Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kunjungan di Ambang Jendela dan Dua Kutub Darah
Cahaya matahari pagi yang tumpah ke dalam kamar Dara Kirana terasa seperti sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya. Setelah berhari-hari langit Lembah Marapi dikungkung oleh awan kelabu dan kabut tebal yang mencekik, sinar keemasan itu akhirnya berhasil menembus kaca jendela, membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa gigil di tulang gadis itu.
Dara membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, namun anehnya, tubuhnya tidak lagi terasa sakit. Tidak ada demam. Tidak ada sakit kepala yang menyiksa seperti saat ia pertama kali menggunakan energi Pawangnya secara tidak sadar. Kali ini, setelah ia secara sadar dan penuh kendali menyalurkan energi murninya untuk memadamkan Nafsu Rimba Indra Bagaskara, efek sampingnya hanyalah rasa lelah fisik yang wajar, layaknya seseorang yang baru saja berlari maraton.
Ia menoleh ke samping. Kakek Danu tertidur di kursi rotan di sudut kamar, bersedekap dengan selimut tipis menutupi dadanya. Pria tua itu pasti berjaga semalaman suntuk.
Mendengar suara gemerisik seprai, Kakek Danu terbangun. Ia langsung bangkit dan menghampiri tepi ranjang Dara, meletakkan punggung tangannya yang kasar di kening cucunya.
"Suhumu sudah normal, Nduk," Kakek Danu menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang begitu dalam hingga membuat bahunya merosot. "Kau tertidur selama empat belas jam penuh. Kakek nyaris memanggil tabib dari desa seberang."
Dara memaksakan sebuah senyum tipis, lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada bantal. "Aku tidak apa-apa, Kek. Hanya terasa seperti kehabisan baterai."
"Kau melakukan hal yang mustahil, Dara," Kakek Danu menatap mata cucunya dengan sorot kebanggaan yang bercampur aduk dengan kekhawatiran. "Sutan Agung telah menarik ancamannya. Hukum Perjanjian Kesunyian ditekuk khusus untukmu. Mulai sekarang, tidak akan ada satu pun tetua atau prajurit Cindaku yang berani mempertanyakan keberadaanmu di lembah ini. Kau telah diakui sebagai Ratu Penengah."
Gelar itu terdengar terlalu besar, terlalu berat. "Aku tidak ingin menjadi ratu, Kek. Aku hanya ingin bertahan hidup tanpa harus selalu melihat ke belakang."
"Dan kau telah memenangkan hak itu," Kakek Danu menepuk pelan puncak kepala Dara. "Indra membawamu pulang dengan selamat. Pemuda itu... Kakek belum pernah melihat sorot mata seekor Cindaku yang begitu... tunduk. Kau benar-benar memadamkan apinya dari akar."
Mendengar nama Indra disebut, jantung Dara berdetak satu ketukan lebih cepat. Ingatannya kembali pada momen di dalam gua batu kapur yang mendidih itu. Pada mata emas yang liar, pada rantai baja yang merah membara, dan pada saat-saat terakhir di mana kepala pemuda itu bersandar tak berdaya pada bahunya. Monster itu telah menyingkirkan cakar-cakarnya demi memeluknya.
"Aku akan menyiapkan sarapan. Kau mandilah dengan air hangat, dan bersiaplah. Jika kau merasa sudah kuat, kau boleh kembali ke sekolah hari ini. Mengurung diri di rumah justru akan membuat Opsir Darah di luar sana curiga," pesan Kakek Danu sebelum melangkah keluar dari kamar.
Dara mengangguk. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Perban elastisnya telah dilepas oleh kakeknya. Segel kelopak bunga kemerahan di tengah telapak tangannya kini tampak lebih jelas, sedikit berpendar saat terpapar sinar matahari. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia bukan lagi sekadar gadis kota yang menjadi korban takdir; ia adalah Pawang Rimba yang telah menemukan cara untuk menggunakan kekuatannya.
