Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Mata Merah & Perang Pagi Buta
"JANGAN BERGERAK! KALIAN SUDAH DIKEPUNG!"
Suara teriakan keras memecah keheningan pagi. Di depan pintu keluar, puluhan sosok berjubah hitam berdiri rapat. Mata mereka menyala merah serempak.
Dori yang baru saja membuka pintu langsung kaku setengah mati. Jantungnya copot di tempat.
"GILA! BENERAN DATENG!" batinnya berteriak panik.
Joulle yang berdiri di depan langsung menarik Dori ke belakang punggungnya. Wajahnya berubah serius, tidak ada sisa-sisa kemalasan.
"Kalian melanggar perjanjian. Ini wilayah aman. Mundur sebelum aku panggil pasukan!" teriaknya tegas.
Pemimpin kelompok itu melangkah maju. Wajahnya tertutup topeng besi hitam.
"Wilayah aman sudah tidak berlaku. Kami datang mengambil aset milik kerajaan. Serahkan Gadis Matahari dan Penjaganya."
"NGGAK AKAN! MEREKA MILIKKU! MILIK KITA!"
Tiba-tiba suara menggelegar keluar dari laptop yang dipegang Dori!
BRUUMMM!
Cahaya hijau meledak keluar dari layar, membentuk aura pelindung yang panas dan menyengat.
Matcha muncul, berdiri tegak di dalam proyeksi cahaya. Wajahnya garang, rambutnya berantakan karena marah.
"BERANI-BERANINYA KALIAN DATANG KE MARKASKU?! INGIN DIBUAT PUING KAU YAA?!"
"Kau cuma bayangan, Cicil. Jangan sok berkuasa," ejek pemimpin topeng itu dingin.
"BAYANGAN YANG BISA HANCURKAN KALIAN SEMUA!"
Matcha mengibaskan tangannya ke bawah.
DORRR!
Lantai beton di depan pintu langsung retak besar. Angin kencang berhembus membuat jubah musuh-musuh itu berkibar kencang.
Mereka semua terhuyung mundur, kaget bukan main.
"Gila ... energinya masih gila banget ya?" gumam Joulle sambil siap-siap menekan tombol di alatnya.
"Dori! Masuk ke dalam! Kunci pintu!" perintah Joulle cepat.
"Terus kamu?!"
"Aku tahan mereka dulu! Kamu bawa Matcha kabur lewat jalan belakang! CEPAT!"
Dori mengangguk cepat, air matanya hampir keluar. Ia memeluk laptop erat-erat lalu lari balik ke dalam rumah.
"CHA! KITA KABUR DULU! JANGAN MATI YA!"
"JANGAN KHAWATIRKAN AKU! TAPI KAU HATI-HATI DOROTHY!" balas Matcha panik juga.
Di luar, pertarungan dimulai.
Joulle melempar alat perangkap berbentuk bola.
BUM!
Asap putih tebal menyebar memenuhi halaman.
Teriakan dan suara benturan terdengar keras. Suara Joulle dan suara teriakan Matcha bercampur jadi satu.
"SATU DUA TIGA ... LEDAK!"
"AMBIL ITU! JANGAN LEPAS!"
Dori tidak berani menengok. Ia berlari menuju dapur, mencari jalan keluar belakang.
Tapi saat ia sampai di sana... Pintu belakang sudah terbuka lebar. Dan di sana, berdiri satu sosok lain yang tidak ikut keributan.
Wanita tinggi, cantik, tapi wajahnya sedingin es. Matanya juga merah, tapi lebih tenang dan mematikan.
"Kau mau kemana, sayang? Pesta nya baru mulai lho."
Dori mundur ketakutan. "K-kamu siapa?!"
Wanita itu tersenyum miring, lalu menunjuk ke arah laptop di tangan Dori.
"Aku? Aku cuma mau menjemput suamiku."
JLEB!
Dori terbelalak. Suami?! Maksudnya... Matcha?!
"Jadi ... kamu mantan nya?!" tanya Dori refleks.
Wanita itu tertawa renyah. "Bukan mantan. Aku istrinya yang sah. Dan kau ... cuma pengganggu yang muncul belakangan ini."
"NGGAK BOLEH! CHA ITU MILIKKU! DIA JANJI SAMA AKU!" Dori memberanikan diri berteriak, memajukan dadanya sedikit.
