Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 12
Rumi dan Mbak Yuli akhirnya tiba di rumah Bu Viona. Rumah yang paling besar di area perumahan yang masih berada di daerah tempat tinggal mereka. perumahan elit yang tidak sembarang orang bisa membeli rumah di sana. Rumah Bu Viona adalah yang paling besar diantara yang lainnya.
Mereka datang ke sana untuk membantu Bu Viona membuat kue dan juga cemilan lainnya. Karena di sana akan diadakan syukuran untuk menyambut kedatangan anak lelaki Bu Viona yang baru saja tiba dari luar negeri.
"Rumahnya besar sekali Mbak, apa kalau aku datang ke sini tidak akan membuat rumah ini kotor?" bisik Rumi merasa insecure dengan keadaannya.
"kita kan pakai sendal nggak nyeker," kekeh Mbak Yuli.
"Aish, bisa aja mbak Yuli ini!"
Bukan tanpa alasan Rumi berbicara seperti itu, karena pernah sekali dia ke rumah Mbak Hani. Saat dia datang ke sana bersama dengan suami dan juga keluarga Bu Sri. Mereka datang untuk syukuran acara pindahan rumah Mbak Hani ke tempat baru.
Namun, baru saja menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah, Mbak Hani meminta dia masuk lewat pintu belakang. Katanya jangan sampai lantai mahalnya kotor karena ada bekas kakinya Rumi. Sakit? Jelas, apalagi dia di rendahkan seperti itu di depan semua orang. Sedangkan Fathur? Jangan di tanya, karena dia lebih memilih menurut ucapan ibunya. Membiarkan dia masuk lewat pintu belakang. Dan setelahnya hanya mengatakan maaf.
"Kalian sudah datang? Sarapan dulu lalu langsung bantu yang lain ya! Jangan sampai kalian bekerja dalam keadaan perut kosong, nanti kalian malah sakit!" ujar Bu Viona saat melihat mereka datang.
"Masyaallah, terima kasih, Bu Viona!" jawab mereka masuk ke dalam dapur dan makan terlebih dahulu.
Rumi terlihat kebingungan saat akan mengambil lauk ke dalam piringnya. Karena di sana ada banyak makanan yang enak. Bahkan ada daging juga. Dia rasanya ingin sekali makan daging itu, namun urung dan tangannya hanya mengambil sayur saja. Tak enak juga harus mengambil ayam atau daging.
Apalagi selama ini dia terbiasa hanya makan bumbunya saja kalau di rumah mertuanya. Larangan baginya mengambil ayam atau daging di sana. Paling banter dia hanya boleh makan kentang.
"Rumi ..." panggil Bu Vania saat Rumi pergi ke belakang membawa piring.
"Iya Bu," jawab Rumi berbalik dan menghampiri Bu Viona.
"Jangan cuma ambil sayur! Aku masak semua ini untuk kalian semua! Ambil juga daging dan ayam!" Bu Viona memasukkan ayam dan daging ke dalam piring Rumi.
Mata Rumi berkaca-kaca saat melihat ada orang yang benar-benar sangat kaya tapi memanusiakan dirinya. Memperlakukan dirinya layak seperti orang lain. Di saat keluarga suaminya bahkan tak pernah menganggap dia benar-benar orang yang patut di hargai.
"Terima kasih, Bu ..." jawab Rumi menunduk, dia malu harus menangis di depan banyak orang.
"Nak, akhirnya kita akan makan daging untuk pertama kalinya," ucap Rumi mengusap perutnya yang masih rata.
"Makan yang banyak Rum, karena sepertinya kita akan banyak pekerjaan di sini. Beruntung Bu Viona adalah orang yang sangat baik, Bahkan dia menyediakan makanan untuk kita!" ujar Mbak Yuli.
"Iya mbak, aku merasa sangat beruntung bekerja di tempat Bu Viona. Selain mendapatkan atasan yang baik, aku juga mendapatkan rekan kerja yang sangat baik seperti Mbak Yuli. Terima kasih karena kalian menerima aku dengan baik tanpa mempermasalahkan apapun," ujar Rumi yang menjadi lebih melow.
Mungkin bawaan bayi yang ada dalam perutnya. Mbak Yuli memeluk Rumi, sedikitnya dia tahu cerita hidup Rumi dari Asti. Walau tak bertanya langsung, tapi Yuli menghargai Rumi yang bahkan tak pernah menjelekkan mereka yang sudah jahat padanya.