Kembali ke SMA Nusantara Lereng Marapi memberikan sensasi disorientasi yang aneh bagi Dara.
Dunia manusia di sekolah ini berjalan dengan sangat normal. Murid-murid sibuk membicarakan tugas Matematika, pertandingan basket antarkelas, dan gosip tentang siapa yang berpacaran dengan siapa. Mereka tertawa lepas di bawah sinar matahari pagi, sama sekali tidak menyadari bahwa malam sebelumnya, di balik air terjun Lereng Utara, sebuah perang gaib nyaris pecah dan dicegah oleh gadis pendiam yang baru saja memarkirkan sepeda ontelnya.
"Dara!"
Suara Santi yang melengking membuyarkan lamunan Dara. Gadis berambut ekor kuda itu berlari menghampirinya, wajahnya tampak lega sekaligus sebal.
"Kamu ke mana aja sih kemarin?! Aku nyariin sampai keliling kantin, tahu-tahu Pak Budi bilang kamu izin sakit karena demam," Santi mengomel sambil menggandeng lengan Dara menuju koridor utama. "Gimana sekarang? Udah mendingan? Muka kamu masih agak pucat, lho."
"Udah mendingan kok, San. Cuma butuh istirahat panjang aja," jawab Dara tersenyum. Bersama Santi selalu sukses membuatnya merasa seperti remaja pada umumnya.
"Syukur deh. Oh ya, kamu tahu nggak, hari ini tiga bersaudara Bagaskara masuk lagi. Dan anehnya..." Santi memelankan suaranya, melirik ke sekeliling dengan waspada, "...Kak Indra kelihatannya beda banget hari ini. Nggak ada aura seremnya sama sekali. Tadi pagi ada anak kelas sepuluh yang nggak sengaja numpahin es teh ke sepatunya Kak Indra, eh Kak Indra-nya malah cuma diam dan nyuruh anak itu pergi. Biasanya kan dia udah ngamuk lempar meja!"
Langkah Dara sedikit tertahan.
Dan tepat pada saat itu, seolah alam semesta sedang mengatur panggung sandiwara, kelompok Bagaskara itu muncul dari ujung koridor yang berlawanan.
Maya berjalan di sebelah kiri, Raka di kanan, dan Indra di tengah.
Ketika tatapan mereka berserobok dengan Dara, dinamika yang biasanya dipenuhi oleh intimidasi dan rasa takut kini berubah drastis secara tak kasat mata.
Raka, pemuda ikal yang selalu tersenyum misterius itu, kini memberikan senyuman yang benar-benar tulus dan penuh kelegaan pada Dara. Ia bahkan memberikan anggukan kepala yang sopan—sebuah gestur rasa terima kasih karena Dara telah menepati janjinya untuk menyelamatkan kakaknya.
Maya, gadis cantik dengan aura pembunuh itu, tidak lagi memberikan tatapan menusuk yang mengancam. Mata emas Maya menatap Dara sejenak, lalu gadis Cindaku itu sedikit menurunkan dagunya, sebuah pengakuan hening atas wibawa Sang Pawang yang telah menyelamatkan nyawa adiknya dari kutukan gua batu.
Namun, yang paling menggetarkan hati Dara adalah tatapan pemuda yang berjalan di tengah.
Indra Bagaskara menatap lurus ke arah Dara. Tidak ada lagi uap panas yang mengepul dari tubuhnya. Kemeja seragamnya terkancing rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan absolut. Mata hazelnya tidak memancarkan Nafsu Rimba yang liar, melainkan sebuah fiksasi yang sangat dalam, tenang, dan luar biasa protektif.
Indra tidak tersenyum. Ia hanya menatap Dara dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan di kerongkongan. Pemuda itu mengawasi Dara layaknya seorang penjaga yang telah menemukan harta karun paling berharga di dunia dan bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.
