NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Luka yang Tak Terlihat

Pagi datang tanpa kehangatan.

Langit di atas Akademi Kerajaan Averion tampak kelabu, awan tebal menggantung rendah seperti menekan seluruh bangunan di bawahnya. Tidak ada sinar matahari yang benar-benar masuk. Hanya cahaya pucat yang membuat segalanya terlihat lebih dingin dari biasanya.

Sakura sudah terbangun sejak sebelum bel berbunyi.

Bukan karena ia ingin.

Tapi karena tubuhnya tidak mengizinkan dirinya untuk tetap tertidur.

Dadanya terasa sesak sejak malam sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, perlahan tapi konsisten, membuat setiap tarikan napas menjadi sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Ia duduk di tepi ranjang.

Diam.

Matanya menatap lantai kamar yang dingin.

Tidak ada pikiran yang jelas. Tidak ada harapan yang hangat. Hanya kesadaran bahwa hari ini akan sama seperti kemarin… dan mungkin lebih buruk.

Hari demi hari di akademi ini tidak pernah berubah menjadi lebih mudah.

Justru sebaliknya.

Semuanya perlahan menjadi lebih tajam.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Di kelas, hal-hal kecil mulai terjadi.

Awalnya tidak terlihat penting.

Buku pelajarannya hilang.

Catatan yang ia susun rapi tiba-tiba berpindah tempat.

Tinta di mejanya tumpah ketika ia kembali ke tempat duduk.

Tidak ada yang melihat pelakunya.

Tidak ada bukti.

Namun pola itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Dan setiap kali itu terjadi—

selalu ada tawa kecil di belakangnya.

Tawa yang tidak pernah keras.

Tapi cukup untuk membuatnya tahu bahwa itu disengaja.

Sakura tidak pernah bereaksi.

Ia hanya merapikan kembali semuanya.

Diam.

Seperti sudah terbiasa dengan dunia yang tidak pernah memihaknya.

Namun di dalam dirinya, sesuatu perlahan menegang.

Bukan marah.

Tapi lelah.

Langkah kaki berhenti di sampingnya.

“Aku heran kau masih bertahan.”

Suara itu sudah tidak asing.

Claudia.

Sakura tidak menoleh.

Claudia berdiri di samping meja dengan ekspresi tenang. Wajahnya rapi seperti biasa, suaranya halus, namun setiap kata yang keluar darinya seperti ujung pisau yang tidak perlu ditajamkan lagi.

“Masih datang setiap hari,” lanjutnya pelan. “Padahal semua orang sudah tahu tempatmu.”

Sakura tetap diam.

Claudia sedikit menunduk, menatapnya dari samping.

“Kalau aku jadi kau…” bisiknya pelan, “aku sudah berhenti sejak lama.”

Hening.

Lalu ia tersenyum kecil.

Bukan senyum hangat.

Tapi senyum yang tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan.

“Memalukan.”

Ia berbalik.

Langkahnya menjauh tanpa suara.

Namun kata-katanya tertinggal lebih lama dari dirinya.

Siang hari, latihan fisik dimulai.

Para murid berbaris di lapangan batu besar di belakang akademi. Angin berhembus pelan, membawa debu halus yang membuat mata sedikit perih.

“Mulai lari sepuluh putaran,” perintah instruktur.

Semua mulai bergerak.

Sakura ikut.

Putaran pertama masih bisa ia lewati.

Putaran kedua mulai terasa berat.

Putaran ketiga… napasnya mulai tidak stabil.

Dadanya naik turun lebih cepat.

Kakinya terasa seperti bukan miliknya.

Setiap langkah menjadi lebih lambat.

Seolah ada sesuatu yang menariknya ke bawah.

Menahan tubuhnya.

Bukan secara fisik…

tapi dari dalam.

Putaran keempat.

Penglihatannya mulai kabur di tepi.

Putaran kelima

kakinya berhenti.

Dan ia jatuh.

Debu naik sedikit saat tubuhnya menyentuh tanah.

Beberapa murid berhenti berlari.

“Dia lagi…”

“Lemah sekali.”

