NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan di Dalam Kelompok Vittorio

Kemenangan atas Marcello seharusnya menjadi puncak kejayaan klan Vittorio, namun atmosfer di dalam mansion justru terasa lebih dingin daripada malam musim dingin di puncak Etna. Ada sesuatu yang busuk, sesuatu yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan aroma kemenyan atau percikan air doa. Gendis merasakannya sejak matahari terbit; sebuah getaran frekuensi yang tidak selaras, seperti senar biola yang nyaris putus.

​"Kak, ada bau bangkai di rumah ini," bisik Gendis saat mereka berada di ruang kerja Kaivan.

​Kaivan mendongak dari tumpukan berkas. Matanya yang tajam tampak lelah. "Aku sudah memerintahkan Marco untuk memeriksa seluruh saluran pembuangan, Gendis. Tidak ada bangkai hewan apa pun."

​"Bukan bangkai tikus, Kak," Gendis berjalan mendekati meja Kaivan, wajahnya pucat. "Bangkai kesetiaan. Ada seseorang yang auranya berubah jadi hitam legam setiap kali Kakak memunggungi mereka. Baunya seperti belerang yang dicampur dengan keringat dingin orang ketakutan."

​Kaivan terdiam. Ia tidak pernah meremehkan radar batin Gendis, terutama setelah kejadian di gudang wine. "Siapa?"

​Gendis memejamkan mata, mencoba menangkap bayangan yang melintas di mata batinnya. "Gambarnya nggak jelas, Kak. Orangnya pakai topeng perak di alam sana. Tapi dia orang yang sangat dekat dengan Kakak. Seseorang yang tahu kode-kode rahasia yang bahkan Marco pun tidak tahu."

Kaivan memanggil lingkaran dalamnya—orang-orang kepercayaan yang telah bersamanya sejak ia mengambil alih kepemimpinan dari ayahnya. Ada Marco, kepala keamanan; Luca, bendahara klan; dan Fabio, pria yang baru saja mereka "ampuni" setelah insiden Marsala namun kini telah bersumpah setia.

​"Seseorang di ruangan ini telah menjual informasi kepada sisa-sisa sindikat Utara," ucap Kaivan, suaranya rendah namun mematikan. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Gendis berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah cermin tembaga kecil.

​"Tuan, itu mustahil," sela Luca. "Kami semua telah melalui sumpah darah. Tidak ada yang berani berkhianat."

​"Sumpah darah bisa luntur kalau disiram dengan janji kekuasaan yang lebih besar," sahut Kaivan dingin. "Gendis, apa yang kau lihat?"

​Gendis mengangkat cermin tembaganya, mengarahkannya ke arah masing-masing pria tersebut. Di mata orang biasa, cermin itu hanya memantulkan wajah mereka. Namun di mata Gendis, cermin itu bertindak sebagai pemindai kejujuran.

​Saat cermin itu mengarah ke Marco, pantulannya tetap jernih, dikelilingi aura biru pelindung. Saat mengarah ke Fabio, ada sedikit rona merah karena rasa takut, namun tetap stabil. Namun, saat cermin itu mengarah ke arah Luca, pantulannya mendadak retak secara visual di mata Gendis. Bayangan Luca di cermin tampak memiliki ular yang melilit lehernya.

​"Luca..." bisik Gendis.

​Luca terperanjat, namun ia segera menguasai diri. "Nona, apa maksudnya ini? Anda menuduh saya hanya berdasarkan alat mainan itu?"

​"Bukan tuduhan, Luca. Itu peringatan," ucap Gendis. "Kenapa tanganmu gemetar setiap kali Kak Kaivan menyebut soal dana darurat di Swiss? Dan kenapa ada arwah wanita berbaju hitam yang menangis di belakangmu, memohon agar kau berhenti?"

​Wajah Luca memucat pasi. Wanita berbaju hitam itu adalah ibunya yang baru saja meninggal sebulan lalu. Hanya Luca yang tahu bahwa ia memiliki utang judi yang luar biasa besar di kasino-kasino bawah tanah Milan, dan ia telah menggunakan dana klan untuk menutupinya.

Kaivan tidak langsung menghukum Luca. Ia adalah seorang ahli strategi. Ia ingin tahu seberapa jauh pengkhianatan ini merambat.

