NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jika Ia Harus Hidup

...Chapter 4...

Bukan jeritan biasa, melainkan jeritan makhluk yang merasakan fondasi hidupnya dirobek satu per satu, dan di telinga Ling Xu, jeritan itu terdengar seperti suara istana runtuh. 

“Dia terkena racun,” tiba-tiba sebuah suara asing muncul di dalam benak Ling Xu—bukan suaranya sendiri, bukan pula bisikan hati, melainkan suara yang jelas, dewasa, dan tenang seperti air danau di tengah malam. 

“Siapa?!” tanya Ling Xu keras-keras, tanpa sadar berbicara pada udara kosong. 

“Aku adalah Kesadaran Lintang Kemanusiaan yang kau genggam di dadamu,” jawab suara itu, “dan kau harus mendengarkanku sekarang jika tidak ingin pria ini mati di hadapanmu.”

Ling Xu terdiam. 

Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ia tidak peduli jika manusia itu mati—bahwa ia justru ingin melihat semua manusia mati perlahan seperti ibunya dulu. 

Tapi ada sesuatu dari cara suara itu bicara yang membuatnya terdiam.

“Racun itu bernama Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan,” lanjut Kesadaran Lintang Kemanusiaan, “sangking mematikannya, hampir setiap pelafalnya juga akan turut mengalami hal serupa yang dialami oleh lawannya. Itulah mengapa jurus ini jarang digunakan—karena bunuh diri kolektif bukanlah strategi yang populer.” 

Ling Xu menatap Huan Zheng, yang kini separuh tubuhnya sudah tertutup lumut hitam, matanya mulai kosong seperti sedang melihat ke alam lain. 

“Racun ini mematikan setiap tingkat kultivasi yang pernah diraih,” suara itu berbisik lebih pelan, “satu per satu, dari yang tertinggi hingga yang terendah. Dan jika tidak dihentikan, ia akan menghancurkan Lintang Kemahaesaan atau Lintang Kemanusiaan sang korban. Pria ini akan menjadi manusia biasa—tanpa kekuatan, tanpa identitas, tanpa apa pun selain gelar mantan kultivator yang nyaris tak berarti.”

Ling Xu terduduk di tanah yang mulai menghitam karena racun yang menetes dari tubuh Huan Zheng, bibirnya mengerucut tajam mendengar saran dari Kesadaran Lintang Kemanusiaan di dadanya. 

“Memecah Lintang Kemanusiaanku menjadi seratus keping? Dan memberikan empat puluh sembilan keping kepadanya?” suaranya naik setengah oktaf, matanya menyipit ke arah pria yang terbaring tak berdaya di hadapannya—tubuhnya kini nyaris seluruhnya tertutup lumut hitam, hanya wajahnya yang masih tersisa, pucat seperti patung lilin yang meleleh. 

“Kau tahu siapa dia? Dia manusia! Biadab yang sama yang membantai ibuku!” 

Kesadaran Lintang itu tidak menjawab dengan emosi, hanya dengan kesabaran yang justru lebih menyebalkan. 

“Aku tidak memintamu melakukannya karena cinta, Ling Xu. Aku memintamu melakukannya karena logika. Jika dia mati, satu-satunya jembatan menuju dalang di balik tragedimu ikut putus. Jika dia hidup sebagai manusia biasa, dia tidak berguna bagimu. Tapi jika dia hidup sebagai kultivator Lintang Bawah—sepertimu—maka kalian bisa berjalan bersama menuju jawaban yang kau cari.” 

Ling Xu mengepalkan tangan, kukunya nyaris menembus telapak. 

“Dan apa yang kau dapat dari ini?” tanyanya dingin. 

“Aku adalah Lintang Kemanusiaan,” jawab suara itu, “tujuanku adalah bertahan. Dan dengan memiliki dua inang yang terhubung, peluangku untuk terus eksis lebih besar.” 

Ling Xu tertawa getir. 

“Setidaknya kau jujur. Baiklah. Ajari aku ritualnya.”

Dan dimulailah tarian yang tidak pernah Ling Xu bayangkan akan ia lakukan untuk seorang manusia. 

Ia berdiri di hadapan Huan Zheng yang terbaring, kedua telapaknya dirapatkan di depan dada, lalu perlahan—seperti diajarkan oleh bisikan di kepalanya—ia menggerakkan jari-jarinya membentuk alur-alur cahaya di udara. 

Lintang Kemanusiaan di dadanya berdenyut kencang, lalu retak. 

Bukan hancur, melainkan terbelah menjadi seratus keping cahaya kecil yang berhamburan di sekelilingnya seperti kunang-kunang emas di malam paling gelap. 

“Empat puluh sembilan untukmu,” gumam Ling Xu, matanya setengah terpejam, dan keping-keping itu mulai bergerak dalam formasi melingkar, mengelilingi tubuh Huan Zheng yang sekarat, lalu satu per satu masuk ke dadanya.

Bukan seperti tusukan, melainkan seperti hujan yang meresap ke tanah kering. Huan Zheng, di tengah rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya, mendadak membuka matanya lebar-lebar. 

