Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Hari-hari setelah lomba musik itu membawa perubahan yang halus, tapi terasa. Kayla semakin tenggelam dalam dunianya—belajar, latihan, dan waktu-waktu sederhana bersama Salsa dan Reyhan. Semuanya berjalan lebih tenang, lebih terarah. Namun di sisi lain… ada seseorang yang justru semakin gelisah.
Arga.
Ia mulai memperhatikan lebih banyak dari biasanya. Bukan hanya sekadar melihat Kayla di kejauhan, tapi benar-benar memperhatikan—cara Kayla tertawa sekarang, cara ia berbicara dengan Reyhan, bahkan cara ia terlihat lebih… bahagia.
Suatu sore di lapangan, latihan drumband kembali berlangsung. Semua berjalan seperti biasa. Barisan rapi, musik mengalun, dan Arga memimpin dengan fokus. Namun sesekali, matanya tidak bisa menahan diri untuk melirik ke arah Kayla.
Kayla bergerak dengan percaya diri.
Tidak lagi ragu.
Tidak lagi mencari arah.
Dan… tidak lagi melihat ke arahnya.
Itu yang paling terasa.
Setelah latihan selesai, Kayla langsung berjalan ke arah gerbang sekolah. Di sana, Reyhan sudah berdiri, bersandar santai sambil menunggu.
“Lama juga ya,” kata Reyhan saat melihat Kayla.
Kayla tersenyum. “Latihan tambahan.”
“Capek?”
“Lumayan.”
Percakapan mereka sederhana.
Ringan.
Namun terlihat nyaman.
Dari kejauhan, Arga melihat itu semua.
Tangannya mengepal pelan.
Bukan karena marah…
tapi karena perasaan yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Ia melangkah mendekat tanpa benar-benar sadar.
“Kayla.”
Kayla menoleh.
Arga berdiri di depan mereka.
Suasana langsung berubah sedikit tegang.
“Iya, Kak?” jawab Kayla seperti biasa.
Tenang.
Formal.
Tidak ada kehangatan seperti dulu.
Arga menatap Reyhan sebentar, lalu kembali ke Kayla.
“Mau pulang?”
Kayla mengangguk. “Iya.”
“Bareng?” tanya Arga.
Pertanyaan itu… sederhana.
Tapi terasa berbeda.
Kayla sempat terdiam.
Namun sebelum ia menjawab, Reyhan berbicara.
“Kita udah janjian belajar,” katanya santai.
Tidak menantang.
Tapi jelas.
Arga menatapnya.
Untuk beberapa detik, suasana terasa sangat sunyi.
Kayla menarik napas pelan.
“Maaf, Kak. Aku harus pergi dulu.”
Jawaban itu halus.
Tapi cukup.
Arga mengangguk pelan.
“Iya… gapapa.”
Kayla lalu berjalan pergi bersama Reyhan.
Tanpa menoleh.
Tanpa ragu.
Arga berdiri di tempat.
Melihat punggung Kayla yang semakin menjauh. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan sesuatu yang menusuk. Cemburu. Bukan karena Kayla dekat dengan orang lain saja tapi karena ia sadar ia yang dulu punya kesempatan tidak menjaganya. Malam itu, Arga duduk sendiri di kamarnya. Tidak ada musik, tidak ada suara. Hanya pikirannya sendiri yang berisik.
Ia mengingat semua momen.
Cara ia dulu santai dengan perasaan orang lain.
Cara ia tidak benar-benar serius.
Cara ia menganggap semuanya akan selalu ada.
Namun sekarang…
tidak lagi.
“Aku telat ya…” gumamnya pelan.
Keesokan harinya di sekolah, Arga melihat Kayla lagi di koridor. Kayla sedang tertawa kecil bersama Salsa, dan Reyhan berdiri di samping mereka.
Momen itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Arga berhenti melangkah.
Ia tidak mendekat.
Tidak memanggil.
Hanya melihat.
Dan menyadari sesuatu yang penting.
Bahwa kali ini…
kalau ia ingin mendapatkan kembali kepercayaan Kayla…
itu bukan soal mendekat lebih cepat.
Bukan soal kata-kata manis.
Tapi soal perubahan yang nyata.
Sementara itu, Kayla tidak menyadari sepenuhnya apa yang terjadi di hati Arga. Ia hanya menjalani harinya. Namun sesekali, tanpa sadar, ia merasakan tatapan itu.
Dan kali ini…
ia tidak lagi bingung.
Ia hanya memilih untuk tetap berjalan ke depan.
Karena sekarang, ia tahu dirinya bukan lagi pilihan kedua dalam cerita siapa pun.
Dan tanpa disadari, cerita mereka mulai memasuki fase yang lebih rumit.
Bukan lagi tentang siapa yang suka siapa.
Tapi tentang siapa yang benar-benar siap… untuk berubah dan bertahan.
Hari-hari berikutnya terasa semakin… rumit, meskipun di permukaan semuanya terlihat baik-baik saja. Kayla tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa—belajar, latihan, dan sesekali ke perpustakaan bersama Reyhan. Ia terlihat tenang, bahkan lebih dewasa dari sebelumnya. Namun di sisi lain, Arga tidak bisa lagi bersikap seperti dulu.