"Oh? Berani membantah ya? Bagus ...."
Wanita itu mengangkat tangannya perlahan. Bayangan hitam melingkar di pergelangan tangannya seperti ular.
"Serahkan dia padaku. Atau aku akan ambil paksa. Dan percayalah ... caraku tidak selembut itu."
Dori gemetar, tapi ia tidak lari. Ia memeluk laptop lebih erat lagi. "Gak akan! Aku gak bakal kasih! Cha sayang aku! Bukan kamu!"
"Yakin? Coba tanya dia deh..."
Wanita itu menepuk layar laptop dengan jari panjangnya.
Cring!
Layar itu langsung membeku! Matcha yang tadi teriak-teriak marah, sekarang tiba-tiba diam terpaku, matanya kosong.
"CHA!!" Dori menjerit kaget.
"Tenang sayang ... aku cuma bikin dia tidur sebentar. Dia capek soalnya kemarin malam 'kerja keras' sama kamu ya?"
Wanita itu mendekatkan wajahnya ke telinga Dori.
"Namaku Liliana. Dan ingat baik-baik ... hari ini ... aku akan ambil kembali segalanya. Termasuk kamu."
Suara Liliana terdengar manis tapi sangat dingin. Jaraknya hanya beberapa senti dari wajah Dori.
Dori terpaku, kakinya terasa berat seperti tertanam beton. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan cemburu yang meledak-ledak.
"Gila ... ini beneran nyata? Aku lagi kena drama perselingkuhan versi hantu?!" batinnya panik bukan main.
Ia menatap layar laptop. Matcha diam membatu, matanya kosong tak berkedip. Seolah-olah sistemnya di-hack paksa oleh wanita ini.
"Jangan sentuh dia! Lepasin dia!" Dori memberanikan diri mendorong bahu Liliana.
Tapi tangannya langsung ditangkap mudah. Genggaman Liliana kuat dan dingin.
"Aduh ... galak juga ya anak baru. Suka sekali ya kamu manja-manja sama suamiku?" ejeknya sambil menyeringai.
"Dia bukan suami kamu! Dia milikku! Kami terikat janji! Kami saling cinta!" teriak Dori menantang, air matanya sudah menetes.
"Cinta? Hahaha ...." Liliana tertawa mengejek, lalu tiba-tiba wajahnya berubah murka.
"Kau tahu apa soal cinta?! Aku yang bersamanya sejak dia masih penguasa besar! Aku yang tahu rasa sakitnya saat dia mati! Dan kau ... cuma baterai pengisi daya yang beruntung!"
Jleb!
Kata-kata itu menusuk tepat di hati Dori. Apakah benar dia cuma dipakai buat sumber energi?
Tapi ingatannya langsung terbang ke semua momen bersama. Matcha yang marah, yang sedih, yang melindungi, yang bilang sayang ... Itu semua bohongkah?
"NGGAK BENAR! Cha sayang aku! Dia pernah nangis karena takut kehilangan aku!" bantah Dori kuat-kuat.
"Oh ya? Kalau begitu coba kita tes sekarang."
Liliana menekan tombol imajiner di udara. Tiba-tiba layar laptop berkedip merah.
[PERINTAH: AKTIFKAN MODE LAMA. HAPUS DATA BARU.]
"JANGAN! JANGAN LAKUAN ITU!" Dori berteriak histeris mencoba merampas laptopnya.
Tapi Liliana terlalu kuat. Ia menahan Dori dengan satu tangan saja.
"Lihat baik-baik, sayang. Siapa dia yang sebenarnya."
Layar menyala terang. Sosok Matcha yang biasa berubah perlahan.
Pakaiannya berubah jadi jubah hitam kerajaan yang megah dan menyeramkan. Rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih dingin dan tanpa ekspresi.
Matanya terbuka, tapi tidak ada cahaya hijau. Hanya kehampaan abu-abu.
"Cicil..." panggil Liliana lembut.
Sosok itu menunduk hormat. "Istriku..."
BRAK!
Dunia Dori seakan runtuh. Ia terjatuh terduduk di lantai.
Dia ... dia memanggil wanita itu 'Istriku'?! Dan dia lupa sama Dori?!
