NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkejaran Dengan Waktu

Axel duduk di tepi tempat tidur. Kamar ini adalah bagian dari rumah yang ia beli khusus untuk Livia. Saat ia melangkah masuk hari ini, ia disambut oleh kesunyian. Ruangan itu sunyi senyap, kehidupan telah ditarik paksa darinya dalam beberapa malam.

Ia membuka lemari pakaian besar di ruang walk in closet. Kosong. Hanya menyisakan beberapa gantungan baju yang tidak berpakaian. Tidak ada lagi wangi parfum bunga ringan milik Livia yang biasanya memenuhi kamar ini. Axel beralih ke meja rias, tidak ada produk perawatan kulit yang berjejer rapi, tidak ada sisir, dan yang paling mencolok, tidak ada satu pun foto mereka berdua.

Axel mengacak rambutnya dengan frustrasi. Selama beberapa hari terakhir, ia merasa seperti orang gila yang mengejar bayangan. Awalnya ia sangat yakin Livia hanya sedang merajuk. Ia berpikir Livia pasti lari ke rumah orang tuanya, mengadu tentang hubungan Axel dan Elena yang menurut Livia ada apa-apanya. Akan tetapi ketika ia mendapatkan telepon tempo hari, telah menghancurkan asumsinya itu.

"Axel, Nak...bagaimana kabar Livia? Mama telepon berkali-kali tidak diangkat. Apakah persiapan pernikahan kalian lancar? Mama dan Papa sudah tidak sabar menunggu hari besar itu," suara ibu Livia terdengar sangat ceria di seberang telepon, sama sekali tidak tahu bahwa putri mereka telah menghilang.

Axel terpaksa menelan ludah, memaksakan suaranya terdengar setenang mungkin. "Ah, iya, Ma. Livia baik-baik saja. Dia sedang sangat sibuk dengan desainer gaun pengantinnya. Ponselnya mungkin tertinggal di mobil. Semuanya lancar, Ma, jangan khawatir."

Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Begitu telepon ditutup, Axel hampir membanting ponselnya ke lantai pada saat itu. Di mana Livia? Bagaimana mungkin seorang wanita yang biasanya selalu bisa ia lacak keberadaannya, kini menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi?

Axel mulai merindukan hal-hal yang dulu membuatnya kesal. Livia adalah wanita yang penuh rasa ingin tahu, seorang yang suka bereksperimen yang seringkali membuat Axel pusing dengan keribetannya. Ia ingat bagaimana Livia pernah mencoba memasak hidangan eksotis yang membuat dapur mereka hampir terbakar, atau bagaimana Livia sering cerewet menanyakan detail jadwal harian Axel karena ingin mengatur kejutan-kejutan kecil yang menurut Axel sangat kekanakan.

"Biasanya dia akan mengirimiku pesan setiap jam. Biasanya dia akan memintaku pulang cepat hanya untuk melihat bunga baru yang ia tanam di taman belakang." Gumam Axel.

Sekarang keribetan itu hilang. Dan hilangnya kebisingan itu justru membuat Axel merasa kehilangan arah. Harga dirinya sebagai seorang pria terusik, bagaimana mungkin Livia berani meninggalkannya? Siapa yang berani menyembunyikan tunangannya?

Di tengah rasa frustrasinya, ponsel Axel bergetar di saku celana. Nama Elena muncul di layar. Ia segera mengangkatnya.

"Halo, Elena? Ada apa?"

"Axel..hiks..."

Jantung Axel berdegup kencang. "Elena? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"

"Aku baru saja bertemu dengan Livia. Dia seperti orang yang berbeda. Livia menemuiku hanya untuk mengambil kalung Zambrud miliknya yang sedang aku pinjam. Dia seperti orang yang berbeda, Axel. Caranya mengambil kalungnya, aku seperti tak mengenal Livia."

Mendengar nama Livia disebut, hati Axel bercampur aduk. "Livia menemuimu? Di mana dia sekarang?! Mengapa dia sampai berbuat kasar padamu?"

"Aku tidak tahu, Axel... Aku hanya mencoba menyapanya dengan baik, aku mengkhawatirkannya karena dia menghilang berhari-hari. Tapi dia malah menghinaku. Dia bilang aku sampah, dan dia bilang kau juga sampah yang pantas bersamaku," Elena terus mengadu, suaranya dibuat sedemikian rupa agar terdengar seperti korban yang sangat peduli namun teraniaya.

"Aku tidak peduli dengan kata-katanya yang terlontar, sungguh. Tapi aku takut dengan keadaan mental Livia. Dia seperti sedang bersama orang-orang berbahaya. Sebaiknya kau kesini, Axel."

"Tetap di sana, Elena. Jangan ke mana-mana. Aku akan segera ke tempatmu!" Axel memutus panggilan dan segera berlari menuju mobilnya.

Axel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota. Pikirannya kalut. Livia muncul dan memperlihatkan sisi yang tidak Elena ia kenal. Memangnya Livia berubah seperti apa? Dan siapa orang-orang berbahaya yang mengawalnya?

Pikiran Axel terbang ke berbagai kemungkinan, namun tidak satu pun yang mengarah pada sosok Morenzo, pria yang namanya saja sudah cukup membuat para pengusaha di kota itu gemetar. Axel mengira Livia mungkin sedang berada di bawah pengaruh teman-teman lamanya atau mungkin sedang berusaha membalas dendam dengan cara yang nekat.

Begitu sampai di lokasi, Axel melihat Elena duduk di sebuah kursi di depan butik, memegang lehernya yang ditutupi syal tipis. Axel segera menghampirinya.

"Elena! Mana dia? Mana Livia?" tanya Axel tanpa basa-basi.

