Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - Rumor
Gwen menunduk dalam-dalam, berusaha menghindari tatapan dan kerutan dahi rekan-rekan kerjanya yang tak ramah. Baru tiga hari bekerja di ArtVia Headquarters, tapi ia sudah bolak-balik ke ruangan direktur operasional. Bisik-bisik sumbang itu sulit diabaikan.
“Itu arsitek baru, katanya dipilih karena pacaran sama big boss.”
“Iya, sengaja menggoda biar langsung masuk proyek penting.”
"Denger - denger dia orang ketiga kandasnya hubungan Big Boss dan tunangannya."
“Ya wajar… cantik sih, seksi pula.”
Gwen menggigit bagian dalam pipinya. Abaikan, Gwen. Abaikan. Ia menarik napas panjang, mengangkat dagu, meluruskan bahu, lalu berjalan dengan langkah percaya diri menuju ruangan Pak Hendra. Lo di sini karena kemampuan, bukan karena yang lain. Mereka bukan yang bayar gaji lo.
Baru beberapa detik setelah ia mengetuk, pintu terbuka dan suara antusias Pak Hendra langsung menyambutnya.
“Gwen! Masuk, masuk. Kita sudah nunggu kamu dari tadi.”
Gwen mengelap telapak tangannya yang lembap ke celana high-waist hitamnya sebelum melangkah masuk. Ia tidak menyangka sudah ada orang lain di dalam ruangan. Senyumnya langsung mengembang saat melihat wajah yang familiar.
“Mas Rama?”
“Lho, kalian saling kenal?” tanya Pak Hendra, alisnya terangkat penasaran.
“Gwen junior saya di kampus,” jawab Rama santai, tersenyum tipis.
“Wah, semakin bagus dong,” kata Pak Hendra sambil tersenyum lebar. Ia menunjuk kursi di depan mejanya, tepat di samping Rama. “Duduklah.”
“Rama ini arsitek senior di kantor kita. Seharusnya dia ikut presentasi kamu, tapi sedang riset di Ubud, jadi ketinggalan. Oh ya, Pak Raymond meminta kamu bergabung ke proyek resort barunya di Ubud. Rama yang akan memimpin timnya.”
Gwen mengangguk kecil, tersenyum sopan. “Senang bertemu lagi, Mas Rama.”
Rama tersenyum lebar, matanya menyipit ramah. “Aku juga, Gwen. Nggak nyangka kamu yang bikin desain Villa Serenita itu. Presentasinya keren banget. Pak Raymond sampai cerita ke aku waktu di Ubud kemarin.”
Pak Hendra bersandar di kursinya. “Itu yang membuat Pak Raymond semakin yakin. Mulai minggu ini, Gwen akan bergabung dengan tim Ubud di bawah pimpinan Rama. Proyek utamanya adalah pengembangan resort baru di sebelah Villa Serenita—konsep healing retreat. Ada delapan villa tamu, spa, yoga pavilion, dan organic restaurant. Timeline-nya ketat, jadi kita harus cepat.”
Gwen mengerjap. “Resort? Bukan hanya villa pribadi?”
“Betul,” jawab Pak Hendra. “Pak Raymond ingin mengembangkan lahan di sebelahnya jadi boutique resort kecil. Rama sebagai lead arsitek, dan kamu akan jadi asisten Rama, bantu dia untuk koordinasi interior dan landscape.”
Rama menoleh ke arah Gwen. “Aku sudah baca brief-nya. Desain healing di villa pribadinya bagus sekali. Nanti kita kolaborasi ya, supaya keseluruhan resort tetap konsisten dengan visi Pak Raymond.”
“Siap, Mas. Aku akan kasih yang terbaik,” balas Gwen mantap.
Pak Hendra melanjutkan dengan tegas, “Rapat tim pertama besok pagi jam sembilan. Tapi malam ini kalian berdua harus lembur dulu. Ada beberapa hal mendesak yang harus diselaraskan sebelum rapat besok—terutama penyesuaian konsep dan timeline. Rama sudah bawa data dari Ubud.”
