NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Sejak hari itu—hari di mana dunia Melisa seakan runtuh—tak sekalipun ia mendengar kabar dari kedua orang tuanya. Sudah berbagai cara ia tempuh. Ia mencoba menelepon nomor lama ayah dan ibunya, menghubungi tetangga-tetangga dekat di kampung, bahkan mengirim pesan pada ketua RT yang dulu begitu dekat dengan keluarganya. Tapi semua usahanya hanya berujung pada satu kenyataan pahit: hening.

Tak ada balasan, tak ada suara. Hanya keheningan menusuk yang makin menegaskan bahwa ia benar-benar ditinggalkan.

Sudah sebulan berlalu, dan luka itu masih terasa segar. Melisa duduk di tepi kasur sempitnya, matanya menatap layar ponsel yang kosong dari notifikasi. Ia mendesah, napasnya berat, lalu menunduk dengan hati yang kembali diremuk kecewa. Entah untuk yang keberapa kalinya hari ini ia berharap ada secercah kabar—tapi seperti biasa, harapan itu pupus.

Namun, di tengah keheningan yang menyakitkan, suara tawa renyah dan ocehan lucu mengusik keputusasaannya.

Melisa menoleh, dan matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat hatinya mencair.

Ethan dan Evan, dua bayi nya itu kini sudah semakin aktif. Di usia mereka yang hampir menginjak delapan bulan, keduanya sudah pandai merangkak ke sana kemari, menjelajahi sudut-sudut kamar kecil itu dengan mata berbinar. Ocehan mereka yang tak jelas terdengar seperti simfoni yang paling menyenangkan bagi Melisa. Mereka berbicara dengan bahasa bayi yang hanya mereka mengerti, saling menepuk tangan, saling tertawa—seakan tak ada luka, tak ada dunia yang pernah menyakitkan.

Melisa tersenyum. Senyum yang perlahan tumbuh di wajahnya, menghangatkan hatinya meski luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Tawa Ethan yang memperlihatkan dua gigi mungilnya membuat Melisa tergelak kecil. Di sisi lain, Evan sedang berusaha menggigit mainan karet berbentuk jerapah, namun malah menjatuhkannya lalu menangis karena ilernya muncrat ke matanya sendiri.

“Ya ampun, kalian ini… bisa gak sih diem sebentar aja? Ga capek apa?” ucap Melisa sambil terkekeh, lalu mengambil tisu untuk mengelap wajah Evan.

Gigi-gigi kecil mereka mulai tumbuh satu per satu, membuat air liur mereka tak henti-hentinya mengalir. Baju selalu basah, dagu selalu lengket, tapi Melisa tak pernah merasa jijik atau lelah. Ia justru merasa penuh—utuh—karena cinta yang kini bersemayam dalam dua tubuh mungil itu.

“Kalau kalian bisa ngomong ya,” gumam Melisa sambil memeluk keduanya, “pasti kalian bilang, ‘kakak jangan sedih, kan ada kita’... Iya, kan?”

Dan di detik itu, Melisa tahu—meski kehilangan banyak hal, ia tidak kehilangan segalanya.

Ia masih punya Ethan dan Evan.

Ia masih punya cinta.

Selama Memasuki semester enam ini, hidup Melisa berubah menjadi sebuah maraton tanpa garis akhir. Waktu terasa semakin sempit, sementara tanggung jawabnya justru terus bertambah. Selain harus mengejar tugas-tugas kuliah yang menumpuk, kini ia juga resmi menjadi karyawan tetap di rumah makan tempat ia bekerja. Setiap harinya dipenuhi rutinitas tanpa jeda—pagi kuliah, siang sampai malam bekerja, dan tengah malam mengasuh Ethan dan Evan. Nafas pun rasanya tak sempat ia hembuskan dengan tenang.

Karena kesibukan itulah, Melisa kerap meminta bantuan pada dua orang yang kini menjadi pilar terpenting dalam hidupnya—Diana dan Riki. Mereka dengan senang hati menjadi ‘penjaga malaikat kecil’ saat Meli tidak bisa pulang tepat waktu. Sudah hampir menjadi rutinitas bahwa Diana dan Riki akan menjemput Ethan dan Evan di daycare setiap Melisa kewalahan.

