Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang di Balik Layar Kaca
Ruang rapat di lantai lima puluh lima Gedung Darmawan Tower itu terasa begitu dingin. Bukan hanya karena sistem pendingin udara yang bekerja maksimal. Melainkan karena atmosfer ketegangan yang menyelimuti belasan pria berjas mahal di dalamnya.
Aroma kopi espresso yang kuat bercampur dengan wangi parfum maskulin kelas atas. Di ujung meja oval yang terbuat dari kayu jati solid. Rizki Pratama duduk tegak sebagai Presiden Direktur Utama yang baru. Mewarisi takhta ayahnya yang tengah terbaring kritis.
Di hadapannya, para pemegang saham dan dewan komisaris sedang berdebat sengit mengenai fluktuasi saham perusahaan di pasar modal. Suara mereka berdengung seperti kawanan lebah yang haus akan madu keuntungan. Namun, fokus Rizki tidak sepenuhnya ada di sana.
Di bawah meja, tangannya sesekali menyentuh layar laptop tipis miliknya. Di sebuah folder tersembunyi, sebuah foto terbuka. Foto itu diambil dengan terburu-buru menggunakan kamera ponselnya kemarin siang. Sesaat sebelum ia berlari mengejar bus terakhir dari Desa Sukamulya.
Foto itu sedikit kabur, ada efek motion blur. Karena gerakan yang cepat, namun subjek di dalamnya tetap memancarkan aura yang kuat.
Seorang gadis yang sedang berdiri mematung di tepi sungai dengan kain jarit yang masih melilit tubuhnya dan tatapan mata yang penuh trauma sekaligus rasa terima kasih.
Larasati,
Rizki menatap lekat garis wajah gadis itu. Setiap inci rahangnya, lengkung alisnya. Hingga binar matanya yang sendu. Adalah replika sempurna dari foto-foto masa muda ibundanya yang tersimpan di album tua milik ayahnya.
Rasanya mustahil ada dua orang yang begitu mirip jika tidak memiliki ikatan darah. Hati Rizki bergetar, ia merasa seolah ibunya sedang memanggilnya melalui wajah gadis desa itu.
"Tuan Muda Rizki!" sebuah bisikan tajam menyentak kesadarannya.
Cubit!
"Aduh!" Rizki berjengit kecil saat sebuah cubitan mendarat tepat di pinggang kirinya.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Nana, asisten pribadinya. Sedang menatapnya dengan mata melotot. Nana adalah teman masa kecil Rizki. Putri dari salah satu orang kepercayaan ayahnya.
Sejak kecil, mereka tumbuh bersama, belajar di sekolah yang sama. Hingga kini Nana mengabdikan dirinya sebagai tangan kanan Rizki di perusahaan. Namun, bagi Nana, jabatan itu hannyalah kedok untuk tetap berada di dekat pria yang diam-diam ia cintai sejak usia remaja.
"Fokus, Rizki. Pak Baskoro baru saja menanyakan pendapatmu soal merger dengan perusahaan logistik itu," bisik Nana dengan nada otoriter yang dibuat-buat. Meski di matanya tersirat rasa penasaran yang besar.
Rizki segera mendeham, memperbaiki posisi duduknya dan dengan lihai memberikan jawaban diplomatis yang memukau para peserta rapat. Kemampuannya mengolah kata dan mengambil keputusan cepat adalah bakat alamiah yang menurun dari ayahnya. Rapat pun berlanjut selama dua jam ke depan, namun pikiran Rizki tetap terbagi.
Penyelidikan Rahasia
Setelah ruang rapat kosong dan para pemegang saham bubar dengan wajah puas. Rizki tetap duduk di kursinya. Nana berdiri di belakangnya, merapikan berkas-berkas dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Matanya mencuri pandang ke arah layar laptop Rizki yang kini sudah tertutup.
"Rizki, siapa gadis itu?" tanya Nana akhirnya, tak tahan lagi memendam rasa penasaran yang membakar hatinya. Sejak melihat Rizki melamun menatap foto tadi.
Rizki menatap Nana sejenak, lalu tersenyum tipis, "Bukan siapa-siapa, Na. Hanya seseorang yang aku temui di Sukamulya."
"Sukamulya? Desa asal Ibumu?" Nana menyipitkan mata.