Ia mulai berubah.
Bukan hanya dalam kata-kata, tapi juga dalam sikap.
Suatu pagi, di kelas, guru matematika memberikan soal latihan tambahan yang cukup sulit. Beberapa siswa mulai mengeluh, termasuk Raka.
“Aduh ini susah banget…” gumamnya sambil mengacak rambut.
Kayla hanya tersenyum kecil dan mulai mengerjakan.
Beberapa menit kemudian, Arga yang kebetulan lewat di depan kelas (karena jam kosong) melihat suasana itu. Ia berhenti sejenak, lalu masuk.
“Masih pada ngerjain?” tanyanya santai.
Beberapa siswa mengangguk lemas.
Arga melirik ke papan tulis, lalu mengambil spidol.
“Coba lihat yang ini,” katanya.
Ia mulai menjelaskan. Langkah demi langkah. Jelas. Tenang. Kayla yang awalnya sudah punya cara sendiri, tetap memperhatikan. Dan ia sadar cara Arga menjelaskan berbeda dari dulu. Lebih serius. Lebih fokus. Tidak asal. Selesai menjelaskan, Arga tidak langsung melihat Kayla.
Ia hanya berkata, “Kalau masih bingung, coba ulang dari konsepnya.”
Lalu pergi. Kayla menatap papan tulis. Lalu tersenyum kecil.
“Ih, dia sekarang beda ya,” bisik Salsa.
Kayla tidak langsung menjawab.
“Iya…” jawabnya pelan.
Perubahan itu kecil. Tapi terasa. Sore harinya di perpustakaan, Kayla kembali belajar bersama Reyhan. Seperti biasa, suasana tenang. Buku terbuka, dan sesekali mereka berdiskusi.
Namun kali ini, Kayla terlihat sedikit lebih diam.
“Kamu capek?” tanya Reyhan.
Kayla menggeleng. “Enggak… cuma lagi mikir aja.”
“Mikirin apa?”
Kayla terdiam sebentar.
“…orang bisa berubah gak sih?”
Pertanyaan itu membuat Reyhan berhenti sejenak.
Ia menatap Kayla.
“Bisa,” jawabnya.
“Tapi gak semua orang mau.”
Kayla menunduk sedikit.
“Kalau dia mau… tapi telat?”
Reyhan tersenyum tipis.
“Itu tergantung kamu.”
“Kalau kamu masih mau lihat perubahannya… ya kamu lihat.”
“Kalau gak… ya kamu jalan terus.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi dalam.
Kayla mengangguk pelan.
“Hmm…”
Di sisi lain, Arga juga sedang berusaha dengan caranya sendiri. Ia tidak lagi mencoba mendekati Kayla secara langsung. Ia tahu itu tidak akan berhasil.
Sebaliknya ia mulai memperbaiki dirinya. Ia lebih serius saat latihan. Lebih fokus di kelas. Dan mulai menghindari kebiasaan lamanya yang dulu membuat banyak orang salah paham.
Suatu hari, saat latihan drumband, salah satu anggota membuat kesalahan dan hampir dimarahi oleh senior lain. Arga langsung menahan.
“Udah, gak usah dibesar-besarin,” katanya.
“Namanya juga belajar.”
Nada suaranya tegas, tapi tidak keras. Kayla melihat itu. Dan tanpa sadar ia mulai memperhatikan lagi. Bukan karena perasaan lama tapi karena perubahan itu nyata. Namun di sisi lain, Reyhan tetap ada. Tetap konsisten. Tetap tenang. Suatu sore, saat mereka selesai belajar, Reyhan berjalan bersama Kayla keluar dari perpustakaan.
“Kayla,” katanya.
Kayla menoleh. “Iya?”
Reyhan terlihat sedikit lebih serius dari biasanya.
“Aku gak mau kamu salah paham dari awal,” katanya.
Kayla terdiam.
“Aku suka sama kamu.”
Langkah Kayla berhenti. Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat dunia Kayla diam sejenak.
“Aku gak minta kamu jawab sekarang,” lanjut Reyhan.
“Aku cuma… jujur.”
Kayla menatapnya. Perasaan itu datang lagi. Bukan seperti dulu. Tidak membingungkan. Tapi tetap berat. Karena sekarang ia harus memilih. Di satu sisi, ada Reyhan. Yang datang dengan tenang. Yang jelas. Yang tidak menyakitinya. Di sisi lain ada Arga. Yang dulu membuatnya ragu. Tapi sekarang mulai berubah. Kayla menarik napas pelan.
“Aku… butuh waktu,” katanya jujur.
Reyhan mengangguk.
“Iya. Aku ngerti.”
Tidak ada paksaan. Tidak ada drama. Namun kali ini cerita mereka benar-benar sampai di titik yang berbeda. Bukan lagi tentang menghindar. Bukan lagi tentang luka. Tapi tentang pilihan. Dan Kayla tahu pilihan ini akan menentukan langkah berikutnya dalam hidupnya.