"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabit di Balik Senyum Manis
Gue memacu SUV hitam itu membelah kemacetan Jakarta menuju kantor Atmaja Group. Tapi, baru saja gue mau naik ke jalan layang, ponsel gue bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari Kenji.
"Tuan Muda! Jangan ke kantor! Akses jalan ke sana disabotase, jembatan utama baru saja diledakkan musuh! Mereka mau mengisolasi Anda di jalanan!" teriak Kenji di seberang sana.
"Sial!" gue banting setir ke kiri, ban mobil menjerit di aspal.
Gue terpaksa putar balik melewati jalan tikus yang sepi di pinggiran kota untuk mencari jalur alternatif. Jalanan ini diapit gudang-gudang tua yang sudah nggak berpenghuni. Sepi banget, bahkan suara angin pun kedengaran jelas.
Tiba-tiba, di tengah jalan, berdiri seorang wanita. Gue langsung injak rem mendalam.
CIIIITT!
Wanita itu diam di sana. Dia cantik, sangat cantik dengan rambut panjang yang tertiup angin. Wajahnya manis, matanya teduh, dan dia memakai gaun putih sederhana yang membuatnya kelihatan sangat rapuh. Gue turun dari mobil, tangan gue tetap siaga di balik pinggang.
"Maaf, Mas..." suaranya lembut banget, kayak sutra. "Boleh minta waktunya sebentar? Saya sedang mencari seseorang, dan sepertinya Mas tahu di mana dia."
Gue mengernyit. "Siapa? Gue lagi buru-buru."
"Kian," ucapnya pelan. Namanya disebut, jantung gue rasanya kayak dihantam palu. "Kian akhir-akhir ini nggak ada kabar. Terakhir yang saya dengar, dia sudah... pergi jauh. Dan kabar yang sampai ke saya, Mas-lah atasannya."
Gue tertegun. Gue nggak pernah tahu Kian punya hubungan pribadi sedalam ini. "Lu... siapa?"
"Nama saya Hana," dia tersenyum manis, tapi matanya mulai berkaca-kaca. "Saya tunangannya. Kami seharusnya menikah bulan depan. Tapi sekarang, kenapa bau darah Kian menempel sangat kuat di baju Mas?"
Gue narik napas berat. "Hana, dengerin gue. Kian itu—"
Belum sempat gue nyelesain kalimat, aura di sekitar Hana berubah total. Kelembutan itu menguap, berganti jadi hawa membunuh yang bahkan lebih tajam dari sniper Reno. Dari balik lengan gaunnya yang lebar, meluncur sebuah belati berbentuk sabit—karambit ganda yang berkilauan perak.
SRET!
Dia menyerang secepat kilat. Gerakannya bukan gerakan manusia biasa, dia melenting di udara, mengincar leher gue. Gue menghindar tipis, tapi ujung sabitnya sempat menyambar kerah baju gue.
"Hana, berhenti! Ini bukan kayak yang lu pikir!" teriak gue sambil menangkis serangannya pakai lengan bawah yang masih terbebat perban.
"Pembohong!" Hana berteriak, suaranya yang lembut kini melengking penuh kepedihan. "Dia setia padamu, dia memberikan nyawanya untukmu! Kalau dia pergi, seharusnya kamu juga ikut bersamanya! Kamu harus menemani Kian sekarang!"
Dia menyerang lagi, membabi buta tapi sangat terukur. Ini teknik Assassin tingkat tinggi. Setiap sabetannya mengincar urat nadi. Gue terdesak, bukan karena gue nggak bisa lawan, tapi karena gue nggak tega buat nyakitin tunangan sahabat gue sendiri yang lagi hancur hatinya.
"Hana! Kian mati sebagai pahlawan! Dia mati jagain gue dan keluarga gue!" gue teriak sambil menangkap pergelangan tangannya. "Lu pikir dia bakal seneng liat lu jadi pembunuh kayak gini?!"
"Dia mati karena kelemahanmu!" Hana menendang dada gue, membuat gue terpental menghantam bodi mobil.
Gue batuk darah. Luka dari gudang kemarin terbuka lagi. Pandangan gue mulai kabur karena sisa pengaruh jentikan jari pria bertopeng itu masih ada di saraf gue. Hana berdiri di depan gue, mengangkat sabitnya tinggi-tinggi, matanya penuh air mata kemarahan.
"Maafkan aku, Kian... aku akan membawanya padamu," bisiknya.
