengan kebencian yang mendidih. Massa sudah bersiap membakar rumah Pak Salim. Namun, Aris tidak mundur. Ia berdiri tegak.

"Berhenti!" suara Aris membelah malam, tenang namun berwibawa.

Aris berdiri di tengah kerumunan yang masih beringas. Sambil memegang pergelangan tangannya yang tertutup kain, Aris menatap tajam ke arah kotak amal besar yang diletakkan di sudut teras masjid tempat mereka berkumpul.

"Bapak-bapak, mari kita gunakan logika sederhana," suara Aris lantang, menghentikan teriakan massa. "Uang itu hilang dari brankas terkunci pada Selasa malam, bukan? Saat itu, kunci hanya dipegang dua orang."

Aris berjalan mendekati Kepala Desa, lalu mengamati sepatu sang Kepala Desa yang tertutup noda tanah merah yang khas. Tanah itu hanya ditemukan di area pemakaman desa, tempat brankas cadangan disimpan.

"Bapak Kepala Desa," ujar Aris tenang, namun matanya mengunci mata sang pemimpin. "Mengapa sepatu Bapak terdapat sisa tanah merah yang basah, padahal hari ini tidak ada hujan di desa ini? Satu-satunya tempat yang tanahnya basah karena resapan air tanah adalah lubang di dekat pemakaman tempat Bapak menyembunyikan sisa uang tersebut."

Kepala Desa tertawa sinis, "Hanya karena tanah di sepatu, kau menuduhku?"

"Bukan hanya tanah," balas Aris. Ia kemudian menunjuk ke arah celana panjang Kepala Desa. "Bapak tadi bilang Bapak sedang tidur saat pencurian terjadi. Tapi, saya perhatikan kancing baju Bapak ada benang yang tersangkut. Itu bukan benang baju Bapak, itu benang karung goni khusus yang dipakai untuk membungkus uang di dalam brankas masjid. Benang itu tersangkut saat Bapak memindahkan uang dengan terburu-buru dalam gelap."

Aris mendekat, suaranya menjadi bisikan yang menghujam, "Dan satu lagi... ada sisa tinta stempel yang sedikit tercoreng di saku celana Bapak. Stempel itu hanya dipakai oleh bendahara masjid untuk menandai uang kas. Mengapa stempel itu ada di celana Bapak?"

Kepala Desa yang tadinya sombong, mendadak kaku. Ia mencoba melangkah mundur, namun massa mulai mengepungnya. Kebohongan yang ia susun dengan rapi hancur lebur hanya dalam hitungan detik oleh pengamatan detail Aris yang menyerupai cara kerja seorang detektif forensik—tanpa perlu melihat masa depan.

"Tangan Bapak memang tidak memegang kunci," tutup Aris, "tapi tangan Bapak gemetar saat mencoba menutup pintu brankas, dan kancing baju Bapak menjadi saksi bisu atas keserakahan Bapak."

Massa yang tadinya hendak membakar rumah Pak Salim, kini berbalik arah. Mereka menyerbu Kepala Desa, memaksa pria itu menunjukkan lokasi uang tersebut.

Dalam waktu singkat, uang ditemukan terkubur di area pemakaman, tepat sesuai dengan petunjuk tanah merah yang dianalisis Aris.

Pak Salim akhirnya dibebaskan dari tuduhan, dan nama baiknya dipulihkan.

Kemudian Aris tidak membuang waktu. Segera setelah Pak Salim mendapatkan keadilan dan warga desa berdamai dengan hati mereka, Aris memacu langkahnya kembali menuju pondok.

Ia tiba di depan ruang Kyai sepuh saat dini hari, ketika embun masih membasahi tanah dan suara azan Subuh belum berkumandang. Aris tidak menunggu disuruh masuk; ia langsung bersimpuh di depan pintu kayu itu, napasnya memburu, peluh bercampur debu perjalanan menutupi wajahnya.

Pintu perlahan terbuka tanpa suara. Kyai sepuh sudah duduk di sana, menunggunya dengan wajah yang tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

"Kau berhasil menyelesaikan masalah itu dengan tanganmu sendiri, Aris," ucap Kyai sepuh pelan.