“Kenapa masih ada di sini?”

Sakura mencoba bangkit.

Tangannya gemetar.

Namun tubuhnya terasa berat, seperti ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Ia memaksa dirinya berdiri.

Namun hanya berhasil setengah.

Lalu jatuh lagi.

Di kejauhan, Claudia menatapnya.

Tidak ada ekspresi di wajahnya.

Tidak kasihan.

Tidak juga puas.

Hanya dingin.

Seolah itu semua memang sudah seharusnya terjadi.

Malam tiba dengan perlahan.

Hujan turun pelan di luar jendela kamar asrama.

Tetesannya mengetuk kaca dengan ritme yang tidak teratur, seperti sesuatu yang tidak memiliki pola.

Sakura berbaring di tempat tidurnya.

Matanya terbuka.

Ia tidak bisa tidur.

Bukan karena tidak lelah.

Tapi karena tubuhnya tidak mengizinkan ketenangan.

duk…

Ia menegang.

Matanya sedikit membesar.

Dari bawah.

Suara itu kembali.

duk…

Lebih jelas.

Lebih dalam.

Sakura duduk perlahan di tempat tidur.

Menatap lantai.

Sunyi.

Namun bukan sunyi yang kosong.

Ini adalah sunyi yang terasa “hidup”.

Seolah ada sesuatu di bawah sana yang sedang menunggu.

Atau… memanggil.

Ia berdiri.

Langkahnya pelan.

Saat kakinya menyentuh lantai kamar—

dingin menjalar naik.

Bukan dingin biasa.

Tapi dingin yang terasa seperti menyentuh sesuatu di dalam dirinya.

duk…

Sekali lagi.

Lebih dekat.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Namun kali ini…

tidak hanya rasa takut yang muncul.

Ada sesuatu yang lain.

Tarikan.

Seolah sesuatu di bawah akademi itu…

mengenal keberadaannya.

Di tempat lain dalam akademi—

Claudia berdiri di lorong panjang yang sepi.

Cahaya obor di dinding bergetar pelan.

Ia tidak sedang berjalan.

Ia hanya berdiri.

Diam.

Namun tatapannya tertuju ke arah bawah tanah.

Ke arah yang sama.

Ke arah yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Namun terasa olehnya.

Sesuatu telah berubah.

Tidak besar.

Tidak meledak.

Tapi cukup untuk membuat dunia terasa sedikit tidak stabil.

Claudia mengerutkan kening halus.

“…lagi?”

Bisiknya pelan.

Ia menutup mata sejenak.

Lalu membukanya kembali.

Tatapannya lebih tajam dari sebelumnya.

“Apa yang sebenarnya kau sentuh… Sakura?”

Di dalam kamar, Sakura masih berdiri.

Tangan kecilnya mengepal pelan.

duk…

Sekali lagi.

Namun kali ini

lantai di bawah kakinya bergetar sangat halus.

Bukan secara fisik.

Lebih seperti… respon.

Seolah sesuatu di bawah akademi itu…

menjawab keberadaannya.

Sakura terdiam.

“Ini… apa?”

Bisiknya pelan.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya getaran kecil yang terus berulang.

Seperti detak jantung yang tidak berasal dari dirinya.

Dan untuk pertama kalinya…

Sakura menyadari sesuatu.

Bahwa dunia ini…

tidak sepenuhnya diam terhadapnya.

Di bawah Akademi Kerajaan Averion, jauh di dalam lapisan batu dan segel kuno yang sudah tidak lagi disebutkan dalam pelajaran mana pun—

sebuah struktur tertutup mulai merespons.

Bukan terbuka.

Bukan retak.

Hanya…

bergetar.

Sangat pelan.

Seolah sesuatu yang telah tidur ribuan tahun…

baru saja mendengar namanya dipanggil kembali.

Dan malam itu berakhir tanpa siapa pun benar-benar memahami apa yang telah dimulai.

Namun satu hal pasti

Sakura bukan lagi sekadar anak yang “tidak punya mana”.

Dia kini menjadi sesuatu yang…

didengar oleh yang seharusnya tidak pernah bangun.

.........

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!