NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Tangisan Raja Viking

Suasana di gerbang es itu kini dipenuhi oleh simfoni kekerasan yang mengerikan. Setiap detik diisi oleh bunyi logam yang beradu dengan liar. “CRACK—BOOM!” Gada raksasa Ube menghantam tanah tepat di samping kaki Kurza, menghancurkan lapisan es setebal satu meter hingga serpihannya meluncur seperti peluru. “CLANG! SHRRIIIIING!” Kurza menggunakan sarung pedang hitamnya untuk membelokkan serangan horizontal Ube. Gesekan antara logam zirah Ube dan bahan sarung pedang Kurza menciptakan suara pekikan tajam yang menyakitkan telinga, disertai percikan api yang menyala terang di tengah salju. “THUD! GRUNT!” Ube mendaratkan serudukan bahunya. Kurza sempat menyilangkan lengan untuk menahan, namun suara “THWACK” dari benturan tubuh itu terdengar seperti kayu besar yang dihantamkan ke tembok batu.

Kurza terlempar ke belakang, sepatunya berdecit keras “SKREEECH” saat ia mencoba menahan laju tubuhnya di atas permukaan es yang licin. “WHOOSH—WHAM!”Ube mengayunkan tinjunya yang sebesar kepala manusia. Kurza menghindar tipis, dan tinju itu justru menghantam tiang kayu gerbang dengan bunyi “CRUNCH” yang dalam, membuat kayu kuno itu retak seketika. Napas Ube menderu berat seperti suara mesin yang panas, sementara Kurza tetap sunyi, hanya suara langkah kakinya yang terdengar “TAP-TAP-TAP” sangat ringan di tengah hiruk - pikuk hantaman gada yang terus membombardir.

‎Di tengah dentuman logam yang memekakkan telinga, sebuah bayangan kecil namun berani melesat masuk ke zona maut. "CUKUP!" teriak Khiya. Suaranya membelah badai. Ia berdiri tepat di antara gada raksasa Ube yang sedang terangkat dan posisi siaga Kurza. Di tangan kanannya, ia menggenggam kapak perak milik ayahnya yang berat, sementara tangan kirinya mengangkat tinggi - tinggi kalung simbol keluarga kerajaan Viking. “CLING!” Rantai kalung itu bergemerincing tajam saat terkena hembusan angin es. Logam kunonya mendadak bereaksi dengan suhu ekstrem Utara, mengeluarkan pendaran cahaya biru pucat yang persis sama dengan warna mata keluarga Bjorn. Ube tertegun. Gada durinya berhenti hanya beberapa senti di atas kepala Khiya, menciptakan embusan angin kuat yang menerpa rambut sang putri.

Suasana yang tadinya penuh suara “CRASH” dan “BOOM” mendadak berubah menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan deru nafas Ube yang berat seperti singa yang tertahan. Mata Ube beralih dari kalung itu ke wajah Khiya. Ia melihat garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang tak gentar sangat mirip dengan kakaknya, Bjorn."Kapak itu..." gumam Ube, suaranya parau, jauh dari nada meremehkan yang tadi ia tunjukkan. "Hanya mereka yang memiliki darah North Star yang bisa memicu cahaya dari logam itu. "Ube perlahan menurunkan gadanya dengan bunyi “THUMP” yang berat saat menyentuh salju. Para prajurit di sekeliling mereka pun ikut menurunkan senjata, tertunduk dalam keheningan yang penuh hormat.

‎Ube berdiri mematung, dadanya yang bidang masih naik turun dengan cepat, namun amarah di matanya telah berganti dengan kebingungan yang mendalam. Ia menancapkan gadanya ke dalam es dengan bunyi “THUD” yang berat, lalu melangkah mendekat, mengabaikan kehadiran Kurza sepenuhnya. "Siapa kau, gadis muda?" tanya Ube, suaranya berat dan bergetar, bergema di antara dinding es. "Kenapa kapak Bjorn dan kalung North Star itu ada di tanganmu? Benda - benda itu seharusnya terbakar bersama jasad kakakku di lautan Alabas yang jauh." Gumam Ube yang terlihat bingung.

Khiyana tidak menurunkan tangannya. Ia berdiri tegak, membiarkan cahaya biru dari kalung itu menerangi wajahnya yang beku. "Namaku adalah Khiya," jawabnya dengan nada yang tak goyah. "Aku adalah putri dari Bjorn, sang Pangeran viking. Kapak ini adalah warisannya, dan kalung ini adalah buktinya. "Mendengar nama itu, Ube terperanjat. Ia menatap lekat-lekat fitur wajah Khiya mata biru yang tajam dan keberanian yang keras kepala itu. "Putri Bjorn..." gumamnya seolah tak percaya.