Karena di balik kabut hitam racun yang hampir merenggut nyawanya, ia melihat sesuatu: Ling Xu, dengan rambut putih bercorak warna yang berkibar tanpa angin, dikelilingi cahaya emas, menari. 

Bukan tarian sembarangan—melainkan tarian yang anggun, kuno, dan suci, seperti tarian para dewi di masa sebelum Pertentangan Harmoni. 

“Kau...” bisik Huan Zheng, suaranya parau, “kau seorang dewi….” 

Ling Xu tidak menjawab. 

Ia hanya terus menari, karena jika ia berhenti, ritual itu akan gagal, dan semua yang ia korbankan akan sia-sia.

Selama ritual berlangsung, Kesadaran Lintang Kemanusiaan terus berbisik di telinga batin Ling Xu, menjelaskan setiap konsekuensi dengan nada datar seperti seorang guru yang sedang mengajar murid yang bandel. 

“Ketika ritual ini selesai, empat puluh sembilan keping Lintang Kemanusiaanmu akan bersemayam di tubuh Huan Zheng sebagai bagian dari Pondasi Lintang miliknya. Mereka akan bertindak sebagai sekat—memisahkan racun Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan yang telah meracuni Lintang Kemanusiaannya, dan menjamin dia tetap eksis sebagai kultivator.” 

Ling Xu menggigit bibir bawahnya—ia bisa merasakan setiap keping cahaya yang meninggalkan tubuhnya seperti serpihan daging yang terkelupas. 

“Tapi konsekuensinya,” lanjut suara itu, “apa pun yang terjadi padamu, akan menimpa dirinya pula. Dan apa pun yang terjadi padanya, akan menimpamu—meski kau hanya merasakan lima puluh persen dari dampak yang ia rasakan.” 

Huan Zheng membuka matanya, dan untuk pertama kalinya dalam hitungan hari yang terasa seperti abad, ia bisa bernapas tanpa rasa sakit yang membakar. 

Tubuhnya masih lemah, tapi di dalam dadanya, 49 keping Lintang Kemanusiaan dari Ling Xu berdenyut asing namun hangat—seperti tamu tak diundang yang ternyata membawa selimut di malam dingin. 

“Aku... bisa kembali ke ranah Kaki Kemanusiaan,” gumamnya pelan, matanya menyipit ke arah langit senja, “bahkan mungkin... mengendalikan racun Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan itu sebagai basis pertahanan.” 

Ia mengepalkan tangan, merasakan kekuatan yang perlahan merambat kembali ke ujung jarinya, lalu menoleh ke arah Ling Xu yang masih berlutut kehabisan napas. 

“Terima kasih,” ucapnya, dan untuk sesaat, nadanya tulus.

“Aku akan mengingat jasa dan nasibmu, dewi kecil.” 

Ling Xu hanya mendengus, tidak membalas, karena ia terlalu lelah untuk peduli. 

Namun di detik berikutnya, tanpa peringatan, tanpa perubahan ekspresi—Huan Zheng menebas. 

Pedang energi yang terbentuk dari Qi-nya yang baru pulih melesat ke arah leher, lengan, dan dada Ling Xu, tiga tebasan dalam satu hembusan napas, seperti ular yang menggigit tanpa pernah mendesis sebelumnya. 

“Apa—?!” 

Ling Xu berguling ke samping, pinggangnya tergores, darah menyembur—tapi ia masih selamat.

“Kau gila?!” pekiknya, matanya membelalak. 

Huan Zheng tersenyum, dan senyum itu tidak lagi hangat. 

“Bukan gila, dewi. Pintar. 51 keping Lintang Kemanusiaanmu yang tersisa... akan lebih berguna di tanganku.” 

Ling Xu menggertakkan gigi. Ia bisa merasakan Huan Zheng—yang seharusnya sama-sama berada di ranah Pondasi Lintang Bawah—kini melesat naik, melewati batas, meninggalkan Ling Xu seperti burung yang tiba-tiba bisa terbang lebih tinggi dari yang seharusnya. 

“Kau sudah menetralkan konsekuensinya, ya?” desis Ling Xu, sambil memegang lukanya. 

Huan Zheng mengangguk, angkuh. 

“Tentu. Aku tidak sebodoh itu.”

Namun Huan Zheng tidak tahu satu hal. 

Di sela-sela ritual tadi, saat keping-keping cahaya berhamburan dan ia terpana oleh tarian Ling Xu, gadis itu telah meniupkan sesuatu ke 51 keping yang tersisa di tangannya. 

Bukan doa, bukan mantra—melainkan racun.

Racun dari herbal-herbal biasa yang tumbuh di setiap perjalanan Ling Xu, yang selama bertahun-tahun Ling Xu kumpulkan, ramu, dan simpan di bawah kuku jarinya. 

Racun yang tidak mematikan bagi kultivator kuat, tapi mematikan bagi mereka yang baru saja selamat dari kematian. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!