Gwen tersenyum tipis, meski dalam hati sedikit kecewa karena rencana pulang cepat langsung buyar. “Baik, Pak.”
Setelah rapat singkat selesai, Rama mengajak Gwen ke ruangan tim Ubud yang baru. Ruangan itu lebih luas, dengan meja-meja panjang dan papan sketsa besar di dinding. Di dalam sudah ada tiga orang staf muda lainnya.
“Ini Gwen, arsitek baru kita,” kata Rama memperkenalkan.
Gwen berdiri di dekat pintu, tersenyum sopan. “Halo, semua.”
“Ini Rara, Rio, dan Leon.”
Rama menjelaskan tugas masing-masing dengan cepat: Rara menangani drawing teknis, Rio fokus 3D modeling dan rendering, Leon mengurus detail konstruksi dan material,"
Baru saja Rama selesai bicara, Leon langsung menyeringai lebar.
“Gwen dipanggilnya apa, nih?”
“Panggil Gwen aja,” jawab Gwen sambil tersenyum.
“Gwen… Girl, Want, bE, my girlfrieNd?” Leon mengucapkannya dengan penuh percaya diri.
Gwen tak bisa menahan tawa. Sementara Rara dan Rio langsung menyerbu Leon.
“Basi banget sih, kayak sayur dua hari!” ejek Rara.
“Garing level dewa!” tambah Rio sambil geleng-geleng kepala.
“Udah, jangan didengerin si gila itu,” kata Rara sambil tersenyum lebar dan menepuk pelan bahu Gwen. “Welcome ya, Gwen. Semoga betah di sini.”
Gwen tersenyum hangat. Sepertinya ia memang akan betah di tim ini.
...__KejarTenggat__...
Aga : Kamu lagi ngapain?
Aga : Balas dong, dibaca doang.
Aga : Baby, kamu nggak kangen aku?
Aga : Aku kangen kamu banget, berat.
Gwen memandangi deretan pesan dengan alis terangkat kecil. Semua sudah bercentang biru. Ia melirik jam di pojok layar—sudah jam tiga sore.
Gwen : Ga, kamu tahu nggak ini jam berapa?
Aga : Jam 3
Gwen : Jelas aku lagi kerja.
Aga : Ciee yang udah kerja. Gimana? Betah di sana?
Gwen tersenyum kecil sambil mengetik lincah, sengaja memancing.
Gwen : Betah banget, Ga. Kerja di sini dikelilingi yang segar-segar semua.
Balasan Aga langsung masuk cepat.
Aga : Segar-segar apa? Pasti cowok semua ya?
Aga : Baby! Awas kamu kalau genit sama cowok lain.
Aga : Kok pesanku gak dibalas? Nanti pulang kantor aku hukum loh.
Gwen : Aku lembur malam ini, Ga.
Aga : Lembur? Aku jemput sekalian makan malam yuk.
Gwen : Gak usah. Ayah yang jemput.
Chat langsung sepi beberapa detik. Gwen menggigit bibir bawahnya menahan tawa, membayangkan wajah Aga yang pasti sudah memerah.
Aga : Ayah?
Aga : Maksudnya ayah kamu atau ayah palsu?
Aga : Baby, chat aku bukan koran ya—jangan cuma dibaca doang.
Gwen : Aku sibuk banget nih. Lanjut nanti ya.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar komputer yang penuh sketsa healing resort. Di satu sisi, kantor baru ini terasa menyenangkan—tim yang asyik, proyek menantang. Di sisi lain, Aga selalu berhasil membuat jangtungnya berdegup lebih kencang, meski hanya lewat chat.
Malam semakin larut. Kantor hampir sepi. Gwen melirik jam dinding—sudah hampir jam delapan. Rama masih di ruangannya, mempersiapkan data Ubud untuk dibahas malam ini.
Entah kenapa, hari ini terasa jauh lebih menarik dari biasanya.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