NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Tiga minggu berlalu sejak Pratama bergabung dengan tim. Tiga minggu yang terasa lebih cepat dari seluruh bulan sebelumnya. Jakarta berubah. Tidak sekaligus, tapi perlahan, seperti air yang mulai mendidih tanpa api yang terlihat.

Arka berdiri di tepi lubang yang kini sudah berubah menjadi struktur beton bertulang dengan dinding baja mulai dipasang. Kedalaman mencapai delapan belas meter. Di dasarnya, ruangan-ruangan mulai terbentuk. Gudang, ruang penyimpanan, ruang genset, dan di bagian paling dalam, ruang utama yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama berbulan-bulan.

Hadi berdiri di sampingnya, menunjukkan tablet berisi gambar tiga dimensi.

“Dinding baja sudah terpasang tujuh puluh persen. Dua minggu lagi selesai. Setelah itu, pemasangan sistem ventilasi dan filter udara. Saya perkirakan akhir Maret struktur bawah tanah selesai seluruhnya.”

Arka mengangguk. “Hotel di atasnya?”

“April mulai. Dengan tim yang ada, lima minggu cukup. Tapi Mas Arka yakin hotelnya harus selesai sebelum Juni? Saya lihat harga material naik terus. Kayu, semen, besi, semua naik dua kali lipat dalam dua bulan terakhir.”

Arka tahu. Dia sudah memperhitungkan. Itu sebabnya dia membeli semua material baja dan beton di awal Januari, sebelum harga melonjak. Kayu dan material finishing hotel memang harus dibeli sekarang, dengan harga yang sudah melambung. Tapi tidak ada pilihan.

“Saya akan transfer dana tambahan minggu depan. Tolong pastikan tidak ada keterlambatan.”

Hadi menghela napas. “Baik, Mas.”

Dari lokasi konstruksi, Arka pergi ke Depok. Seorang wanita bernama Rina, lulusan pertanian IPB, mantan pegawai perusahaan hidroponik di Sentul. Perusahaan itu tutup dua bulan lalu karena biaya operasional melonjak. Sekarang Rina menganggur, tinggal di rumah orang tuanya.

Arka menemukannya sedang membersihkan halaman depan. Wanita itu kurus, kacamata tebal, rambut diikat asal.

“Rina?”

“Iya. Siapa?”

“Saya Arka. Saya telepon kemarin.”

Rina mengangguk. “Tentang pekerjaan?”

“Iya. Saya butuh orang yang bisa mengelola sistem hidroponik dalam ruangan. Skala besar.”

Rina mengerjap. “Dalam ruangan? Dengan lampu buatan?”

“Iya. Ruangan terkontrol, suhu stabil, tanpa sinar matahari.”

Rina terdiam sebentar. “Itu sistem yang mahal, Mas. Lampu grow, pompa, nutrisi, semuanya butuh listrik besar.”

“Listrik dari panel surya dan genset. Semuanya sudah saya siapkan.”

Rina menatap Arka dengan mata menyipit. “Mas ini punya kebun dalam ruangan? Atau... menanam apa sebenarnya?”

“Sayuran. Bayam, kangkung, selada, tomat. Cukup untuk kebutuhan sepuluh orang.”

“Sepuluh orang?” Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini untuk rumah pribadi?”

“Untuk hotel. Saya ingin mandiri. Tidak tergantung pasokan dari luar.”

Rina tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia sudah lelah dengan janji-janji pekerjaan yang tidak jelas. Tapi Arka datang dengan tawaran konkret. Gaji tiga kali lipat dari perusahaan sebelumnya, kontrak satu tahun, uang muka dua bulan.

“Saya terima,” kata Rina setelah membaca kontrak yang disodorkan Arka.

“Bagus. Minggu depan datang ke alamat ini. Saya akan tunjukkan ruang tanamnya.”

