Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara yang Sempurna
Sore itu, langit California menyuguhkan warna jingga yang memabukkan, seolah-olah cakrawala sedang terbakar oleh api yang tenang. Di depan lobi mansion, sebuah Bentley hitam mengilat sudah menunggu. Kali ini, tidak ada supir yang membukakan pintu. Adrian sendiri yang berdiri di sisi kemudi, kunci mobil melingkar di jarinya. Di belakang mereka, sebuah SUV hitam berisi empat pengawal bersenjata lengkap bersiap mengikuti, menjaga jarak yang aman namun tetap mematikan.
Nora melangkah keluar dari pintu besar mansion, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar bagi Adrian Thorne.
Nora mengenakan silk wrap dress berwarna emerald green yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna—sebuah warna yang membuat warna matanya yang cokelat tampak lebih hidup. Rambut cokelat berombaknya dibiarkan tergerai bebas, berkilau diterpa cahaya matahari sore. Ia berdandan dengan sangat teliti; bibir sensualnya dipulas lipstik warna nude yang lembap, dan di lehernya melingkar kalung mutiara pemberian Adrian. Tujuh gelang emas di pergelangan tangannya berdenting halus saat ia berjalan.
Adrian tertegun. Jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan, dan ada desir panas yang merambat di pembuluh darahnya—sebuah reaksi fisik yang mulai sulit ia kendalikan. Nora tampak begitu berkelas, begitu bercahaya, dan begitu... miliknya.
"Kau terlihat..." Adrian menggantung kalimatnya, berusaha keras menelan ludah dan mengembalikan topeng dinginnya. "...layak untuk pergi keluar."
Nora tersenyum, menyadari tatapan lapar yang sempat melintas di mata Adrian sebelum pria itu memalingkan wajah. "Hanya layak? Aku berusaha keras untuk tidak memalukanmu, Adrian."
"Kau tidak pernah memalukanku," gumam Adrian sambil membukakan pintu penumpang untuknya.
Selama perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang kaku, melainkan sesuatu yang lebih tebal dan penuh tegangan. Nora sesekali melirik profil samping Adrian—rahang tegasnya, tangannya yang kuat mengendalikan kemudi, dan aura kekuasaan yang selalu mengelilinginya. Ia merasa sangat bangga bisa duduk di samping pria ini sebagai wanitanya.
Mereka tiba di Bloom & Botanical, sebuah toko bibit bunga eksklusif di pinggiran kota yang hanya melayani pelanggan kelas atas. Begitu masuk, aroma tanah basah, pupuk organik, dan ribuan jenis bunga langsung menyergap indra penciuman.
Nora berjalan menyusuri lorong-lorong bibit dengan mata berbinar. Ia menyentuh kemasan bibit mawar Juliet dan lili putih dengan penuh minat. Namun, saat mereka baru saja sampai di bagian mawar langka, ponsel Adrian bergetar di saku jasnya. Ia melihat layar ponselnya dan raut wajahnya langsung berubah serius.
"Ini dari dewan penasihat. Aku harus mengangkatnya," ujar Adrian. "Tetaplah di sini, jangan keluar dari jangkauan pengawal di depan pintu. Aku akan kembali dalam lima menit."
Nora mengangguk mengerti. "Pergilah, aku akan memilih beberapa warna mawar di sini."
Adrian melangkah menjauh menuju sudut ruangan yang lebih sepi untuk menerima telepon. Nora kembali fokus pada rak-rak kayu di depannya, hingga sebuah suara yang sangat ia kenali—namun sangat tidak ia harapkan—terdengar di belakangnya.
"Lihat siapa yang sedang bermain menjadi nyonya besar di sini."
Nora berbalik dan membeku. Di sana, berdiri Stella Leone. Adiknya itu mengenakan gaun mini yang mencolok, namun tampak kusam jika dibandingkan dengan keanggunan yang terpancar dari Nora. Mata biru Stella menatap Nora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang penuh dengan kedengkian, kecemburuan, dan amarah yang murni.
Stella memperhatikan setiap detail pada kakaknya: gaun sutra mahal itu, kalung mutiara yang bernilai ribuan dolar, dan deretan gelang emas yang berkilau di pergelangan tangan Nora. Setiap benda itu terasa seperti tamparan bagi Stella, yang merasa bahwa dialah yang seharusnya mendapatkan kemewahan itu.
"Nora," desis Stella, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya satu meter. "Brand Hermès dari musim terbaru? Perhiasan mutiara murni? Papa bilang kau hidup menumpang di rumah Adrian seperti pengemis, tapi kau tampak seperti baru saja merampok bank."
"Adrian memenuhi kebutuhanku, Stella," jawab Nora dengan tenang, meski jantungnya mulai berdegup kencang karena firasat buruk. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku? Aku sedang mencari hiburan. Tapi melihatmu memakai semua ini dengan uang Adrian... itu membuatku mual," Stella mencengkeram lengan Nora dengan kasar, matanya menyipit. "Dengar baik-baik, Kakak tersayang. Jangan pernah berpikir kau bisa memiliki Adrian. Kau hanya barang sementara. Jangan pernah berani mendekatinya secara emosional, atau kau akan menyesal."