​"Luca, siapkan dana sebesar lima puluh juta Euro. Kita akan melakukan akuisisi pelabuhan timur besok malam," perintah Kaivan. "Dan jangan beri tahu siapa pun koordinat pertemuannya, kecuali melalui jalur enkripsi pribadimu."

​Luca mengangguk patuh dan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Gendis mendekati Kaivan.

​"Kak, dia bakal kasih tahu mereka. Dia merasa terpojok."

​"Memang itu tujuannya, Gendis," jawab Kaivan. "Kita akan menggunakan pengkhianatannya untuk menjerat semua musuh yang masih bersembunyi dalam sekali pukul."

​Malam berikutnya, di sebuah pabrik pengalengan ikan yang sudah lama ditinggalkan di pinggiran Palermo, suasana terasa sangat sunyi. Kaivan datang hanya dengan Marco dan dua pengawal. Luca berdiri di sampingnya, tampak sangat gelisah.

​Tiba-tiba, suara derap kaki berat mengepung tempat itu. Belasan pria bersenjata lengkap muncul dari balik kegelapan. Di depan mereka berdiri seorang pria yang seharusnya sudah mati: saudara jauh Marcello yang ingin membalas dendam.

​"Vittorio! Ternyata benar kata Luca, kau terlalu percaya diri," seru pria itu sambil tertawa sinis.

​Kaivan menatap Luca. "Jadi, benar-benar kau, Luca?"

​Luca menunduk, tidak berani menatap mata bosnya. "Maafkan saya, Tuan. Mereka menjanjikan kebebasan dari utang-utang saya. Saya tidak punya pilihan."

​"Pilihan selalu ada, Luca. Kau hanya memilih yang paling pengecut," sahut Kaivan.

​Tiba-tiba, Gendis muncul dari balik tumpukan kontainer. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebuah lonceng kuno berbahan perunggu.

​"Sekarang!" teriak Gendis.

​Ia membunyikan lonceng itu tiga kali. TENG! TENG! TENG!

​Suara lonceng itu bergema dengan frekuensi yang menyakitkan telinga. Para penyerbu itu mendadak jatuh berlutut, memegangi kepala mereka. Mereka bukan hanya mendengar suara lonceng, tapi mereka diserang oleh visi mengerikan dari dosa-dosa masa lalu mereka yang dipanggil oleh Gendis melalui suara tersebut.

​"APA YANG TERJADI?! TEMBAK MEREKA!" perintah pemimpin penyerbu itu, namun tangannya sendiri gemetar hebat hingga menjatuhkan senjatanya.

​Di mata batin para pengkhianat dan penyerbu, ruangan itu mendadak dipenuhi oleh ribuan arwah korban kekejaman mereka sendiri. Arwah-arwah itu menarik kaki mereka, membisikkan kutukan, dan menciptakan rasa takut yang melumpuhkan saraf.

Marco dan tim elit Vittorio yang sebenarnya sudah bersembunyi di dalam kontainer sejak sore tadi segera keluar dan melumpuhkan lawan dengan cepat tanpa perlawanan berarti. Luca mencoba melarikan diri, namun ia terhenti saat melihat sosok ibunya berdiri tepat di depan pintu keluar.

​"Ibu..." bisik Luca, air mata mengalir.

​Tentu saja, bagi Kaivan dan Marco, Luca hanya bicara pada udara kosong. Namun bagi Luca, kehadiran arwah ibunya adalah hakim yang paling kejam.

​Kaivan berjalan mendekati Luca yang kini bersimpuh di lantai. "Pengkhianatan dalam keluarga Vittorio hanya punya satu akhir, Luca. Kau tahu aturannya."

​"Tuan... tolong..."

​Gendis mendekati Kaivan, menyentuh lengannya. "Kak, jangan bunuh dia di sini. Biarkan dia hidup dalam penyesalan. Arwah ibunya sudah mengambil jiwanya. Dia tidak akan pernah bisa tenang lagi seumur hidupnya."

​Kaivan menatap Luca yang kini tampak seperti orang gila, terus bergumam meminta maaf pada udara. Kaivan memutuskan untuk membuang Luca ke sebuah pulau terpencil di lepas pantai Sisilia, membiarkannya membusuk dalam kesendirian dan gangguan gaib yang akan menghantuinya selamanya.

