Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Proses penataan rambut dan riasan memakan waktu yang terasa sangat lama bagi Xin Yi. Ia hampir saja terlelap di kursi rias karena rasa kantuk yang luar biasa, sementara sang penata gaya bekerja dengan teliti mengikat dan menyusun rambutnya menjadi gaya yang anggun.
Ketika ia benar-benar sadar sepenuhnya, ia sudah duduk di kursi belakang mobil mewah yang melaju di jalanan malam.
Di sebelahnya duduk Xin Yuning. Kakaknya tampak sangat tampan mengenakan setelan jas hitam yang rapi, dipadukan dengan kemeja putih dan manset yang indah di pergelangan tangannya, memancarkan aura bangsawan yang kuat.
Mobil yang mereka tumpangi berjalan beriringan. Di depan mereka, mobil lain membawa Huo Feilin dan Xin Fuyang. Keluarga ini pergi menggunakan dua kendaraan terpisah menuju lokasi pesta.
Melihat adiknya yang matanya masih sayu dan baru terbangun, Xin Yuning merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah permen rasa asam.
"Makanlah ini. Supaya kau tidak mengantuk dan pingsan di tengah jalan," ucapnya pelan sambil menyodorkan permen itu.
Xin Yi menerimanya tanpa banyak bicara, membuka bungkusnya, dan memasukkan ke dalam mulut. Rasa asam yang segar langsung menyebar, membuat matanya terbuka lebar dan kesadarannya kembali penuh seketika.
"Terima kasih," gumamnya pelan.
Malam yang mewah dan penuh kejutan pun segera dimulai.
Di kediaman megah keluarga Qin, suasana pesta terasa sangat meriah dan mewah. Di sayap gedung yang berbeda, Qin Yuwu sedang terlihat sangat kesal.
Ia hampir saja bertengkar dengan kedua temannya, Rong Tian dan Xu Xian, karena dipaksa pindah ke area khusus yang disediakan untuk kalangan muda, terpisah dari orang tua dan tamu kehormatan di gedung utama.
Padahal, acara ini digelar untuk merayakan ulang tahun ke-80 Tuan Qin, kakek dari ketiga pemuda tersebut.
"Dasar membosankan! Kenapa kita harus dikurung di sini sih?" geram Qin Yuwu sambil merapikan kerah jasnya yang berwarna merah marun yang mencolok.
Di sebelahnya, Rong Tian mengenakan setelan biru lembut dan Xu Xian tampil anggun dengan warna merah anggur.Rambut mereka ditata rapi dan klimis, membuat penampilan ketiganya terlihat sangat gagah namun tetap memancarkan aura kekanak-kanakan yang sulit dihilangkan.
Mereka bertiga menjadi pusat perhatian karena penampilan mereka yang begitu mencolok di tengah kerumunan.
Di meja lain yang tidak jauh dari sana, terlihat Xin Yiran sedang duduk manis bersama Feng Xixi. Mereka tampak sangat percaya diri mengenakan gaun pesta yang cantik.
Kebanyakan anak muda yang hadir di sini memang sudah saling mengenal satu sama lain karena latar belakang keluarga mereka yang sama-sama berada di lingkaran elit bisnis.
Mereka berbicara, tertawa, dan bersosialisasi dengan lancar seolah sudah berteman lama
Xin Yi turun dari mobil dengan bantuan Xin Yuning. Kakaknya dengan sopan mengulurkan tangan untuk membantunya menapakkan kaki ke tanah, memastikan gaun panjangnya tidak tersangkut atau terinjak.
Huo Feilin dan Xin Fuyang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu masuk utama dengan langkah tegap dan anggun. Xin Yi dan Xin Yuning segera mempercepat langkahnya untuk menyusul mereka dari belakang.
Saat langkah kakinya melangkah melewati ambang pintu dan memasuki aula utama, mata Xin Yi sedikit berkedip tak percaya.
Ia tertegun sejenak.
Di dalam sana, segala sesuatu terlihat begitu megah dan berkilauan. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya terang yang memantul pada lantai marmer yang mengkilap, pada permata, dan pada pakaian mewah para tamu.
Bagi Xin Yi yang terbiasa hidup dengan penerangan sederhana dan suasana desa yang tenang, pemandangan ini sungguh luar biasa.