Nora mengerutkan kening, tidak mengerti maksud ancaman Stella. "Apa maksudmu? Aku tinggal bersamanya, Stella. Dia menjagaku."
"Dia menjagamu karena dia diperintah!" teriak Stella tertahan, suaranya gemetar karena amarah. "Jangan pernah lupa siapa putri kesayangan Papa. Jangan pernah lupa bahwa kau hanyalah pelayan yang diberi pakaian bagus."
Saat itu, Nora mendengar suara langkah kaki sepatu pantofel Adrian yang mendekat dari balik rak tanaman besar. Ia melihat sosok Adrian muncul di ujung lorong.
Dalam sekejap mata, ekspresi Stella berubah drastis. Amarah di matanya lenyap, digantikan oleh ketakutan yang dibuat-buat. Sebelum Nora bisa bereaksi, Stella sengaja menabrakkan bahunya ke arah Nora dan menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai dengan keras, bahkan hingga menyenggol beberapa pot plastik hingga pecah.
"Aww! Sakit!" Stella merintih dramatis, air mata buaya mulai menggenang di matanya.
Adrian mempercepat langkahnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang luar biasa. Ia langsung melewati Nora seolah wanita itu tidak ada di sana, lalu berlutut di samping Stella.
"Stella? Apa yang terjadi?" suara Adrian terdengar sangat panik—sebuah nada suara yang belum pernah Nora dengar sebelumnya, bahkan saat Adrian menyelamatkannya dulu.
"Adrian... sakit sekali," Stella terisak, memegang sikunya yang sebenarnya tidak terluka. Ia melirik Nora dengan tatapan yang sangat tajam di balik air matanya. "Nora... aku hanya ingin menyapanya, tapi dia tiba-tiba marah. Dia bilang aku tidak pantas berada di dekatmu... lalu dia mendorongku."
Nora tersentak, mulutnya terbuka karena terkejut. "Apa? Tidak! Adrian, aku tidak melakukannya! Dia jatuh sendiri!"
Adrian berdiri, memalingkan wajahnya ke arah Nora. Matanya yang tadinya hangat saat menatap Nora sebelum mereka berangkat, kini berubah menjadi sedingin es dan penuh dengan kilat kemarahan yang mengerikan.
"Nora! Apa-apaan kau?" bentak Adrian. Suaranya menggelegar di dalam toko yang sunyi itu.
"Adrian, dengarkan aku, dia berbohong!" Nora gelagapan, tangannya gemetar. Ia tidak paham kenapa adiknya bisa melakukan sandiwara sejahat itu, dan ia lebih tidak paham lagi kenapa Adrian langsung memercayainya tanpa ragu sedikit pun. "Aku bahkan tidak menyentuhnya!"
"Aku melihatmu berdiri tepat di depannya saat dia jatuh, Nora!" Adrian menyela dengan nada kasar. Ia membantu Stella berdiri dengan sangat hati-hati, merangkul pinggang Stella seolah-olah gadis itu adalah porselen yang nyaris hancur. "Aku tahu kau membencinya karena dia mendapatkan perhatian Papa, tapi melakukan ini di depanku? Di tempat umum?"
Nora merasa dunianya runtuh. Rasa sakit di bagian bawah tubuhnya yang merupakan sisa dari malam indah mereka semalam seolah berdenyut kembali, namun kali ini terasa seperti penghinaan. Adrian sedang mendekap Stella, memberikan perlindungan yang selama ini Nora kira hanya miliknya.
"Kau lebih percaya padanya daripada aku?" bisik Nora, suaranya pecah.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Nora dengan pandangan yang penuh kekecewaan mendalam, seolah Nora adalah monster yang baru saja menunjukkan wajah aslinya.
"Pulanglah dengan pengawal di SUV," perintah Adrian dingin. "Aku akan mengantar Stella pulang. Dia terguncang."
"Tapi Adrian, kita ke sini untuk membeli bibit bunga..."
"Lupakan soal bunga!" bentak Adrian lagi, membuat Nora terlonjak. "Kau tidak pantas menanam apa pun jika hatimu penuh racun seperti ini."
Adrian berbalik, menuntun Stella keluar dari toko. Sebelum menghilang di balik pintu, Stella menoleh ke arah Nora. Di balik bahu Adrian, Stella tersenyum kemenangan—sebuah senyum iblis yang seolah berkata, 'Sudah kubilang, dia milikku.'
Nora berdiri mematung di tengah lorong toko bibit bunga, di kelilingi oleh mawar-mawar yang seharusnya menjadi simbol awal barunya. Ia merasa sangat hancur, sangat bodoh, dan sangat sendirian. Ternyata, gelang-gelang emas di tangannya tidak bisa melindunginya dari satu hal yang paling mematikan: fakta bahwa di dalam hati Adrian, bukan Nora yang menjadi prioritas utama.
Air mata Nora akhirnya jatuh, membasahi gaun sutra emerald-nya yang kini terasa mencekik. Ia tidak menyadari bahwa sandiwara Stella sore itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang jauh lebih besar, yang akan ia bawa hingga ke pelaminan di masa depan.