"Kamu baru di sana satu hari dan sudah punya foto gadis desa seserius itu? Ingat, Ki, posisi kamu sekarang sangat rawan. Jangan sampai ada skandal rendahan yang menghancurkan citra Darmawan Group."
Rizki tidak menjawab. Ia justru menekan tombol interkom di mejanya, "Yudha, masuk ke ruangan saya sekarang."
Tak lama kemudian, Yudha, kepala tim investigasi internal perusahaan yang sangat tertutup. Masuk ke ruangan. Pria itu dikenal sebagai anjing pelacak keluarga Darmawan. Jika Yudha diberi nama, ia akan menemukan sejarah hidup orang tersebut hingga ke akar-akarnya.
"Ada tugas, Tuan Muda?" tanya Yudha tanpa basa-basi.
Rizki memutar laptopnya ke arah Yudha dan membuka foto Larasati sekali lagi.
"Selidiki gadis ini. Namanya Larasati, tinggal di Desa Sukamulya. Aku ingin laporan lengkap mengenai asal-usul keluarganya. Siapa orang tuanya dan apakah ada keterkaitan dengan garis keturunan ibundaku di masa lalu. Aku juga ingin tahu kondisi keamanannya sekarang. Kirim orang ke sana secara rahasia. Jangan sampai warga desa atau pihak luar tahu."
Yudha mengangguk paham. "Siap, Tuan Muda. Kapan Anda butuh laporannya?"
"Secepat mungkin. Kemarin aku terpaksa pulang terburu-buru karena kondisi Ayah. Tapi hatiku tertinggal di sana. Ada sesuatu yang tidak beres di desa itu, Yudha. Aku merasakannya," perintah Rizki dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Yudha segera pamit keluar, meninggalkan Rizki dan Nana dalam keheningan yang canggung. Nana tampak berwajah masam dan memendam api cemburu yang mendalam.
Api Cemburu di Balik Profesionalitas
Nana berdiri terpaku di samping meja kerja Rizki. Hatinya terasa seperti diremas. Selama bertahun-tahun ia mendampingi Rizki, dari masa kuliah di luar negeri hingga memegang kendali perusahaan besar ini.
Belum pernah ia melihat Rizki menginvestasikan sumber daya perusahaan hanya untuk menyelidiki satu orang gadis secara personal. Belum pernah sama sekali wajah Rizki seantusias itu dengan seorang gadis walau hanya dalam foto.
Siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya bisa membuat Rizki yang dingin ini menjadi begitu emosional? batin Nana, ia merasa terancam.
Baginya, kecantikan gadis di foto itu. Meski kabur memiliki daya pikat alami yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita sosialita di Jakarta, termasuk dirinya. Sedangkan kecantikan dirinya adalah modifikasi dari makeup-makeup mahal tentunya.
"Kamu terlalu terobsesi dengan wasiat Ibumu, Ki," ucap Nana dengan nada sedikit sinis yang gagal ia sembunyikan.
"Membangun desa itu adalah satu hal, tapi menyelidiki seorang gadis desa secara pribadi... itu sudah di luar koridor bisnis."
Rizki berdiri, mengenakan jasnya kembali dan menatap Nana dengan tatapan yang dalam, "Ini bukan soal bisnis, Nana.
Ini soal martabat dan janji. Gadis itu mirip sekali dengan Ibu dan firasatku mengatakan, dia sedang dalam bahaya besar. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
Rizki melangkah keluar ruangan menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Meninggalkan Nana yang masih menatap layar laptop Rizki yang sudah gelap.
Tangan Nana terkepal erat. Ia tidak akan membiarkan gadis desa mana pun merebut perhatian Rizki darinya. Jika Rizki ingin menyelidiki gadis itu, maka Nana juga akan melakukan penyelidikannya sendiri dengan caranya sendiri.
Di sisi lain kota, Bagaskara sedang merayakan keberhasilan lamarannya dengan botol-botol minuman mahal. Tidak menyadari bahwa gurita bisnis yang ingin ia hancurkan kini sedang mulai mengulurkan tentakelnya menuju Desa Sukamulya.
Takdir sedang mempercepat langkahnya antara seorang pewaris yang mencari akar masa lalu dan seorang penjudi yang ingin mengubur masa depan. Seakan suara genderang perang baru ditabuh di medan laga. Lalu hasil akhir adalah pemenangnya.