NovelToon NovelToon
Suami Penjudi, Istri Terbeli

Suami Penjudi, Istri Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.



Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.

Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".

Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang di Balik Layar Kaca

Ruang rapat di lantai lima puluh lima Gedung Darmawan Tower itu terasa begitu dingin. Bukan hanya karena sistem pendingin udara yang bekerja maksimal. Melainkan karena atmosfer ketegangan yang menyelimuti belasan pria berjas mahal di dalamnya.

Aroma kopi espresso yang kuat bercampur dengan wangi parfum maskulin kelas atas. Di ujung meja oval yang terbuat dari kayu jati solid. Rizki Pratama duduk tegak sebagai Presiden Direktur Utama yang baru. Mewarisi takhta ayahnya yang tengah terbaring kritis.

Di hadapannya, para pemegang saham dan dewan komisaris sedang berdebat sengit mengenai fluktuasi saham perusahaan di pasar modal. Suara mereka berdengung seperti kawanan lebah yang haus akan madu keuntungan. Namun, fokus Rizki tidak sepenuhnya ada di sana.

Di bawah meja, tangannya sesekali menyentuh layar laptop tipis miliknya. Di sebuah folder tersembunyi, sebuah foto terbuka. Foto itu diambil dengan terburu-buru menggunakan kamera ponselnya kemarin siang. Sesaat sebelum ia berlari mengejar bus terakhir dari Desa Sukamulya.

Foto itu sedikit kabur, ada efek motion blur. Karena gerakan yang cepat, namun subjek di dalamnya tetap memancarkan aura yang kuat.

Seorang gadis yang sedang berdiri mematung di tepi sungai dengan kain jarit yang masih melilit tubuhnya dan tatapan mata yang penuh trauma sekaligus rasa terima kasih.

Larasati,

Rizki menatap lekat garis wajah gadis itu. Setiap inci rahangnya, lengkung alisnya. Hingga binar matanya yang sendu. Adalah replika sempurna dari foto-foto masa muda ibundanya yang tersimpan di album tua milik ayahnya.

Rasanya mustahil ada dua orang yang begitu mirip jika tidak memiliki ikatan darah. Hati Rizki bergetar, ia merasa seolah ibunya sedang memanggilnya melalui wajah gadis desa itu.

"Tuan Muda Rizki!" sebuah bisikan tajam menyentak kesadarannya.

Cubit!

"Aduh!" Rizki berjengit kecil saat sebuah cubitan mendarat tepat di pinggang kirinya.

Ia menoleh ke samping dan mendapati Nana, asisten pribadinya. Sedang menatapnya dengan mata melotot. Nana adalah teman masa kecil Rizki. Putri dari salah satu orang kepercayaan ayahnya.

Sejak kecil, mereka tumbuh bersama, belajar di sekolah yang sama. Hingga kini Nana mengabdikan dirinya sebagai tangan kanan Rizki di perusahaan. Namun, bagi Nana, jabatan itu hannyalah kedok untuk tetap berada di dekat pria yang diam-diam ia cintai sejak usia remaja.

"Fokus, Rizki. Pak Baskoro baru saja menanyakan pendapatmu soal merger dengan perusahaan logistik itu," bisik Nana dengan nada otoriter yang dibuat-buat. Meski di matanya tersirat rasa penasaran yang besar.

Rizki segera mendeham, memperbaiki posisi duduknya dan dengan lihai memberikan jawaban diplomatis yang memukau para peserta rapat. Kemampuannya mengolah kata dan mengambil keputusan cepat adalah bakat alamiah yang menurun dari ayahnya. Rapat pun berlanjut selama dua jam ke depan, namun pikiran Rizki tetap terbagi.

Penyelidikan Rahasia

Setelah ruang rapat kosong dan para pemegang saham bubar dengan wajah puas. Rizki tetap duduk di kursinya. Nana berdiri di belakangnya, merapikan berkas-berkas dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Matanya mencuri pandang ke arah layar laptop Rizki yang kini sudah tertutup.

"Rizki, siapa gadis itu?" tanya Nana akhirnya, tak tahan lagi memendam rasa penasaran yang membakar hatinya. Sejak melihat Rizki melamun menatap foto tadi.

Rizki menatap Nana sejenak, lalu tersenyum tipis, "Bukan siapa-siapa, Na. Hanya seseorang yang aku temui di Sukamulya."

"Sukamulya? Desa asal Ibumu?" Nana menyipitkan mata.

"Kamu baru di sana satu hari dan sudah punya foto gadis desa seserius itu? Ingat, Ki, posisi kamu sekarang sangat rawan. Jangan sampai ada skandal rendahan yang menghancurkan citra Darmawan Group."

Rizki tidak menjawab. Ia justru menekan tombol interkom di mejanya, "Yudha, masuk ke ruangan saya sekarang."

Tak lama kemudian, Yudha, kepala tim investigasi internal perusahaan yang sangat tertutup. Masuk ke ruangan. Pria itu dikenal sebagai anjing pelacak keluarga Darmawan. Jika Yudha diberi nama, ia akan menemukan sejarah hidup orang tersebut hingga ke akar-akarnya.

"Ada tugas, Tuan Muda?" tanya Yudha tanpa basa-basi.

Rizki memutar laptopnya ke arah Yudha dan membuka foto Larasati sekali lagi.

"Selidiki gadis ini. Namanya Larasati, tinggal di Desa Sukamulya. Aku ingin laporan lengkap mengenai asal-usul keluarganya. Siapa orang tuanya dan apakah ada keterkaitan dengan garis keturunan ibundaku di masa lalu. Aku juga ingin tahu kondisi keamanannya sekarang. Kirim orang ke sana secara rahasia. Jangan sampai warga desa atau pihak luar tahu."

