Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab
Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: POROS PADANG PASIR
Status diplomatik Nata memang memberinya kekebalan, namun paspor merah marun itu tidak bisa menghentikan peluru atau sabotase mesin pesawat. Menyadari ancaman Jonathan Vance tentang sanksi dolar, Nata memutuskan untuk melakukan langkah yang paling ditakuti oleh sistem keuangan Barat: Membangun sistem kliring minyak berbasis aset digital.
"Bos, jet pribadinya sudah siap. Tapi kita tidak akan terbang langsung ke Riyadh," Elena melapor sambil mengecek gawai keamanannya. "Intelijen kita mendeteksi ada upaya intersepsi di ruang udara yang dikendalikan oleh sekutu Amerika. Kita akan melakukan rute memutar melalui Maladewa dan Oman."
Nata mengangguk, ia melihat Kirana dan Arya sedang sarapan di meja makan ruko. "Kirana, Kakak harus pergi sebentar. Kali ini mungkin agak lama. Jaga Arya, dan jangan keluar dari ruko tanpa pengawalan Yuda, mengerti?"
Kirana menatap kakaknya dengan cemas. Ia tahu Nata bukan lagi sekadar mahasiswa biasa. "Kak... kembalilah dengan selamat. Kami tidak butuh uang banyak, kami hanya butuh Kakak."
Nata tersenyum tipis, memeluk kedua adiknya dengan erat sebelum melangkah keluar menuju mobil taktis yang akan membawanya ke bandara.
Perjalanan menuju Timur Tengah adalah ujian pertama bagi keamanan baru Prawira Global. Di atas Samudra Hindia, Elena terus memantau radar.
"Bos, ada frekuensi radio asing yang mencoba melakukan ping ke transponder kita. Mereka mencoba melacak lokasi presisi kita untuk... mungkin 'kecelakaan' di udara," Elena berbisik agar pilot tidak mendengar.
"Gunakan sistem pengacak sinyal yang kita beli dari pasar gelap Rusia bulan lalu," jawab Nata tenang. "Dan pastikan semua data keuangan yang kita bawa sudah terenkripsi dalam cold storage yang akan hancur jika tekanan kabin turun drastis."
Setelah perjalanan yang menegangkan, jet pribadi itu mendarat di sebuah pangkalan udara pribadi di gurun dekat Neom, Arab Saudi. Di sana, Pangeran Khalid sudah menunggu di dalam tenda modern yang dilengkapi dengan teknologi tercanggih.
"Tuan Prawira, Anda selamat dari 'badai' di Singapura," Khalid menyambutnya dengan pelukan formal. "Vance sangat marah. Dia mencoba menekan keluarga kami untuk membatalkan pertemuan ini."
"Vance takut pada apa yang tidak bisa dia kontrol, Pangeran," jawab Nata. "Dia takut pada masa depan di mana minyak tidak lagi harus ditukar dengan lembaran kertas hijau yang dicetak di Washington."
Nata membuka proyeksinya. Kali ini, ia tidak menawarkan investasi saham. Ia menawarkan "Dinar Digital".
"Sistem ini tidak bergantung pada Swift atau dolar," Nata menjelaskan. "Setiap koin dijamin oleh satu barel minyak di cadangan Anda dan satu gram emas di cadangan saya di Jakarta. Transaksinya instan, tanpa biaya korespondensi bank Amerika, dan yang paling penting: Tidak bisa disanksi."
Pangeran Khalid mengelus janggutnya. "Ini adalah deklarasi perang ekonomi terhadap Amerika, Nata. Jika saya mendukung ini, mereka akan menarik dukungan militer mereka."
"Mereka tidak akan menarik dukungan militer selama Anda memegang kendali atas pasokan energi mereka," sela Nata tajam. "Justru dengan sistem ini, Anda memiliki daya tawar yang lebih besar. Anda bukan lagi pengikut mereka, Anda adalah bankir mereka."
Di tengah presentasi itu, alarm di tablet Elena berbunyi. "Bos! Ada serangan fisik! Sekelompok tentara bayaran tak dikenal mencoba menembus perimeter pangkalan udara ini. Mereka menggunakan seragam tanpa lencana!"
Khalid berdiri, wajahnya merah padam. "Di tanahku? Beraninya mereka!"
Nata tetap tenang. Ia tahu Vance akan mencoba cara ini. "Pangeran, jangan gunakan pasukan reguler Anda. Itu akan menjadi insiden diplomatik. Gunakan tim keamanan swasta saya yang sudah menyusup sebagai 'staf teknis' di pesawat tadi."
Pertempuran pecah di pinggiran gurun. Suara senapan mesin menggema di antara bukit pasir. Nata melihat melalui layar pantau bagaimana tim keamanannya yang dipimpin oleh mantan anggota pasukan khusus Indonesia bekerja dengan presisi luar biasa. Mereka tidak membunuh, mereka melumpuhkan dan menangkap.
"Aku ingin setidaknya satu dari mereka hidup," ucap Nata dingin. "Aku ingin dia bicara di depan kamera bahwa mereka dibayar oleh perusahaan cangkang milik Blackstone."
Dua jam kemudian, serangan itu berhasil diredam. Pangeran Khalid melihat profesionalisme tim Nata dan keberanian pemuda itu sendiri yang bahkan tidak berkedip saat peluru berdesing di luar tenda.
"Nata Prawira," Khalid menjabat tangan Nata dengan sangat erat. "Tawaranmu kuterima. Kita akan mulai uji coba Dinar Digital minggu depan dengan pengiriman minyak pertama ke pelabuhan logistikmu di Singapura."
Kemenangan di padang pasir ini adalah tonggak sejarah. Nata telah berhasil mematahkan dominasi petrodolar untuk pertama kalinya. Namun, saat ia kembali ke pesawat, Elena menunjukkan sebuah berita yang baru saja tayang di televisi internasional.
"Departemen Luar Negeri AS menyatakan Nata Prawira sebagai 'Ancaman Keamanan Finansial Global' dan memasukkan namanya dalam daftar buronan ekonomi paling dicari."
Nata menyandarkan punggungnya, menatap cakrawala gurun yang luas. "Daftar buronan? Bagus. Itu artinya mereka akhirnya menyadari bahwa aku bukan lagi seekor semut, melainkan badai yang akan meruntuhkan menara-menara mereka."
"Apa rencana kita selanjutnya, Bos?" tanya Elena.
"Kita pulang ke Jakarta. Kita akan membangun markas yang tidak hanya terlindungi oleh enkripsi, tapi juga oleh kedaulatan negara kita sendiri. Saatnya membawa pulang seluruh kekuatan ini ke tanah air," jawab Nata dengan penuh tekad.
Garis takdir ini kini membawanya kembali ke titik awal, namun dengan kekuatan yang cukup untuk mengguncang dunia.
Bersambung.....