NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan di balik pohon jeruk

Matahari siang menyengat kulit, tapi Cantika tetap sibuk di belakang rumah. Ia sedang menjemur irisan singkong tipis di atas tikar anyaman yang sudah agak usang. Tanganannya lincah, satu per satu irisan putih itu ditebar merata agar kering sempurna sebelum digoreng besok.

“Cantika!”

Suara cowok yang sudah tak asing lagi memanggil dari pinggir pagar bambu. Cantika menoleh. Andi, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu, berdiri dengan motor beat merahnya yang sudah agak berdebu. Helmnya digantung di stang, rambutnya sedikit acak-acakan karena angin.

“Eh, Mas Andi. Lagi lewat?” tanya Cantika sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Senyumnya sopan, tapi tak berlebihan.

Andi mendekat, membawa dua bungkus es teh dingin dari warung depan. “Ini,Cantika,kamu Minum dulu, panas banget hari ini. Aku beliin yang manis, suka kan?”

Cantika mengambil satu bungkus dengan tangan yang masih berdebu tepung singkong. “Makasih, Mas. Tapi nggak usah repot-repot terus. Aku biasa kok.”

Andi tertawa kecil, duduk di bangku kayu di bawah pohon jeruk yang rindang. Pohon itu sudah lama menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan singkat mereka. “ Cantika ini susah banget diajak baik-baik. Aku cuma mau bantu, tahu. Lagian, aku sering lewat sini kan, dari kampus pulang.”

Cantika duduk agak jauh, di ujung bangku yang sama. Ia membuka es tehnya pelan, menyesap sedikit. Rasanya segar, tapi hatinya tetap waspada. Sudah hampir tiga bulan ini Andi sering mampir. Kadang bawa camilan, kadang cuma ngobrol sebentar tentang cuaca atau berita desa. Tapi Cantika tahu, ada maksud lain di balik semua itu.

“Mas Andi kuliahnya gimana? Libur semester ya?” tanya Cantika, mengalihkan pembicaraan.

“Udah mau selesai, Tinggal skripsi doang. Aku pulang kampung biar bisa bantu orang tua sekalian. Eh, tapi ngomong-ngomong … Cantika masih belum ada pacar kan?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Cantika langsung menegang. Ia meletakkan es tehnya di tanah, lalu menggeleng pelan.

“Belum, Mas. Dan aku nggak mikirin itu dulu. Ayah kan belum setahun meninggal. Ibu sama adik-adik masih butuh aku. Makan sehari-hari aja masih susah, apalagi mikir pacaran.”

Andi mengusap tengkuknya, tampak gelisah tapi tetap berani. “Aku tahu, cantika. Makanya aku mau bantu. Kalau Kamu mau, aku bisa nemenin jualan keripik, atau bantu cari modal. Aku juga … suka sama Kamu Cantika. Dari dulu. Setiap lewat sini, aku selalu cari alasan buat mampir. Kamu baik, rajin, dan … cantik.”

Cantika tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Ia sudah mendengar kalimat serupa berkali-kali dari Andi. “Makasih atas pujiannya, Mas. Tapi aku nggak bisa. Aku benar-benar nggak punya waktu buat hubungan sekarang. Maaf ya.”

Andi tak langsung menyerah. "Cantika, aku serius. Bukan cuma main-main. Aku bisa nunggu. Kalau perlu, aku minta izin ke Ibu dulu. Aku mau melamar Kamu dengan cara yang baik.”

“Mas …” Cantika menghela napas panjang. “Jangan begitu. Aku nggak mau kasih harapan yang nggak ada. Aku cuma anggap Mas Andi teman baik yang sering lewat. Itu saja. Kalau Mas terus begini, aku jadi nggak nyaman.”

Suasana di bawah pohon jeruk jadi hening sejenak. Hanya terdengar suara daun bergoyang dan ayam berkokok di kejauhan. Andi akhirnya bangkit, tapi sebelum pergi ia masih sempat bilang pelan, “Aku nggak akan berhenti, Cantika Sampai Kamu lihat aku beneran tulus.”

Cantika hanya mengangguk kecil tanpa menjawab. Ia kembali ke tikar jemuran singkongnya, tapi pikirannya sudah tak tenang lagi.

Malam harinya, berita itu sampai ke telinga Ibu Cantika lebih cepat dari yang ia kira. Tetangga sebelah rumah, Bu Parti, datang berkunjung sambil bawa sepiring gorengan. Setelah ngobrol basa-basi, Bu Parti langsung ke pokok masalah.

“Bu, katanya anak Ibu dekat sama Andi anak Pak RT baru itu ya? Anaknya baik sih, kuliah pula. Tapi orang tuanya lagi ribut loh di rumah. Kata orang, Bapaknya Andi nggak setuju kalau anaknya dekat-dekat sama Cantika.”