Saat mereka berpapasan dan jarak menyempit, Indra bergumam dengan suara bariton yang sangat pelan, hanya frekuensi yang bisa didengar oleh Dara: "Kau memucat. Makanlah sesuatu yang hangat siang ini."
Sebelum Dara sempat memproses kalimat itu, Indra dan kedua saudaranya telah berlalu melewatinya.
Santi, yang tidak mendengar bisikan itu, menarik napas lega. "Huft. Untung mereka lagi mood baik. Udah ah, yuk ke kelas."
Belum genap lima langkah Dara berjalan, sebuah tangan yang hangat tiba-tiba meraih lengannya dari belakang, menariknya sedikit menjauh dari kerumunan murid yang menuju kelas.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Anak Kota," suara Bumi Arka terdengar rendah, bergetar oleh campuran antara amarah, kecemburuan, dan rasa lega yang luar biasa besar.
Dara menoleh. Pemuda berseragam varsity merah marun itu menatapnya dengan rahang terkatup rapat. Berbeda dengan Indra yang telah memadamkan apinya, Bumi hari ini justru terlihat seperti serigala yang sedang gelisah. Matanya memancarkan pendar merah kecokelatan yang nyaris tak bisa ia sembunyikan.
Bumi menarik Dara mendekat ke arah dinding koridor yang sepi, hidungnya berkedut keras.
"Aku bisa mencium aromanya dari jarak radius seratus meter," desis Bumi, matanya menyipit menatap Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aroma pinus terbakar. Aroma Harimau Putih sialan itu. Bau tubuhnya menempel di rambutmu, di pakaianmu, di pori-porimu."
Dara terkesiap. Ia lupa bahwa Indra menggendongnya sepanjang jalan keluar dari hutan tadi malam. Bagi manusia, ia mungkin hanya berbau seperti sabun mandi. Namun bagi penciuman seekor Alpha Ajag, ia pasti berbau seperti teritori yang telah diklaim oleh sang Cindaku.
"Bumi, dengarkan aku—"
"Kau masuk ke dalam gua itu. Kau memeluknya, kan?" potong Bumi, nada suaranya menahan kepedihan yang aneh. Pemuda itu meletakkan salah satu tangannya di dinding di samping kepala Dara, mengurung gadis itu namun tanpa memancarkan ancaman, hanya frustrasi murni. "Aku setengah mati menahan kawananku agar tidak menerobos masuk ke Lereng Utara semalam saat kami mendengar raungan Kucing Besar itu. Aku takut kau mati tercabik-cabik. Dan sekarang kau berdiri di sini, selamat, tapi dengan bau jantannya menempel di sekujur tubuhmu."
"Itu satu-satunya cara untuk memadamkan Nafsu Rimba-nya, Bumi," Dara menatap mata pemuda itu, berusaha menyalurkan ketenangan. "Aku harus menggunakan energi Pawangku secara langsung. Jika aku tidak melakukannya, Indra akan kehilangan akal sehatnya, dan Sutan Agung tidak akan melindungiku dari Willem."
Bumi memejamkan mata, mengembuskan napas kasar. Ia menempelkan keningnya sesaat pada dinding batu di sebelah kepala Dara, mencoba menetralkan insting serigalanya.
"Aku tahu," gumam Bumi pelan. Ia menjauhkan tubuhnya, mengusap wajahnya dengan kasar. "Logikaku tahu kau melakukan hal yang benar. Tapi instingku membenci fakta bahwa dia berhasil bertahan hidup karena dirimu. Berhati-hatilah, Dara. Cindaku adalah makhluk yang sangat soliter dan posesif. Dengan menyelamatkan nyawanya dari kutukan itu... kau baru saja membuat Indra terikat padamu secara permanen. Dia tidak akan membiarkanmu lepas."
Peringatan Bumi menggantung berat di udara saat pemuda itu berbalik dan berjalan meninggalkannya, menyisakan Dara dengan kebingungan yang merayap di dadanya. Terikat secara permanen. Apakah itu berarti Indra akan terus mengawasinya?