Semua orang... seolah-olah sedang bersinar, batinnya bergumam kaget.
Mereka tampak begitu berkilau, elegan, dan berbeda dunia dengan dirinya yang baru saja datang dari kehidupan yang keras dan sederhana. Namun, rasa kaget itu tidak berlangsung lama.
Wajahnya kembali tenang, ia menegakkan bahunya sedikit lebih tinggi, dan melangkah masuk dengan kepala tegak, siap menghadapi dunia baru yang asing ini.
Kedatangan keluarga Xin seketika menarik perhatian seluruh ruangan. Tatapan banyak orang tertuju pada mereka, terutama karena kehadiran sosok baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Xin Fuyang dan Huo Feilin dengan sigap menyapa para tamu, berbaur dengan mudah layaknya para bangsawan yang sudah terbiasa.
Sementara itu, Xin Yi dan Xin Yuning hanya mengikuti di belakang mereka dengan sikap tenang dan sopan.
Mereka menyapa para tetua dan pemilik kepentingan satu per satu. Xin Yi belajar cepat, menirukan cara kakaknya membungkuk sedikit dan mengucapkan salam dengan sopan meski wajahnya tetap datar.
Setelah ramah tamah awal selesai, seorang pelayan datang memandu mereka.
"Tuan Muda, Nona Muda, mohon ikut saya ke arah sini. Area untuk generasi muda sudah disiapkan di sayap gedung sebelah," ucap pelayan itu hormat.
Mereka pun berpisah sejenak dengan orang tua. Xin Yuning menggiring adiknya berjalan menyusuri koridor menuju tempat berkumpulnya anak-anak muda seusia mereka.
Malam yang sesungguhnya baru akan dimulai di sana.
Setelah kedua anak itu pergi, Xin Fuyang dan Huo Feilin pun berpisah untuk bersosialisasi dengan kalangan mereka masing-masing. Huo Feilin segera ditarik oleh sekelompok teman wanita karibnya.
"Hei, Feilin! Siapa gadis cantik yang tadi berjalan bersamamu? Bukankah kau hanya punya satu anak laki-laki?" tanya salah satu dari mereka penasaran.
Huo Feilin tersenyum anggun sambil menyesap anggur merah di gelasnya.
"Itu adalah putri tiriku, Xin Yi. Anak sulung dari suamiku," jawabnya tenang.
Mendengar jawaban itu, semua wanita di situ terdiam dan tertegun. Mereka baru tahu bahwa Tuan Muda Xin memiliki kakak atau adik tiri yang selama ini tersembunyi.
Namun, di dalam benak Huo Feilin, sebuah pemikiran melintas tajam. Jika dipikirkan secara logika dan urutan waktu...
Sebenarnya, orang tuanya Xin Yi lah yang menikah lebih dulu secara sah. Baru sekitar satu tahun kemudian, setelah kelahiran Xin Yuning, barulah ia dan Xing Fuyang menikah.
Lalu Xin Yi sendiri baru lahir saat Xin Yuning berusia 3 Tahun.
Jadi, jika berbicara soal status... siapa sebenarnya yang pantas disebut sebagai anak haram di sini?
Di sisi lain, di area pesta anak muda.
Xin Yuning mengantar Xin Yi duduk di sebuah meja bundar yang agak tersembunyi. Dengan sikap protektif, ia segera mengambilkan beberapa potong kue dan makanan ringan ke piring kecil untuk adiknya agar tidak kelaparan.
Xin Yi menatap meja di hadapannya dengan alis yang sedikit berkerut.
Di sana, berdiri rapi beberapa botol minuman beralkohol dengan berbagai merek mahal. Ia melirik ke meja-meja lain di sekitarnya, dan tampak sama saja. Hampir semua meja menyediakan minuman keras.
Gadis itu menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan bingung.
"Kakak..." panggilnya pelan.
"Ada apa?"
"Mereka ini... kebanyakan kan masih di bawah umur? Untuk apa menyediakan minuman keras sebanyak ini? Apakah wajib meminumnya?"tanyanya jujur dan polos, namun pertanyaan itu sangat tajam.
Xin Yuning yang sedang memotong kue tertawa kecil mendengarnya.