Elena mendongak, matanya sembap. Ia menunjukkan bekas kemerahan di lehernya akibat tarikan paksa kalung itu. "Dia sudah pergi, Axel. Dia pergi dengan mobil mewah yang dikawal ketat. Dia bahkan tidak mendengarkan penjelasanku tentang betapa kau sangat mencarinya."

Axel mengepalkan tinjunya. "Dia berani melukaimu..."

"Bukan itu yang aku khawatirkan, Axel," Elena memegang lengan Axel dengan lembut, berusaha menanamkan racun di pikiran pria itu.

"Aku takut Livia terjerumus ke dunia hitam. Dari mana dia mendapatkan uang dan pengawalan seperti itu dalam beberapa hari? Aku takut dia melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Kau harus membawanya pulang sebelum dia semakin hancur."

Axel menatap jalanan kosong di depannya. Kata-kata Elena membakar ego kelakian. Livia adalah miliknya. Harta milik Axel. Dan jika Livia sekarang berada di tangan orang lain atau bersikap membangkang, Axel merasa wajib untuk menyeretnya kembali ke dalam kendalinya.

"Dia tidak akan pergi jauh. Aku akan mencarinya ke lubang tikus sekalipun. Jika dia pikir dia bisa berubah menjadi wanita kuat hanya karena beberapa pengawal, dia salah besar. Dia tetaplah Livia yang selalu bergantung kepadaku."

Elena memberikan senyum rahasia yang tak terlihat oleh Axel. Ia tahu betul bagaimana cara memanipulasi kemarahan Axel. Baginya, semakin Axel marah pada Livia, semakin jauh jarak di antara mereka, dan semakin aman posisinya sebagai rumah bagi Axel.

Namun, baik Axel maupun Elena tidak menyadari satu hal.

Di kejauhan, di dalam sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap yang terparkir cukup jauh, seorang pria dengan alat komunikasi di telinganya sedang memperhatikan mereka.

"Lapor. Target Axel telah bertemu dengan Elena. Mereka tampak sedang merencanakan sesuatu untuk mencari Nyonya."

Di seberang jalur komunikasi, di sebuah ruangan kerja yang gelap dan mewah, Morenzo duduk sambil memutar-mutar gelas wiski di tangannya. Ia mendengarkan laporan itu dengan senyum miring yang mematikan.

"Biarkan saja. Biarkan anjing-anjing itu menggonggong. Aku ingin melihat seberapa berani mereka saat mereka menyadari bahwa mangsa yang mereka cari sekarang adalah ratu di istanaku."

Morenzo melirik jam di tangannya. Pukul 18.30.

"Pastikan Nyonya Morenzo sudah berada di dalam gerbang dalam tiga puluh menit ke depan. Jika tidak, aku sendiri yang akan menjemputnya dan meratakan siapa pun yang menghalangi jalannya."

Livia sendiri saat itu sedang berada di dalam mobil, memegang kalung miliknya erat-erat. Ia melihat ke arah luar jendela, menyadari mobilnya sedang melaju cepat kembali menuju mansion Morenzo. Perasaan puas setelah menghadapi Elena tadi memudar, terganti oleh rasa tegang yang merayap saat ia melihat jarum jam.

"Pukul enam lewat empat puluh lima menit," gumam Livia.

Livia teringat poin pertama dalam buku aturan Morenzo. Keterlambatan satu detik dianggap sebagai pembangkangan.

"Pak, bisa lebih cepat?" tanya Livia pada sopir di depannya.

Sopir itu yang tidak pernah tersenyum, hanya melirik sekilas melalui spion tengah. "Tuan Morenzo tidak suka jika kami melanggar batas kecepatan, Nyonya. Tapi beliau jauh lebih tidak suka jika Anda terlambat. Kami akan sampai tepat waktu."

Livia bersandar di kursinya, mengatur napasnya yang memburu karena berkejaran dengan waktu. Apalagi Livia teringat pesan rindu dari Morenzo beberapa menit lalu, membuatnya semakin tegang.

Bersambung.

1
Tevina Anggita
iyaa ih,lanjutt thorr
Ariany Sudjana
kirain beneran akan mulai dari nol, ternyata masih minta bantuan si pelacur murahan itu 😂😂 kamu yakin si pelacur murahan itu akan membantu kamu, setelah tahu kamu jatuh miskin Axel?
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
poin apaan ini? semuanya hanya menguntungkan sepihak /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
itu bukan ancaman. tapi bukti jika kamu telah di buang
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
emang kamu pikir, kamu sepenting itu bagi livia /Proud//Proud/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
ingin apa hayooo /Chuckle//Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku tahu, moren pasti berharap jika livia mengobatinya dengan kembali menciumnya kan 🤭🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
hooh, kayaknya percuma juga bicara di tempat lain. karena pada kenyataannya udara dan tembok pun, bisa menjadi mata-mata untuk moren
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
langsung dapat yang lebih baik, walaupun di perkirakan akan sangat amat posesif 🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
wajarkan takut dan berpikir macam-macam /Facepalm/
Tevina Anggita
fiksssss udahh kecintaan bgtt inii pasutri baruu😍😍😍🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aslinya mah kau mau jejingkrakan kan
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk film kartun dng 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
untung bukan tuk tik tak tik tuk
〈⎳ FT. Zira
sling serang mereka/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
said NOooo...
Ariany Sudjana
wah habis kamu Axel 😄
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
Zenun: siyaaap
total 1 replies
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Zenun: Gatau tuh Livia dapet referensi darimana. Makanya Morenzo mengumpat sambil ketawa
total 1 replies
Tevina Anggita
lanjutt💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!