NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana di kediaman keluarga Dewantara terasa sepi dan mencekam. Sejak kepergian Dinda, semua orang memilih mengurung diri di kamar masing-masing. Liana terbaring lemas di ranjangnya, air matanya tak henti menetes. Hatinya terasa hampa dan gelisah, seolah ada bagian penting dari dirinya yang hilang begitu saja.

Di luar rumah, Pak Bram dan Pak Sam baru saja turun dari mobil setelah selesai jogging pagi. Wajah mereka ceria dan segar, namun senyum itu langsung pudar saat melihat mobil Amira parkir sembarangan dan sahabat putri mereka turun dengan wajah memerah padam menahan amarah.

"Eh, Amira? Tumben pagi-pagi sudah ke sini. Kenapa wajahmu begitu nak? Ada masalah apa?" tanya Pak Sam bingung.

"Iya Mir, kamu kenapa? Kayak habis lihat hantu atau ada yang sakitin kamu?" tanya pak Bram.

Amira tidak menjawab, ia hanya menatap datar ke arah kedua orang tua itu, lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah dengan langkah tegap. Gio mengikuti di belakangnya dengan wajah juga ikut kesal.

 "LIANA! LEONARDO! KELUAR KALIAN SEMUA! SEKARANG JUGA!" teriak Amira dari lantai bawah . Amira memang bersikap bar - bar .

Teriakannya menggema ke seluruh penjuru rumah. Suaranya yang biasanya lembut kini berubah menjadi garang dan menakutkan.

Dari lantai atas, Liana, Leonardo, Bu Ajeng, Bu Rosa, bahkan Nayla yang sedang pura-pura sedih, kaget dan bergegas turun ke bawah. Mereka semua berkumpul di ruang tengah dengan wajah bingung dan takut.

 "Mir... Kamu kenapa? Kenapa teriak-teriak? Ada apa ini?" tanya Liana lemah, matanya masih bengkak.

Amira Menatap Liana tajam, lalu menatap Leonardo dan yang lainnya satu per satu "AKU TANYA KALIAN! KALIAN ITU OTAKNYA DISIMPAN DI MANA SIH?! APA KALIAN SUDAH GILA ATAU BAGAIMANA?!"

Semua orang terdiam kaget. Bu Ajeng dan Bu Rosa saling pandang.

"Tenang dulu Mir, bicara pelan-pelan. Ada apa sebenarnya?" tanya Leonardo .

 "TENANG?! KAMU SURUH AKU TENANG?! LEONARDO, KAMU ITU KAN LAKI-LAKI YANG BIASANYA TEGAS, BIJAKSANA! TAPI KALI INI KAMU BEGO BANGET! KAMU BIARKAN ANAK KANDUNGMU SENDIRI PERGI DARI RUMAH INI DALAM KEADAAN NANGIS-NANGIS CUMA KARENA FITNAH BODOH?!" seru Amira .

Hening. Ucapannya itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

"Jadi... kamu sudah ketemu Dinda?" tanya Liana dengan wajah sendu.

"IYA! AKU KETEMU DIA DUDUK DI PINGGIR JALAN, PANAS-PANASAN, BAWA KOPER, NANGIS BEGITU! YA ALLAH, LIAT WAJAH ANAK ITU HATI AKU SAKIT BANGET! KALIAN TAU GAK SIH DIA ITU ANAK SEBAIK APA?!"

Amira melangkah maju, menunjuk wajah Liana.

 "Kamu Liana! Kamu ibunya! Kamu tega tampar dia?! Kamu tega tuduh dia pencuri cuma karena omongan Nayla?! Kamu lebih percaya anak yang baru beberapa hari kamu kenal sifat aslinya, daripada darah daging sendiri yang baru pulang?! Itu namanya bukan sayang, itu namanya BUTA!"

Nayla yang berdiri di belakang mencoba membela diri. "Tante Amira... itu memang beneran Dinda yang..."

Amira Menoleh tajam ke arah Nayla, suaranya meninggi "DIAM KAMU! ANAK TAK TAU DIRI! JANGAN BICARA KALO BELUM TANYA! AKU GAK PERCAYA OMONGAN KAMU! DARI AWAL AKU UDAH LIAT MATA KAMU ITU PENUH DENGAN KEBOHONGAN DAN IRI DENGKI .

Nayla mundur ketakutan, wajahnya pucat.

 "Dinda cerita semuanya sama aku! Dia bilang kalian menghakimi dia sepihak! Kalian gak mau denger penjelasannya! Cuma karena Nayla udah lama tinggal di sini, kalian anggap dia suci?! Padahal Dinda itu anak yang jujur! Walaupun dia hidup susah, dia gak pernah ngambil barang orang lain! Beda jauh sama yang punya hati busuk!"

Pak Bram dan Pak Sam yang berdiri di dekat pintu mendengar itu langsung kaget dan marah besar.

"Apa?! Kalian menuduh Dinda mencuri?! Kalian biarkan dia pergi?!" tanya pak Sam menatap ke arah mereka satu persatu .

Pak Bram: "Ya Ampun... Kami pikir kalian beneran sayang sama dinda tulus . Ternyata kalian menyakiti anak baik itu?! Dinda itu anak yang sopan, rajin! Mana mungkin dia mencuri?!"