Di tempat lain, Arka menjalani ritual yang tidak pernah dia bayangkan akan dia lakukan: membeli senjata.

Bukan dari toko, tentu saja. Tapi dari seorang pria paruh baya yang ditemui Pratama. Pria itu pensiunan TNI, sekarang memiliki toko onderdil di pinggiran Jakarta. Di balik tumpukan ban bekas dan oli mesin, ada ruangan kecil berisi senjata sitaan yang tidak pernah dilaporkan.

Pratama yang melakukan negosiasi. Arka hanya berdiri di samping, mendengarkan, belajar.

“Dua pucuk pistol, amunisi dua ratus butir,” kata pria itu dengan suara pelan. “Senapan angin satu, untuk latihan. Pisau taktis tiga. Itu yang saya punya.”

Pratama memeriksa setiap senjata dengan gerakan cepat dan terlatih. Dia membuka magasin, memeriksa laras, mengecek mekanisme pengaman. Arka mengamati dengan seksama.

“Harganya?” tanya Pratama.

“Seratus dua puluh lima juta.”

Pratama menoleh ke Arka. Arka mengangguk. Amplop berisi uang tunai berpindah tangan. Pria itu menghitung, tersenyum, lalu memberi kode untuk mengambil barang.

Di perjalanan pulang, Pratama berbicara. “Senjatanya bagus. Tapi Mas Arka harus latihan. Pistol bukan mainan.”

“Saya tahu.”

“Saya akan latih Mas. Dua kali seminggu, di tempat yang aman.”

Arka mengangguk. “Mulai kapan?”

“Besok.”

Malam itu, Arka duduk di kamar kos-kosan dengan ponsel di tangan. Bukan untuk membuka media sosial atau berita. Tapi untuk mengecek daftar belanja yang sudah dia buat.

Beras, satu ton. Sudah dibeli, disimpan di gudang sewaan dekat lokasi konstruksi.

Minyak goreng, lima puluh liter. Sudah.

Gula, seratus kilogram. Sudah.

Garam, lima puluh kilogram. Sudah.

Mie instan, seratus dus. Sudah.

Sarden, kornet, susu kental manis, total lima ratus kaleng. Sudah.

Obat-obatan. Antibiotik, pereda nyeri, antiseptik, perban. Masih kurang. Apotek yang biasa dia beli mulai kehabisan stok karena distributor mengurangi pasokan. Arka harus cari sumber lain.

Panel surya dan baterai. Sudah terpasang di atap hotel yang masih setengah jadi.

Genset diesel. Sudah, dengan stok solar seribu liter.

Filter air. Sudah.

Benih sayuran. Rina yang akan mengurus.

Arka menutup daftar itu. Masih ada satu hal yang belum selesai. Jalur bawah tanah.

Keesokan harinya, Arka berdiri di dalam lubang yang kini menjadi basement bunker. Di ujung timur, sebuah terowongan kecil mulai digali. Lebar hanya cukup untuk satu orang dewasa, tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Terowongan ini akan menghubungkan bunker ke stasiun MRT yang jaraknya seratus meter.

Pekerjaan ini dilakukan malam hari, oleh dua orang pekerja yang dibayar tiga kali lipat dari upah normal. Mereka tidak tahu tujuan sebenarnya. Hanya disuruh menggali terowongan dengan arah tertentu.

Arka masuk ke dalam terowongan. Senter di tangan, dia berjalan sekitar dua puluh meter. Tanah masih lembap. Dindingnya disangga kayu dan besi sementara.

“Sampai kapan targetnya, Mas?” salah satu pekerja bertanya dari belakang.

“Sampai tembus ke stasiun.”

Pekerja itu mengerjap. “Itu jaraknya cukup jauh, Mas. Butuh waktu.”

“Saya bayar lembur. Yang penting selesai sebelum Mei.”

Pekerja itu tidak membantah. Dengan bayaran segitu, dia akan menggali sampai ke ujung dunia.

