Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Dihukum
Meski cukup kecewa dengan jawaban Yvone, Yuna tetap menghargainya. Sekalipun wanita itu menolak, Yuna tidak masalah, yang terpenting dirinya sudah tulus membantu.
Setelah selesai melakukan perawatan pada lukanya, Yvone segera berpamitan untuk pulang.
“Aku pergi dulu, Nona Lim,” ucap Yvone.
“Jika kau berubah pikiran, hubungi aku,” kata Yuna.
“Hmmm.” Yvone mengangguk, lalu memasuki taksi yang sudah menunggunya.
Dalam mobil, ia berpikir untuk menerima tawaran Yuna. Tetapi ada banyak hal yang harus ia pertimbangan. Terlebih operasi dilakukan di luar negeri.
“Nyonya, harusnya Anda terima tawaran Nona Yuna. Aku pikir dia orang yang baik,” ujar Sui.
“Aku juga berpikir seperti itu, Sui. Tapi hidup di luar negeri itu perlu uang.”
Masalah uang menjadi sangat rumit. Masalahnya keuangan Rose dipegang oleh Brighita.
“Bukankah orang tua Anda bersedia untuk membantu?”
“Itu saja tidak cukup!”
“Bagaimana dengan Tuan Arsen, pasti Tuan mau memberikan uang, bukankah Tuan mau membelikan Anda perhiasan baru? Terima saja, lalu dijual.”
Mendengar nama Arsen disebut, tatapan Yvone menjadi sangat dingin. “Jangan sebut nama pria itu lagi.” Jujur saja, Yvone masih kesal dengan pria itu.
“Maaf, Nyonya.”
Tiba di rumah, Yvone segera memasuki kamar. Ia terkejut saat melihat Arsen duduk di sofa. Ia teringat ucapannya yang akan menunggu dan berbicara empat mata. Pria itu sepertinya sangat serius dengan ucapannya.
‘Ah…sial!’ batin Yvone. Sepertinya ia tidak bisa menghindar lagi dari suami pemilik tubuh ini.
Langkah kaki Yvone mengalihkan atensi Arsen. Tatapannya tampak dingin, namun saat melihat perban di yang melilit lengan Yvone, tatapannya melunak.
“Apa yang terjadi?” Arsen bangkit dari posisinya, lalu melangkah cepat menghampiri Yvone. “Kau terluka?” Arsen meraih lengan yang dibungkus kasa perban, tetapi Yvone lebih dulu memundurkan langkah.
“Jangan sok perhatian!” seru Yvone ketus.
Arsen membulatkan mata. Tatapannya kembali tajam. Ia memperhatikan Yvone yang melewatinya begitu saja. Aroma tubuhnya masih sama. Tetapi entah mengapa Arsen merasa istrinya adalah orang yang berbeda.
Yvone melempar blazer di tangannya ke atas kasur, lalu ia menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. Melepas sepatu boot yang ia kenakan. Tanpa peduli keberadaan Arsen.
Arsen mengerutkan kening. Apa yang dikenakan oleh istrinya saat ini sama sekali bukan gayanya. Pikiran Arsen berkelana, tetapi tidak ada satu pun yang menemukan titik terang.
Ada apa dengan istrinya?
Pertanyaan yang sama masih berputar di kepalanya.
“Aku ingin bicara denganmu,” kata Arsen, berusaha menarik perhatian Rose. Sayangnya wanita itu justru menyibukkan diri dengan memandangi luka di tangannya.
“Bicara saja,” kata Yvone.
Arsen menatap ke arah Sui. Dan itu merupakan sebuah kode. Tetapi, Yvone tidak memberi respon sesuai seperti yang ia minta.
“Kenapa kau masih di sini?” Arsen menatap tajam Sui. Suara terdengar menggelegar. Dan itu membuat Sui merasa ciut.
Sui segera menundukkan kepalanya, hendak berpamitan keluar, tetapi suara Yvone lebih dulu menyela, “Kau di sini saja, Sui.”
Sui menoleh bingung. Sesekali melirik ke arah Arsen.
“Tapi…Rose, aku ingin bicara empat mata denganmu!” sela Arsen.
“Sudah kubilang ‘kan kau bebas bicara.” Suara Yvone terdengar kesal.
Arsen pun sama halnya, ia merasa kesal lantaran Sui sama sekali tidak mendengarnya. Tetapi ia terpikirkan sebuah cara. Rose sangat peduli dengan orang-orang yang dekat dengannya.
Arsen menatap Sui tajam. Kembali memasang wajah dingin.
“Kau…pasti selama ini yang menghasut istriku ‘kan? Kau yang membuatnya berubah! Kau harus dihukum!” bentak Arsen tiba-tiba.