Aris menunduk dalam, dahinya menyentuh lantai kayu. "Kyai, saya tidak datang untuk membanggakan apa yang saya lakukan. Saya datang karena benda ini..." Aris menyingsingkan lengan bajunya, memperlihatkan jam tangan perak yang kini memancarkan cahaya merah yang berdenyut tidak beraturan, seolah-olah sedang sekarat namun terus memaksakan diri.

"Jam ini menunjukkan sesuatu yang membuat jiwa saya hancur," lanjut Aris dengan suara parau. "Ia menunjukkan nisan Putri. Ia menunjukkan akhir yang tidak pernah saya inginkan."

Kyai sepuh mendekat, menatap jam itu dengan tajam. Beliau tidak menyentuhnya, namun beliau menggumamkan doa yang membuat cahaya merah dari jam itu meredup sejenak, meski tidak benar-benar padam.

"Aris," suara Kyai sepuh kini sangat serius, "apakah kau masih tidak paham? Jam itu tidak sedang memberimu peringatan. Jam itu sedang memberimu pilihan."

Aris mendongak, matanya yang lelah menatap sang Kyai dengan penuh tanya.

"Kau telah membuktikan bahwa kau bisa menang tanpa teknologi. Namun, jam itu adalah bagian dari dirimu sekarang—sebuah manifestasi dari ego dan ketakutanmu sendiri. Jika kau takut akan kematian Putri, jam itu akan terus menampilkan kematian itu sebagai cara untuk memaksamu menggunakannya kembali."

Kyai sepuh menunjuk ke arah asrama putri. "Putri tidak ada di tempatnya saat ini, bukan karena takdir yang sudah tertulis di jam itu. Dia pergi mencari jawaban sendiri setelah melihat apa yang terjadi di neraka tempo hari. Dia pergi mencari ketenangan yang tidak bisa ia temukan di sini karena dia tahu kau menyimpan beban yang terlalu besar."

Aris tercekat. "Putri... pergi?"

"Dia meninggalkan sebuah pesan di bawah bantalnya," kata Kyai sepuh sambil memberikan selembar kertas yang sudah agak lusuh. "Dia tidak mencari kematian, Aris. Dia mencari jalan untuk membersihkan jiwanya agar dia tidak perlu lagi merasa takut akan akhirat."

Aris membuka surat itu dengan tangan gemetar.

"Kak Aris, terima kasih telah memperlihatkan padaku bahwa dunia ini fana. Aku pergi bukan karena menyerah, tapi karena aku takut jika aku tetap di sini, aku akan terus bergantung pada penglihatan mu, bukan kepada Tuhan. Jangan mencari ku dengan jam itu. Carilah aku dengan niat yang murni. Jika kita memang ditakdirkan untuk berjuang bersama, kita akan bertemu di tempat di mana tidak ada masa depan yang perlu ditakutkan."

Aris menatap Kyai sepuh, air mata mengalir di pipinya. Ia menyadari bahwa selama ini, ia selalu merasa dirinya adalah pelindung, padahal justru dirinyalah yang selama ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa terbebani oleh bayang-bayang masa depan yang ia ciptakan sendiri.

"Kyai, apa yang harus saya lakukan sekarang? Jam ini terus berdenyut, seolah ingin menarik saya ke sana..."

Kyai sepuh tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan harapan sekaligus ujian terakhir. "Lepaskan jam itu, Aris. Hancurkan tepat di depanmu, dan berjalanlah mencari Putri sebagai manusia biasa yang tidak tahu apa-apa tentang hari esok."

***

Aris berdiri di depan halaman pondok. Di tangannya, jam tangan perak yang telah memberinya segalanya—dan mengambil segalanya—kini bergetar sangat hebat, seolah memprotes keputusan Aris.

Apakah Aris benar-benar akan menghancurkan satu-satunya kekuatan yang selama ini menjadi identitasnya, atau akankah ia kembali tergoda untuk melihat satu kali lagi ke mana sebenarnya Putri pergi sebelum jam itu hancur selamanya?

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!