NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas kesabaran

Seluruh kantin yang tadinya bising mendadak senyap. Ribuan pasang mata tertuju pada Lara yang terduduk lemas di lantai dan Manda yang masih duduk santai sambil pura-pura memperbaiki posisi kakinya.

​"Ups, maaf ya. Lantainya licin atau kamu yang nggak punya mata kalau jalan?" sindir Manda dengan senyum kemenangan yang sangat tipis, nyaris tak terlihat.

​Dewi, Sera, dan Arni yang melihat itu langsung berdiri dengan wajah penuh amarah. "Eh, Manda! Gue lihat ya, lo sengaja nyilangin kaki!" seru Sera berang.

​Namun, sebelum teman-teman Lara sempat melabrak lebih jauh, sebuah bayangan besar menyelimuti tempat Lara terjatuh. Udara di sekitar sana mendadak terasa dingin dan mencekam. Baskara, yang tadi hanya berjarak beberapa langkah di belakang Lara, berdiri mematung dengan tatapan mata yang bisa membunuh siapa pun yang melihatnya.

​Baskara tidak langsung membentak. Ia berlutut di samping Lara, tidak mempedulikan celana kain mahalnya yang kini kotor terkena tumpahan minuman.

​"Ada yang sakit?" tanya Baskara. Suaranya sangat rendah, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. Ia memeriksa telapak tangan Lara yang kemerahan dan sedikit berdarah karena terkena gesekan lantai.

​Lara hanya menggeleng pelan, wajahnya memerah karena malu dan syok. "Nggak apa-apa, Kak... cuma kaget."

​Baskara membantu Lara berdiri dengan sangat hati-hati. Setelah memastikan Lara stabil, ia berbalik menghadap Manda. Aura kepemimpinan Baskara yang biasanya tenang kini berganti menjadi intimidasi yang nyata.

​"Manda," panggil Baskara. Hanya satu kata, tapi sanggup membuat teman-teman Manda di meja itu langsung menunduk ketakutan.

​Manda mencoba tetap tenang, meski tangannya mulai gemetar di bawah meja. "Apa, Bas? Gue nggak sengaja. Dia aja yang jalan nggak lihat-lihat."

​"Cukup," potong Baskara dingin. "Saya melihat semuanya. Dan seluruh orang di kantin ini juga melihatnya. Kerusakan properti kantin, luka fisik pada asisten saya, dan tindakan tidak terpuji sebagai senior..."

​Baskara melangkah satu tindak lebih dekat ke meja Manda. "Mulai detik ini, lepaskan jabatanmu sebagai Koordinator Lapangan. Serahkan almamater dan id-card panitiamu ke ruang sekretariat sekarang juga. Kamu dinyatakan cacat organisasi dan saya akan memastikan namamu masuk ke dalam catatan hitam rektorat untuk beasiswa semester depan."

​"Bas! Kamu nggak bisa gitu cuma gara-gara cewek ini!" teriak Manda tidak terima.

​"Saya bisa. Karena saya ketuanya," jawab Baskara telak. "Dan satu lagi... kalau kamu berani menyentuhnya lagi, urusannya bukan lagi soal organisasi, tapi soal saya pribadi."

Keheningan di kantin begitu mencekam, bahkan suara denting sendok pun tak terdengar. Ribuan pasang mata menyaksikan bagaimana seorang Baskara yang selalu menjunjung tinggi aturan, kini bertindak atas nama perasaan. Ia tidak memedulikan Manda yang mulai terisak karena harga dirinya hancur, fokusnya hanya tertuju pada gadis di sampingnya.

​Baskara melingkarkan lengannya di bahu Lara, memapah gadis itu dengan sangat hati-hati. Ia memastikan berat badan Lara bertumpu padanya agar luka goresan di telapak tangan dan sedikit di kaki Lara tidak semakin perih saat berjalan.

​"Pelan-pelan," bisik Baskara lembut, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan luas itu.

​Sepanjang jalan menuju klinik kampus, tidak ada satu pun mahasiswa yang berani bersuara. Mereka memberikan jalan layaknya membelah lautan. Di belakang mereka, Randy menyusul dengan wajah serius, membawa tas Lara yang tertinggal di meja.

​Sesampainya di klinik, suasana jauh lebih tenang. Baskara mendudukkan Lara di atas ranjang periksa. Tanpa menunggu petugas medis, Baskara mengambil kotak P3K dan berlutut di hadapan Lara.

​"Sakit?" tanya Baskara sambil mulai membersihkan luka goresan gelas di telapak tangan Lara dengan cairan antiseptik.

​Lara sedikit meringis saat cairan itu menyentuh kulitnya. "Dikit, Kak. Sebenarnya nggak perlu sampai begini, aku bisa sendiri..."

​Baskara mendongak, menatap mata Lara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah, marah, dan protektif. "Saya sudah bilang untuk tetap di dekat saya, Lara. Melihat kamu terluka karena kelakuan orang-orang di organisasi saya... itu membuat saya merasa gagal."

​"Ini bukan salah Kakak," potong Lara cepat. Ia memberanikan diri menyentuh bahu Baskara dengan tangannya yang tidak terluka. "Kakak sudah menyelamatkan aku berkali-kali. Semalam, dan juga tadi."

​Baskara terdiam, lalu melanjutkan membalut luka Lara dengan sangat rapi dan telaten. Setelah selesai, ia menghela napas panjang dan menggenggam tangan Lara yang terbalut perban dengan sangat lembut.

​"Manda sudah lewat batas. Saya tidak akan membiarkan dia mendekatimu lagi, di mana pun. Mulai sekarang, saya sendiri yang akan memastikan kamu sampai di rumah dan di kampus dengan aman," ucap Baskara dengan nada janji yang tidak bisa diganggu gugat.

​Tiba-tiba, pintu klinik terbuka sedikit. Randy berdiri di sana dengan canggung. "Bas, Pak Dekan minta laporan penutupan sekarang. Tapi... kalau lo mau tetap di sini, biar gue yang urus dulu."

​Baskara melirik Lara, lalu kembali menatap Randy. "Tunggu lima menit. Saya antar Lara ke mobil dulu."

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!