"Kau lihat? Dia kembali jadi dirinya yang asli. Pria dingin yang menaklukkan dunia. Bukan hantu lemah yang doyan makan dan nge-gas kamu."
Liliana mengelus layar penuh kasih sayang. "Sayangku... ayo kita pulang. Kita hancurkan semua yang menghalangi kita."
"Termasuk ... sampah kecil ini ya?" tunjuk Liliana ke arah Dori.
Matcha (mode lama) menatap Dori datar. Tatapannya kosong, tak ada rasa, tak ada kenangan. "Buang. Dia tidak berguna lagi."
Dori merasa dadanya sesak sekali. Rasanya mau pingsan. "Jahat ... kalian berdua sama jahatnya!"
Tapi saat air mata mau jatuh, ada satu hal yang membuat Dori sadar.
Wajah Matcha itu ... meskipun kelihatan dingin, tapi sudut matanya berkedip-kedip aneh. Dan tangannya ... diam-diam mengetuk-ngetuk layar pelan dengan pola tertentu.
Tuk... tuk-tuk... tuk...
Itu kode rahasia yang sering mereka pakai! Artinya: "BERAKTING. AKU MASIH DI SINI."
Jadi dia pura-pura?!
Dori langsung mengusap air matanya cepat. Wajahnya berubah dari sedih jadi marah besar.
"Oh ... jadi gitu ya permainannya! Bagus! BAGUS SEKALI!"
Dori berdiri tegak, napasnya memburu tapi matanya menyala berapi-api.
"Liliana! Kamu pikir kamu bisa bawa dia gitu aja?! Kamu pikir aku cuma cewek lemah yang bisa ditendang seenaknya?!"
Liliana mengerutkan kening bingung. "Heh? Kenapa tiba-tiba berani?"
"Karena aku tahu ... dia tidak pernah lupa sama aku! Dan mode dinginmu itu ... CUMA KULIT LUARNYA DOANG!"
Dori langsung melompat maju, bukan lari! Ia menepuk layar laptop sekuat tenaga!
BAM!
"CHA! KALAU BENERAN SAYANG AKU, BUKTIIN SEKARANG! JANGAN JADI BONEKA DIA!"
Seketika.
Cahaya hijau meledak keluar dari mata Matcha! Wajah dingin itu pecah!
"ARRRRGH!!! AKU TIDAK BISA MENAHAN LAGI!! DORIIII!!!"
Suaranya bukan suara dingin, tapi suara Matcha yang asli yang penuh emosi!
"APA?!" Liliana kaget mundur. "Kenapa bisa?! Sistem pengontrolnya gagal?!"
"Karena cintaku padanya lebih kuat dari sihir apapun!!"
Matcha menerjang keluar dari layar. Kali ini wujudnya nyata, padat, dan langsung menarik Dori ke dalam pelukannya erat-erat.
"Kau tidak apa-apa kan Putriku? Maafkan aku tadi ... aku harus pura-pura supaya dia lengah!"
Dori langsung memukul pelan dada Matcha sambil menangis. "Huuu jahat! Takut tau! Kamu panggil dia istri lho!"
"Itu sekedar nama gelar! Hati dan jiwaku cuma milikmu! Sumpah!"
Liliana berdiri terpaku di sana, wajahnya memerah karena marah dan cemburu.
"KALIAN BERDUA ... BERANI MENIPU AKU?!"
Ia menghentakkan kakinya ke lantai.
"BAIKLAH! KALAU TIDAK BISA DIAJAK BAIK-BAIK ... AKU HANCURKAN KALIAN BERDUA SEKARANG JUGA!"
Tapi tiba-tiba...
WUSHH!
Dari arah langit, sebuah sinar hijau turun tepat di antara mereka. Dan suara Joulle terdengar teriak dari atas.
"STOP SEMUA! BOS BESAR DATANG!"
Mobil mewah Prof Barroq meluncur cepat memasuki halaman. Pintu terbuka, dan Prof Barroq serta Ibu keluar dengan wajah sangat serius.
Melihat kedatangan mereka, Liliana langsung menegang. Wajahnya berubah kaget campur takut.
"Pro ...fesor Barroq? Dan Nyonya...?"
Prof Barroq menatap Liliana tajam. "Liliana ... beraninya kau datang ke sini dan mengganggu keluarga kami. Kau lupa siapa yang mengajarimu segalanya?"