Yudha mengangguk paham. "Siap, Tuan Muda. Kapan Anda butuh laporannya?"

"Secepat mungkin. Kemarin aku terpaksa pulang terburu-buru karena kondisi Ayah. Tapi hatiku tertinggal di sana. Ada sesuatu yang tidak beres di desa itu, Yudha. Aku merasakannya," perintah Rizki dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Yudha segera pamit keluar, meninggalkan Rizki dan Nana dalam keheningan yang canggung. Nana tampak berwajah masam dan memendam api cemburu yang mendalam.

Api Cemburu di Balik Profesionalitas

Nana berdiri terpaku di samping meja kerja Rizki. Hatinya terasa seperti diremas. Selama bertahun-tahun ia mendampingi Rizki, dari masa kuliah di luar negeri hingga memegang kendali perusahaan besar ini.

Belum pernah ia melihat Rizki menginvestasikan sumber daya perusahaan hanya untuk menyelidiki satu orang gadis secara personal. Belum pernah sama sekali wajah Rizki seantusias itu dengan seorang gadis walau hanya dalam foto.

Siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya bisa membuat Rizki yang dingin ini menjadi begitu emosional? batin Nana, ia merasa terancam.

Baginya, kecantikan gadis di foto itu. Meski kabur memiliki daya pikat alami yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita sosialita di Jakarta, termasuk dirinya. Sedangkan kecantikan dirinya adalah modifikasi dari makeup-makeup mahal tentunya.

"Kamu terlalu terobsesi dengan wasiat Ibumu, Ki," ucap Nana dengan nada sedikit sinis yang gagal ia sembunyikan.

"Membangun desa itu adalah satu hal, tapi menyelidiki seorang gadis desa secara pribadi... itu sudah di luar koridor bisnis."

Rizki berdiri, mengenakan jasnya kembali dan menatap Nana dengan tatapan yang dalam, "Ini bukan soal bisnis, Nana.

Ini soal martabat dan janji. Gadis itu mirip sekali dengan Ibu dan firasatku mengatakan, dia sedang dalam bahaya besar. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Rizki melangkah keluar ruangan menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Meninggalkan Nana yang masih menatap layar laptop Rizki yang sudah gelap.

Tangan Nana terkepal erat. Ia tidak akan membiarkan gadis desa mana pun merebut perhatian Rizki darinya. Jika Rizki ingin menyelidiki gadis itu, maka Nana juga akan melakukan penyelidikannya sendiri dengan caranya sendiri.

Di sisi lain kota, Bagaskara sedang merayakan keberhasilan lamarannya dengan botol-botol minuman mahal. Tidak menyadari bahwa gurita bisnis yang ingin ia hancurkan kini sedang mulai mengulurkan tentakelnya menuju Desa Sukamulya.

Takdir sedang mempercepat langkahnya antara seorang pewaris yang mencari akar masa lalu dan seorang penjudi yang ingin mengubur masa depan. Seakan suara genderang perang baru ditabuh di medan laga. Lalu hasil akhir adalah pemenangnya.

1
Surti
ini baru seru👍
Bagus Effendik: terima kasih ya kak
total 1 replies
Surti
yang ini lebih menegangkan
Bagus Effendik: wkwkwkkwk seru dong kak🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
asyik sih jadi betah baca💪👍
Bagus Effendik: hehe harus dong🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
ngeri juga bab yang ini👍🤣
Bagus Effendik: hehe 🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
dasar permuda tua-tua mupeng🙏 wkwkkwk👍 mantap
Bagus Effendik: hehe ia tuh Permadi
total 1 replies
Anik Makfuroh
mantap nih penuh ketegangan dan air mata
Anik Makfuroh
siap baru lagi kayaknya seru nih penuh ketegangan👍
Bagus Effendik: benar kak👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
sangat suka 👍👍👍
Bagus Effendik: terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
wow 👍 menegangkan😄🤭
Bagus Effendik: hehe awas baper
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
mantap nih baru
Bagus Effendik: asyiap🤭
total 1 replies
Larasz Ati
walah thor mantap bacaan khusus sebelum bobok ini🤭
Bagus Effendik: hehehe jangan baper tapi kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
menang banyak dong si bagas nih
Bagus Effendik: beneran menang banyak
total 1 replies
Larasz Ati
up terus thor👍👍👍
Bagus Effendik: siap kak
total 1 replies
Larasz Ati
keren si Rizki ini👍
Bagus Effendik: bener cowok sejati👍😄
total 1 replies
Larasz Ati
jadi bingung mau baca yang mana dulu dari novel-novelmu keren-keren sih👍 mantap
Bagus Effendik: baca satu satu kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
luh kok merinding bacanya kasihan laras lah namanya sama aku thor kamu terinspirasi aku ya hayo ngaku😄😄😄😄 👍
Bagus Effendik: awas baper kak hehe🤭
total 1 replies
Larasz Ati
kayaknya lebih seru lagi yang ini
Bagus Effendik: siap kak makasih
total 2 replies
Larasz Ati
wanjay baru lagi nih gerak cepat ya thor🤭
Bagus Effendik: hehe ia kak mumpung ada ide
total 1 replies
Setyo Nugroho
yah jadinya laras sama bagas dong
Bagus Effendik: hehehe kayaknya sih begitu🤭
total 1 replies
Setyo Nugroho
semakin merinding 🤭😄👍
Bagus Effendik: pegangan kak biar nggak jatuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!