Malam harinya, udara Lembah Marapi kembali memeluk suhu bekunya yang khas.
Rumah Kakek Danu sangat sepi. Pria tua itu telah mengunci semua pintu dan jendela di lantai bawah, menyebarkan garam kasar yang telah dibacakan doa di setiap ambang pintu untuk menangkal masuknya pasukan mayat hidup maupun Opsir Darah. Willem van Deventer pasti sudah merasakan ledakan energi Pawang semalam, dan mereka harus waspada terhadap serangan balasan.
Dara berada di kamarnya yang terletak di bagian atas rumah berarsitektur perpaduan kolonial-panggung tersebut. Jarak dari tanah ke jendelanya sekitar empat meter, cukup tinggi sehingga tidak ada manusia normal yang bisa memanjatnya tanpa menggunakan tangga kayu panjang.
Ia sedang duduk di meja belajarnya, mengerjakan tugas Matematika yang tertinggal, ketika telinganya menangkap sebuah suara yang sangat pelan dari luar kaca jendelanya.
Tuk. Tok.
Bunyi itu bukan dari ranting pohon yang tertiup angin. Itu adalah bunyi ketukan berirama. Seseorang sedang mengetuk kaca jendelanya dari luar.
Jantung Dara melonjak. Darahnya berdesir kencang. Ia menghentikan goresan penanya, menahan napas. Apakah itu pengikut Willem? Apakah Opsir Darah itu berhasil menemukan cara untuk memanjat dinding panggung rumahnya?
Dengan tangan sedikit gemetar, Dara meraih sebuah cutter dari laci meja belajarnya dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia berjalan perlahan mendekati jendela kaca yang ditutupi tirai beludru merah marun tersebut.
Dara menyibak sedikit ujung tirainya.
Napasnya seketika terlepas dalam bentuk embusan panjang. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau justru lebih waspada.
Berdiri di luar jendelanya, menyeimbangkan tubuh di atas pinggiran kayu sempit selebar telapak tangan yang membatasi bingkai luar jendela, adalah Indra Bagaskara.
Pemuda itu mengenakan sweter turtleneck berwarna gelap dan celana kain hitam. Di ketinggian empat meter dari tanah, tanpa ada pegangan apa pun selain kusen jendela yang licin karena embun malam, Indra berdiri dengan keseimbangan absolut layaknya seekor kucing besar yang sedang bertengger di atas dahan tertinggi. Mata hazel-emasnya memantulkan cahaya redup dari lampu kamar Dara.
Indra memberikan isyarat pelan dengan dagunya agar Dara membuka kunci jendela tersebut.
Setelah ragu sejenak, mengingat peringatan kakeknya untuk tidak membuka jendela setelah malam tiba, Dara akhirnya memutar slot kunci kuningannya dan menggeser bingkai jendela itu ke atas.
Angin malam yang sedingin es langsung menyerbu masuk, namun sebelum hawa dingin itu sempat membuat Dara menggigil, tubuh Indra menyelinap masuk melalui celah jendela dengan kelincahan yang nyaris tak bersuara. Begitu kaki pemuda itu memijak lantai kayu kamar Dara, jendela itu langsung ia tutup kembali dan dikuncinya rapat-rapat.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" bisik Dara setengah mendesis, mundur dua langkah ke tengah kamar. Ia masih menggenggam cutter di balik punggungnya, meskipun ia tahu benda itu tidak akan berguna melawan seorang Cindaku. "Kakek Danu akan mengamuk kalau tahu kau masuk ke rumah ini!"
Indra tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak, memindai sekeliling kamar Dara dengan pandangan posesif yang tajam. Aroma tubuh pemuda itu—aroma pinus, hujan malam, dan sisa-sisa hawa hangat yang tertahan—mulai memenuhi udara di ruangan sempit tersebut, bercampur dengan aroma vanila dari sabun mandi Dara.