 "Bener itu! Leonardo! Kamu ayahnya! Kenapa kamu diam aja?! Kenapa kamu gak cari kebenaran?! Kamu biarin anak kamu dihina jadi pencuri?! tega sekali kalian !!"

Air mata Amira menetes karena emosi.

"Dinda bilang... dia lebih nyaman tinggal sama Bu Sari dan Pak Agus. Karena di sana walaupun miskin, gak ada yang menuduh seenaknya. Di sini? Di rumah mewah ini? Hati dia sakit ! Kalian itu keluarga terkenal baik, tapi perlakuannya ke anak sendiri sekejam ini. !"

Liana sudah menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan tangan. Ia sadar ia melakukan kesalahan besar. Leonardo pun menunduk dalam, tangannya mengepal kuat karena marah pada dirinya sendiri.

"Sekarang dengerin aku! Aku gak terima ini! Kalian harus perbaiki ini sekarang juga! Kalian harus jemput Dinda! Kalian harus minta maaf! Dan kalian harus bongkar siapa pelaku aslinya! Jangan sampai anak baik itu diinjak-injak nama baiknya!" seru Amira langsung menatap tajam kearah Nayla.

 Mobil Leonardo melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sederhana tempat tinggal Bu Sari. Hati Liana dan Leonardo berdebar kencang, campuran antara rasa cemas, takut, dan penyesalan yang mendalam. Mereka baru sadar betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat.

Mobil pun berhenti di depan pagar kecil itu. Mereka turun dan berjalan cepat menuju teras. Leonardo mengangkat tangannya dan mengetuk pintu dengan pelan namun gemetar.

Tok... Tok... Tok...

Belum lama berselang, pintu terbuka. Bu Sari muncul di ambang pintu. Wajahnya terlihat lelah namun tetap sopan menyambut kedatangan mereka.

 "Tuan... Nyonya..." sapanya pelan.

Tanpa banyak bicara, Leonardo dan Liana langsung melangkah masuk. Mata Liana langsung tertuju ke ruang tamu.

Di sana, terlihat Dinda sedang duduk di sofa bambu. Punggungnya tampak kecil dan rapuh. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, hampa, dan mati. Matanya masih terlihat sangat bengkak dan merah padam bekas menangis terus-menerus.

Pemandangan itu bagaikan pisau yang mengiris jantung Liana.

"Dinda... Sayang..." panggil Liana dengan suara bergetar, air matanya langsung jatuh lagi.

Dinda tersentak sedikit. Ia perlahan menolehkan kepalanya, menatap kedatangan ibu dan ayah kandungnya itu. Namun tidak ada senyum, tidak ada harapan. Hanya ada tatapan kecewa yang dalam.

Dinda Bergumam pelan "Mama... Papa..."

Liana tidak tahan lagi. Ia langsung berlutut di hadapan Dinda, memeluk kaki anaknya sambil menangis tersedu-sedu.

"Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama! Mama salah! Mama jahat! Mama buta hati sudah menuduh mu begitu! Maafkan Mama ya Sayang..."

Leonardo pun ikut berjongkok di sebelah istrinya, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan Papa juga, Nak. Papa gagal jadi ayah yang adil. Papa seharusnya percaya sama kamu. Papa minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu."

Suasana menjadi sangat haru. Bu Sari dan Pak Agus yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menunduk dan ikut merasa sedih melihat pemandangan itu.

Namun Dinda tetap diam. Ia tidak membalas pelukan Liana. Ia hanya menatap mereka dengan wajah datar. Kata maaf itu terdengar indah, tapi luka di hatinya masih sangat basah dan perih.

"Kenapa Mama dan Papa datang ke sini? Bukankah di sana sudah ada Nayla? Dia yang benar, dia yang baik. Dinda kan pencuri... Dinda kan jahat..." ucap Dinda pelan namun setiap kata menusuk hati mereka.

 "Bukan begitu Nak, dengar Papa. Itu semua salah paham. Kamu tidak bersalah. Papa yakin kamu tidak mengambil cincin itu. Itu semua fitnah, Nak."

 "Tapi tadi... tadi Papa dan Mama percaya sama Nayla. Dinda sudah jelaskan berkali-kali, tapi kalian tetap tuduh Dinda. Dinda sakit hati, Pa... Ma... Dinda sakit sekali rasanya."

Air mata Dinda kembali menetes, kali ini lebih deras.

"Di sini Dinda merasa tenang. Bapak dan Ibu Sari tidak pernah menuduh Dinda seenaknya. Mereka sayang Dinda apa adanya. Kalau di rumah... Dinda takut. Dinda takut kalau ada barang hilang lagi, Dinda yang pertama kali dituduh."

"Tidak akan terjadi lagi, Sayang! Janji sama Mama! Tidak akan ada lagi yang berani menyakiti kamu! Kita akan bongkar kebenarannya! Ayo pulang sama Mama ya? Ayo pulang..."

Liana mencoba memegang tangan Dinda, namun Dinda perlahan menarik tangannya menjauh.

 "Dinda belum siap, Ma... Dinda mau di sini dulu. Dinda butuh waktu buat sembuhin hati Dinda. Tolong... biarkan Dinda di sini dulu."

Jawaban itu membuat Liana dan Leonardo semakin terpukul. Anak mereka belum mau memaafkan mereka. Dan mereka sadar, kepercayaan yang hilang tidak bisa dibangun kembali hanya dengan kata maaf dalam sekejap.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!