"Kami selalu mengira Bjorn mati tanpa meninggalkan jejak di selatan. Jika kau benar adalah darah dagingnya, maka kau bukan sekadar tamu." Ube berbalik ke arah para prajuritnya yang masih bersiaga, lalu berteriak dengan suara yang menggetarkan lembah, "Buka gerbang sepenuhnya!" Ia kembali menatap Khiya, kali ini dengan rasa hormat yang kaku. "Tapi waspadalah, Keponakanku. Raja, kakekmu adalah orang yang hancur karena kehilangan. Kau harus membuktikan dirimu di hadapannya sebelum salju ini mencair."

‎Ube melangkah ke samping, memberikan jalan bagi Khiya. Ia memberikan isyarat kepada para penjaga dengan lambaian tangan yang tegas. "Masuklah," ujar Ube, nadanya kini lebih rendah dan penuh rasa hormat yang kaku. "Kakekmu, Raja Hrolf, ada di dalam. Tapi berhati - hatilah, kesedihan telah membuatnya menjadi pria yang sulit ditebak. Ia telah lama menganggap garis keturunan Bjorn telah padam. "Gerbang kayu ek yang sangat besar itu terbuka dengan suara derit logam yang panjang “CREEEAAAARK”.

Udara hangat dari dalam aula yang dipenuhi aroma kayu terbakar dan daging panggang menyeruak keluar, kontras dengan badai salju di luar. Khiya mulai melangkah masuk, namun ia sempat berhenti sejenak dan menoleh ke arah Kurza dan Rin. Ia memberikan isyarat agar mereka tetap mengikutinya. Meskipun ia berada di tanah leluhurnya, keberadaan Kurza di sisinya memberikan rasa aman. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai kayu saat memasuki Aula rumah Raja. Di ujung ruangan yang luas itu, di atas singgasana yang terbuat dari taring naga dan kayu kuno, duduk seorang pria tua dengan rambut putih panjang dan janggut yang menjuntai hingga ke dada. Matanya yang sebelah tertutup luka parut tampak redup, namun ketika melihat kapak yang dibawa Khiya, pupil matanya yang tersisa seketika melebar. Raja Hrolf tidak bergerak, ia hanya mencengkeram lengan singgasananya hingga jemarinya memutih. Suasana di dalam aula mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan suara api di perapian pun seolah tertahan.

Raja Hrolf terdiam, matanya yang tua tak berkedip menatap kapak dan kalung yang dipegang Khiya. Perlahan, tubuhnya yang besar namun renta itu mulai bergetar. Ia mencoba bangkit dari singgasananya, gerakannya kaku dan berat, hingga Ube harus bergegas maju untuk memapahnya. "Mata itu..." suara sang Raja serak, hampir menyerupai bisikan yang tertelan angin. "Keberanian yang sama yang kulihat saat Bjorn meninggalkan pelabuhan ini bertahun - tahun lalu." Langkah kaki sang Raja yang terseret - seret di atas lantai batu menciptakan suara “SHUFF-SHUFF” yang memecah keheningan aula. Saat ia tiba di depan Khiya, tangannya yang besar dan dipenuhi urat menonjol gemetar saat menyentuh wajah cucunya. Air mata mulai menggenang di mata tua sang penguasa Utara tersebut. "Bjorn... putraku yang keras kepala..." Raja Hrolf terisak.

"Siapa kamu? Kenapa rasanya tidak asing bagiku?" Tanya Raja Hrolf yang sudah mendekat pada Khiya. "Saya putri Pangeran Bjorn" jawab Khiya dengan lantang. "Dia tidak benar - benar pergi. Dia mengirimmu kembali kepadaku." Gumam Raja Hrolf dengan ekspresi gembira. Tanpa memedulikan tatapan para panglima perang di sekelilingnya, Raja Hrolf langsung menarik Khiya ke dalam pelukan yang sangat erat. Aroma bulu beruang, asap kayu, dan kerinduan yang mendalam menyelimuti Khiya. Sang Raja membenamkan wajahnya di bahu cucunya, membiarkan air mata haru membasahi jubah bulu mereka. Sebuah pemandangan langka bagi bangsa Viking melihat raja mereka menangis.

"Selamat pulang, Putri Utara," bisik Hrolf di telinganya. "Darahmu telah memanggil badai, dan kini kau membawa cahaya kembali ke aula yang gelap ini." Kurza, yang berdiri beberapa langkah di belakang, menurunkan sedikit bahunya. Ketegangan di tubuhnya mereda melihat sambutan hangat itu, meski matanya tetap waspada mengawasi sekeliling aula.

"Mari Berpesta......" Teriak Raja Hrolf

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!