Mereka mulai bekerja membuat banyak cemilan di rumah Bu Viona. Ada beberapa kue ba-sah, kue dan juga cake yang di buat. Rumi merasa senang karena anaknya mengerti dengan keadaan ibunya yang sedang bekerja, dan selama bekerja, dia tak mengalami mual mun-tah seperti saat di rumah. dia bahkan terlihat sangat bugar dan bersemangat. Tidak terlihat lelah dan mudah capek seperti kebayakan wanita hamil lainnya.
"Rum, ibu boleh minta tolong bawakan ini ke paviliun belakang? Rajendra sedang bekerja di sana! Maaf ya soalnya yang lain sedang mengerjakan yang lain," ujar Bu Viona bahkan menyuruh Rumi dengan menyebutkan kata 'tolong' tak seperti orang-orang di rumah keluarga suaminya.
"Iya Bu, jangan bilang maaf seperti itu! Ini saya simpan di luar saja apa gimana Bu?" tanya Rumi takut salah.
"Berikan saja langsung, Rum kepada Rajendra!" jawab Bu Viona.
"Baik Bu," Rumi membawa nampan berisikan makan siang untuk Rajendra.
Rajendra merupakan anak pertama Bu Viona yang baru pulang dari luar negri setelah empat tahun. Rajendra pergi ke sana untuk melarikan diri dari kenyataan, istrinya meninggal. Kecelakaan bersama dengan seling-kuhannya. Sehingga hal itu membuat Rajendra terpukul dan malu.
Ternyata selama ini wanita yang dia anggap sangat mencintainya, rupanya hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Dia ternyata masih berhubungan dengan wanita di masa lalunya.
Rumi tiba di depan paviliun belakang yang di tunjuk oleh Bu Viona, sepi. Rumi sedikit bingung saat tiba di sana, mau mengetuk pintu tapi tak enak. Setelah beberapa saat akhinya dia mengetuk pintu.
Tok
tok
"Pak, maaf saya mau mengantarkan makanan!" panggil Rumi setalah beberapa kali mengetuk pintu belum di buka juga.
"Eh, maaf saya kira belum ada orang di dekat pintu, Pak!" Rumi kaget saat akan mengetuk lagi ternyata pintu di buka.
"Kamu siapa? Kamu bukan asisten di rumah Mama kan?" tanya seorang pria Tinggi dengan otot lengan yang kekar berdiri di depan Rumi.
Rumi tak melihat wajahnya, karena dia menunduk takut. Takut di usir dari rumah itu, semua tak lepas dari perlakuan yang dia terima selama ini.
"Iya Pak, saya bekerja di toko roti Bu Viona. Saya hari ini di minta kesini, dan sekarang di minta mengantarkan ini. Maaf ini saya simpan di mana ya, Pak?" Tanya Rumi sedikit gugup dan takut. Apalagi suara bariton Rajendra membuat dia takut.
"Bawa ke dalam!" jawabnya membuka pintu lebih lebar agar Rumi bisa masuk.
Rumi membawa nampan ke meja yang ada di ruang tengah. Dia menatap di atas meja dan mengambilkan juga air minum dan piring untuk Rajendra.
"Sudah Pak, saya permisi!" Pamit Rumi.
"Siapa namamu?" Tanya Rajendra saat Rumi sampai di ambang pintu.
"Arumi, Pak," jawab Rumi tanpa berbalik.
"Satu jam lagi bawa kembali piring dan gelas kotornya!"
"Baik, Pak!"
"Astagfirullah, deg-deg sekali aku. Takut sekali auranya Pak Rajendra itu seram," ucap Rumi mengusap da danya lega dan membuang napas.
"Kenapa Rum?" tanya Mbak Yuli.
"Nggak mbak, cuma aku sedikit takut saat mendengar suara Pak Rajendra itu!" Jawabnya jujur.
"Wah? katanya anak pertama Bu Viona itu sangat tampan loh!"
"Aku nggak tahu mbak, aku nggak berani lihat! Aku takut ... Apalagi orang-orang kaya biasanya tak akan pernah suka melihat aku yang hanya seperti ini, mbak!"
"Hush! Jangan bicara seperti itu! Hal itu berlaku hanya untuk keluarga suamimu!"
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/