Pratama menepati janjinya. Dua kali seminggu, mereka latihan di gudang kosong dekat lokasi konstruksi. Arka belajar memegang pistol, membidik, menembak. Jarinya kaku di awal. Dua kali dia salah melepas kunci pengaman. Tapi perlahan, dia mulai terbiasa.

“Pegangannya jangan terlalu kencang. Nanti getaran naik ke lengan,” kata Pratama.

Arka mencoba lagi. Peluru mengenai sasaran, tidak tepat di tengah, tapi tidak meleset jauh.

“Bagus. Ulangi.”

Dia menembak lagi. Dan lagi. Sampai bahunya terasa pegal dan tangannya gemetar.

“Istirahat,” kata Pratama. Dia duduk di dekat Arka, membuka dua botol air mineral.

“Mas Arka, saya boleh tanya sesuatu?”

“Tanya.”

“Dari semua persiapan ini, Mas sebenarnya takut pada apa? Perang? Bencana? Atau sesuatu yang lebih besar?”

Arka menyesap air. “Pak Tama lihat berita akhir-akhir ini?”

“Saya lihat. Eropa mulai membeku. Amerika panik. Harga pangan naik.”

“Itu baru awal.”

Pratama diam.

“Dalam tiga bulan,” lanjut Arka, “suhu di Jakarta akan turun di bawah nol. Salju akan turun. Listrik padam. Air berhenti. Orang-orang akan kelaparan. Dan mereka akan saling bunuh untuk satu kaleng sarden.”

Pratama menatap Arka. Matanya tidak terkejut. Hanya lelah. “Anda yakin?”

“Saya sudah melihatnya.”

Pertanyaan itu tidak dijawab. Pratama hanya mengangguk, lalu berdiri. “Lanjut latihan.”

Akhir Februari, Jakarta mulai merasakan perubahan.

Bukan sesuatu yang dramatis. Tidak ada salju, tidak ada badai. Tapi suhu malam turun menjadi delapan belas derajat. Dingin yang tidak biasa untuk kota yang terbiasa dengan suhu dua puluh enam sepanjang tahun.

Arka berdiri di balkon kos-kosan, merasakan angin malam yang menusuk meskipun hanya lewat celah jaket tipisnya. Di bawah, gang depan kos-kosan lebih sepi dari biasanya. Warung Bu Atun tutup lebih awal. Anak-anak yang biasanya bermain kejar-kejaran sudah tidak terlihat.

Ponsel bergetar. Berita dari aplikasi.

“Suhu terendah dalam sejarah tercatat di Singapura. Pemerintah setempat mengumumkan status darurat.”

“Malaysia laporkan kenaikan harga pangan lima puluh persen dalam satu bulan.”

“Ilmuwan peringatkan gelombang dingin akan mencapai Indonesia dalam hitungan pekan.”

Arka membaca semua itu dengan tenang. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak awal.

Ponsel bergetar lagi. Hadi.

“Mas, dinding baja selesai. Sistem ventilasi mulai dipasang. Hotel di atasnya akan mulai pekan depan.”

Arka membalas.

“Bagus. Saya akan lihat besok.”

Dia mematikan ponsel, menatap langit. Jakarta masih sama. Masih macet, masih bising, masih ramai. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hanya dia rasakan. Dingin yang perlahan merayap. Angin yang membawa kabar dari utara.

Sudah dekat, pikirnya. Sudah sangat dekat.

Dia masuk ke kamar, mematikan lampu, dan berbaring. Tapi tidak tidur. Matanya terbuka, menatap langit-langit, mendengar suara angin yang semakin kencang.

Besok adalah hari lain. Hari lain untuk membangun. Hari lain untuk mempersiapkan. Hari lain untuk memastikan bahwa ketika es datang, dia tidak akan menjadi korban.

Dan es itu akan datang. Lebih cepat dari yang orang lain kira.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!