Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikaplah Layaknya Tamu
Sementara itu, di lantai bawah. Tepatnya di meja makan, sang ibu dan kakaknya sudah siap.
Jovina sedang sibuk menata dan menyiapkan sarapan pagi khusus untuk kedua putra kesayangannya.
Sedangkan Chandra seperti biasa. Setia membantu ibunya mengangkat makanan dan menyiapkan di atas meja.
"Chandra, lebih baik kau bangunkan adikmu. Suruh adikmu untuk sarapan. Semalam adikmu tidak ikut makan malam. Ibu tidak mau dia kembali sakit," tutur Jovina dengan wajah yang tampak sangat khawatir.
"Baiklah, Bu."
Tanpa banyak bicara lagi, Chandra langsung naik menuju kamar Judika di lantai dua.
^^^
Sesampainya di depan pintu kamar adiknya, Chandra melihat celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Judika sudah tampak rapi dengan seragam sekolahnya, dan kini sedang asyik memasang tali sepatunya.
TOK..
TOK..
TOK..
"Dika, ini kakak. Kakak masuk ya!" teriak Chandra memberi peringatan.
CKLEK..
Pintu dibuka perlahan oleh Chandra, dan dia memberanikan diri memasuki wilayah pribadi adiknya itu.
"Kau sudah rapi ternyata. Kakak pikir kau masih tidur. Kakak ke kamarmu ingin membangunkanmu," ucap Chandra lembut.
Chandra kemudian mendekat dan duduk di samping adiknya. Tangannya refleks bergerak mengelus rambut hitam legam milik adiknya.
Namun sama sekali tidak ada respon. Judika hanya diam dan sama sekali tak menghiraukan ucapan maupun sentuhan dari Chandra.
"Oh ya. Ibu sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita. Kita sarapan yuk. Kakak tidak mau kau kembali jatuh sakit lagi," Chandra sekali lagi mencoba merayu.
Sekali lagi Judika mengabaikan kakaknya itu seolah dia adalah udara di ruangan ini.
Setelah sepatunya terpasang rapi, Judika mengambil tas sekolahnya. Kemudian dia berjalan keluar kamar meninggalkan Chandra yang masih duduk terpaku di tepi kasur.
"Sampai kapan kau akan mengabaikan kakak, Dika? Apa tidak ada kata maaf darimu untuk kakak dan ibu?" batin Chandra merasa sakit hati.
^^^
Judika sudah sampai di lantai bawah. Dia melangkahkan kakinya lurus ke arah ruang makan, atau lebih tepatnya menuju ke arah kulkas besar yang ada di sudut ruangan. Tangannya langsung bergerak membuka pintu kulkas tersebut.
Jovina yang menyadari kedatangan putra bungsunya langsung bergegas menghampiri.
"Sayang," panggil Jovina sembari mencoba mengelus rambut Judika dengan lembut.
Sekali lagi Judika menghindar dan tidak menghiraukan panggilan ibunya itu. Dia langsung mengambil satu botol susu pisang berukuran 250ml yang menjadi minuman kesukaannya dari dalam kulkas.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Judika pun menutup pintu kulkas tersebut dengan sedikit keras.
Tanpa menuangkan ke dalam gelas terlebih dahulu, Judika langsung meneguk isi botol itu langsung dari kemasannya. Dia kembali melangkah menuju pintu utama sambil memegang botol susunya.
"Judika!" panggil Jovina semakin panik melihat sikap dingin putranya.
Langkah Judika terhenti sejenak. Tanpa membalikkan badannya, dirinya pun menjawab dengan nada suara yang sangat ketus dan dingin.
"Ada apa?"
"Sarapan dulu sayang. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu," kata Jovina yang menatap sedih punggung putra bungsunya itu.
"Aku tidak lapar. Kalau aku lapar, aku bisa masak sendiri atau pesan antar. Lebih baik anda urusi saja putra kesayangan anda itu," jawab Judika dengan nada sinis.
"Kau juga putra ibu, Nak!" sela Jovina yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku tidak punya ibu. Ibuku sudah lama pergi meninggalkanku. Dia tidak menginginkanku. Dia pergi bersama putra kesayangannya. Aku sudah terbiasa hidup tanpanya dan aku tidak ingin dia kembali dalam hidupku," jawab Judika dengan dingin tanpa sedikit pun rasa belas kasihan.
"Judika!" teriak Chandra yang baru saja tiba dan mendengar ucapan adiknya itu.
"Jaga bicaramu! Bagaimana pun dia adalah ibumu. Ibu yang sudah melahirkanmu!" bentak Chandra tak terima ibunya dihina.
Judika membalikkan badannya dengan cepat, lalu menatap tajam ke arah ibu dan kakaknya. Tatapannya penuh kebencian yang selama ini dia pendam.
"Dia ibumu bukan ibuku! Kalau dia merasa sebagai seorang ibu, dia tidak akan mungkin meninggalkanku bersama ayah yang saat itu seperti iblis. Seorang ibu pasti akan melakukan apapun agar kedua anaknya ikut bersamanya. Tapi dia lebih memilih mendengarkan perkataanmu dan meninggalkanku. Dan sekarang dia kembali... tepat setelah apa yang dilakukan pada ayahku. Ibumu sudah membunuh ayahku!" teriak Judika meluapkan semua emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
Plaakk..
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Chandra reflek menampar wajah adiknya.
"Chandra!" teriak Jovina lalu kakinya melangkah mendekati putra bungsunya.
"Sayang. Kau tidak apa-apa, Nak!" tanya Jovina yang menangis memandangi wajah putra bungsunya itu.
Judika menatap tajam wajah kakaknya dan jangan lupakan setetes liquid bening mengalir dari mata indahnya dan membasahi wajah tampannya.
Chandra yang menyadari telah menyakiti adiknya, tangannya terangkat untuk mengelus pipi adiknya yang kena tamparannya itu.
Bugh..
Judika dengan marahnya langsung memberikan pukulan di pipi kakaknya sehingga membuat kakaknya meringis kesakitan.
Jovina seketika langsung menutup mulutnya ketika melihat putra bungsunya memukul wajah putra sulungnya. Dia tidak marah akan sikap putra bungsunya karena putra sulungnya yang terlebih dahulu bermain tangan.
Sementara Chandra! Dia seketika mematung di tempatnya. Dia terkejut karena adiknya membalas tamparannya dengan pukulan keras.
Namun Chandra tidak marah apalagi sakit hati. Baginya dia memang pantas mendapatkan pukulan dari adiknya karena dia yang salah karena tidak bisa bersikap sabar dan terlalu gampang tersulut emosi.
"Kau dengar aku baik-baik, Chandra Wiguna! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu dan juga ibumu. Ditambah dengan sikap burukmu padaku!"
"Tamparan hari ini sudah aku balas, dan untuk tamparan yang kemarin, aku akan membayar jika kau mengusik kehidupanku. Aku mengizinkanmu dan ibumu tinggal disini, bukan berarti kalian bebas melakukan apapun disini, terutama mengusikku. Bersikaplah layaknya tamu di rumah ini!"
"Judika," lirih Chandra.
Sementara Jovina sudah menangis terisak mendengar ucapan kejam dari putra bungsunya.
"Aku begitu membenci kalian. Selamanya akan seperti itu!" bentak Judika dengan sorot matanya yang tajam dan disertai dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Setelah mengatakan itu, Judika pun pergi meninggalkan ibu dan kakaknya yang masih diam mematung di tempatnya.