Gue mencoba berdiri, tangan gue gemeteran. "Hana... kalau lu bunuh gue sekarang, orang yang bener-bener bunuh Kian bakal tepuk tangan. Namanya Sakti Langit. Dia yang harus lu incar, bukan gue!"
Hana terhenti sejenak. Nama itu sepertinya memberikan reaksi di matanya. Tapi sabit itu tetap diarahkan ke jantung gue. Gue cuma bisa pasrah, gue terlalu lemah buat bertarung lagi sekarang.
CLING!
Suara benturan logam itu memekakkan telinga. Belati sabit Hana yang tinggal satu inci dari jantung gue mendadak terpental oleh sebuah peluru perak yang melesat tepat sasaran.
"Hooo, slow down, wahai Tuan Putri. Cantik-cantik kok hobi main potong-potongan," sebuah suara bariton yang renyah muncul dari balik kabut jalanan.
Gue menoleh. Seorang pria berjalan santai ke arah kami. Penampilannya gila, gue pikir ada aktor Korea nyasar ke medan perang. Dia memakai turtle neck putih bersih, dibalut long coat putih yang elegan, bahkan rambut dan celananya pun putih. Kontras banget sama gue yang udah kotor berlumuran darah dan debu.
"Lu... siapa lagi?" tanya gue sambil megangin dada gue yang sesak.
Pria itu tersenyum manis, tipikal senyum yang bisa bikin cewek-cewek pingsan dalam sekali liat. Dia jalan ke arah jasad Baron yang ada di memori gue, lalu menatap langit sebentar.
"Kenalin, gue Leo. Adiknya Baron yang paling ganteng sejagat raya," ucapnya santai, tapi ada kilatan cerdik di matanya—persis kayak Baron, tapi jauh lebih liar. "Gaya bicara gue emang rada santai gini, Tuan Muda. Tapi tenang, loyalitas gue sama putihnya baju gue ini... nggak bernoda."
Hana kembali memasang kuda-kuda, matanya merah menatap Leo. "Minggir, Putih! Dia harus bayar nyawa Kian!"
Leo malah tertawa kecil, dia maju selangkah dan ngedip ke arah Hana. "Aduh, bidadari kalau lagi marah makin menggoda ya. Tapi seriously, nggak ada gunanya lu bunuh dia. Dia itu aset, bukan target. Lagian, kalau lu bunuh dia sekarang, siapa yang bakal nganter lu ke depan muka orang yang beneran nusuk Kian?"
Hana terdiam, sabitnya masih bergetar.
"Gue pemimpin Pasukan Serigala Putih," lanjut Leo, suaranya mendadak berubah jadi dingin dan berwibawa meski tetap gaya bahasa gaulnya kental. "Dan gue nggak suka ngeliat orang berbakat kayak lu buang-buang tenaga buat dendam yang salah sasaran. Kian itu sahabat gue juga, meski dia emang rada kaku orangnya."
Leo melirik ke arah mobil gue, lalu ke arah gedung-gedung yang memantau kami.
"Sepertinya perbincangan kita lebih baik di tempat tertutup, Tuan Muda, Tuan Putri," Leo membungkuk sopan kayak pelayan kerajaan, tapi tangannya udah siaga megang pistol perak di balik koat-nya. "Aku sudah menyediakan ruangannya. Tempat yang nggak bakal bisa ditembus bahkan oleh jentikan jari si Bertopeng itu."
Gue narik napas panjang. "Leo, kenapa baru muncul sekarang?"
"Namanya juga agen elit, Tuan Muda. Datangnya harus pas di momen klimaks dong, biar vibe-nya dapet," dia nyengir, terus natep Hana lagi. "Gimana, Tuan Putri? Mau ikut gue atau mau terus-terusan nangis di jalanan ini? Di tempat gue ada kopi enak, pas buat nenangin hati yang lagi broken."
Hana perlahan menurunkan sabitnya. Dia sadar kalau Leo bukan lawan sembarangan. Gue pun merasa sedikit tenang, meski kematian Baron masih jadi lubang besar di hati gue, kehadiran adiknya ini seolah kasih napas baru buat perjuangan gue.
"Oke, bawa kami ke sana," ucap gue tegas.
"Siap, Bosque! Let's go," Leo menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap, tiga mobil SUV putih muncul dari balik bayangan gedung, mengepung kami dengan formasi pelindung yang sempurna.