Ibu Cantika mengerutkan kening. “Ribut kenapa, Bu? Cantika kan nggak macam-macam.”

Bu Parti mencondongkan badan, suaranya jadi berbisik. “Katanya Bapaknya Andi bilang, ‘Anak perempuan yang cuma jual keripik, masa depannya gelap. Bapaknya udah meninggal, ibunya sakit -sakitan, Mau dijadikan apa menantu?’ Begitu katanya. Kasihan Cantika, padahal anaknya rajin banget.”

Ibu Cantika diam saja. Tapi malam itu, setelah Bu Parti pulang, ia memanggil Cantika ke teras.

“Nak, kamu dekat sama Andi ya?” tanya Ibu langsung, suaranya tenang tapi tegas.

Cantika menggeleng cepat. “Nggak, Bu. Aku nggak dekat. Dia cuma sering mampir, bantu ngobrol, kadang bawa minum. Aku selalu menolaknya kalau dia ngomong suka. Aku bilang aku fokus bantu keluarga dulu.”

Ibu menghela napas. “Ibu percaya sama kamu. Tapi desa ini kecil, Nak. Omongan orang cepat nyebar. Besok-besok kalau Andi datang lagi, suruh dia pulang aja. Jangan lama-lama di sini. Ibu nggak mau kamu jadi bahan gunjingan. Lagian, keluarga Andi orangnya agak sombong. Bapaknya kerja di kantor kecamatan, ibunya guru SD. Mereka pasti mau menantu yang sederajat.”

Cantika mengangguk pelan. “Iya, Bu. Aku ngerti. Aku memang nggak punya niat apa-apa sama dia. Aku cuma mau jual keripik, nabung buat beli mesin pemotong dan penggoreng, biar kita bisa makan enak tiap hari. Pacaran itu urusan belakangan, bahkan mungkin nanti-nanti.”

Ibu mengusap punggung Cantika lembut. “Bagus. Kamu anak perempuan yang kuat. Ayah dulu bangga sama kamu. Sekarang gantian Ibu yang bangga. Jangan pikirkan cowok dulu. Keluarga kita dulu.”

Keesokan sorenya, Andi datang lagi. Kali ini ia membawa sebungkus kue basah dari pasar. Cantika menerima dengan sopan, tapi langsung bilang, “Mas Andi, lebih baik nggak usah sering ke sini lagi. Ibu aku mulai khawatir. Orang-orang juga mulai ngomong. Aku nggak mau ada masalah.”

Andi tampak terkejut. “Kenapa, Cantika ? Aku kan nggak ngapa-ngapain. Aku cuma suka sama Kamu dan Aku mau serius.”

Cantika menatapnya lekat. “Mas, aku sudah bilang berkali-kali. Aku nggak ada perasaan apa-apa sama,Mas dan Aku cuma fokus cari uang buat Ibu dan adik-adik. Ayah sudah nggak ada. Aku nggak mau mikir hubungan serius sekarang. Tolong mengerti ya.”

Wajah Andi memucat. Ia mengangguk pelan, tapi matanya masih penuh harap. “Baiklah, cantika Aku mundur dulu. Tapi kalau suatu saat Kamu butuh bantuan, bilang aja. Aku tetap ada.”

Setelah Andi pergi, Cantika duduk sendirian di bawah pohon jeruk. Angin sore meniup daun-daun hijau itu pelan. Ia memandang ke kejauhan, ke arah sawah yang mulai menguning.

Ia ingat betapa dulu ayahnya sering duduk di tempat yang sama, bercerita tentang mimpi-mimpi kecil. Sekarang ayah sudah tiada, dan Cantika merasa beban di pundaknya semakin berat. Bukan hanya soal makan sehari-hari, tapi juga menjaga nama baik keluarga di desa yang suka bergunjing.

“Maaf ya, Mas Andi,” gumamnya pelan. “Aku benar-benar nggak bisa sekarang.”

Malam harinya, Cantika tidur dengan pikiran yang lebih tenang. Besok ia harus bangun pagi-pagi sekali. Singkong-singkong harus diiris, bumbu harus disiapkan. Keripik original yang mulai sepi peminat harus diganti dengan rasa baru. Ia sudah punya ide: cabai kering dan daun jeruk dari belakang rumah.

Ia tak tahu bahwa keputusan kecil itu nanti akan mengubah hidupnya. Tapi untuk saat ini, Cantika hanya ingin satu hal: membuat keluarganya bisa makan dengan layak, tanpa bergantung pada siapa pun.

Termasuk cowok baik seperti Andi yang terus berusaha mendekat.

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!