NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Mencekam di Villa (part 1)

Angkasa sudah lama pulang. Nia duduk di dalam kamar sendiri. Dia masih merasakan hangat tangan Angkasa menggenggamnya. Dia masih mengingat bagaimana Angkasa menatapnya. Dia merasa Angkasa dapat membaca rasa takutnya. Ponsel Nia berdering. Satu pesan masuk.

Kalo kamu sendirian di rumah, kunci pintu kamar

Mata Nia membulat. Jantung Nia berdebar hebat. Angkasa tahu! Ponsel Nia berdering lagi. Kali ini panggilan telepon.

"Lagi apa?"

"Duduk aja di kamar,"

"Kunci?"

"Udah,"

Hening.

Nia bahkan seperti mendengar detak jantungnya sendiri.

"Nggak ada yang tau?" tanya Angkasa akhirnya.

"Cuma Kak Bayu," jawab Nia singkat.

Angkasa kembali diam. Nia merasa takut Angkasa akan menjauh darinya.

"Jangan takut," kata Angkasa akhirnya. Nada suaranya tak sedingin biasanya. Jantung Nia kembali riuh.

"Istirahat. Pastikan kunci pintu. Hubungi aku kalo ada apa-apa," lanjut Angkasa.

"Um,"

Sambungan telepon terputus. Nia menatap layar ponselnya.

"Bagaimana Aang bisa tau?" gumam Nia.

Nia merebahkan tubuhnya sambil menggenggam ponselnya. Entah mengapa dia merasa aman hanya dengan panggilan telepon dari Angkasa.

'Makasih, Ang,' ucap Nia dalam hati sambil memejamkan matanya.

Sementara itu, di kediaman Nyonya Mahendra, Angkasa menatap langit sore dengan penuh kemarahan. Dia masih ingat bagaimana wajah waspada Nia saat Tuan Laksono menghampiri mereka berdua di ruang tamu tadi siang.

Wajah waspada Nia yang sama dengan wajah Nia dua belas tahun lalu. Angkasa masih mengingat kejadian itu. Suatu sore saat Nia pulang dari membeli kue spekuk, Nia terlihat diantar seorang pemuda, Bang Jefri namanya.

Bang Jefri memang terkenal genit dan suka menggoda gadis-gadis. Saat itu, kebetulan Angkasa sedang mendapat hukuman dari Bu Melati karena tidak melakukan tugas panti sesuai jadwal, sehingga ia tidak bisa menemani Nia membeli kue spekuk. Nia dan Lia terlihat pulang bersama diantar Bang Jefri.

Angkasa mengingatnya. Wajah Nia yang penuh ketakutan saat itu. Bukan karena takut hantu persimpangan seperti rumor yang tersebar di kalangan anak-anak panti. Melainkan karena Bang Jefri.

"Awalnya dia manggil aku, 'Nia cantik,' gitu. Aku cuma bersikap sopan. Aku senyum. Dia malah mendekat," cerita Nia pada Angkasa waktu itu.

"Trus?" tanya Angkasa penasaran.

"Katanya, 'Abang anter pulang ya,' gitu. Aku sama Lia udah nolak dengan sopan. Tapi, Bang Jefri malah megang pundak ku sambil maksa nganter pulang. Ya udah aku cepat-cepat jalan ke panti," kata Nia.

"Cuma itu aja kan?" tanya Angkasa. Nia menggelengkan kepala lalu menangis. Lia yang melanjutkan ceritanya.

"Bang Jefri sempet belokin kita ke rumah kosong yang deket toko Bu Asri itu. Dia minta..." Lia berhenti. Wajahnya juga terlihat takut.

"Minta apa?" tanya Angkasa tak sabar.

"Minta Nia sama aku... gantian... buat pegang..." lagi-lagi Lia berhenti.

"Pegang apa, Lia?" Angkasa benar-benar tak sabar.

Lia kemudian menunjuk tubuh Angkasa bagian bawah. Mata Angkasa membulat seketika.

"Trus? Kalian turutin?" tanya Angkasa dengan wajah marah. Lia menggeleng cepat.

"Untung Pak RT pas lewat, terus negur Bang Jefri ngapain ngajak kita ke rumah kosong. Trus Bang Jefri bilang mau minta kue spekuk yang kita beli buat upah nganter kita ke panti," kata Lia.

"Karena diawasin Pak RT dari depan rumah kosong sana, Bang Jefri jadi anter kita sampe panti," lanjut Lia.

Sepanjang Lia bercerita, Nia hanya menunduk. Angkasa dapat merasakan ketakutan dari wajah yang coba Nia sembunyikan dari Angkasa saat itu. Sejak saat itu, Nia selalu waspada dan bersembunyi dibalik Angkasa setiap kali mereka berpapasan dengan Bang Jefri.

Siang tadi, Angkasa kembali melihat wajah ketakutan Nia seperti dua belas tahun yang lalu. Angkasa dengan cepat menyimpulkan bahwa Tuan Laksono telah melakukan sesuatu pada Nia.