"Kakekmu sedang tertidur lelap di bawah. Aku sudah memastikan tidak ada suara langkah kakiku yang membangunkannya," jawab Indra dengan suaranya yang berat dan dalam.
Indra melangkah maju perlahan. Mata hazel-nya terkunci pada wajah Dara. Tidak ada lagi monster yang meronta dalam penderitaan. Yang ada kini adalah pemuda dengan ketampanan yang berbahaya dan dominasi yang sangat tenang.
"Kenapa kau datang kemari, Indra?" tanya Dara lagi, suaranya sedikit bergetar oleh jarak mereka yang semakin menyempit.
"Aku datang untuk memastikan bahwa kau tidak mati kedinginan setelah menyerap separuh dari api di dalam darahku semalam," Indra berhenti tepat satu meter di hadapan Dara. Pandangannya jatuh ke arah tangan kanan Dara yang disembunyikan di balik punggung. "Simpan mainan potong kertasmu itu, Pawang. Kalau aku berniat menyakitimu, aku tidak perlu repot-repot memanjat tanpa suara."
Dara merasa pipinya sedikit memanas karena ketahuan. Ia meletakkan cutter itu ke atas meja belajarnya.
Indra menghela napas panjang. Ekspresinya yang keras sedikit melunak. Ia menatap tepat ke dalam mata cokelat terang Dara, dan untuk sesaat, keheningan di antara mereka terasa jauh lebih bising daripada ribuan kata-kata.
"Di dalam gua itu..." Indra memulai, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang intim dan rapuh. "...saat kau menempelkan tanganmu di dadaku. Saat kau memerintahkan api itu untuk padam. Itu adalah pertama kalinya seumur hidupku... aku tidak merasa seperti monster yang sedang terbakar."
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya dengan ragu-ragu, lalu menyentuhkan ujung jari-jarinya yang panjang dan sedikit kasar ke pelipis Dara, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Sentuhan itu luar biasa lembut, sangat kontras dengan tenaga yang bisa menghancurkan moncong truk baja dua hari lalu.
"Darah di dalam nadi Cindaku adalah darah yang dikutuk, Dara," bisik Indra, menatap wajah gadis itu dengan penuh kerinduan. "Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya. Setiap detik, setiap tarikan napas, rasanya seperti menelan bara api yang terus menyala. Nafsu Rimba berteriak menyuruhku untuk mengoyak, membunuh, mendominasi. Dan satu-satunya hal yang menahan kami tetap waras adalah harga diri klan."
Dara mematung di bawah sentuhan itu. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kulit Indra. Namun, ia tidak mundur. Ia adalah Sang Penengah. Darahnya menolak untuk takut pada api ini.
"Kau berhak tahu konsekuensi dari apa yang kau lakukan semalam," lanjut Indra, matanya menggelap, iris keemasannya berkelebat pelan. "Dengan menyuntikkan energi 'Darah Penengah'-mu langsung ke dalam jantungku di puncak Bulan Baru... kau tidak hanya menyelamatkanku. Kau telah mengunci insting harimauku pada aromamu."
"Bumi bilang kau akan terikat padaku secara permanen," kata Dara pelan, berani mengonfrontasi pandangan pemuda itu.
Rahang Indra mengeras mendengar nama rivalnya disebut dari bibir gadis itu, namun ia menahan cemburunya. "Anjing liar itu benar. Bagi monster di dalam dadaku, kau bukan lagi sekadar penawar. Kau adalah oksigen. Kau adalah rumah. Dan aku... aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu jauh dari pandanganku lagi."
Indra menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Dara. Hawa panas dari napasnya menyapu leher gadis itu, mengirimkan sengatan getaran hingga ke ujung jari kaki.