Sui terhenyak, ia seketika berlutut. Mengatupkan kedua tangan di depan wajah.
“Tidak, Tuan. Bukan saya.” Sui memelas. Suaranya tampak bergetar. Sui benar-benar ketakutan.
Yvone membulatkan mata. Lalu berdiri dari duduknya. “Apa-apaan kau, Arsen? Sui tidak tahu apa pun.” Yvone lantas menatap Sui. “Sui, kau pergilah!”
Sui menoleh ke arah Yvone sekilas. Tetapi, suara Arsen kembali mengejutkannya. “Kau dengar aku, jika tidak aku akan memecatmu!” ancam Arsen.
“Tuan…jangan, saya mohon. Saya butuh pekerjaan ini.”
Yvone memejamkan mata. Urusannya akan panjang jika ia tidak melakukan sesuatu.
“Sui, dengar aku, pergilah dari sini. Kembali ke kamarmu!” titah Yvone. Suaranya tak kalah tinggi.
Arsen cukup terkejut karena nada bicara Rose sangatlah lembut.
Melihat Sui sama sekali tak bergeming, Yvone kembali berteriak, “Tunggu apa lagi!”
“Baik, Nyonya.” Sui segera bangun dan melangkah tergopoh-gopoh meninggalkan kamar Yvone.
Arsen menyunggingkan senyumnya, meski sikapnya berubah, tetapi kepeduliannya terhadap orang-orang di dekatnya masih sama. Arsen lantas melangkah menuju ke arah meja, meraih sebuah kotak beludru berukuran besar, lalu mendekati Yvone.
“Ini untukmu.” Arsen membuka kotak itu, dan menunjukkan isinya. Tampak satu set perhiasan dengan batu permata berwarna biru tertata rapi, tampak elegan, mewah, dan berkilauan. “Untuk perhiasan yang ada pada Mama, aku harap kau tidak mengungkitnya lagi,” imbuhnya lagi.
Yvone mendecak pelan. Sudah ia duga Arsen pasti akan bersikap demikian. Bukannya meminta maaf, pria ini justru menutupi kesalahan ibunya. Benar-benar egois.
“Lalu bagaimana dengan kalung pemberian orang tuaku?” tanya Yvone. Meski bukan miliknya, Yvone tidak rela kalung itu hilang. Terlebih orang tua Rose selalu mewanti-wanti agar barang itu tidak dijual.
“Soal itu…aku masih berusaha mencarinya,” ucap Arsen jujur. Sebenarnya ia merasa marah ketika mendengar Alexa menjual kalung milik Rose itu. Bagaimanapu itu adalah tindakan yang lancang.
Tetapi, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak ingin Alexa bertindak nekad.
“Lalu apa hukuman untuk mereka? Terutama adikmu?”
“Aku sudah mencabut fasilitas yang aku berikan padanya. Untuk Mama, aku masih memikirkannya, kau tahu sendiri tensi Mama naik turun.”
Mendengar itu, sama sekali tak membuat Yvone puas. Ia ingin Arsen menghukum mereka dengan sangat berat. Tetapi mengingat Arsen sangat menyayangi mereka. Rasa-rasanya itu sangat mustahil.
“Aku sudah menduganya. Selama ini kau bahkan tidak pernah membelaku.”
“Rose…bukan begitu…”
“Sudahlah, aku tidak mau berdebat.” Yvone meraih kotak perhiasan dari tangan Arsen. “Karena kau sudah memberikannya padaku, maka aku akan menerimanya.”
“Baiklah.”
Yvone mengukir senyum tipis. Teringat ucapan Sui. Ia bisa menjual perhiasan ini dan uangnya akan ia gunakan untuk pergi ke luar negeri.
Yvone memasuki ruang penyimpanan perhiasan. Sekali lagi membuka kotak perhiasan itu, dan memperhatikan kualitasnya. Selama ini ia telah banyak bergelut dengan perdagangan pasar gelap. Perhiasan seperti ini bisa terjual dengan harga satu juta dolar.
Belum lagi uang yang akan dikirimkan oleh orang tuanya. Yvone rasa semua itu cukup untuk bekal hidup selama di luar negeri. Tanpa pikir panjang, Yvone segera meraih ponselnya, dan mengirim pesan pada Yuna.
[Nona Lim, aku terima tawaranmu]
Setelah mengirim pesan, Yvone segera keluar. Ia melihat Arsen masih berada di kamarnya. Kening Yvone mengkerut.
“Kenapa kau masih di sini? Bukannya kembali ke kamarmu?” tanya Yvone.
“Ini kamarku juga, jadi aku akan tidur di sini.”
“Apa?”