Meski segala kebutuhan daycare dan susu masih sepenuhnya ditanggung oleh Riki, Melisa menolak untuk berhenti bekerja atau mengurangi jam kerjanya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak bisa bergantung selamanya pada orang lain. Ia ingin menabung, bermimpi bisa pindah ke kosan yang lebih layak, lebih besar, dan nyaman untuk anak-anaknya. Sering kali, Diana dan Riki menawarkan bantuan—bahkan bersedia menanggung biaya pindahan dan kosan baru—namun Melisa menolak dengan tegas. Baginya, merepotkan orang lain bukanlah pilihan.

Seperti sore ini, Melisa kembali menghubungi Diana lewat telepon, suaranya terdengar lelah dan penuh rasa sungkan.

“Na, maaf banget ya… ngerepotin kalian terus,” ucapnya lirih dari ujung sambungan.

“Ngerepotin apaan sih, Mel?” jawab Diana dengan nada ringan. “Gue malah seneng jemput mereka. Ya udah, Lo jangan terlalu maksa diri, ya. Gue tutup dulu, bye!”

Tanpa menunggu balasan, Diana mematikan sambungan dan langsung bersiap. Semangatnya membuncah seperti biasa setiap kali akan menjemput "dua bayi raksasa" itu—begitu ia menyebut Ethan dan Evan yang kini masing-masing sudah berbobot delapan kilo lebih. Menggendong satu saja sudah lumayan bikin lengan pegal, apalagi dua sekaligus.

Dalam perjalanan, Diana melirik ke arah Riki yang sedang serius menyetir.

“Abis jemput bocah-bocah itu, gimana kalo kita sekalian belanja kebutuhan mereka? Kemarin gue sempet lihat susu di kamar Meli tinggal sekotak, popok juga kayaknya udah mau habis,” ucap Diana.

Riki mengangguk pelan. “Boleh juga. Gue juga sekalian mau beli sesuatu.”

Diana melirik, penasaran. “Apaan tuh? Barang penting?”

Riki tersenyum misterius, lalu menjawab santai, “Mau tau aja, atau mau tau banget?”

Diana langsung mencibir. “Ugh, malesin banget muka Lo, Ki. Batal deh gue nanya.”

Riki tertawa puas melihat reaksi sahabatnya yang kesal sendiri. “Ih, padahal gue baru mau bilang, gue mau beli boneka anjing buat Evan. Kemarin dia kayak tertarik sama yang bentuknya kayak gitu waktu di daycare.”

Diana langsung diam, lalu menyahut dengan nada yang lebih lembut, “Oh. Kalau gitu sekalian aja kita beli dua. Ethan juga pasti mau.”

“Setuju,” ujar Riki sambil tersenyum.

Mobil mereka melaju membelah siang, dan di dalamnya, dua sahabat itu sudah seperti orang tua cadangan bagi dua bayi yang mereka cintai seolah darah daging sendiri. Tidak ada hubungan darah, tapi ikatan di antara mereka begitu erat—karena cinta, karena ketulusan, dan karena janji diam-diam yang mereka ucapkan dalam hati, Kami tidak akan membiarkan Melisa berjuang sendirian.

Seperti yang sudah direncanakan, sebelum mengantar pulang dua bayi ‘raksasa’ itu, Riki dan Diana menyempatkan diri mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi yang terkenal super lengkap. Interior toko dipenuhi warna-warna pastel yang lembut, aroma bedak bayi yang khas, dan musik instrumental anak-anak yang mengalun pelan—suasana yang seketika membuat hati siapa pun melunak.

Seperti Tujuan awal mereka, membeli susu formula dan popok untuk Ethan dan Evan. Tapi seperti biasa, rencana awal tak pernah sesederhana yang dibayangkan. Riki dengan semangat mulai menyusuri lorong mainan, tepatnya rak yang penuh dengan boneka berukuran kecil yang aman untuk bayi. Ia jongkok di depan stroller dan menunjuk satu per satu boneka sambil bicara pelan kepada dua bayi yang hanya bisa menatap dan mengoceh pelan, seolah paham.