"Perlindungan yang diberikan oleh pamanku, Sutan Agung, bukanlah tanpa syarat," bisik Indra mematikan. "Kaumku akan menjagamu dari Willem dan gerombolannya yang membusuk. Tapi bayarannya... kau adalah milikku, Dara Kirana. Aku akan menjadi perisai bajamu, aku akan menghancurkan siapa pun yang berani melukaimu, tapi aku juga akan menjadi sangkar yang mengurungmu."
Pernyataan itu begitu posesif, begitu arogan, khas seorang raja hutan yang telah mengklaim hak miliknya. Indra menatap Dara, menunggu gadis itu gemetar ketakutan atau mundur menjauh karena sifat tiraninya.
Namun, Dara tidak melakukan keduanya.
Alih-alih menunduk, Dara mengangkat wajahnya, menentang dominasi itu secara mutlak. Gadis itu mengangkat tangan kanannya yang memiliki segel kelopak bunga, lalu meletakkannya tepat di atas dada kiri Indra, persis di atas letak jantung pemuda itu.
Seketika, sebuah pendar biru yang sangat redup dan menenangkan mengalir dari telapak tangan Dara, menembus sweter turtleneck Indra, dan meresap ke dalam tubuh sang Cindaku.
Indra terkesiap pelan, matanya membelalak kaget saat merasakan sengatan kedamaian yang mendadak itu.
"Kau mungkin bisa menghancurkan truk baja dengan tangan kosong, Indra," ucap Dara dingin, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah. "Dan kau mungkin adalah pewaris dari klan pemangsa paling kuat di lembah ini. Tapi jangan pernah lupa siapa yang baru saja memadamkan apimu di dalam gua itu."
Dara menatap lurus ke dalam mata emas yang kini terpaku padanya itu. "Aku adalah Pawang Rimba. Aku tidak akan menjadi milik siapa pun. Aku tidak akan masuk ke dalam sangkar mana pun, entah itu yang dibuat oleh kaum Ajag, oleh Opsir Darah, maupun oleh harimau paling arogan sekalipun. Jika kau ingin melindungiku, kau melindungiku sebagai sekutu yang setara. Bukan sebagai tuan tanah."
Hening yang luar biasa berat mengurung kamar itu. Udara seakan berhenti bergerak.
Indra Bagaskara, pewaris Harimau Putih yang sangat ditakuti oleh seluruh penduduk gaib di Lembah Marapi, berdiri terpaku oleh deklarasi seorang gadis manusia. Pemuda itu menatap tangan Dara yang berada di dadanya, lalu menatap wajah tegas gadis itu.
Perlahan, sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus dan terlepas dari beban kutukan—terbentuk di bibir Indra. Harimau di dalam dadanya tidak meraung marah karena ditantang; sebaliknya, monster itu mendengkur penuh takjub. Sang mangsa telah menolak untuk tunduk, dan justru mengklaim takhta kepemimpinannya sendiri.
Indra mengangkat tangannya yang besar, menutupi telapak tangan kecil Dara yang masih berada di dadanya, menggenggamnya erat namun lembut. Suhu tubuh pemuda itu berangsur-angsur berpadu dengan suhu dingin dari energi Dara, menciptakan sebuah harmoni yang mustahil antara dua kutub yang berlawanan.
"Sesuai perintahmu, Ratu Penengah," bisik Indra, nada suaranya kini dipenuhi oleh rasa hormat, pengabdian, dan cinta yang membakar tanpa menghancurkan.
Di luar jendela kamar, kabut malam terus bergulung menelan Desa Lereng Marapi. Dari kedalaman hutan, lolongan serigala saling bersahutan memecah kesunyian, sementara di bawah tanah vulkanik, sepasang mata sehitam jelaga perlahan-lahan membuka kembali kelopaknya.
Perang kolosal antara tiga darah purba yang telah tertidur selama berabad-abad kini benar-benar telah terbangun, namun kali ini, Dara Kirana tidak akan menghadapinya sendirian.