Marco dan tim elit Vittorio yang sebenarnya sudah bersembunyi di dalam kontainer sejak sore tadi segera keluar dan melumpuhkan lawan dengan cepat tanpa perlawanan berarti. Luca mencoba melarikan diri, namun ia terhenti saat melihat sosok ibunya berdiri tepat di depan pintu keluar.

​"Ibu..." bisik Luca, air mata mengalir.

​Tentu saja, bagi Kaivan dan Marco, Luca hanya bicara pada udara kosong. Namun bagi Luca, kehadiran arwah ibunya adalah hakim yang paling kejam.

​Kaivan berjalan mendekati Luca yang kini bersimpuh di lantai. "Pengkhianatan dalam keluarga Vittorio hanya punya satu akhir, Luca. Kau tahu aturannya."

​"Tuan... tolong..."

​Gendis mendekati Kaivan, menyentuh lengannya. "Kak, jangan bunuh dia di sini. Biarkan dia hidup dalam penyesalan. Arwah ibunya sudah mengambil jiwanya. Dia tidak akan pernah bisa tenang lagi seumur hidupnya."

​Kaivan menatap Luca yang kini tampak seperti orang gila, terus bergumam meminta maaf pada udara. Kaivan memutuskan untuk membuang Luca ke sebuah pulau terpencil di lepas pantai Sisilia, membiarkannya membusuk dalam kesendirian dan gangguan gaib yang akan menghantuinya selamanya.

Setelah semua pengkhianat diamankan, Kaivan dan Gendis kembali ke mansion. Suasana kemenangan kali ini terasa pahit. Dikhianati oleh orang yang sudah dianggap keluarga adalah luka yang tidak bisa disembuhkan oleh kekuasaan.

​Di balkon kamar, Kaivan berdiri menatap bintang-bintang. Gendis datang membawa secangkir teh melati hangat.

​"Kak, jangan terlalu dipikirin. Kadang manusia itu lebih menyeramkan daripada hantu karena mereka punya kehendak bebas untuk jadi jahat," ucap Gendis pelan.

​Kaivan menerima teh itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Aku hanya berpikir, Gendis... jika Luca bisa berkhianat, siapa lagi yang bisa kupercayai?"

​Gendis duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Kaivan. "Kakak bisa percaya sama saya. Dan Kakak bisa percaya sama Marco. Auranya Marco itu kayak batu karang, nggak bakal goyah."

​Gendis terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Lagian, kalau ada yang mau khianat lagi, saya tinggal tanya sama hantu penjaga pintu depan. Mereka itu gosipnya lebih cepet daripada grup WhatsApp intelijen Kakak."

​Kaivan tertawa kecil, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Nona Indigo. Tanpamu, aku mungkin sudah mati tertembak oleh orang yang kusebut saudara."

​"Itu sudah tugas saya, Kak. Tapi besok-besok kalau mau bikin jebakan, bilang-bilang ya? Tadi loncengnya berat banget, tangan saya sampai pegal."

​Kaivan mencium puncak kepala Gendis. "Janji. Besok aku akan membelikanmu asisten... mungkin seorang pengawal yang bisa membantumu membawa peralatan 'perang' gaibmu."

​"Nggak mau! Pengawal manusia berisik. Mending saya cari hantu asisten aja, yang rajin dan nggak minta gaji."

​Malam itu, pengkhianatan dalam klan Vittorio memang telah dibersihkan, namun itu menjadi pengingat bagi Kaivan bahwa di dunianya, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berada di depan senjata, melainkan mereka yang berada di meja makan yang sama.

​Namun, selama ia memiliki Gendis—dengan kacamata batinnya, lonceng perunggunya, dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan—Kaivan tahu bahwa ia tidak akan pernah benar-benar berjalan dalam kegelapan. Sang Raja Mafia telah belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada jumlah pasukan, tapi pada kemampuan untuk melihat apa yang tersembunyi di balik senyum manusia.

​"Kak," panggil Gendis sebelum mereka masuk ke dalam.

​"Ya?"

​"Hantu Ibu Luca bilang terima kasih. Katanya, makasih sudah nggak membunuh anaknya secara fisik. Dia janji bakal jagain mansion ini dari gangguan roh jahat sebagai balas budi."

​Kaivan tersenyum tipis, menatap ke arah gerbang mansion yang kini terasa lebih aman. "Katakan padanya, selamat datang di tim Vittorio."

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!