"Nah, yang ini lucu banget, ya? Gimana, Evan, kamu lebih suka yang anjing atau yang panda? Ethan? Jangan cuman ngiler dong, kasih pendapat, dong..." gumam Riki sambil terkekeh sendiri.

Di sisi lain, Diana tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia sedang memilih-milih baju bayi bertema karakter hewan. Matanya berbinar saat melihat satu set jumpsuit berbentuk beruang cokelat, lengkap dengan hoodie bertelinga bulat dan ekor kecil di belakang.

“Ki! Lihat deh yang ini! Lucu banget, kan? Bayangin kalo Ethan dan Evan pakai ini. Duh, pasti gemesin setengah mati,” serunya sambil mengangkat baju itu tinggi-tinggi, matanya bersinar.

Riki menoleh sekilas, lalu tertawa pelan. “Lucu sih, tapi Na… ini kan tebel banget. Ini tuh bahan buat musim dingin, coba deh pegang. Kalo dipakein di sini, bisa-bisa mereka mandi keringet.”

Diana mengerucutkan bibir. “Iya sih… Tapi tetep aja lucu! Daripada nyesel gak beli, mending nyesel beli! Lagian bisa dipake pas cuaca lagi dingin-dingin dikit kan?” ucapnya dengan antusias sambil memasukkan baju itu ke keranjang belanja, lalu kembali berburu model lainnya.

Tanpa mereka sadari, sejak beberapa menit lalu, sepasang mata tengah mengawasi dari kejauhan. Seorang perempuan muda berparas cantik dengan dandanan sempurna dan pakaian modis sedang berdiri kaku di dekat rak botol susu. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang sudah sampai ubun-ubun. Ia mengepalkan tangan dan melangkah cepat mendekati mereka.

“Heh! Jadi ini alasan kamu nolak aku, Ki?! Karena lo udah nikah dan punya anak, ya?!” suaranya lantang dan tajam, menusuk udara toko yang awalnya tenang.

Sontak, Riki dan Diana menoleh bersamaan. Riki membelalak kaget, sementara Diana langsung mematung dengan mulut setengah terbuka. Ethan dan Evan pun refleks terdiam, seperti ikut merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul.

“A-Annisa?” Riki tergagap.

Annisa—salah satu gebetan Riki yang dulu meminta kepastian padanya—berdiri di hadapan mereka dengan wajah penuh tuduhan dan emosi yang menggelegak.

“Lo main-main ya sama perasaan orang, Ki?! Gua pikir lo cowok baik-baik! Ternyata udah punya istri dan anak segede itu?! Dan lo—” ia menatap tajam ke arah Diana, “—istri sah-nya, ya?! Gila… udah punya anak dan istri masih deketin banyak cewek lain.”

Riki buru-buru mengangkat kedua tangan. “Eh, tunggu! Lo salah paham, sumpah demi apapun ini bukan kayak yang lo pikirin!”

Namun Annisa sudah terlalu meledak-ledak untuk mendengarkan. Diana menahan napas, setengah kesal, setengah geli.

"Ki, kayaknya lo yang harus jelasin deh. Ini jebakan yang lo buat sendiri,” gumam Diana, berusaha tetap tenang walau kepalanya sudah panas juga.

Riki menarik napas dalam-dalam. Hari belanja santai mereka baru saja berubah jadi sinetron tanpa naskah.

1
Lisa
👍 Papanya Riki bisa bantu nih..jdi masalah mereka cpt beres.
Lisa
Ga terasa 2 baby itu skrg umurnya udh 3 thn..Meli benar² jadi Mama utk mereka berdua.
Lisa
Ethan & Evan udh mulai mengerti klo Meli adl mama mereka
Lisa
ya Meli telpn sahabatmu utk jelasin ke ortumu
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!