"Tenang saja. Itu hanya pajangan dan simbol kemewahan. Kau tidak perlu meminumnya. Minumlah jus atau air putih saja, nanti aku minta pelayan membawakan." Bohongnya dengan mata terbuka.
Di sudut ruangan yang agak jauh, Xin Yiran dan Feng Xixi menyaksikan kedatangan pasangan kakak beradik itu dengan tatapan yang tidak menyukai.
Xin Yiran mencibir dalam hati. Dasar gadis pembawa sial! Ternyata dia juga diundang ke sini! Kenapa dia harus ada di mana-mana dan merusak pemandangan!
Ia merasa sangat kesal melihat Xin Yi duduk dengan tenang di sana, seolah-olah ia memang bagian dari kalangan elit ini.
Di meja lainnya, Qin Yuwu, Rong Tian, dan Xu Xian juga ikut menoleh.
Mata mereka membelalak sedikit saat melihat sosok gadis yang duduk bersama pemuda tampan itu.
"Heh... lihat itu! Bukankah itu gadis yang waktu itu di taman?" seru Xu Xian pelan.
"Benar! Mata bulat gelap itu... tidak salah lagi! Itu dia!" sahut Rong Tian.
Walaupun penampilan gadis itu hari ini sangat berbeda. Ia mengenakan gaun indah, rambutnya ditata anggun, dan wajahnya terlihat semakin cantik serta bersinar.
Namun, hanya dengan melihat tatapan matanya yang tajam dan tenang, ketiga pemuda itu langsung mengenalinya.
Itu adalah gadis misterius yang pernah mereka temui di dekat tembok sekolah dan di taman pagi tadi!
"Gila... ternyata dia anak orang kaya juga? Pantesan gayanya santai sekali" gumam Qin Yuwu sambil mengamati dari jauh.
Mereka bertiga kini merasa penasaran sekaligus gugup. Siapa sebenarnya gadis ituDan kenapa setiap kali mereka melihatnya, gadis itu selalu terlihat berbeda namun tetap memiliki daya tarik yang kuat?
Xin Yuning memperhatikan cara makan adiknya dari samping.
Xin Yi mengambil potongan buah dan kue kecil dengan mulut yang mengunyah pelan, pipinya sedikit menonjol membuatnya terlihat seperti tupai kecil yang sedang mengemil.
Pemandangan itu membuat hati Yuning terasa hangat dan senang. Hubungan mereka yang tadinya kaku dan asing, kini perlahan membaik dan terasa nyaman.
Namun, ketenangan itu terganggu saat ponsel di saku jasnya bergetar. Ia mengangkat sambungan telepon itu, dan terdengar suara keributan teman-teman seangkatannya yang memanggil-manggil namanya.
"Iya, iya. Aku ada di sini. Sebentar aku datang,"ucapnya singkat menutup telepon.
Ia menoleh ke arah Xin Yi, menatap gadis itu."Aku harus pergi sebentar menemui teman-temanku. Kau tunggu di sini saja, jangan kemana-mana. Jangan berjalan sendirian di tempat asing seperti ini, nanti tersesat atau kena masalah," pesannya tegas namun penuh perhatian.
Xin Yi menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Baik. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Pergilah," jawabnya tenang.
Xin Yuning pun berdiri dan berjalan cepat menyusul teman-temannya yang memanggil, meninggalkan Xin Yi duduk sendirian di meja itu.
Xin Yi sibuk menikmati potongan buah di piringnya. Ia mengunyah dengan tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak ada, hingga suara langkah kaki dan bisikan-bisikan yang tidak menyenangkan mulai mengganggu konsentrasinya.
Gadis itu mendongak perlahan.
Di hadapannya, berdiri tegak dengan wajah yang tidak ramah adalah Xin Yiran dan Feng Xixi.
Mereka berdua tampak sengaja mendatangi mejanya seolah ingin mencari masalah.
Wajah Xin Yiran terlihat sangat masam, menatap Xin Yi dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi dan penuh rasa tidak suka.
"Jijik sekali..." desis Xin Yiran pelan namun cukup terdengar. "Makan saja seperti orang kampung, tidak tahu sopan santun sama sekali. Apa tidak malu duduk di tempat mewah begini?"