'Apapun yang pernah dia lakukan ke kamu, aku akan tetap menjaga mu,'

***

"Villa?" tanya Nia.

"Iya, mumpung long weekend," kata Nyonya Lestari. Nia terdiam.

"Kenapa?" tanya Nyonya Lestari pada Nia.

"Nggak apa-apa, Ma,"

"Ya udah buruan beres-beres. Keburu malem," kata Nyonya Lestari pada Nia.

Nia segera menyiapkan bawaannya. Tiba-tiba sekali Nyonya Lestari ingin pergi ke villa mereka yang di pegunungan. Entah mengapa, Nia merasa tak enak.

Tak lama kemudian, keluarga Nyonya Lestari sudah dalam perjalanan menuju villa. Seperti biasa, libur panjang akhir pekan selalu diwarnai drama kemacetan jalan menuju puncak. Nia tak banyak bicara di dalam mobil. Dia selalu merasa tak nyaman berada dekat dengan Tuan Laksono dan Nyonya Lestari dalam waktu yang bersamaan.

Dua jam perjalanan yang dipenuhi kemacetan akhirnya mengantarkan mereka sampai di villa pukul sembilan malam tepat.

"Langsung tidur nih kita," kata Nyonya Lestari sambil terkekeh, diikuti senyum dari Nia.

"Lagian Mama mendadak ngajakin ke villanya. Kalo nggak kan kita bisa berangkat sore tadi," kata Tuan Laksono sambil mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi.

"Maaf deeeh. Soalnya tiba-tiba pengen," kata Nyonya Lestari sambil meringis lalu berlalu masuk ke villa.

Nia mengekor di belakang Nyonya Lestari diikuti Bayu dan Tuan Laksono. Saat tiba di depan pintu kamar Nia, Tuan Laksono menurunkan tas Nia.

"Ini, Sayang," kata Tuan Laksono sambil tersenyum penuh makna. Nia sedikit memundurkan tubuhnya.

"Makasih, Pa," kata Nia tersenyum kikuk.

"Nia," Bayu mendekat membuat Tuan Laksono seketika menjauh dari Nia dan memasuki kamarnya yang hanya diselingi kamar Bayu.

"Jangan lupa kunci pintu," bisik Bayu pada Nia. Nia mengangguk lalu masuk kamar dan mengunci pintu. Setelah memastikan Nia mengunci pintu kamarnya, Bayu masuk ke kamar.

Nia segera melemparkan tubuhnya yang terasa sangat lelah ke atas tempat tidur. Matanya segera terpejam dan hanyut dalam buaian malam yang dingin di villa.

Jam 01.18. Nia terbangun. Nia menoleh, melihat ke atas nakas. Belum ada air putih. Nia lupa mengambil segelas air putih sebelum masuk kamar. Dengan kantuk dan lelah yang masih menggelayuti tubuhnya, Nia keluar kamar untuk mengambil minum.

Matanya yang hanya terbuka setengah mencoba menuntun langkah kakinya menuju dapur villa tanpa memperhatikan hal lainnya. Nia menuangkan segelas air putih ke dalam gelas lalu meminumnya perlahan. Matanya masih setengah terpejam. Dia menuangkan air putih lagi ke dalam gelasnya untuk di bawa ke kamar.

"Haus, Sayang?" sebuah suara membuat mata Nia terbuka sempurna.

Entah sejak kapan, Tuan Laksono sudah berdiri tepat di belakangnya. Dengan gerakan cepat, satu tangan Tuan Laksono membungkam mulut Nia dan satu tangan lagi memeluk tubuh Nia dan menyeretnya kembali ke kamar.

Gelas di tangan Nia terjatuh begitu saja, menimbulkan suara pecahan yang cukup keras. Tuan Laksono tak berhenti. Dia terus menyeret tubuh Nia menuju kamar Nia. Tampaknya Bayu dan Nyonya Lestari sudah terlalu lelap hingga tak mendengar bunyi pecahan gelas.

Tuan Laksono segera mengunci pintu kamar Nia sambil masih membungkam mulutnya. Nia bergetar dalam cengkeraman Tuan Laksono. Dia bahkan tak bisa merasakan kakinya masih berpijak pada bumi.

Tuan Laksono melemparkan tubuh Nia di atas kasur. Tuan Laksono menindih Nia agar Nia tak bisa bergerak dengan bebas. Nia mencoba berteriak. Dengan cepat Tuan Laksono membungkam mulut Nia dengan sapu tangan dari saku celannya. Sambil memegang kedua tangan Nia, Tuan Laksono melepaskan ikat pinggangnya lalu mengikatkannya pada kedua tangan Nia. Nia benar-benar dalam ketakutan yang nyata. Dia berharap ini hanya mimpi buruk.

'Tuhan... aku mohon... lindungi aku,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!