Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Penghinaan
Kesalahpahaman pagi itu membuat Ayu harus menjelaskan dengan suara penuh penekanan sana-sini. Tentang mabuk, kecelakaan, hingga soal dua polisi yang menolong membawa pulang Arvin.
Awalnya Arvin mendengar dengan emosi yang meluap-luap lalu perlahan dia mengerti.
Kini pria itu berubah termenung, duduk di tepi tempat tidur, di tempat awal ia ambil posisi jauh dari Ayu.
Ayu baru selesai menjelaskan di seberang tempat tidur.
Dan Ayu pikir masalah sudah beres, kalau saja Arvin tidak menuduhnya kembali yang macam-macam.
“Jadi benar semalam aku kecelakaan?” tanyanya, menunduk sambil memijat pangkal hidung.
Ayu di belakang menjawab, “Iya Pak.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
Arvin lalu berdiri pelan, memutar punggung dengan tetap membawa tatapan curiga, menghadap Ayu.
Dari sini wanita itu tersadar, perdebatan belum akan selesai.
“Lantas kenapa kancing kemejaku kebuka semua?”
“Saya memang membukanya karena kasihan sama Bapak. Baju bapak banyak bekas muntahan jadi aku bersihkan.”
“Lalu soal kamu tidur di atasku?”
Untuk pertanyaan satu ini tidak cepat dijawab. Dia ragu apakah Arvin bisa percaya atau tidak. Karena Arvin mulai memelototi, terpaksa Ayu membuka suara meski terdengar gugup dan kurang meyakinkan.
“Kalau itu … bapak sendiri yang menarik tangan saya, terus meluk saya!”
Arvin tergelak sinis.
“Aku? Narik kamu? Tidak masuk akal.”
“Beneran Pak. Saya tidak bohong!” Suara Ayu sedikit meninggi.
Arvin tidak mempercayai. Dia menghela napas panjang lalu memulai mondar-mandir kecil, sebelum akhirnya membuat kesimpulan sendiri.
“Yang benar itu, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu Me lec eh kanku saat aku sedang lemah tak sadarkan diri sampai puas.”
“Jelas kamu melakukan karena …” langkahnya terhenti sebentar untuk menunjuk wajahnya sendiri, “wajahku ganteng, dan kamu dari dulu memang pengen diakui sebagai istri. Wajar kamu sampai nekat seperti itu,” enteng Arvin menjelaskan.
Ayu sudah biasa dicap buruk di rumah ini, bahkan disuruh-suruh layaknya pembantu tidak pernah protes. Anehnya kali ini, dada Ayu panas hanya mendengar tuduhan Arvin.
“Pak, saya tahu bapak rupawan, dan saya memang berusaha diakui sebagai istri, tapi saya tidak sampai serendah itu!” suara Ayu bergetar.
“Cukup! Pokoknya kamu yang salah. Aku yang benar!” Arvin menunjuk-nunjuk jarinya, tajam.
Arvin hendak keluar dari kamar untuk menyudahi perdebatan pagi ini, tapi matanya menangkap Ayu seperti sedang menahan sesuatu.
Karena tidak suka melihatnya, Arvin putar arah mendatanginya yang masih berdiri terpaku.
Ayu sendiri dalam keadaan tangan mengepal kuat. Sorot matanya yang memerah jatuh mengarah lantai. Saat Arvin sampai tepat di depannya, Ayu seakan mengabaikan.
Bagi Arvin, itu menyebalkan.
Dia lalu menggamit dagu Ayu, dan mengangkatnya paksa hingga wajah penuh amarah Ayu terpampang jelas.
Ini sesuatu yang langka.
Sesuatu yang entah kenapa Arvin malah ingin menambah marah di wajah wanita di depannya agar semakin membara.
Bibirnya pun tersenyum miring.
“Kamu marah? Ngapain? Toh kamu sudah puas menikmati burungku semalaman. Jangan sok polos dan jangan sok emosi seperti ini.”
Ayu masih bergeming.
Arvin melepas tangannya.
Karena belum cukup, dia mendekatkan kepala ke telinga Ayu, berbicara pelan tapi menusuk.
“Aku yakin minggu depan kamu bakalan bilang ‘Pak saya hamil anak bapak.’ Mau tidak mau, saya harus benar-benar mengakui kamu sebagai istri. Saya jadi tidak bisa kabur dan rencanamu selama ini akhirnya sukses besar. Begitu, kan?”
Wajah Ayu semakin menegang, tangannya makin erat mengepal. Kepalanya pun tertunduk dalam.
Arvin tersenyum puas. Dia putar badan sambil berkata, “Dasar wanita murahan. Kelakuanmu sama saja seperti wanita-wanita di pinggir jalan!”
Arvin melangkah pergi.
Ayu menyusul berlari.
“Hari ini aku ada rapat penting. Siapkan pakaian—”
Ayu putar paksa bahu Arvin.
Plak!
Tamparan pedih menyapu cepat hingga kepala Arvin terhempas miring.
“Kamu!” Arvin melotot tak percaya.
Arvin melayangkan balasan, tapi tangan terhenti di ancang-ancang.
Ayu masih berdiri menantang. Tapi mata kecil itu. Mata merah bercucuran air mata.
Arvin tidak sanggup.
Ayu ingin bicara tetapi bibirnya tak kuat menahan gemetar.
Alhasil, dia memilih pergi. Berlari sambil sudah payah menghapus air mata.
“AYU!” bentak Arvin, tapi Ayu tetap pergi.
“Ouwwh!” ringis Arvin, reflek mengusap sudut bibirnya, tepat di bekas tamparan Ayu tadi. Dan dia menemukan noda merah di jari tangannya.
“Ah. Sialan!”
Arvin memutuskan untuk tidak mengejar Ayu dan memilih siap-siap pergi kerja. Urusan Ayu yang sudah mulai berani kurang ajar masih bisa diselesaikan nanti setelah pulang.
Pulang kerja nanti, harus ada hukuman yang setimpal. Kalau bisa, lebih berat dari tamparan tadi.
Namun Arvin tiba-tiba mendapatkan getaran aneh.
Saat dia keluar kamar untuk berangkat kerja, sudut matanya seakan bergerak sendiri menuju arah ke kamar Ayu.
Langkahnya dibuat terhenti hanya untuk merasakan dadanya yang berdegup sedikit kencang dan aneh.
Dia pikir emosinya yang naik lagi, tapi setelah dalam-dalam merasakan, ini ternyata degupan lain.
Degupan yang seolah-olah memancing Arvin untuk segera memastikan apakah Ayu baik-baik saja sekarang.
Arvin menghela napas lalu menggeleng cepat. Dia Segera mengusir perasaan mengganggunya ini.
“Buat apa aku khawatir!” seru Arvin, memilih membuka pintu rumah dan bekerja seperti biasa.